
Sora kembali melihat biksu itu yang menunduk dengan tetap mempersilahkan mereka masuk.
“Sisakan beberapa penjaga disini.” Perintah Albern kepada Sekretarisnya.
“Baik,” Sekretaris Choi juga sangat terkejut dan tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.
Mereka masuk kedalam Kuil dan berjalan naik beberapa anak tangga dibelakang Biksu yang mengantarkannya. Sora melihat sekeliling, meski malam hari Kuil itu jauh lebih indah dan banyak lampion yang dipasang untuk menerangi mereka.
Cahaya lampu obor dari bambu dan lampion serta Cahaya Bulan menjadikan tempat itu nyaman dan tenang.
Sesampaibya mereka didepan pintu ruangan Kepala Biksu langsung saja Biksu muda tadi mempersilahkan mereka masuk untuk bertemu seseorang yang sudah menunggunya.
Sora dan Albern masuk dengan bersamaan, sedangkan Leo dibiarkan menunggu diluar sesuai arahan Biksu yang mengantarnya.
“Kalian sudah datang?” Ucap seseorang dari balik cahaya lampu lilin yang terpasang, ruangan itu cukup besar dengan pencahayaan yang temaram dan hanya berfokus pada patung Budha dihadapan mereka. Tidak jauh dari situ berdirilah seorang Biksu dengan perawakan paruh baya.
Sora dan Albern tidak menjawab, hanya mencoba melihat sosok tersebut. Biksu itu berbalik dan tersenyum berjalan mendekati mereka berdua, dia memberi Hormat dibalas Sora dan Albern.
“Duduk lah,” Perintah Biksu itu untuk duduk dilantai.
“Jadi, apa kau sudah siap untuk mengikuti pelatihannya Nona Sora?” Tanya Biksu tersebut.
“Ak-Aku…” Sora yang lansgung ditanya seperti itu malah menjadi bingung dan melihat Albern, rencananya mereka kesini untuk bertanya lebih jelas tentang Leo. Namun malah ditanya untuk mengikuti pelatihan langsung.
Biksu itu tersenyum dan mengerti kebingungan dan keraguan Sora. “Bacalah terlebih dahulu buku silsilah ini, jika sudah paham maka langsung kearena pelatihan. Aku yang akan mengantar mu.” Ucap sang Biksu. Sora melihat buku yang sudah Usang namun tetap rapih dan masih bisa dibaca.
Banyak kata-kata yang tidak iya pahami. Namun Sora mengangguk tanda mengerti.
Albern hanya terdiam melihat buku yang diserahkan kepada Sora.
“Silahkan anda beristirahat dulu Nona,” Ucap Sang Biksu.
“Lalu Leo bagaimana?” Tanya Sora yang menghawatirkan binatang peliharaannya itu, selain tidak bisa diikat. Dia juga semakin besar takutnya mencelakai orang lain.
“Anda tenang saja, sudah ada yang menangani dan bertanggung jawab padanya.” Ucap Sang Bisku dengan lembut.
Sora mengangguk dan beranjak pergi, Albern pun mengikutinya namun dihentikan oleh Sang Biksu.
”Bisa kita bicara sebentar Tuan Muda Albern Kim?.” Tanya Sang Biksu yang membuat Albern terkejut dengan ucapannya. “Bagaimana dia tahu nama ku.” Batinnya.
Albern kembali duduk dan Sora pergi meninggalkan mereka. Biksu itu tersenyum padanya.
“Apa kau masih bingung Tuan Muda?” Tanya Bisku itu.
__ADS_1
Albern hanya mengagguk tanpa menjawab, dan biksu itu tersenyum lagi.
“Aku akan sedikit menjelaskan pada mu tentang Nona Sora dan keluarganya.”
“Leluhur Keluarga Yun telah menjalin hubungan baik dengan dewa langit, dulu ribuan tahun silam mereka berjuang bersama melawan iblis dari neraka. Dan mendapatkan kemenangan semua itu terbantu karena bantuan keluarga Yun yang berperan paling sangat penting. Oleh karena itulah Dewa memberikan hadiah kepada keluarga Yun dan keturunan Sah nya.” Ucap Biksu itu dengan perlahan.
“Mereka diberikan penjaga berupa tunggangan Hewan bernama “shouwei” yang berarti penjaga langit. dan itu sudah terjadi ribuan tahun yang lalu. Mereka bukan hanya menjaga Pewaris Sah, namun juga menjaga dunia agar tetap stabil.” Lanjut sang Biksu. Albern mendengarkan dengan seksama tanpa berkedip sedikit pun.
“Namun, selama ini Pewaris Sah adalah seorang laki-Laki, entah mengapa generasi saat ini adalah seorang Gadis. Ini membuat dewa memilih mu sebagai penjaga yang lain dari Nona Sora.” Albern langsung menegakkan badannya mendengar hal itu.
“Karena itu Biksu sudah tahu nama ku?” tanya Albern.
”Bukan hanya diri mu saja, seluruh keluarga anda juga aku mengetahuinya.” Biksu itu tersenyum lagi.
