Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Jesy Kembali


__ADS_3

Rio menghampiri Claire yang sedang sarapan pagi dia ingin sekali bicara secepatnya masa depan yang mereka jalani saat ini.


"Kak?" panggil Claire.


"Ya, kau ingin membutuhkan sesuatu?" tanya Rio panik.


"Tidak kak, Claire perhatikan dari tadi wajah kak Rio risau?" Rio membuang napasnya kuat.


"Claire, bolehkah kita bicara sebentar?" ucap Rio.


"Ya kak, katakan apa itu?" tanya Claire pelan.


"Kita ke luar negeri atau tetap di sini tinggal?" tanya Rio.


"Claire ikut kakak tinggal di mana pun." Rio merasa sedikit lega dengan jawaban yang diutarakan Claire.


"Kakak pengen tinggal di sini Claire. Kau mau kan buka lembaran baru bersama dengan baby?" tanya Rio.


Seketika raut wajah Claire berubah menjadi murung karena Jason keadaannya jadi sulit saat ini. Rio langsung menggenggam tangan Claire memberikan ketenangan kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Maaf ya, kakak buat perasaanmu jadi tidak enak," tambah Rio.


"Claire jadi merepotkan kakak," lirihnya.


"Tidak ada kata merepotkan kau mengerti kan." Claire mengangguk mengerti lalu pandangan mereka berdua teralihkan kedatangan pemilik rumah.


"Bagaimana dengan keputusan kalian dua?" tanya ya.


"Kami memutuskan tanggal di tanah air Bu," jawab Rio.


"Dan Claire?" Claire menunduk malu karena ia orang-orang sekitarnya sulit.


"Bu, kak Rio, aku ingin tinggal sendiri untuk sementara ini." Rio terkejut mendengar jawaban Claire.


"Apa yang kau katakan, Claire?" pekik Rio.


"Berikan aku waktu kak, boleh?" pinta Claire.


"Tapi mana mungkin aku meninggalkanmu Claire sementara." Rio melihat perut Claire di sana ada baby sekarang jadi tanggung jawab ya.


"Bu, Claire minta maaf sudah merepotkan," ucapnya lagi.


"Ibu memiliki rumah di desa terletak di Indramayu. Kalian boleh tinggal di sana sekaligus nak Rio kerja sebagai dokter umum." Rio dan Claire terbelalak mendengar perkataan ibu tersebut baiknya minta ampun.


"Claire, kau mau kan, kali ini jangan menolak lagi ingat ada baby." Claire menangis sesenggukan ia sangat bersalah dengan keadaannya ini.


"Anggap saja ibu sebagai orang tua kalian ya. Ibu senang bisa memiliki sepasang anak sekaligus calon cucu," ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Bu!" panggil Rio dan Claire secara bersama lalu mereka saling berpelukan.

__ADS_1


"Kapan kalian ke desa?" tanya ibu.


"Hari ini Bu. Lebih cepat lebih baik," jawab Rio.


"Tapi Jason pasti tidak akan diam kak Rio," lirihnya.


"Orang-orang ibu akan menjaga kalian jadi jangan khawatir ya." Rio dan Claire mengangguk.


Kebaikan ibu yang menolong mereka berdua tidak terhingga lagi. Mereka berdua akhirnya siap-siap menggunakan mobil pribadi sebut saja ibu Ria.


"Kalian sudah siap?" tanya ibu Ria.


"Sudah Bu," jawab serempak.


"Beliau ini adalah pak Harto dan Bu Haifa. Semua kebutuhan kalian dia yang akan penuhi, jadi nak Claire fokus ya pada baby, jangan banyak kepikiran ibu akan pantau itu," peringat ibu Ria.


"Claire akan mengingatnya Bu." Claire berhambur memeluk ibu Ria yang begitu baik kepada ia dan Rio.


Sepanjang perjalanan Rio selalu memperhatikan kesehatan Claire karena perjalanan begitu jauh karena menggunakan mobil. Kalau mereka menaiki pesawat, Jason pasti dengan mudah melacak.


"Kau tidak apa-apa, Claire?" tanya Rio cemas.


"Aku baik," jawabnya singkat.


"Kalau ingin istirahat katakan ya, aku tidak mau baby kenapa-kenapa," bisik Rio.


"Apa yang dilakukan pria itu sekarang ya?" batin Claire sambil memperhatikan keluar.


Kediaman Jason semua panik melihat seseorang yang berdiri tepat depan pintu masuk. Para pelayan berteriak memanggilnya Jason saat ini memilih mengurung diri pasca Claire melarikan diri.


