
Jason merasakan kepalanya sedang di pegang seseorang padahal hanya dia dan Claire di sana. Tidak mungkin anak-anak yang melakukan itu kepadanya hingga Jason menaikkan secara perlahan wajahnya tiba-tiba kedua bola mata terbelalak.
"Claire?! Kau sudah bangun?" pekik Jason langsung berdiri karena tidak percaya yang dilihat saat ini.
"Tu-tuan," lirihnya pelan.
"Aku minta Claire karena sudah menyakitimu," ucap Jason langsung menggenggam tangan itu.
Namun mata itu kembali terpejam hingga Jason semakin panik. Tidak mau Claire koma lagi, Jason tekan tombol untuk memanggil dokter.
"Claire buka matamu?!" panggil Jason.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya dokter panik.
"Claire sudah bangun, kalian cepat periksa ia!" sentak Jason tidak sabaran lagi menunggu hasil pemeriksaan Claire.
"Baik Tuan," jawab dokter tersebut dengan cepat.
Jason berusaha keras untuk agar Claire bangun dari koma dia tidak menyangka tadi bisa mendengar namanya dipanggil.
"Bagaimana?" tanya Jason tidak sabar.
"Ada kabar baik Nona sudah melewati masa kritisnya Tuan." Jason tercengang mendengar ucapan dokter. Dia begitu bersyukur Claire sudah kembali.
__ADS_1
"Tapi, kenapa Claire belum bangun?" tanya ya lagi.
"Beberapa jam lagi Nona akan bangun Tuan karena pengaruh obat masih mempengaruhi tubuhnya." Jason mengangguk mengerti dia sudah tidak sabar lagi untuk mendengar suara Claire memanggil namanya.
"Kabar ini harus semua orang tahu," batin Jason.
Ibu Ria, Jesy tidak Rio mereka bahagia mendengar kabar yang telah disampaikan Jason. Mereka langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Claire.
"Kak?" panggil Jesy.
Dia pertama yang datang sementara ibu Ria menyusul karena masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan.
"Claire tadi memanggil ku Jesy, ia tadi sudah sadar!" seru Jason berseri-seri.
"Jesy turut senang mendengarnya karena anak-anak membutuhkan kasih sayangya kak," lirihnya.
"Jesy mau melihatnya kak," ucapnya.
"Dokter menyarankan untuk saat ini Claire tidak boleh dikunjungi dulu," tahan Jason.
"Oh baiklah kak, Jesy mengerti," balasnya.
"Nyonya Ria mana?" tanya Jason.
__ADS_1
"Oh ya tadi beliau mengatakan nanti malem mengunjungi Claire kak," jawab Jesy.
"Oh seperti itu." Tidak ada lagi obrolan namun tiba-tiba pikiran Jesy melayang kepada dokter Rio.
Berulang kali dia melihat dokter Rio bicara dengan Larisa bahkan tiba-tiba perasaannya sakit melihat kedekatan mereka berdua.
"Astaga Jesy kenapa kamu pikirkan pria itu diwaktu seperti ini?!" pekik ya.
"Kau lagi memikirkan seorang pria, Jesy?" tanya Jason tidak sengaja mendengar ucapan Jesy.
"Pria? Aku mana ada temen seorang pria kak? Kakak mungkin salah dengar," alihnya.
"Oh," ucap Jason tidak terlalu memikirkan hal itu.
"Astaga hampir saja," kekeh Jesy.
Jesy tidak mau Jason tahu kalau dia dan Rio selalu berdebat jika bertemu. Apalagi hubungan Jason dan Rio tidak baik setelah tahu selama ini Claire dalam perlindungannya.
Waktu terus berjalan ibu Ria telah tiba di rumah sakit dengan langkah yang tergesa-gesa. Dia sudah tidak sabar lagi melihat Claire saat ini.
"Bagaimana keadaan, Claire?" tanya ibu Ria sambil mengatur pernapasannya karena lari-lari setelah tiba di rumah sakit.
"Bu, kak Jason sedang bicara di dalam bersama dengan Claire," ucap Jesy gugup.
__ADS_1
"Apa? Jadi Claire sudah sadar?" tanya ibu Ria terkejut.
Bukannya menjawab mereka berdua teralihkan sosok pria matang keluar dari ruang inap tersebut dengan wajah yang menunduk.