Albern terkejut mendengarnya, dia langsung berdiri meninggalkan sang Biksu yang terdiam dengan senyuman. Albern keluar ruangan tersebut dan melihat Sekretarisnya sedang berbincang dengan salah seorang biksu disana.
“Choi, sedang apa kau?” Albern menghampiri Sekretarisnya dan melirik ke Biksu itu. Biksu muda itu tersenyum dengan memberi Hormat lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
“Direktur ada apa?” tanya Sekreteris Choi karena bingung melihat Tuan nya seperti ketakutan.
“Choi, apa kau tidak memperhatikan orang-orang disini? Mereka sepertinya menyeramkan dan sangat misterius.” Ucap Albern dengan melihat sekeliling.
Sekretris Choi hanya menggeleng dan pergi meninggalkan Tuannya itu yang masih kebingungan.
Saat mereka berjalan dikoridor Sora melihat dan langsung memanggilnya. “Albern, Apa yang kalian lakukan?” Sora melihat Albern merangkut tangan sekretarisnya.
ketika mendengar suara Sora, Albern langsung tersadar dengan apa yang dilakukan dan melepaskan rangkulannya lalu menegakkan badan untuk merapihkan diri.
“Ehem, tidak kami hanya berjalan-jalan untuk melihat sekeliling.”
“Bukannya tadi dia ketakutan?” Batin sekretaris Choi yang melihat tingkah Tuan Mudanya yang langsung berubah.
Sora mengangguk-angguk.
“Kau mau kemana?” Tanya Albern mendekati Sora.
“Aku mencari mu, sepertinya aku harus tinggal disini cukup lama. Apa kau tidak masalah?” Tanya Sora.
“Harus sekarang?” Albern sedikit protes dan Sora mengangguk.
“Bagaimana dengan pernikahan kita?” Tanya Albern lagi dengan sedih.
“Bukannya jika masalah keluarga ku dapat diselesaikan, maka pernikahan kita juga akan lebih Bahagia?” Bujuk Sora dengan tersenyum.
__ADS_1
Albern mendengar kata-kata Sora yang menatapnya dengan sendu lalu dibalas senyuman oleh Albern. “ jika begitu aku akan menemani mu disini.” Ucap Albern.
“Aku rasa tidak perlu,” Sora langsung melepaskan pelukannya dengan perlahan.
“Mengapa?”
“Aku sudah bertemu dengan pendeta Kang, dia teman Kepala Biksu Wu Yong, Orang yang bertemu kita tadi. Dia juga mengatakan aku harus fokus berlatih sendiri di Kuil Tian Tan.” Jelas Sora.
“Bukan kah kita sudah di Kuil Tian Tan?” Tanya Albern.
“Tidak, ini bukan Kuil Tian Tan, Kuil Tian Tan ada ditempat yang berbeda.” Sora mencoba menjelaskan dengan baik pada Tunangannya ini.
“Aku tidak mengerti.” Albern kesal. “Aku akan tetap disini. Titik!” tegasnya dengan emosi.
Sora memegang wajahnya agar menatap matanya. “Dengar, jika kau disini bagaimana keluarga mu? Mereka juga membutuhkan mu. Dan apabila orang-orang yang mau membunuhku waktu itu datang untuk mencelakai mereka bagaimana?” Ucap Sora dengan lembut dan terus menatapnya.
“Lalu kau disini bagaimana?” rengek Albern lagi.
Sebenarnya dia juga takut akan hal itu terjadi pada keluarganya. Tapi jika Sora disini sendirian bagaimana.
“Tinggalkan beberapa penjaga disini untuk ku. Maka kau akan tenang.” Yakin Sora lagi.
Albern menunduk tanda kalah. “Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu, langsung kabari aku. Bagaimanapun caranya.” Albern sedikit keras.
“Aku mengerti,” Sora Kembali tersenyum manis.
Lalu mereka berpelukan dengan sangat erat seperti dua orang yang saling merindukan dan tidak akan bertemu lagi. Tiba-tiba ada suara deheman dari belakang mereka.
“Tuan Muda, Nona. Ini sudah malam. Lebih baik kita beristirahat.” Tegur Sekretaris Choi.
Albern kesal dengan ucapan Sekretarisnya ini dan bersingut. “Istirahat lah.” Ucap Sora dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Albern mendekati sekretarisnya itu dengan tatapan benci. “Aku akan mencingcang mu nanti.” Ancam nya.
“Aku akan tidur dikamar depan dan anda akan tidur dikamar ini Direktur.” Ucap Choi dengan membuka pintu kamar yang remang dan sedikit gelap.
Albern langsung menarik tangan sekretarisnya itu.
“Tunggu kau harus tidur sekamar dengan ku.” Perintahnya sedikit memaksa.
“Tadi mengancam, sekarang ketakutan, ck.” Batinnya kesal.
“Mengapa diam? Apa kau tidak mau sekamar dengan ku?” kesal Albern dengan sikap sekretarisnya.
__ADS_1
“Aku akan tidur disini Direktur.” Choi langsung memasuki kamar diikuti Albern.