Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Turun Gunung


__ADS_3

Jesy tertawa kecil melihat wajah kekesalan saudaranya itu mereka berdua menikmati ayam goreng tersebut namun hanya sepotong dihabiskan selebihnya Jason.


Semakin lama diperhatikan Jesy merasa ada yang aneh terhadap Jason tidak tidak menyukai makanan seperti ini.


''Bukannya kakak suka vegetarian?" tanya Jesy.


''Apa yang kulakukan?!" pekik Jason lalu menjatuhkan ayam tersebut.


''Beberapa hari ini kakak aneh makan yang pedas seperti mengidam saja,'' tawa Jesy.


''Mengidam?" Kata-kata itu pernah dia dengar sebelumnya tapi tidak tahu siapa yang mengatakan.


''Kak, ibu yang bertabrakan dengan kita baik dan cantik ya,'' ucap Jesy.


''Dia seorang dokter tentu harus baik dan cantik,'' balas Jason.


''Tapi biasanya orang kaya terlihat congkak tapi ibu itu tidak,'' tambah Jesy.


''Ya, kau benar sekali Jesy.'' Jason kembali memasukkan ayam goreng tersebut ke dalam mulutnya.


''Bagaimana kalau kita ke rumah sakit ya kak berpura-pura sebagai pasien?" usul Jesy.


''Kau sudah gila ya.'' Jason tersedak mendengar ucapan Jesy.

__ADS_1


''Jesy ingin kembali bertemu dengan ibu itu kak, mau ya," pinta Jesy.


"Tidak boleh," larang Jason.


"Ayolah kak, sekalian periksa jidatku lihatlah memar," tunjuknya.


"Sejak kapan memar? Kenapa tidak beritahu kakak?!" pekik Jason.


"Jesy dari tadi sudah bilang kan ayo kita temuin ibu itu dan inilah alasannya," ucapnya.


"Baiklah! Besok kita pergi." Jesy langsung bersemangat lalu menyuapkan ayam goreng ke mulut Jason.


Malam semakin larut semua sudah kembali ke kamar namun Jason termenung sendirian sambil menikmati angin yang berhembus kencang.


Dia terbayang sosok Claire Danes sudah lama tidak pernah melihat wajahnya. Rasa penyesalan tiba-tiba datang begitu saja hingga perbuatannya dulu tidak baik terlihat nyata di depan.


Namun wanita yang dia sebut saat ini sedang menunggu kedatangan Rio. Hingga sebuah mobil memasuki halaman pekarangan.


"Kak Rio sudah kembali," ucapnya berbinar.


"Sedang apa di luar? Nanti kau masuk angin Claire?" tanya Rio.


"Menunggu kakak," kekeh ya.

__ADS_1


"Tapi di luar dingin nanti kalian kenapa-kenapa bagaimana?" tanya Rio cemas seperti sudah suami saja cerewet.


"Claire kuat kak, angin tidak akan mengenai ku," kekeh ya.


"Dasar kau ini." Rio begitu gemas hingga tangannya mengusap kepala itu.


"Kakak sudah makan belum?" tanya Claire.


"Belum! Kakak tidak mau makan di luar karena di sini tiap hari ada yang kumakan," goda Rio.


Wajah Claire memerah mendengar ucapan Rio hingga ia langsung mengisi nasi dalam piringnya.


"Duduk saja, kakak bisa melakukannya." Rio dudukan Claire karena dia tidak mau bayi ya kenapa-kenapa.


"Aku tidak apa-apa kak, lagian ini pekerjaan ringan." Rio tersenyum lebar menerima nasi tersebut.


"Besok, kakak mau ke luar kota," ucap Rio sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


"Ngapain kak?" tanya Claire tidak senang karena ditinggal sendirian di vila bersama bibi.


"Beli obat-obatan Claire. Desa fasilitas ya minim dan sulit diakses. Kebetulan kakak ada pekerjaan lain jadi sekalian saja tapi kalau kau tidak setuju kakak turun gunung, kakak akan tetap di sini," ucapnya.


"Demi kemanusiaan Claire tidak bisa menolak kak, sebagai mantan dokter aku mengerti kog tugas kakak bagaimana," lirihnya.

__ADS_1


"Maaf ya, kakak usahakan sebelum petang sudah kembali ke sini." Claire mengangguk mengerti.


Claire menatap Rio lahap makan padahal ia tadi hanya masal ala kadarnya bersama dengan bibi.


__ADS_2