
Sora sendiri dirumah sekarang, dia merasa sangat merindukan ibunya. Dia adalah anak satu-satunya, ibunya sangat menyangi dan memperhatikan dia. Ketika sakit ibunya dengan hangat dan tulus menemani dan merawat Sora, bahkan jika Sora sedang panas tinggi ibunya menunggu dia semalaman.
Saat teringat dengan ibunya Sora teringat akan benda milik orang tuanya itu. Segera dia membuka lemari bajunya, sebuah kalung permata biru dengan bentuk kunci, dan ada ukiran dibagian belakang.
Sebenarnya kalung itu sedikit besar jika ingin dipakai, mungkin karena itu juga ibunya tidak pernah memakai benda ini dan hanya disimpan dengan baik dan selalu dibersihkan.
Pernah sesekali Sora melihat ibunya sedang memandangi kalung itu. Ketika Sora menanyakan itu benda apa dan milik siapa, ibunya hanya menjawab ini adalah milik keluarga kita kelak kau akan mengetahuinya dengan jelas tapi tidak sekarang.
Lalu disimpan lagi benda itu oleh ibunya.
Bahkan ibu menyimpannya ditempat khusus, sebuah kotak dengan kode. Awalnya Sora tidak mengetahui kode itu, tapi suatu hari saat membereskan pakaian ibunya untuk disumbangkan dia menemukan kotak itu dan secara asal menekan kode dengan hari ulang tahunnya, dan terbuka. “mudah sekali ditebak” pikirnya waktu itu.
Dia tidak banyak membawa barang dari desanya dulu, saat sekolah dia menerima beasiswa dan asuransi dari kecelakaan Orang tuanya. Sora yang hanya hidup sendiri jadi uang itu sudah cukup untuk biaya hidup beberapa tahun sampai selesai sekolah.
Semua asset telah dijual dengan dibantu kepala desa setempat, karena ayahnya dulu bukan merupakan orang kaya, tapi cukup untuk kehidupan mereka ayahnya juga lumayan ramah dengan orang desa setempat jadi masih ada yang membantunya, meski Sora tetap merasa aneh. Seingat Sora itu adalah Desa kelahiran ibunya, ayahnya berkata mereka pindah kesana karena neneknya sudah tua tinggal sendirian dan sering sakit-sakitan.
Semenjak kepergian orang tua dan nenek nya sikap orang desa tidak lagi ramah seperti dulu. Mereka seperti ketakutan akan dirinya, entah karena apa. Pernah Sora menyakan sikap orang-orang kepada Kepala Desa tapi dia berkata.
__ADS_1
“Jangan terlalu kau fikirkan, mungkin mereka kurang akrab dengan mu atau merasa tidak ada bahan omongan saja,” Ucap kepala Desa waktu itu.
Bukan kah sangat aneh, tidak lama setelah membantu Sora menjual aset-aset orang tuanya, Kepala Desa juga meninggal, karena sakit. Tapi Sora semakin merasa ini karena dia. Jadi dia memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari desa.
Sesampainya dikota dia tidak memiliki kenalan siapa pun, tapi karena keberanian dan tekat nya di umur 18 tahun dia sudah memulai berbagai pekerjaan, meski tubuhnya kecil namun saat didesa dulu Sora sempat ikut pelatihan bela diri meski bukan petarung yang hebat, tapi ilmu melarikan diri dia sangat bagus dan cepat.
Saat Sora melihat kalung ibunya, dia merasa setiap melihat kalung itu seperti bercahaya, tetapi saat dia matikan lampu tidak ada cahanya sama sekali. Atau hanya perasaannya saja, atau mungkin ini kalung yang mahal pikirnya sehingga ada cahaya berkilau jika terkena sinar.
Meski kalung ini mahal sekalipun, tidak ada niatan sedikit pun untuk menjualnya, karena ini adalah benda satu-satunya milik kedua orang tuanya. Hanya ini yang menurut Sora paling berharga. Heiran yang telah sampai rumah mengirim pesan pada Sora.
“Apa kau sudah makan?” Tanya heiran.
Lalu menjawab pesan Heiran, dia mengambil makanan yang dibuat Heiran tadi dan memfotonya.
“Aku akan makan sekarang, terima kasih sudah memasak untuk ku,” Jawab nya.
“Habiskan dan foto lagi,” Balas Heiran. Sora hanya tersenyum melihatnya.
__ADS_1
Sora sedang tidak bernafsu untuk makan sebenarnya, tapi Heiran telah tulus memasakan untuk nya, jadi dia mekan makanan itu. Setelah selesai makan dia memfoto lagi.
“Habis” Singkatnya.
Heiran melihat hanponnya dan tersenyum, adik Heiran yang melihat itu lalu ingin sekali menjahilinya.
“Ibuuu.. kakak memiliki kekasih,” Seloroh sang adik.
Ketika mendengar itu Heiran ingin sekali rasanya melempar mangkuk ke kepala bocah tengik itu.
“Jangan mencari masalah dengan ku jika tidak ingin komputermu aku ambil Kembali dan kaset-kaset game mu kusita semua. paham!” Ancam Heiran.
Langsung saja sang adik menutup mulut dan merayu.
“Kau hari ini cantik sekali kakak ku, ibuu, kakak ku ini memang yang terbaik,” Rayu nya.
Ibunya yang melihat mereka hanya menggeleng.
__ADS_1
TERUS DUKUNG KARYA AUTOR YA..
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR DAN LIKE KALIAN..