
Di tempat lain Jason begitu frustasi mencari keberadaan Claire hilang bagaikan ditelan bumi.
Dia berusaha untuk mencari bukti kalau Claire sudah meninggalkan kota ini seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang melihat keberadaannya.
"Di mana kau, Claire?" lirihnya.
"Tuan, kami mendapatkan informasi kalau Nona ada yang membantu untuk meninggalkan kota ini." Jason menatap dalam sekretaris Derulo dia tidak menyangka kalau masih ada yang membantu Claire.
"Siap orang yang membantunya?!" tanya Jason penuh dengan penekanan.
"Orang kuat Tuan. Kami begitu sulit untuk mengkonfirmasi siapa orang yang menyembunyikan keberadaan Nona." Jason langsung memberikan pelajaran kepada sekretaris Derulo karena tidak becus melakukan pekerjaan.
"Kalian temukan orang itu bila perlu berikan dia pelajaran!" perintahnya.
"Baik Tuan," jawab sekretaris Derulo sambil mengusap wajahnya yang lebam.
Jason kembali ke kediamannya hingga Nyonya Meneer baru selesai makan malam langsung mendekati putranya itu.
"Mana wanita itu?" tanya Nyonya Meneer.
__ADS_1
"Mamanya Claire, mami," ralat Jason.
"Ya, ia kemana? Kenapa tidak datang bersamamu?" tanya Nyonya Meneer lagi.
Jason sama sekali tidak menanggapi pertanyaan mami, dia langsung naik ke atas karena tubuhnya benar-benar lelah. Baru kembali dari luar negeri langsung dihadapkan dengan masalah Jason langsung mengusap wajahnya untuk mengurangi rasa lelah.
"Kenapa orang-orang tidak pernah betah berada di sekeliling ku? Hanya Jesy yang bisa membuat diriku bahagia," lirihnya. Jason memejamkan kedua bola matanya tanpa mengganti pakaian langsung berbaring berharap esok Claire kembali.
Masa lalu yang begitu kelam membawa kehidupannya yang dijalani Jason saat ini tidak beraturan. Jesy seorang wanita spesial bagi Jason karena dia adalah adik kandungnya sendiri yang hilang beberapa tahun yang lalu.
Waktu berlalu begitu cepat mentari telah mengenai wajah Claire. Untuk pertama kalinya ia bangun begitu lama sampai matahari sudah tinggi.
"Hai, selamat pagi cantik," goda Rio.
"Rio?" Claire langsung menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang ter expose hanya lengan saja tapi ia risih Rio melihatnya.
"Maaf ya, aku senang sekali melihat mu sudah lebih baik. Oh ya, aku membawa sarapan untukmu ayo dimakan karena baby pasti sudah lapar," ucap Rio.
Claire begitu terharu mendengar ucapan Rio ia meneteskan air mata tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
"Terima kasih ya Rio. Ibu di mana?" tanya Claire.
"Kau mencariku?" Ibu langsung muncul di belakang Rio sambil membawa buah untuk di makannya.
"Maaf Bu, Claire telat bangun," ucapnya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa nak. Ayo habiskan nasinya lalu setelah itu makan buah ini ya agar baby sehat dan juga bundanya." Claire mengangguk mengerti ia benar-benar terharu melihat ibu yang baru dikenalnya sudah menganggapnya sebagai putri.
"Ya Bu," ucapnya pelan.
Rio hanya bisa menatap Claire perjalanan mereka masih panjang saat ini, begitu banyak rintangan yang harus dihadapi kedepannya.
Ibu melihat Rio menuju taman belakang rumah sambil memijit kepalanya yang pusing.
"Apa yang kau pikirkan nak?" tanyanya.
"Bu, setelah saya pikir kembali lebih baik kami tinggal di negara ini. Luar negeri sepertinya tidak cocok untuk Claire apalagi saat ini sedang mengandung." Ibu benar-benar terharu melihat Rio begitu mencintai Claire tanpa memikirkan dirinya sendiri.
"Kalian dua harus mendiskusikan ingin lebih dalam lagi nak, keputusan ada di tangan kalian berdua, jangan gegabah dan pikirkan lebih matang lagi." Rio gusar tidak tahu harus memulai dari mana mereka harus membuka lembaran baru. Apa lagi diluar sana sana anak buah Jason masih berkeliaran.
__ADS_1