
Claire tertawa melihat wajah Rio begitu kesal mendapatkan jawaban yang tidak diinginkannya.
''Claire belum memikirkan hal itu ke sana kak,'' ucapnya halus.
''Kau yakin kembali ke sana Claire sewaktu-waktu Jason datang kepadamu?" tanya Rio begitu serius.
''Aku tidak tahu kak, untuk saat ini begitu sulit untukku.'' Claire menunduk wajahnya terlihat sendu.
''Kakak minta maaf ya sudah membuatmu sedih,'' ucap Rio.
''Tidak apa-apa kak.'' Claire tersenyum kecil lalu mereka berdua menuju ke dapur untuk makan malam.
Namun berbeda dengan tetangga baru mereka berdua Jesy bingung hendak mau memasak apa untuk malam ini.
''Aku kan mana bisa memasak?" gerutunya.
''Nona sedang apa di dapur?" Jesy terkejut melihat wanita paruh baya mengenakan pakaian putih.
''Ibu jangan membuat jantung Jesy copot dong,'' kesalnya.
''Maaf Nona, ibu sudah terbiasa mengenakan pakaian putih,'' kekeh ya.
''Selama Jesy ada di sini jangan pakai pakaian itu lagi!" perintah ya.
''Baik Nona,'' jawabnya.
''Tolong masak mie ini ya Bu, Jesy lapar,'' tambahnya.
''Baik Nona.'' Jesy memilih menuju ke jendela memperhatikan rumah Rio yang terlihat gelap hanya beberapa lampu yang menyala.
__ADS_1
''Horor banget rumah itu,'' decak ya.
Jesy terus memperhatikan lalu dia melihat Rio bersama dengan seseorang namun tidak bisa dilihat dengan jelas.
''Sejak kapan dokter Rio bertamu? Padahal dari tadi tidak ada mobil masuk?" gumam Jesy.
''Nona, makan malam sudah siap!" seru ibu itu.
''Bu, bisa tidak membuat jantungku terkejut?!" pekiknya.
''Sudah berulang kali ibu memanggil namun Nona tidak mendengar, maaf,'' ucapnya.
''Ya sudah, jangan menggangguku lagi,'' tambahnya sambil beranjak dari sana.
''Baik Nona,'' kekeh ya.
"Aku sudah lama tidak merasakan mie ini," ucapnya sambil mengunyah.
"Astaga Nona Jesy tidak merasa orang kaya lagi," gumam ibu tersebut.
"Kak, kenapa malam ini kita ke panti?" tanya Claire sambil mengenakan pakaian tebal.
"Kalau malam orang-orang luar sana tidak akan mengenalimu," ucapnya lalu mengeratkan genggaman tangannya agar Claire tidak lepas darinya.
"Oh gitu," gumamnya.
"Claire, Rio di mana kalian?" panggil ibu Ria.
"Kak ibu sudah datang," ucapnya senang.
__ADS_1
"Ayo kita temui!" Claire mengangguk lalu mereka keluar menggunakan mobil pribadi milik ibu Ria agar nyaman.
"Bagaimana perasaanmu nak? Apa ada yang membuatmu sulit?" tanya ibu Ria.
"Baik Bu, hanya saja kadang pinggangku panas," balasnya.
"Sudah berapa bulan baby ya?" Ibu Ria mengusap perut Claire lembut.
Ke ibuannya keluar karena dulu tidak sempat memiliki anak karena sang suami sudah lebih dulu berpulang.
"Mau tiga bulan Bu," balasnya gugup.
"Kamu beruntung nak bisa menjadi seorang ibu, banyak di luar sana menginginkan hal ini hanya saja belum terwujud," tambah ibu Ria.
"Mereka tidak seperti yang kualami ini Bu," batin Claire.
Rio melirik ke arah belakang dia curi-curi pandang melihat wajah Claire yang sendu.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu Claire tapi kau tidak boleh melupakan anak dalam kandungan mu," gumam Rio.
Waktu mereka tempuh cukup lama akhirnya tiba disambut oleh anak-anak yang kurang beruntung.
"Ibu Ria!" teriak mereka bersama langsung berlomba memeluk dia.
"Hai, maaf ya ibu datang malam," ucapnya.
"Tidak apa-apa Bu. Kami senang ibu datang tapi siapa mereka ini, Bu?" Ibu Ria berdiri dia mengenalkan Rio dan Claire.
"Anak ibu, sama seperti kalian sayang," lirih ibu Ria.
__ADS_1