Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Terikat Dengan Jason


__ADS_3

Claire langsung menerima panggilan ibu Ria sambil tarik napas dalam-dalam.


"Halo ibu?" sapa Claire.


"Hai nak, bagaimana kabarmu?" tanya ibu Ria.


"Baik Bu. Ibu apa kabarnya?" tanya Claire halus.


"Baik juga nak." Hening dua wanita itu saling diam.


"Bu, Claire?" mereka berdua memanggil bersamaan.


"Ibu saja duluan," ucap Claire.


"Kamu saja nak, mau bilang apa tadi?" tanya ibu Ria.


"Bukan apa-apa Bu," ucapnya.


"Ibu hanya dengar suaramu saja nak," ujarnya.


"Ya Bu," sahut Claire.


Claire termenung sendirian di ruang tengah tiba-tiba ia ingin sekali melihat wajah Jason yang galak. Namun, raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi murung mengingat perlakuan Jason tidak baik selama ini.


"Jesy, temani kakak ke kantor!" ajak Jason.


"Mau apa ke kantor kak? Jesy betah di rumah sambil memikirkan cara mencari keberadaan Claire," jawabnya.


"Untuk apa kau cari keberadaan, Claire?" tanya Jason.


"Kak, Claire sepertinya wanita spesial, Jesy pasti bisa temukan ia," ucapnya penuh percaya diri.


"Memangnya kau tahu rupa Claire? Ia wanita keras kepala, murah menangis." Jesy tertawa kecil mendengar ucapan Jason.


"Kakak mencintai Claire kan?" Pertanyaan Jesy membuat wajah Jason berubah dingin.


"Kau salah besar, cinta tidak pernah ada dalam hidupku kecuali mencintaimu." Jason langsung meninggalkan Jesy sambil berdehem.


"Akan kupastikan kalian dua bersatu lagi tapi tidak janji," kekeh Jesy.


Sekretaris Derulo melihat Jason wajahnya terlihat tidak bersahabat padahal masih pagi.


"Selamat pagi, Tuan," sapa sekretaris Derulo.


"Jalan Derulo, aku lagi muak," gerutu Jason.


"Baik Tuan," jawab sekretaris Derulo.


Sepanjang perjalanan Jason menatap ke luar dia terus memikirkan Claire. Hubungannya saat ini beda karena mereka berdua sudah suami istri.


"Akta nikah kami bagaimana, Derulo?" tanya Jason.


"Hari ini selesai Tuan," jawab sekretaris Derulo.


"Sebarkan wajah Claire ke seluruh penjuru. Ia adalah wanitaku tidak boleh satupun yang mengambil dariku," dengus Jason.


"Baik Tuan." Senang hati sekretaris Derulo melakukannya dengan baik perintah Jason.


"Derulo berhenti restoran Jepang," ucap Jason.


"Janji dengan pak Harto di hotel Permana bukan di restoran Jepang, Tuan," potong sekretaris Derulo.


"Bodoh! Aku mau makan udang pedas!" sentak Jason.


"Baik Tuan, sejak kapan Tuan Jason suka makan udang pedas lagi," gumam sekretaris Derulo dalam hati.


Heran tapi Jason Monta tiba-tiba menyukai makan udang pedas tanpa ada angin dan hujan. Dua porsi habis dia habiskan hanya dalam beberapa menit.


Sekretaris Derulo terus melihat arloji pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh.


"Tuan, Pak Harto sudah menunggu," ingatkan sekretaris Derulo.


"Atur ulang jadwalku Derulo." Kedua bola mata sekretaris Derulo terbelalak karena mereka sudah telat setengah jam.


"Tapi Tuan, Pak Harto." Mata Jason melotot akhirnya patuh hubungi pak Harto.


Lima porsi udang pedas habis di makan Jason tanpa menyisakan sedikitpun. Sekalipun dia tidak menawarkan kepada sekretaris Derulo.


"Tuan jahat benar, aku juga kan lapar," gerutu sekretaris Derulo.


Perjalanan dilanjutkan Jason mulai bekerja tengah hari, seketika kepalanya pening melihat tumpukan berkas menumpuk di atas meja.

__ADS_1


"Derulo bisa kau turun sebentar beli minuman soda?" ucap Jason.


"Tapi Tuan tidak menyukai minuman sejenis itu?" tanya sekretaris Derulo.


"Tapi aku lagi ingin Derulo. Cepat kau belikan supaya aku bisa tenang kerja!" perintah Jason.


