
Sora menatap Ayah Albern dengan seksama.
“Sebenarnya siapa mereka Ayah? Dan mengapa mereka mengincarku? apa yang tidak aku ketahui?” Sora bertanya dengan beruntun dalam keadaan tubuh yang bergetar karena syok.
Tidak lama para Dokter dan perawat tiba. Mereka berlari kearah pengawal yang terluka, salah satunya menghampiri Sora yang masih memangku Leo.
“Nona, biar aku lihat kondisinya.” Ucap Dokter itu. Sora segera bergeser dan meletakkan Leo direrumputan taman.
Sora dibantu berdiri oleh Ayah Albern, “Dimana Albern?” tanya nya.
“Tenanglan Dia didalam sedang dipriksa oleh Dokter” Ucap sang Ayah.
Sora berlari kedalam melihat kondisi Albern, dia melihat Albern duduk dikursi ruang makan dan sedang diobati. Sora mendekatinya.
“Bagaimana keadaannya?” dengan tubuh masih bergetar dan nafas ter engah-engah.
“Hei, Aku tidak apa-apa. Tenangkan diri mu.” Albern melihat Sora dan menggapai tangannya mencoba untuk menenangkan.
Sora mengambil kursi untuk duduk disampingnya tanpa menggangu dokter yang sedang merawat dan terus memperhatikan Albern.
“Gadis ini semakin manis jika sedang panik” batin Albern dengan tersenyum dan malah fokus memandangi Sora.
“Sudah selesai, Sora tenanglah. Dia mempunyai ribuan nyawa. Jadi tidak akan mati dengan cepat.” Seloroh Lois setelah selesai membalut luka Albern.
Albern mendengar itu sedikit kesal. Kawannya ini berani bercanda dengan calon istrinya mau cari mati, pikir dia.
“Bantu yang lain, jangan banyak membual disini,” ucap Albern ke lois tanpa menatapnya.
“ya, ya,yaa… dah Sora,” Lois dengan sedikit mengedipkan mata ke arah Sora.
Sora hanya tersenyum singkat lalu mengalihkan pandangan pada Albern.
“Apakah sakit?” Sora memegang tangannya.
“Tidak terlalu, bagaimana Leo?” Tanya Albern.
__ADS_1
“Sudah ditangani Dokter.” Ucapnya singkat.
“Sebenarnya ada apa?” Sora Kembali bertanya.
“Mengapa aku mengalami hal ini berkali-kali? Apa yang tidak aku ketahui?” Sora menatap lirih Albern. Albern merasa bersalah karena tidak memberitahunya dari awal.
“Aku akan menjelaskannya di Rumah utama. Kita pulang sekarang dengan yang lain.” Jawabnya seraya berdiri Bersama.
Kakek Albern sudah berada dimobil, dia sangat marah, bahkan para penyusup itu tidak mau membuka mulut mereka. Maka dia harus mengetahui dari pihak lain.
“Hubungi Vincent, cari tahu tentang kelompok orang-orang ini,” Perintah Tuan Besar Kim kepada Asistennya.
Vincent adalah pemimpin kelompok Naga Emas. Dimana mereka adalah kelompok pasar Gelap nomor satu, Vincent sendiri mempunyai hutang budi pada Tuan Besar Kim. maka dari itu dia berjanji akan membantu apapun yang dibutuhkan Keluarga Kim.
Sudah lama dia tidak memakai cara seperti ini, dia menganggap dirinya sudah terlalu Tua dan membiarkan anak cucunya yang memimpin. Namun hal ini tidak sesederhana itu.
Albern pernah bercerita pada kakeknya tentang orang-orang yang menyerang mobil Sora waktu itu, dari tatto yang terlihat dilengan salah satu anggotanya. Itu adalah Tatto kelompok orang-orang pasar gelap, mereka memang memiliki bisnis illegal lainnya, termasuk menjadi pembunuh bayaran.
Tuan Besar Kim berfikir hanya satu orang yang berada dibalik ini semua. Tetapi dari keberaniannya untuk langsung menyerang keluarga Kim. sepertinya orang ini tidak mengetahui identitas orang-orang yang berada disamping Sora.
Orang-orang seperti ini juga perlu diwaspadai, mereka berani menyerang tempat kediaman keluarga kaya raya dengan terburu-buru. Berarti mereka siap mati.
Didalam mobil Albern tetap memegang tangan Sora yang masih gemetaran. Tanpa sedikitpun melepaskannya.
“Kau baik-naik saja?” Tanya Albern.
“Sedikit, aku hanya memikirkan orang-orang yang terluka. Aku baru pertama kali melihat pertempuran dan darah dimana-mana.” Sora berbicara dengan lirih dan sedikit bergetar. Albern merasakan itu dan langsung memeluknya.
“Tenang, aku ada disamping mu. Percayalah kau akan aman Bersama kami.” Albern coba menenangkan.
Sora hanya tersenyum tanpa menjawab sepatah kata lagi.
Mereka semua sampai di Rumah Utama, Nyonya Kim yang sudah sangat khawatir dengan mereka semua mendengar suara mobil langsung keluar dan menyambut mereka.
Dia melihat suami, anak, ayah mertua dan calon menantunya berjalan Bersama. Dilihat juga lengan Albern yang diperban dengan baju yang berlumuran darah. Langsung saja menangis dan memeluk anaknya.
__ADS_1
“Ya Tuhan, apa yang terjadi?” Dia melihat kesemua orang.
“Kita masuk dulu, baru berbicara.” Dengan nada yang tegas Tuan Kim.
Semua berjalan masuk keruang kerja Tuan Besar Kim. Albern dan Sora kekamar masing-masing untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Baru ikut berkumpul ke Ruang kerja Kakeknya.
Sora yang telah selesai menunggu Albern didepan kamarnya. Albern keluar dan melihat Sora yang sedang menunggu dengan tertunduk.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Albern dengan berjalan mendekati.
“Seharusnya aku yang bertanya dengan keadaan mu. Apa luka nya sakit? Apa tidak lebih baik jika dirawat?” Sora bertanya secara berurutan dan tidak melepaskan pandangan kearah lengan Albern.
“Apa kau mengkhawatirkan ku?” Godanya.
“Ish, kau ini. Jelas aku menghawatirka mu. Kau terluka karena melindungi ku.” Sora memukul dada Albern karena kesal.
Albern yang mendapat pukulan malah tertawa geli, dan menjadi sangat gemas dengan Sora.
“Jika kau khawatir berarti kau sangat menyukai ku.”
Sora mendengar perkataan Albern menjadi tersipu. “Jangan besar kepala,” Sora pergi meninggalkan ALbern.
“Hei tunggu,” Albern menyusul Sora yang langsung berjalan meninggalkannya.
Tidak lama mereka semua sudah berkumpul. Kakek Albern membuka pembicaraan.
“Sora, apa ada yang ingin kau tanyakan?”
Sora yang mendengarnya langsung mengangguk.
“Sebenarnya siapa yang mengincar diri ku kek? Karena selama ini aku tidak pernah bermusuhan dengan siapa pun?” terang Sora.
“Dengar, aku akan menjelaskannya. Tapi aku harap kau menjaga emosi mu. Karena apa yang akan kau dengan bisa jadi hal baik dan juga hal buruk.” Jelas sang Kakek. Sora mengagguk lagi menandakan siap menerima informasi apapun.
Albern duduk disamping ibunya, karena dia tahu ibunya sangat menghawatirkan dia. Dan dia juga ingin membuat Sora lebih tegar ketika mendengar apa yang akan dikatakan sang kakek.
__ADS_1