
ALBERN KIM
Albern berjalan dengan cepat kekamarnya. Setelah sampai dikamar dia mengacak-acak rambut.
“Aku sudah gila.” Kesalnya.
Langsung saja dia merebahkan badannya ke kasur dan mencoba untuk tidur.
Sora berjalan dengan pelan menuju kamar, dia terlihat sangat syok atas kejadian tadi. Ini ciuman pertamanya. Tapi dia sendiri tidak ingat apa yang dikatakan Albern karena suara detak jantungnya lebih besar dari pada suara Albern. Saat akan memasuki kamar Sora memandangi pintu kamar Albern.
“Laki-laki ini mau kuhajar atau ku cincang saja.” Dengan mata melotot dan suara kecil dia mengoceh kearah kamar Albern.
Dipagi harinya Sora sudah siap untuk sarapan. Setelah berpakaian rapih dia menatap kalung milik ibunya yang sudah diambil semalam. “Apapun yang terjadi, pasti ada alasannya,” pikir Sora.
Albern keluar kamar dan langsung melewati kamar Sora. Lagi-lagi tepat disaat Sora juga akan keluar. Keduanya yang bertemu menjadi canggung karena kejadian semalam. Albern yang menjadi salah tingkah malah kembali kekamarnya. Sora yang melihat itu menjadi jengkel.
“Apa-apaan dia, ck.” Bisik Sora.
Sora sudah berada diruang makan dengan diantar oleh pelayan. Kakek Albern melihat Sora langsung memanggil dan menyuruh duduk disampingnya.
“Kemari, duduk disamping ku.” Panggil sang Kakek.
Sora hanya mengikuti perintah Tuan Besar Kim itu dan duduk disampingnya. Ayah Albern yang tidak melihat putranya bertanya pada Sora.
“Dimana Albern Sora?”
“Ah, sepertinya tadi dia masih dikamar Tuan.” Jawab Sora.
“Ish kau ini, sudah ku bilang panggil kami Ayah dan Ibu serta Kakek. Paham?” sela Nyonya Kim.
“Ah, baik.” Sora menjawab dengan ragu. Rasanya ini sangat aneh untuk dirinya. Tinggal dengan orang-orang hebat seperti mereka dan seperti keluarga sungguh bukan impiannya.
Tidak lama Albern tiba. “aku langsung berangkat ke kantor. Ada rapat yang harus kuhadiri. “ terang Albern dengan gelagapan karena ditatap Sora.
Sora yang mendengar itu langsung memanggil.
“Tunggu.”
Albern berhenti dan menengok kearah Sora.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Sora.
“Baiklah. Ikut aku.” Ajak Albern.
__ADS_1
Albern berjalan terlebih dahulu ketaman samping yang diikuti Sora. Tidak lama setelah Albern berhenti Sora membuka pembicaraan.
“Tuan Muda, apa aku masih boleh bekerja?” tanyanya.
Albern berbalik dan menatap Sora dengan aneh, seperti marah dan kesal. Sora langsung menunduk melihat tatapan Albern.
“Kau ini bisa berfikir atau tidak hah?” ucap Albern dengan nada suara kesal.
“Maksud anda?” tanya Sora bingung.
“Apa semalam masih kurang jelas?” Atau kau melupakannya begitu saja?” Albern yang semakin kesal.
Sora berfikir. “memang semalam dia bilang apa? Bukannya dia hanya mencuium ku tiba-tiba?” dengan menatap sinis Albern.
Albern mendekat membuat Sora mundur perlahan, semakin mendekat membuat Sora tersudut.
“Dengar ini baik-baik. kau adalah Wanita ku, yang tidak akan ku perbolehkan bekerja sembarangan dan harus tetap berada disisi ku.” Ucap Albern dengan menatap mata Sora.
Sora mendengar itu malah bingung dan tidak mengerti maksud perkataan Albern. Albern langsung menegakkan badan dan bersiap pergi.
Tapi dihentikan Sora yang memegang tangannya.
“Tunggu, apa maksud anda?” tanya Sora yang kebingungan.
“Dengar. Kau sekarang berada dimana?” tanya Albern dengan serius.
“Rumah keluarga anda.” Jawab Sora dengan polosnya.
“Kau diapanggil Kakek dan yang lain dengan sebutan apa?” Tanya Albern lagi.
“Menantu.” Sora yang masih berfikir tiba-tiba dia menutup mulutnya. “Astaga!” Sora langsung menatap Albern. “Aku?”
