Wanita Penguasa

Wanita Penguasa
54. Menyatakan Cinta


__ADS_3

“Menyelamatkan? Bagaimana bisa?” Heiran semakin penasaran dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu.


Sora melihat kearah mereka semua. Dan mulai menceritakan kejadian malam itu. Tidak secara detail tentang kemungkinan itu semua dilakukan keluarganya, dia hanya mengatakan jika itu dari saingan bisnis Albern. Dan semua nya sudah terpecahkan.


Dia lebih senang menceritakan bagaimana Leo menyelamatkannya, dan awal mula dia menemukan Leo.


Sora yang bersemangat Ketika menceritakan Leo. Sampai dia mengajak kawan-kawannya itu mendekati kandang Leo untuk melihat lebih dekat.


Heiran yang melihat Leo lebih dekat hanya menggelengkan kepala. Dia merasa takjub dengan Sora. Bahkan bisa membuat hewan buas itu tunduk padanya. “Benar-benar wanita luar biasa,” batin Heiran.


“Apa kalian ingin bermain langsung dengan nya?” tanya Sora sedikit menggoda.


“Aku masih ingin hidup. lebih baik dia tetap dikandang saja,” Ji Min menjauh dari kandang itu.


Membuat yang lain tertawa. Dari kejauhan Ayah Albern memperhatikan Sora dan teman-temannya.


Ada rasa haru dihati Tuan Kim tersebut, selama ini dia mencari sahabatnya dan tidak menyangka jika kehidupan sahabatnya itu menyedihkan. Sekarang anak dari sahabatnya ada disini dan akan menjadi anak menantunya juga.


Nyonya Kim datang dan melihat suaminya sedang menatap jendela. “sayang, kau sedang memperhatikan apa?” Panggil Nyonya Kim.


Mendengar panggilan istrinya tah terasa ada yang menetes dari mata Tan Kim dan langsung dihapus. “Ah, tidak apa-apa.” Jawab nya dan menyambut istrinya tersebut.


“Sayang mengapa akhir-akhir ini kau begitu melankolis seperti ini,” Goda sang Istri, dia tahu jika suaminya ini memiliki hati yang sangat lembut. Berbeda dengan ayah mertuanya, dan karena itulah dia jatuh cinta pada suaminya.


“Aku hanya merasa sedikit lega karena Sora sudah berada disisi kita.” Jawab sang Suami.


Nyonya Kim langsung memeluk suaminya itu.


“Jika nanti ada kesempatan, kita akan berkunjung ke makam mereka. Supaya kau bisa melepaskan rindu mu.”


“Ya, kau benar sayang.” Mereka tersenyum.


Albern yang masih kesal karena berdebat dengan Sora dan tidak dibela. Memilih membaca buku diperpustakaan yang ada dirumah Utama. Meski tidak luas, tetapi buku-buka yang ada diRumah Utama Kim sangat lengkap. Albern senang membaca buku tentang bisnis. Karena bisa membuatnya semakin banyak ide akan pengembangan untuk perusahaannya itu.



Waktu sudah hampir larut. Sora dan sahabatntya sudah puas berbincang, bahkan nyonya Kim ikut mengobrol dengan mereka. Berbagi pemikiran tentang pertunangan Sora nanti.

__ADS_1


“Jika Begitu, kami pamit Nyonya.” Ucap Heiran dan yang lain.


“Hati-hati dijalan.” Sikap Nyonya Kim benar-benar seperti ibu kandung Sora. Ini membuat Sora semakin nyaman.


Sora tersenyum kearah mereka. “Hati-hati dijalan. Nanti ku hubungi lagi.” Dan mereka saling berpelukan.


Setelah semuanya pergi, Sora bertanya keberadaan Albern. “Ibu dimana Albern?”


“Ah, iya. Aku tidak melihat bocah itu sejak pagi.” Jawab Nyonya Kim.


“Aku akan mencarinya.” Sora tersenyum dan pergi meninggalkan Nyonya Kim.


Sora bertanya pada para pelayan dan memberi tahu jika Albern sejak siang berada di Perpustakaan lantai dua. Sora langsung menuju kesana.


