Wanita Penguasa

Wanita Penguasa
33. Bertengkar


__ADS_3

Sora sudah bangun pagi-pagi sekali karena dia ingat ini masih hari kerjanya. Ketika dia bangun dan melihat sekeliling dia baru sadar jika masih dirumah milik Bosnya itu.


“Aahh… aku masih disini rupanya. jika aku mau pergi apa harus izin? Lalu aku naik bis darimana?.”


Terlalu banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya. Akhirnya dia memutuskan mandi dan bersiap-siap saja dulu.


Ketika Sora telah selesai mandi dan siap bekerja. Pintu kamarnya diketuk.


“Nona, sarapan sudah siap,” panggil pelayan.


Langsung saja Sora membuka pintunya.


“Baiklah, terima kasih.”


Saat pelayan akan pergi Sora memanggilnya.


“Tunggu.”


Pelayan itu berbalik . “Apa ada yang dibutuhkan lagi nona?.”


“Bukan, hm… apakah tuan Albern masih ada?” Tanya Sora dengan ragu.


“Sepertinya tuan sudah dimeja makan sekarang,” Jawab pelayan itu.


“Baiklah terima kasih, aku akan kesana.”


“Kalau begitu saya pamit,” Pelayan itu langsung pergi.


Sora yang masih di depan pintu menjadi ragu, izin atau tidak.


“Apa harus izin? Apa langsung pergi saja? Atau aku bicara dengan pak sekretaris saja?.”


“Lebih baik tanya sekretaris Choi saja, dia paling mudah diajak bicara dari pada orang itu.”


Setelah yakin Sora langsung pergi ke ruang makan. Dia melihat meja makan yang sangat Panjang, dengan berbagai macam jenis makan, dari roti, sup, rata-rata menu sarapan khas korea.

__ADS_1


Sora langsung disambut oleh pelayan.


Albern sudah terlebih dahulu duduk disisi lain meja makan sembari membaca koran.


“Silahkan nona, anda ingin sarapan apa,” Tanya sopan seorang pelayan.


Sora yang melihat makanan dimeja terhidang dengan sangat banyak dan beraneka ragam malah menjadi bingung.


Ketika sedang memilih dan melihat-lihat Albern tiba-tiba bersuara.


“Jika kau ingin menghabiskan semua nya itu lebih bagus, badan mu tidak ada isi sama sekali.”


Sora yang mendengar itu menjadi jengkel. “Ish, laki-laki ini mau bilang apa sebenarnya? Aku kurus apa aku miskin karena tidak pernah makan,” Pikir Sora sambil melirik Albern.


“Aku mau ini saja. Dan segelas susu boleh?.”


Sora menunjuk roti panggang yang diatas nya di beri telur. Itu adalah “gyeran bbang” menu sarapan ini banyak dihidangkan oleh masyarakat korea. Dengan cita rasa manis asin, dan bisa diberi isian aneka ragam sesuai selera. kebetulan yang dipilih Sora diatasnya diberi telur setengah matang dengan taburan keju juga nori. Sangat menggugah selera.


“Baik nona,” pelayang itu langsung menghidangkan makanan dan segelas susu didepan Sora.


Sora langsung memakan roti itu sepotong demi sepotong, tiba-tiba Albern berdiri.


“Kau mau kemana?” Tanya Sora tiba-tiba Ketika melihat Albern yang langsung berdiri.


“Bekerja. Kau pikir apa,” Dengan gaya cueknya.


“Apa aku bisa ikut? Aku juga mau kekantor dan aku tidak tahu harus naik bis dari mana,” Ucap polos Sora.


Albern merasa heran baru tadi malam gadis ini mengalami penculikan sekarang dia memikirkan untuk bekerja, apa yang difikirkannya.


“Kau disini saja, aku tidak mau ada masalah nanti. ingat kata-kataku semalam,” Tegas Albern.


“Tapi aku harus apa dirumah ini sendirian? Lagi pula aku ada janji dengan teman,” Keluh Sora tidak mau mengalah.


“Kau ini bukannya bersyukur sudah selamat dari kejadian semalam sekarang kau ingin pergi berkeliaran? Apa kau tidak punya otak?,” Dengan suara yang sedikit tinggi albern menatap Sora.

__ADS_1


Sora merasa ini berlebihan. memang Albern telah menyelamatkannya, tapi tidak berarti dia mengurung nya diruamh ini. Apa bedanya dia dengan orang-orang itu pikir Sora.


“Oh, terima kasih tuan muda. Karena anda telah menyelamatkan ku. tapi jangan bilang aku tidak punya otak,” Dengan suara bergetar Sora meluapkan emosinya.


Albern yang mendengarnya semakin murka. Ketika akan membalas perkataan Sora tapi langsung dihentikan Sekretaris Choi.


“Tuan, tolong tahan emosi anda. Nona Sora, jika anda mau pergi aku bisa menyuruh supir untuk mengantar anda, tapi benar kata tuan anda jangan bekerja dulu. itu terlalu berbahaya,” Jelas sekretaris Choi karena ingin menghentikan perdebatan mereka.


“Tuan lebih baik kita berangkat, ini sudah siang.”


Albern yang masih tidak bisa menahan emosinya.


“Jika kau ingin pergi, pergilah. Aku tidak akan menghentikan lagi. Dan ingat, jika terjadi sesuatu dengan mu aku tidak akan perduli lagi,” Tegas Albern dengan tatapan benci.


Sora membalas. “Baiklah. jangan pernah perduli pada ku lagi,”


Albern mendengar itu semakin emosi dan langsung pergi dari sana. Sora juga sama dia langsung meninggalkan meja makan entah akan kemana. Akhirnya dia sampai ditaman belakang mansion.


Albern masuk ke dalam mobil dengan emosi.


“Wanita itu sungguh tidak tahu terima kasih, aku yang menolongnya tapi dia bersikap seakan-akan aku ini musuh nya. Sialaan!” Dengan mengepalkan tangan dan meninju kursi depan.


“Saya harap tuan bisa menahan emosi anda, kita akan kerapat dewan direksi. Jika anda masih dengan kondisi seperti ini. Maka anda tidak dapat berkonsentrasi dirapat.”


Sekretaris Choi mencoba mengalihkan Albern yang terlihat sangat marah. Dan sepertinya berhasil.


Albern langsung mengatur nafas nya dengan perlahan. “Berangkat,” Perintahnya.


“Baik.”


Albern pergi meninggalkan Mansion. Tapi Sora masih disana, dia sedang menangis tersedu-sedu. Karena menahan emosi yang memuncak.


“Memangnya siapa dia? Seenaknya mengatur ku.”


Sora mengoceh tidak jelas, terlalu banyak umpatan yang ingin dia keluarkan. Saat sedang menangis tersedu-sedu ada yang menyapa dari belakang.

__ADS_1


“Siapa ini?,” tanya seorang Wanita paruh baya dari belakang.


__ADS_2