Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Mengurus Surat Cerai


__ADS_3

Rio menghubungi seseorang agar secepatnya mengurus surat cerai Claire.


"Kirim menggunakan jasa kilat!" ucap Rio.


"Baik Tuan," jawabnya cepat.


Rio mengepalkan erat tangannya membayangkan wajah Jason yang tidak pernah merasa bersalah.


"Mudah-mudahan pria itu mau menandatangani surat cerai Claire. Dia tidak boleh tahu saat ini Claire sedang mengandung," batin Rio.


Suara ketukan pintu sebanyak tiga kali membuat Jason harus bangun dari tidur panjangnya.


"Kak?" panggil Jesy. Wajah masih mengantuk karena tanggung tidur, dia melihat Jesy berdiri begitu tenang.


"Ada apa?" tanya Jason kesal.


"Ada surat sama kakak!" Jason menerima amplop tersebut dia heran nama pengirim tidak ada di sana.


"Dari siapa ini?" tanya Jason.


"Kurir tadi datang kak, udah ya Jesy mau istirahat dulu." Jesy langsung meninggalkan kamar Jason.


Penasaran Jason membuka lalu dia baca pelan-pelan sampai kertas itu tanpa disadarinya sudah menjadi bola.


"Beraninya kau Claire melayangkan gugat?!" pekik Jason lalu melempar kertas itu asal-asalan.


Segala yang ada sekelilingnya Jason hancurkan hingga Jesy yang baru memejamkan mata tersentak mendengar suara pecah.


"Kak Jason?!" pekiknya lalu turun tanpa memperdulikan penampilan.


"Aku tidak bisa menandatangani surat cerai itu Claire karena kau masih terikat denganku," teriaknya.


"Ada apa ini kak?" tanya Jesy panik melihat keadaan kamar Jason bagaikan kapal pecah.


"Claire melakukan gugatan cerai, Jesy," ucapnya.


"Apa? Kapan kak?" tanya Jesy.


"Yang kau bawa tadi surat cerai Claire." Jesy terbelalak dia tidak menyangka Claire akan talak kakak ya yang tampan dan kaya raya.


Padahal di luar sana banyak wanita yang menginginkan posisinya sebagai istri. Namun berbeda dengan Claire sama sekali tidak tertarik jadi pendamping Jason.


"Tapi, memang pantas sih Claire ajukan gugatan karena bekas luka yang kakak buat kepadanya tidak akan pernah ia lupakan," lirih Jesy.


"Kau membelanya, Jesy?" tanya Jason tidak percaya.


"Bukan bela kak, coba kakak introspeksi diri dulu saat ini. Jesy tahu kakak memiliki kekuasaan besar bahkan pejabat di negeri ini tunduk sama kakak sementara Claire, apakah ia tunduk tidak kan kak?" Tubuh kekar itu jatuh ke lantai setelah mendengar ucapan Jesy.


"Kak, aku tahu masalah kakak berat ditambah aku yang bilang beberapa tahun dan kembali tanpa merasa bersalah. Tapi, berbeda dengan Claire ia korban dan tidak tahu apa-apa," tambah Jesy.


"Hidupku berantakan Jesy. Sampai sekarang kakak tidak terima Claire pergi dari sini," lirihnya.


"Kakak mencintai Claire atau tidak?" tanya Jesy.


Jason menatap wajah Jesy nanar tatapan itu telah mengisyaratkan ia. Jesy memberikan pelukan hangat, sebagai adik satu-satunya dia sakit melihat Jason seperti ini.


"Kakak istirahat dulu ya, besok kita bicarakan ini bersama dengan Om Derulo," ucap Jesy.


"Ya," angguk Jason.


Jesy membawa Jason sementara ini ke kamarnya karena tidak mungkin menunggu pelayan bersihkan kamar ya yang berantakan.


Wajah tampan itu terlihat damai dalam pelukan Jesy, beberapa bulir bening lolos hampir saja mengenai ya.


"Kasihan kamu kak," batinnya.


Malam semakin larut cuaca di luar sana begitu dingin hingga menusuk ke tulang-tulang. Claire merasakannya bahkan selimut sudah membalut tubuhnya tetap saja tembus.


"Kog dingin ya? Padahal kamar ini sudag tidak dipasang air conditioner?" gumamnya.


Rio terusik karena Claire terus bergerak hingga dia tidak bisa memejamkan mata.


"Ada apa sampai tidak bisa tidur?" tanya Rio halus.