"Baik Tuan," jawab sekretaris Derulo.


"Jangan kau suruh orang," tambah Jason. Sekretaris Derulo mengangguk mengerti lalu meninggalkan ruangan Jason.


"Permintaan Tuan aneh, kalau aku kan banyak pekerjaan lalu apa salah kusuruh bawahanku belikan?" gerutu sekretaris Derulo.


"Tuan Derulo, saya sudah meletakkan berkas kerja sama dengan pak Harto meja anda," ucap assisten ya.


"Periksa mana benar dan salah, pekerjaanku banyak." Assisten tersebut tercengang mendengar ucapan atasannya itu.


"Baik Tuan," jawabnya cepat.


Beberapa menit berlalu sekretaris Derulo kembali membawa minuman yang diinginkan Jason. Namun, langkahnya berhenti sang CEO tidur sambil mangap.


"Tuan yang makan udang, saya yang merasakan tegang di leher," umpatnya.


Waktu terus berputar begitu cepat hingga akhirnya Rio kembali dengan wajah yang lelah. Ponselnya berdering nyaring kedua bola matanya terbelalak melihat pesan ibu Ria.


"Jason ternyata mencari kami sampai ke penjuru dunia," batinnya.


"Kak Rio sedang apa di sana?" tanya Claire heran Rio berdiri mematung tepat di teras.


"Oh, tadi ada pemberitahuan besok kakak cuti," ucapnya.


"Baru masuk kog bisa langsung cuti kak?" tanya Claire sambil mengikuti Rio masuk ke dalam.


"Pasien banyak Claire baru-baru ini dan besok sisanya perawat sudah bisa tanganin mereka," balas Rio.


"Oh seperti itu," ucap Claire.


"Bagaimana harimu di rumah?" tanya Rio.


"Membosankan kak, tidak ada kegiatan," lirihnya.


"Kau mau ikut kakak tidak?" tanya Rio.


"Ke mana?" Rio tidak menjawab dia memakaikan pakaian hangat ke tubuhnya.


"Kau menyukainya?" tanya Rio.


"Suka, dari mana kakak tahu tempat ini?" tanya Claire.


"Tadi, pasienku ada di sana lalu aku penasaran tempat ini ya ini lah dia," tunjuk Rio begitu bangga bisa menemukan tempat indah tepat pinggir pantai.


"Jadi bagaimana pasien kakak?" Rio tersenyum lebar lalu menunjuk ke belakang.


"Itu mereka," ucapnya.


"Mereka sedang apa kak?" tanya Claire bingung.


"Ayo kita makan ikan bakar, kau pastikan suka kan?" Claire tidak menjawab ia langsung menuju ke tempat tersebut.


"Tadi aku menginginkan ikan bakar tapi kakak kog bisa tahu ya?" tanya Claire.


"Karena aku mencintaimu Claire," jawabnya dalam hati.


"Kak, kog bengong?" tanya Claire sambil guncang tubuh Jason.


"Tidak tahu, ingin aja kakak mau makan ikan bakar ternyata kamu juga ingin," kekeh Rio.


"Menyebalkan," ucap Claire.


"Apa kau bilang barusan?" tanya Rio.


"Tidak jadi," kekeh Claire.


"Dasar kau ya, sudah berani kepada kakak." Claire tertawa kecil sambil menerima usapan lembut ke kepalanya.


Pertama kali wajah sendu itu terlihat ceria sambil menikmati matahari hampir tenggelam. Rio menatap pesan ibu Ria kembali masuk karena dia belum balas satupun.


"Rio, tetap waspada jangan sampai lengah keberadaan kalian lagi terancam!" peringat ibu Ria.


"Ada apa kak?" tanya Claire tidak sengaja melihat wajah Rio cemas.


"Claire, kalau seandainya kita meninggalkan tempat ini dan tinggal lebih dalam, mau tidak?" tanya Rio lirih.

__ADS_1


"Di sini memangnya kenapa kak?" Kening Claire berkerut mendengar ucapan Rio barusan.


"Pekerjaan kakak sudah selesai di sini, kita cari tempat baru ya?" rayu Rio.


"Baik kak," ucap Claire.


"Oh syukurlah Claire mau," batin Rio dalam hati.


Claire dan Rio menikmati ikan bakar dengan santai beda dengan Jason hampir tiap jam makan ikan pedas. Sekretaris Derulo sampai panik melihat keanehan yang terjadi kepada sang CEO.


"Ada yang tidak beres?" gumamnya.


