
Jason menatap wajah Claire pucat pasi setiap tangan dokter pribadinya dia lihat cara mengobatinya.
"Bagiamana?" tanya Jason dingin.
"Saya sudah beri ia obat, lain kali jangan sampai telat makan kalau tidak." Dokter terdiam dia menatap serius Claire.
"Kalau tidak?" tanya Jason penasaran.
"Kau akan kehilangan untuk yang kedua kalinya, Jason," ucap dokter Hadi.
"Jesy?" gumamnya pelan.
"Beberapa jam lagi ia akan sadar dan berikan makan karena hanya obat tidak cukup mengembalikan tenaganya." Jason mengangguk mengerti.
"Aku rugi, Sinta dan Larisa berbohong soal Claire. Beraninya mereka?!" umpatnya.
Tidak lama kemudian Claire mulai bangun ia merasa sakit pada tangannya.
"Aku di infus?" gumamnya.
"Cepat juga kau bangun, aku pikir selamanya tidak akan pernah bangun lagi," ledek Jason.
Claire sama sekali tidak menanggapi ucapan Jason, saat ini ia ingin sekali makan mengisi perutnya.
"Tuan, permisi saya akan memeriksa Nona Claire," ucap perawat yang sengaja ditinggal atas permintaan dokter Hadi.
"Apa ia sudah bisa makan?" tanya Jason.
"Sudah Tuan tapi tunggu habis obat infus baru Nona bisa makan," ucapnya.
"Kau atur saja." Jason langsung meninggalkan kamar tersebut karena dia sudah terlalu banyak bicara soal Claire.
"Mbak, aku mau duduk," ucap Claire lemah.
"Baik Nona." Pelan-pelan akhirnya berhasil duduk walaupun kepalanya masih pusing.
"Sudah berapa lama aku tidur Mbak?" tanya Claire.
"Tiga jam yang lalu Nona," jawabnya.
"Selama itu aku pingsan?" batinnya.
"Nona tahan ya, saya akan membuka infus ini," ucap perawat tersebut.
"Ya, lakukanlah!" Claire meringis kesakitan ketika infus sudah lepas.
"Nona mau makan?" Claire langsung mengangguk cepat.
Dua pelayan akhirnya masuk ke dalam membawa makanan apa adanya. Perawat itu meringis melihat Claire makan begitu lahap.
__ADS_1
"Apa semua penghuni di sini sama makannya? Ini sungguh-sungguh mengerikan?" ucapnya dalam hati.
"Apapun yang kau lihat jangan sampai tersebar, mengerti!" Perawat tersentak ketika melihat sektor Derulo susah berdiri si di sampingnya.
"Ya Tuan," jawabnya gugup.
Claire minum sampai habis dua gelas terlihat napasnya naik turun. Perawat begitu miris melihatnya namun dia sama sekali tidak bisa melakukan sesuatu membantu.
"Nona, minum obat ini agar bekas operasi anda cepat pulih." Seketika wajah Claire miring ia baru menyadari tidak merawat kesehatannya.
"Mbak tahu soal bekas luka ini?" tanya Claire.
"Saya medis Nona," jawabnya.
"Ya, kau juga mahasiswa media Mbak," lirihnya.
"Nona calon dokter atau sama seperti saya?" tanya perawat itu penasaran.
"Saya sudah dokter tapi masih magang. Habis kerja melanjutkan kuliah lagi mengambil spesialis tapi semua sirna." Claire mengusap air matanya ia teringat setiap kata keluar dari mulut Jason pertama kali terjebak di kediamannya ini.
"Maaf Nona, saya bukan bermaksud," lirihnya.
"Tidak apa-apa aku sudah terbiasa kog," ucap Claire sambil tersenyum.
Pandangan kosong ditemani bulir bening lolos berulang kali membasahi kedua pipinya yang semakin lama terlihat kurus.
"Kenapa tidak kau katakan dari awal pernah melakukan operasi?" suara bariton mengagetkannya dari lamunan.
"Kau tidak tahu berapa kerugian ku setelah mengetahui ini semuanya?" Claire menatap Jason nanar.
"Kalau tidak menyukaiku lagi, lakukan yang pernah kau katakan dulu!" Jason seketika mengamuk setelah mendengar perkataan Claire.