"Dingin kak?" ucapnya malu.


"Masa?" Rio merasakan padahal hangat sana sekali angin dari luar tidak bisa tembus ke dalam kamar.


"Coba kakak rasakan!" Kaki itu bagaikan es batu hingga Rio spontan langsung pasang badan hangatkan kaki itu.


"Kenapa bisa seperti ini sih? Kalau kamu sakit nanti bagaimana Claire?" protesnya.


"Aku juga tidak tahu kak, tiba-tiba saja sudah dingin," balasnya gugup karena tangan hangat Rio telah menyentuh kulitnya.


"Kalau ada membuatmu tidak tenang katakan kepada kakak jangan diam Claire." Claire diam sesaat ia benar-benar kagum kepada Rio selalu memberikan kehangatan kepadanya.


"Dengan apa aku balas kebaikan mu kak Rio?" batin Claire dalam hati.


Waktu semakin berlalu Claire pada akhirnya tidur dalam pelukan hangat Rio. Diam-diam Rio mencuri menyentuh keningnya sambil menahan napas.


"Calon istriku," kekeh Rio.


Keesokkan harinya Jason cepat datang ke kantor karena sudah tidak sabar lagi berdiskusi dengan sekretaris Derulo.


Bahkan para karyawan sampai panik karena CEO lebih dulu hadir daripada mereka.


"Cari tahu siapa pengirimnya Derulo, aku tidak mau tahu Claire harus kembali ke tanganku!" perintah Jason.


"Surat cerai? Jadi Nona ingin cerai dengan Tuan?" tanya sekretaris Derulo tidak menyangka.

__ADS_1


"Aku tahu seseorang ada bermain denganku Derulo. Andaikan keberadaan Claire aku tahu," batinnya.


"Kasus ini sangat berat Tuan. Anda ingat pertama kali bertemu dengan Nona Claire?" Alis Jason naik dia mana mungkin melupakan malam petaka itu.


"Semua karena Larisa dan ibunya," kesal Jason.


"Dan perlakukan Tuan kepada Nona, Tuan," tambah sekretaris Derulo.


"Itu semua spontan aku melakukannya Derulo, kalaupun Claire mempermasalahkan itu baiklah aku salah," ucapnya mengalah.


"Tuan baru mengatakan apa? Salah? Oh My God berita terbaru?" tawa sekretaris Derulo.


"Kau dengar aku tidak Derulo?!" pekik Jason lagi.


"Maaf Tuan, saya akan melaksanakan ya," jawabnya cepat.


"Baru kasus Jesy akan terungkap kalau Claire kembali," tambahnya.


"Nona Jesy benar-benar membuat penasaran, bisa-bisanya dia menutup diri dan hilangkan semua jejak," dengus sekretaris Derulo.


Pekerjaan baru membuat sekretaris Derulo pusing, bukannya mengurus perusahaan malah kasus keluarga Jason Monta.


Jesy memasuki gedung pencakar langit itu sambil tersenyum lebar kepada para karyawan. Mereka takjub dengan Jesy ramah beda dengan Jason dingin bagaikan es batu.


"Om, kak Jason ada di dalam?" Sekretaris Derulo mengelus dada terkejut mendengar suara Jesy.


"Ya Nona," jawabnya setelah merasa tenang.


Jesy langsung masuk tanpa mengetuk pintu hingga Jason sedang memperhatikan foto Claire tanpa berkedip tidak menyadari kedatangan adiknya itu.


"Jesy tahu kalau Claire sangat cantik kak." Jason tergelonjak kaget langsung berbalik.


Dia berdehem beberapa kali mengurangi malu ketahuan sedang menatap kagum wajah Claire.


"Mau apa ke sini?" tanya Jason ketus.


"Kakak tidak sibuk kan?" tanya Jesy lalu melingkarkan tangannya ke leher Jason dari belakang.


"Tidak terlalu, memangnya kenapa?" tanya Jason.


"Kita ke rumah sakit yuk kak, sepertinya kepalaku berdenyut pasca kejadian kemarin," keluh ya.


Jason langsung berbalik menatap wajah Jesy memang terlihat pucat. Tanya berpikir panjang Jason langsung membawanya ke rumah sakit.


"Ayo, kenapa baru mengatakan sekarang?" pekik Jason.


"Karena Jesy suka berikan kejutan," balasnya tanpa merasa bersalah.


