Wanita Penebus Hutang

Wanita Penebus Hutang
Melukis Wajah


__ADS_3

Claire merangkul semua anak-anak yang sama sepertinya nasib yang tidak begitu baik. Ia merasa bersalah terhadap dirinya telah tidak mengakui anak dalam kandungannya saat ini.


"Namamu siapa dek?" tanya ya.


"Mila, kak," ucapnya.


"Nama yang cantik sama seperti orangnya." Anak tersebut tersenyum menanggapi ucapan Claire.


"Claire, Rio ayo kita masuk ke dalam karena banyak yang mau ibu tunjuk kepada kalian!" ajak ibu Ria.


Mereka berdua mengangguk lalu masuk ke dalam bersama dengan anak-anak yang tidak mau lepas dari pelukan.


"Cantik sekali tempat ini," gumam Claire dalam hati.


"Bu, tempat ini milik siapa?" tanya Rio.


"Ibu yang punya nak." Rio merasa gagal sebagai pria muda sementara ibu Ria mau menampung anak-anak yang tidak beruntung.


"Apa aku bisa seperti ibu?" tanya Rio.


"Tentu, asal niat ada nak," tambah ibu Ria. Claire dan Rio duduk bersama anak-anak sambol mengobrol.


"Kakak mau lihat lukisanku tidak?" ucap Mila.

__ADS_1


"Kamu bisa melukis?" tanya Claire.


"Coba jangan bergerak ya kak, biar Mila bisa melukis wajah cantik kakak!" Clear mengangguk dia tersenyum melihat aksi Mila begitu niat sekali melukis wajahnya.


"Cantik buat ya dek," bisik Rio.


"Kalau jelek memangnya kenapa, Om?" Rio cemberut mendengar kata Om padahal dia masih muda. Claire tertawa kecil lalu mendekati Mila.


"Kak Rio, Mila," ucap Claire.


"Kan sudah tua kak," tambahnya.


"Astaga ngeri sekali yang tua ini." Mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat wajah Rio cemberut.


"Cantik sekali dek, kenapa tidak menjadi pelukis profesional saja?" ucap Claire.


"Nak, menjadi pelukis professionals harus bisa terjun keluar negeri agar karya ya bisa di pasarkan dan dikenal dunia. Mila masih banyak yang harus dibenahi dengan coretan-coretan ya. Tapi ibu yakin Mila pasti bisa tembus ke mancanegara," tambahnya.


"Dek, kamu mau ke luar negeri tidak?" tanya Claire.


"Mau kak," ucapnya menunduk.


"Banyak belajar ya, kakak akan pastikan kamu bisa menjadi pelukis profesional suatu saat!" Mila terharu mendengar ucapan Claire lalu dia langsung memeluk erat.

__ADS_1


Banyak anak-anak yang kurang beruntung ingin seperti Mila, adanya dorongan dari Claire membuat mereka semuanya bersemangat belajar.


"Kamu suka nak?" tanya ibu Ria setelah anak-anak istirahat.


"Ya Bu, mereka begitu menginginkan belajar lebih. Claire tidak menyangka kalau semua anak-anak di sini memiliki kelebihan namun karena keterbatasan jadi terhambat." Rio menguatkan Claire agar tidak lemah.


"Malam ini kita istirahat di sini besok subuh kembali agar orang-orang di luar sana tidak mengetahui keberadaan mu Claire," ucap ibu Ria.


"Ya Bu," balasnya.


Ibu Ria langsung menuju ke kamar pribadinya sementara Claire dan Rio memilih duduk di taman menghirup udara yang begitu bersih.


"Claire, kau menyukai tempat ini?" tanya Rio sekedar basa-basi.


"Ya kak, andaikan saja kita bisa tinggal disini dan menjadi orang tua untuk anak-anak," kekeh Claire.


"Kau serius, Claire?" tanya Rio begitu antusias karena dia juga menginginkan hal itu.


"Hanya aku, kak Rio tetap di kota." Claire tertawa karena berhasil mengerjai Rio.


"Aku hanya bercanda kak," ucapnya lalu menerima tangan Rio di kepalanya.


"Lain kali jangan buat aku mengharapkan yang belum pasti," bisik Rio.

__ADS_1


"Maaf kak," lirihnya pelan sambil memejamkan mata.


__ADS_2