"Derulo, mana ikannya?" panggil Jason.


"Tuan sudah makan terlalu banyak satu hari ini kalau bisa di batasi karena pencernaan anda nanti bermasalah," ucap sekretaris Derulo hati-hati.


"Kau menantangku?" sorot mata Jason melebar menatap sekretaris ya itu.


"Tapi Tuan, kesehatan anda nanti-" Jason dengan cepat langsung memotong ucapan sekretaris ya itu.


"Minggir kau, tidak berguna." Kalau sudah seperti ini sekretaris Derulo akan mendapatkan masalah serius.


"Tuan silahkan duduk, saya akan mengambilkannya," tahannya.


Jesy memperhatikan Jason dari atas heran melihat porsi makan kakaknya itu.


"Bisa-bisa perut kotak-kotak itu nanti seperti ikan buncit," decak Jesy.


"Nona sedang apa di sini?" tanya sekretaris Derulo tidak sengaja melihat Jesy sudah dekat pintu dapur.


"Kakak sedang makan apa, Om?" tanya Jesy.


"Ikan bakar pedas Nona tapi Tuan sudah terlalu banyak memakannya. Saya cemas nanti pencernaan Tuan bermasalah," lapor sekretaris Derulo.


"Biarkan saja Om," balas Jesy.


"Apa?! Nona serius? Bagaimana nanti Tuan kalau sakit?" tanya sekretaris Derulo panik.


"Biar jera." Jesy ikut duduk di sebelah Jason masih makan hanya sambal saja.


"Kau mau makan ikan bakar juga?" tanya Jason tanpa menoleh kepada Jesy.


"Kakak masih sehat atau tidak?" pertanyaan itu membuatnya harus hentikan tangannya.


"Apa maksudmu?" tanya Jason dingin.


"Kakak seperti ngidam saja, suka makan pedas bahkan lebih parahnya kakak makan hanya pakai sambal doang," sindir Jesy.


"Ngidam? Kau pikir aku wanita pakai acara ngidam?!" pekik Jason.


"Sudah berapa ekor ikannya kakak makan hanya pakai sambal?" tanya Jesy sambil menatap Jason serius.


"Dari tadi pagi kakak makan udang pedas dan siang sampai sekarang ikan bakar pedas juga," ucapnya.


"True! Kakak lagi hamil?" sendok melayang ke kepala Jesy hingga sampai meringis.


"Kau pikir aku waria?" sentak Jason.


"Sebentar lagi waria, lihat perut kakak sudah ikan buncit." Jesy langsung meninggalkan dapur setelah sekretaris Derulo datang bawa ikan bakar terakhir.


"Ini Tuan ikannya," ucap sekretaris Derulo sambil meletakkan tepat di hadapannya.


"Kau saja yang makan, aku tidak selera." Jason meninggalkan meja makan lalu kembali ke kamar untuk istirahat.


"Siap-siap kau Derulo sebentar lagi, Derulo aku butuh suntikan," ucapnya penuh kesal.


Jason merebahkan tubuhnya sambil memegang merasakan perutnya yang padat. Dia begitu sulit untuk bergerak karena porsi makannya satu hari ini tinggi.


"Aku butuh dokter. Derulo mana ya dia harus telepon dokter pribadiku," ucapnya pelan sambil menahan napas.


Di tepi pantai, Claire habiskan waktunya bermain air. Dari kejauhan Rio memperhatikan dengan seksama. Dia senang melihat Claire bisa tertawa lepas saat ini dan melupakan masalahnya.


"Aku tidak mau kau ikut dengan Jason lagi Claire. Penderitaanmu sudah cukup dibuat ibu, Larisa dan Jason. Kau berhak Bahagia bukan untuk disakiti," ucap Rio sambil mengepalkan tangannya.


"Kak, sini airnya hangat!" panggil Claire


"Ya, sebentar," sahutnya.


Rio begitu bersyukur sekali bisa kembali menikmati kebersamaan seperti dulu. Kalau bukan karena perbuatan ibu dan Larisa hari ini dia berani menyatakan cinta sehidup semati dengan Claire.


"Sayangnya Claire sudah terikat dengan Jason, apa aku masih bisa tidak merebutnya?" gumam Rio dalam hati sambil menatap Claire terus bermain.

__ADS_1


"Kak, aku capek kita pulang yuk!" seru Claire lalu tangannya genggam tangan lebar Rio tanpa sadar ia senyum-senyum sendiri meninggalkan tempat itu.


__ADS_2