"Aku belum puas. Malam ini kau cukup beruntung bisa istirahat full." Jason langsung meninggalkan kamar itu dengan wajah yang semakin gondok.
"Apa itu artinya aku masih berada di sini?" pilunya.
Ruang kerja Jason mengamuk kepada sekretaris Derulo karena pekerjaannya jadi doble.
"Apa yang kau kerja selama ini Derulo? Kau bodoh sekali?!" sentak Jason.
"Maaf Tuan," balas sekretaris Derulo pelan.
"Cari tahu keberadaan Sinta dan Larisa. Mereka berdua harus diberikan pelajaran," kesal ya.
"Baik Tuan." Setelah itu hanya seorang Jason tinggal di sana.
Dia benar-benar rugi dibuat Sinta dan Larisa berbohong hanya demi segepok uang.
"Lama-lama aku bisa stres hanya seorang wanita yang tidak berguna, decaknya sambil mengacak-acak rambut halus itu.
__ADS_1
Satu Minggu berlalu, Claire menuju balkon pertama kali ia melihat sinar matahari yang mengenainya. Pasca kejadian ia milih diam sendirian dalam kamar bahkan, Jason tidak pernah lagi datang malam hanya untuk melayaninya.
"Rio?" tiba-tiba ia teringat nama sahabat ya itu susah senang hanya dia seorang tahu semua perasannya.
Ia langsung teringat Rio telah datang ke Club Paradise menggunakan sepeda motor kesukaannya.
"Jangan percaya pria lagi Claire. Semua membencimu." Claire menertawakan dirinya sendiri sambil menggulung rambut yang sudah tidak terurus lagi.
Jason melihat dari jarak jauh dia benar-benar semakin bodoh melihat semua kelakuan Claire.
"Aku butuh hiburan, pikiranku kacau dibuat wanita ini." Jason langsung membelah jalan raya menuju ke tempat dia pertama kali bertemu dengan Claire.
Setibanya dia melihat Rio minum-minuman sampai tidak sadar. Jason memilih duduk bangku khusus untuknya lalu minuman secara perlahan.
"Hei kau, pria tampan seharusnya tidak minum karena tidak baik untuk kesehatan," tawa Rio.
Jason tidak menanggapi dia tetap minum lalu Rio hampiri meja itu lalu duduk tidak beraturan.
"Tuan, pria ini tidak sadar kami akan membawanya keluar," ucap sekretaris Derulo.
"Biarkan dia mengoceh," balas Jason.
Setelah mengatakan itu, hanya Jason dan Rio di sana saling pandang.
"Apa yang kau lihat?" tanya Rio tidak bersahabat.
"Kau terlalu banyak bicara. Pria bawah umur sepertimu seharusnya di rumah, bukan di sini," ketus Jason.
Rio tidak senang yang dikatakan Jason barusan rasanya dia ingin sekali memberikan pelajaran.
"Aku tidak bisa memberimu pelajaran karena seorang wanita yang kucintai pasti menungguku. Di mana pun kau Claire aku akan setia menunggu di sini," ucapnya pelan nyaris tidak terdengar.
Jason mendengus kesal mendengar perkataan Rio namun satu kata dia tangkap kalau kupingnya tidak salah dengar.
"Claire?!" ucapnya.
Rio meninggalkan meja jalan tidak beraturan hingga berulang kali menubruk tubuh pengunjung.
"Kau tidak memiliki mata? Jalan yang benar jangan seperti itu?" sentak ya.
"Larisa?" Kedua bola mata Larisa terbelalak melihat keadaan Rio yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Kita tidak kenal, jangan memanggilku dengan nama itu," elak Larisa.
"Namamu Larisa wanita ya membuat kekasih orang jadi seperti ini!" tuduhnya.
Larisa berang dengar perkataan Rio, dia tidak mau namanya terkenal di sini apalagi bisnis yang sudah lama jalan tidak mau ada satupun yang tahu.
"Ikut aku Rio! Kau memang menyusahkan?! sentak Larisa.
__ADS_1
"Larisa aku mohon kembalikan Claire. Dia pasti menderita karena tidak ada temannya untuk curhat. Kau tidak tahu kondisi kesehatannya juga kurang karena operasi dahulu belum sepenuhnya pulih," ucapnya penuh memohon sambil bersimpuh ke kaki Larisa.