“Ya. Kau akan menjadi menantu dikeluarga ini. Apa masih kurang jelas?” Ucap Albern sedikit sombong.
“Tunggu. Kapan aku menyetujuinya?” Tanya Sora dengan gaya protes.
“Aku rasa semalam kau sudah menyetujuinya.” Albern bergaya seperti sedang berfikir.
Sora mengingat kejadian semalam dan mencoba mengulang apa yang diucapkan Albern. Belum selesai Sora berfikir. Albern langsung mengecup keningnya dan berkata.
“Jadi gadis yang baik. Dan ganti panggilan untuk ku.”
Sora hanya terdiam dengan apa yang dilakukan Albern dan apa yang diucapkannya. Albern langsung pergi berlalu dengan wajah senang dan penuh kemenangan.
__ADS_1
Siang hari, Albern masih sibuk dikantor. Sekretaris Choi masuk dan membawakan beberapa berkas yang harus dipriksa.
“Ini data pembelian dan pengiriman seluruh cabang. Dan ini juga data keuangan anda minta.” Dengan meletakaan beberapa berkas diatas meja.
“Terima Kasih. Aku akan memeriksanya nanti.” Albern masih serius dengan layar komputernya.
Sekretaris Choi yang melihat itu menjadi ragu untuk memberitahukan sesuatu. Sampai Albern sadar jika dia masih disampingnya.
“Masih ada yang ingin kau laporkan?” tanya nya pada Sekretaris Choi.
“Sebenarnya ada sesuatu mengenai masalah nona Sora kemarin Tuan.” Dengan sedikit ragu Sekretaris Choi berbicara.
Albern menyenderkan badannya dikursi dan menatap tajam Sekretarisnya itu. Entah mengapa jika ini urusan Sora dia tidak mau melewatkan hal sedikit pun.
“Ada apa?” Tanya langsung Albern.
“Semua ini berhubungan dengan keluarga Yun dari China Tuan. Mereka keluarga kaya raya, memiliki beberapa usaha baik retail, property bahkan mereka sekarang sedang merambah kedunia telekomunikasi.” Jelas Sekretaris Choi dengan detail.
"Saat ini pimpinan perusahaan dijabat oleh Tuan Muda Chen Yun setelah kematian ayahnya." Lanjut Sekretaris Choi.
“Lalu apa hubungannya dengan Sora?” Albern semakin penasara.
Sekretaris Choi menunjukan beberapa data. Dan foto.
“Ini adalah data keluarga mereka, dan yang ini Tuan Muda Chang Yun. Putra pertama dari tuan Besar Yun. Tidak lain ayah Nona Sora.” Jelasnya dengan singkat.
Albern memandangi foto keluaga itu. Dan benar saja dia sekarang mengingat wajah itu. Foto ayah sora yang ditunjukan lebih muda dari foto yang ada dirumah Sora. Maka dari itu dia sedikit kurang mengingat wajah itu. saat dirumah Sora.
“Apa alasan Sora dikejar karena berurusan dengan keluarga Yun?” Tanya Albern dengan masih memandangi data dan foto-foto itu.
“Sepertinya begitu Tuan. Setelah saya cek, ini kemungkinan perebutan ahli waris.” Ucap sekretaris Choi.
“ Sepertinya pengawal yang menjaga Nona Sora waktu itu adalah kiriman dari Tuan Muda Chen Yun. Tetapi ada yang ingin menghalangi.” Sekretaris Choi mencoba berfikir.
“Berarti kakek sudah mengetahuinya.” Ucap Albern.
“Benar, sejak awal beliau sudah mengetahuinya.” Jawan Choi.
“Apa mereka sudah menghubungi kita?” Albern bertanya dengan wajah yang tidak baik.
“Sudah Tuan. Dan mereka ingin bertemu.” Jawab Sekretaris Choi lagi.
Albern menjadi sedikit kesal karena dia bisa melupakan wajah ayah Sora. Dan kenapa kakeknya tidak memberitahunya sejak awal.
Semua pikirannya bercampur dan banyak pertanyaan.
__ADS_1
“Apakah kita harus memberi jawaban. Lalu bagaimana dengan Nona Sora?” Tanya Sekretaris Choi dengan ragu.
Albern terdiam dan berfikir. “Sepertinya Sora tidak mengetahui masalah ini. Biar aku bertemu dengan kakek dan ayah terlebih dahulu.” Ucap Albern dengan yakin.