"Tuan, anda harus melihat ke bawah?!" pekik ya.


"Kalian bisa jaga sikap atau mau minta dipecat!" sentak Jason.


"Nona Jesy ada di bawa, Tuan." Jason tertegun mendengar perkataan mantan pelayan Claire.


Tanpa berpikir panjang Jason turun dengan langkah yang tergesa-gesa. Kedua kakinya berhenti karena sosok yang dia rindukan telah berada tepat didepannya.


"Jesy?" panggil Jason bergetar.


"Hai kak, kita jumpa lagi," sapa Jesy pelan.


"Dari mana kau tahu rumahku di sini?" tanya Jason heran.


"Pertanyaan apa itu? Mami di mana kak?" tanya Jesy tanpa merasa bersalah langsung duduk di sofa.


"Dari mana kau selama ini, Jesy?" tanya Jason berusaha sabar.


"Kakak mau dengar kisahku? Bertahun-tahun berlalu tapi ke mana kakak? Kenapa tidak mencari ku? Kenapa tidak ada wajahku di mana-mana agar orang luar sana bisa mencari keberadaanku? Sekarang kakak bertanya dari mana aku selama ini?" Jason diam seribu bahasa mendengar pertanyaan Jesy yang bertubi-tubi.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jason dingin.


"Jesy mau istirahat kak." Jesy langsung naik ke atas lebih tepatnya kamar yang pernah di tempati Claire.


Langkah Jesy berhenti tepat tengah-tengah ruangan dia menyapu seluruhnya sambil menghirup bau tubuh Claire masih menempel di sana walaupun sudah dibersihkan.


"Seseorang pernah tinggal di sini?" ucapnya.


"Benar Nona," jawab pelayan Claire.


"Siapa?" tanya Jesy.


"Nona Claire. Tapi beliau kemarin meninggalkan tempat ini tanpa sepengetahuan Tuan dan Nyonya," terangnya.


Jesy diam sesaat mendengar ucapan pelayan lalu tanpa berpikir panjang karena tubuh lelah akhirnya jatuh di atas tempat tidur. Berbeda dengan Jason masih memikirkan apa yang dikatakan Jesy kepadanya.


Saudaranya itu tiba-tiba muncul setelah kepergian Claire ditambah lagi dengan pertanyaan yang membuat kepalanya semakin pusing.


"Jason, apa yang kau pikirkan?" tanya Nyonya Meneer.


"Mami, Jesy sudah kembali," ucap Jason.


"Jesy?!" pekiknya.


"Dia ada di kamar tempat Claire dulu." Tanpa berpikir panjang Nyonya Meneer naik ke atas memastikan apa yang dikatakan Jason benar.


"Jesy?" panggil Nyonya Meneer.


"Siapa yang mengganggu tidurku?!" sentaknya.


"Apa benar kau, Jesy?" tanyanya lagi.


"Apa kabar mami?" tanya Jesy halus.


"Oh My God?! Aku tidak melihat hantu kan?" pekik ya tidak percaya.


"Kenapa mami terkejut? Kakak saja biasa melihat Jesy?" tambahnya.


"Apa? Bagaimana bisa kau kembali? Maksud mami kau kembali setelah sekian lama tidak terlihat?" tanya Nyonya Meneer heran.


Jesy lebih memilih diam lalu kembali tidur mendengar pertanyaan Nyonya Meneer, saat ini dia butuh tidur dan istirahat panjang setelah melakukan perjalanan yang begitu jauh hingga sampai ke tempat yang ditujunya.


Nyonya Meneer ndak mau diam langsung keluar dari sana dengan wajah yang terlihat tidak baik. Jason mengabaikan mami kembali kerja memantau pergerakan anak buahnya mencari keberadaan Claire.


"Jesy kembali dan Claire saat ini di mana?" batinnya.


Semua terkejut mendengar kabar kalau Jesy kembali dengan wajah yang terlihat berbeda daripada sebelumnya. Cukup lama mereka menunggu kepulangan adik majikannya itu tapi ada sesuatu yang membuat mereka heran melihat sifat Jesy.


Para pelayan heboh sambil berbisik mengenai kepulangan Jesy lalu dibandingkan dengan Claire. Jason tidak sengaja mendengar ucapan pelayannya kalau Claire adalah korban dan seharusnya tidak pantas diperlakukan tidak baik.

__ADS_1


__ADS_2