
Kunci utama dalam pencaharian Claire kali ini Jason semakin meningkatkan penjagaan kepada Jesy.
Jason langsung berhadapan langsung dengan Jesy di meja sarapan pagi. Suasana yang dingin membuat keduanya jadi kaku untuk membuka obrolan.
"Pelayan, bawa ikan bakar itu ke sini!" ucap Jason.
"Baik Tuan," jawabnya.
"Kau makan ikan apa, Jes?" tanya Jason yang pada akhirnya mengalah.
"Daging ayam semur kak," balasnya datar.
"Bawa juga yang dia inginkan!" tambah Jason.
Pelayan mengiyakan lalu mereka berdua sarapan pagi bersama tanpa ada obrolan. Sesekali Jason melihat wajah Jesy terlihat pucat.
"Jes, kau baik-baik saja kan?" Pertanyaan Jason hentikan dia sarapan pagi.
"Ya kak," angguk ya.
"Temani kakak ke kantor ya, hari ini banyak pekerjaan yang menumpuk!" pinta Jason.
"Baik kak." Jason berusaha sabar hadapi adiknya yang sudah lama tidak dia lihat tiba-tiba muncul tanpa ada angin dan hujan.
Sekretaris Derulo membuka pintu mempersilahkan mereka berdua masuk ke mobil.
__ADS_1
"Jesy, kau tidak mau kerja dengan kakak?" tanya Jason halus.
"Jesy lihat dulu ya kak soalnya sudah lama aku tidak menyentuh komputer," balasnya.
"Jesy tidak pernah menyentuh komputer?" batin Jason.
"Astaga Jesy, kenapa kau bodoh sekali mengatakan itu sama kak Jason. Nanti dia curiga bagaimana?" pekik ya dalam hati.
"Kakak maklum karena kau pasti memiliki masalah kan? Tapi Jesy bisa tidak cerita dikit sama kakak?" Jesy memilih membuang wajahnya ke samping.
"Sebelum Claire belum ketemu, Jesy tidak akan pernah cerita kak." Jason memilih diam, memaksa Jesy bercerita sama saja hilangkan kepercayaan adiknya itu.
Jason dan Jesy turun secara bersamaan seluruh karyawan bengong wanita yang bersama dengan CEO itu.
"Ya, itu Nona Jesy yang hilang kan?!" pekik karyawan lain tidak disebut namanya.
"Oh My God?! Apa yang sebenarnya terjadi?" Jason dan Jesy tetap masuk ke dalam tidak memperdulikan bisikan para karyawan.
Lift, hanya ada mereka bertiga bersama sekretaris Derulo. Jason menatap Jesy terlihat biasa saja tidak memperdulikan ocehan para karyawan Jason.
Pintu lift terbuka Jason duluan keluar laku diikuti Jesy dan sekretaris Derulo dari belakang.
"Ini ruangan barumu Jesy. Derulo akan membantumu kalau ada masalah yang tidak bisa kau pecahkan," ucap Jason.
"Lumayan, baik kak mudah-mudah Jesy betah," balasnya.
__ADS_1
"Kakak masuk dulu ya," ucap Jason halus sambil mengusap kepala Jesy lembut.
"Ya kak," angguk Jesy.
Jason sudah hilang balik pintu lalu Jesy menatap ponselnya melihat pergerakan seseorang.
"Teruslah healing dan healing sampai kedua kakimu karatan," gumam Jesy.
Berbeda dua tempat lain, Claire kagum melihat rumah sakit tempat Rio bekerja. Ibu Ria terus mengajak mereka berdua mengelilingi setiap sudutnya.
"Kau menyukainya, Claire?" tanya Rio.
"Sangat, rumah sakit dengan tema alam," balasnya.
"Nanti kalau sudah lahiran, kau bisa bekerja di rumah sakit ibu ini nak," usul ibu Ria.
"Benarkah, Bu?" tanya Claire begitu antusias menyambutnya.
"Ibu tidak akan pernah berbohong kalau bukan buat kalian nak," goda ibu Ria sambil terkekeh.
"Terima kasih sudah menjaga kami Bu," lirihnya.
"Jangan berkecil hati nak, anggap ibu sebagai saudara, teman curhat dan lain-lain," tambah ibu Ria lalu tangannya mengusap kepala Claire halus.
"Ya Bu, semoga saja bisa nanti menjadi wanita seperti ibu," lirihnya. Ibu Ria hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Claire tadi.
__ADS_1