Jason semakin kesal dia langsung melajukan mobilnya membelah jalan raya yang lengang. Setibanya, Jason langsung main masuk ke dalam sambil memanggil nama ibu Ria.


"Nyonya Ria di mana?" tanya Jason kepada petugas resepsionis.


"Petugas baru ya? Hubungi Nyonya Ria katakan Jason sedang mencarinya, darurat?!" pekik ya.


"Ba-baik Tuan." Jesy tertawa kecil melihat wajah panik Jason, dia tidak menyangka kalau kakak ya ini benar-benar mencintainya.


"Lalu, seandainya kak Jason tahu apa yang kualami dulu bagaimana ya respon ya?" batin Jesy.


Dari ujung lorong ibu Ria panik mendekati Jason karena kedatangan ya begitu tiba-tiba.


"Tuan Jason, kenapa tidak langsung ke ruangan saya saja?" tanya ibu Ria.


"Bukan saya Nyonya tapi Jesy merasakan sakit pada kepalanya," balas Jason.


"Maaf ya Bu, saya buat ibu menjadi panik," ucap Jesy halus.


"Tidak masalah semua ini terjadi karena ibu, ayo kita ke sana biar ibu periksa!" Jesy mengangguk mengerti lalu dia merebahkan tubuhnya.


"Sejak kapan merasakan denyut ya nak?" tanya ibu Ria halus.


"Baru tadi Bu," balasnya tanpa mengedipkan mata menatap wajah ibu Ria yang lembut.


"Tidak ada yang serius. Cukup istirahat jangan banyak melakukan aktifitas dulu ya karena benturan kemarin masih menyisakan bekasnya yang belum kering," terang ibu Ria.


"Sampai kapan Bu?" tanya Jesy lagi.


"Minggu ini dicek lagi ya, mudah-mudahan langsung bersih." Senyuman ibu Ria yang manis membuat Jesy terhipnotis.


"Jesy?!" panggil Jason.


"Ibu lembut kak," ucapnya tanpa sadar.


"Anak ini selalu buat masalah, maaf Nyonya Ria sepertinya Jesy kena demensia," ucap Jason hingga ibu Ria tertawa kecil mendengar ucapan Jason barusan.


Jason menyempatkan diri membahas proyek mereka berdua sebelum meninggalkan rumah sakit. Langsung pulang dari luar kota membuat tubuhnya lelah apalagi Claire mengajukan surat cerai.


Lantai dasar Jesy memainkan ponselnya karena bosan menunggu Jason. Rio tidak sengaja melihat Jesy ketika jenguk pasien.


"Dia kan adik Jason, sedang apa di sini?" batin Rio.


"Dokter Rio, kita bertemu lagi." Jason menepuk pundak ya dari belakang hingga Rio kaget.


"Tuan Jason bukannya anda berada di luar kota?" alih Rio mengurangi keterkejutannya.


"Mau minum denganku!" ajak Jason.


"Baik," balas Rio cepat.


Mereka berdua menuju ke taman rumah sakit sambil menikmati secangkir kopi.

__ADS_1


"Rumah sakit Nyonya Ria hampir setara dengan milikku," ucapnya.


"Saya bangga sekali Tuan Jason. Masyarakat terbantu adanya rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap," balas Rio.


Jason menatap wajah Rio yang dingin tanpa ekspresi, dia bandingkan dirinya yang super dingin malah masih ada yang lebih dingin.


"Dokter Rio mengenal Claire Danes?" Pertanyaan itu membuat sekujur tubuh Rio membeku.


Gelas kopi nyaris jatuh ke tanah kalau Jason tidak cepat membantunya menahan.


"Maaf, ya saya kenal karena kami dulu mahasiswa salah satu universitas kedokteran milik anda Tuan Jason. Kebetulan jurusan kami berdua sama yaitu alih bedah departemen. Setelah lulus, saya dan Claire magang di rumah sakit milik anda tapi." Jason menatap wajah Rio yang terlihat sendu.


"Tapi apa?" tanya Jason penasaran.


"Claire hilang, jejaknya tidak ada yang tahu beberapa bulan dan saya kemarin melihat ya sudah menikah dengan anda Tuan. Terima kasih sudah mau menikahinya karena masa hidup ya dulu sulit," ucapnya lagi.


"Sepertinya dokter Rio mengenal banyak soal Claire?" Rio baru menyadari dia terlalu banyak bicara.


"Karena saya dan Claire bersama hampir tujuh tahun Tuan. Tapi anda telah melakukan pencarian terhadap Claire, saya turut sedih Tuan," lirihnya.