Saat membuka pintu dengan perlahan dia sedikit mengintip dan melihat sekeliling namun tidak ada sosok Albern. Sora masuk dan menutup pintunya.


Dengan perlahan dia masuk dan berjalan kearah buku-buku yang berjajar rapih. “Buku-Buku ini sangat banyak dan lengkap.” Bisik Sora.


Saat sedang asik menatap buku-buku dan membaca beberap judul. Albern mengagetkannya dari belakang.


Sora yang mendengar sedikit terkejut dan berbalik.


“Kau?” ucap Sora. Albern masih terdiam dengan menopang tangan nya didada.


“Aku mencari mu, apa kau masih marah?” tanya Sora hati-hati.


“Hm,” Albern hanya mengangkat pundak dan mengambil buku dikursi Sofa lalu duduk untuk membacanya Kembali.


“Maaf…” lirih Sora dengan berjalan mendekati Albern lalu duduk disampingnya.


Albern tidak perduli dan terus mebaca buku ditangannya. Sora merasa Albern memang marah tetapi tidak perlu bersikap seperti ini.


“Kau tidak mau berbicara pada ku?” Sora bertanya lagi.


Albern tetap diam seperti tidak memperdulikan Sora yang bertanya.


“Baiklah, jika kau masih tetap diam. Aku tidak akan mengganggu mu.” Sora bangun dan beranjak pergi. Namun Albern langsung mengambil tangannya dan menarik Sora untuk duduk dipangkuannya. Sora terkejut dengan Tindakan Albern.

__ADS_1


Sora yang sudah duduk dipangkuan Albern saling menatap. Wajah mereka sangat dekat. Jantung Sora langsung tidak beraturan. Sora sadar dan ingin bangun namun tangan Albern yang sudah merangkul pinggangnya yang ramping menahan dengan kuat. sehingga Sora tidak bisa bergerak.


“Aku mohon lepaskan.” Sora mulai sedikit berontak.


“Diam.” Ucap Albern.


“Aku ingin kompensasi.” Lanjutnya.


“Kom…Kompensasi apa?” Sora bingung dengan ucapan Albern.


“Mulai sekarang panggil namaku dengan sebutan sayang,” pintanya.


Sora hanya melotot terkejut. “Aku.. Aku tidak tahu apa bisa melakukan itu.”


Albern menatap Sora dengan dalam. “Apa kau mencintai ku?” Tanya Albern serius.


Sora yang mendengar itu langsung bingung untuk menjawabnya. Albern tiba-tiba mengecup bibir Sora dengan lembut. Setelah melepaskan ciuman itu dia Kembali bertanya.


“Sora apa kau mencintai ku?” Albern tetap menatap Sora dengan sendu. Sora yang ditatap justru semakin gugp dan tidak bisa menjawab.


Jantungnya terasa ingin copot, dia sama sekali seperti tidak bisa mengeluarkan suara.


Albern yang tidak mendapatkan jawaban dari Sora langsung merasa kecewa. Dan mulai melepaskan pelukannya perlahan untuk membiarkan Sora pergi. Sora merasakan tangan Albern semakin menjauh langsung berdiri dan bergegas ingin pergi.


Namun tiba-tiba Albern mengucapkan satu kata.


“Aku mencintai mu.” Ucapnya dengan suara yang sedikit keras dan tegas.


Sora berhenti namun tidak berbalik dan hanya diam. Tidak lama dia pergi meninggalkan Albern sendiri danlangsung pergi kekamarnya. ia merebahkan badan dikasur.


Sora terus memegang dadanya yang tidak berhenti berdetak. Dia mengingat-ingat suara dan perkataan Albern. Bukan tidak mau menjawab, dia hanya terkejut dan sedikit bingung dengan perasaannya.


Albern yang ditinggalkan sendiri merasa patah hati, selama ini dia tidak pernah mendekati wanita . namun Sora berbeda, sejak awal dia sudah penasaran dengan Gadis ini. Dan lama kelamaan dia semakin tidak mau kehilangan dan terjadi apa-apa padanya. Setelah meyakinkan diri dia mengakui bahwa sudah mencintai Sora.


Namun melihat sikap Sora yang tidak menjawab pernyataan cintanya, dia menjadi lesu dan tidak bersemangat.


“Ah, sial.” Ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2