"Ia hilang dokter Rio, aku tidak tahu keberadaannya saat ini," balas Jason.


"Saya turut sedih Tuan." Jason menyeruput kopi ya lalu membuang botolnya ke tempat sampah.


"Karena itu dokter Rio meninggalkan rumah sakit milikku?" Rio memilih jujur karena berbohong tidak mungkin.


"Ternyata istriku populer ya tapi hanya di matamu dokter Rio," kekeh Jason.


"Anda mencintai Claire, Tuan?" Pertanyaan itu lolos begitu saja hingga ketakutan terjadi pada diri Rio.


"Cinta? Apa kau juga mencintainya dokter Rio?" Keheningan terjadi sementara waktu hingga Jesy memotong obrolan mereka berdua.


"Kakak ternyata di sini? Jesy cari ke mana-mana tahunya sedang mengobrol," protesnya.


"Lain kita mengobrol." Rio mengangguk lalu melihat kepergian Jason dan adiknya itu.


"Jangan sampai Jason curiga bisa tinggal nama aku," batin Rio.


Jason diam selama di perjalanan lebih memilih fokus menyetir berbeda dengan Jesy terus mengoceh.


"Siapa dokter tampan tadi kak?" tanya Jesy penasaran.


"Dia sepertinya pernah ku lihat tapi di mana ya?" ucapnya lagi.


"Oh, ya perumahan jadi dia seorang dokter ya keren juga," tawanya.


Jason tidak mau tahu yang dikatakan Jesy hingga mereka tiba. Jesy bagaikan orang yang tidak sakit karena jalan kadang lompat lalu lari.


"Anak bodoh," gumam Jason.


"Kakak kembali ke perusahaan kah?" tanya Jesy.


"Tanggung kembali ke sana," balasnya laku duduk sambil memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.


"Minum dulu kak." Dunia sudah terbalik seharusnya Jesy diberikan minum bukan dia.


"Duduk sini!" seru Jason.


"Kakak mau apa?" tanya Jesy heran.


"Belum mau jujur kepada kakak walaupun Claire belum ditemukan?" tanya Jason.


"Maaf kak, Jesy belum bisa cerita," lirihnya.


"Andaikan kakak tidak melakukan hal itu kepada Claire kita mungkin sudah berkumpul," ucapnya.


"Semuanya karena Jesy kak," lirihnya.


"Sudahlah, tidak perlu merasa bersalah sekarang kita harus tahu di mana keberadaan Claire," tambahnya.


"Ya kak," angguk Jesy.


Jason mendapatkan laporan dari sekretaris Derulo identitas pengirim surat cerai Claire.


"Di mana pria itu?" tanya Jason serius.


"Ada di markas Tuan," jawabnya.


"Siapa yang mengirim surat itu Derulo?" tanya Jason tidak sabaran.


"Dia tidak mau jujur Tuan." Rahang Jason mengeras dengar perkataan sekretaris ya itu.


"Berikan dia pelajaran, hanya ini petunjuk yang kita miliki Derulo jadi jangan sampai lolos!" peringat Jason.


"Baik Tuan," jawab sekretaris Derulo cepat.


Jason mengeram kesal dia banting ponselnya sampai pecah, hilangnya Claire dalam hidup ya mampu mengacaukan pikirannya.


"Claire jangan sampai aku yang menyeret kau keluar dari persembunyian?" geram ya.


"Katakan siapa yang menyuruhmu mengirim surat ini?" tanya sekretaris Derulo.


"Saya hanya kurir, sumpah sudah kami tegakkan jaga privasi pelanggan. Bukankah anda juga seperti itu Tuan?" Sekretaris Derulo mengeram kesal bocah telah memberikan ceramah kepadanya yang sudah berpengalaman.


"Jangan samakan aku dan kau, katakan sekarang siapa yang mengirim ini?" tanya sekretaris Derulo lagi.


"Percuma kalian tanya saya tidak akan pernah beritahu. Oh ya, Kalian mau melakukan kekerasan jangan salah kan besok kalian akan berurusan dengan hukum," peringatnya.


"Apa maksudmu?" tanya sekretaris Derulo tidak mengerti.

__ADS_1


"Kalian sedang diawasi masyarakat karena menculik pria seperti ku. Besok lihat saja di berita wajah majikan kalian akan tertera di segala iklan!" tawanya terbahak-bahak.


__ADS_2