
Setelah acara pertunangan selesai dengan khitmat dan lancar serta dengan segala kehebohan yang terjadi, Keluarga Kim kembali ke Rumah Utama dimalam hari. Nyonya Kim terlihat sangat bahagia, dia sedikit mendengar apa yang terjadi dari Pelayan Park.
“Kalian semua beristirahat lah, besok kita akan mengadakan perayaan kecil-kecilan.” Ucap Sang Kakek.
“Baik.” Ucap mereka sedikit berbarengan.
Karena kamar Albern dan Sora berdampingan maka mereka menuju kamar dengan berjalan bersama. Albern yang sejak tadi tersenyum dan seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen terlihat sangat berbeda. Dia sangat bahagia bisa bersama Sora.
Meski belum menikah, namun dia sudah menyatakan kepada semua orang bahwa wanita disampingnya adalah miliknya seorang.
Sora yang memperhatikan Albern menjadi heran.
“Kau ini kenapa?” ucapnya.
Albern melihat kearah Sora ketika mendengar pertanyaanya. “Memang aku kenapa?”
“Sejak tadi kau tersenyum-senyum sendiri.” Sora masih merasa heran.
“Memangnya kenapa? Aku jelas sangat bahagia? Apa kau tidak bahagia?” cecarnya.
Sora mendengar pertanyaan aneh Albern hanya menggeleng. “Bukan aku tidak bahagia, namun kau sejak digedung samapai saat ini tidak berhenti tersenyum. Aku merasa aneh saja.” Jelasnya.
“Dengar, wajar jika aku sejak tadi tersenyum. Kita baru saja mengikat janji apa aneh jika bahagia?” Albern menerangkan.
Sora berhenti berjalan. “Kita baru bertunangan, tapi kau sangat bahagia seperti ini. Bagaimana jika kita sudah menikah nanti.” Herannya.
Albern yang melihat Sora berhenti jadi ikut berhenti juga. “Jika kita sudah menikah nanti. Maka aku bukan hanya bahagia. Namun juga aku akan membuat kau manjadi wanita paling bahagia melebihi diriku.” Albern mendekat dan mengecup kening Sora.
Sora tersenyum dan menatap Albern. “Terima Kasih karena telah memilih ku dan meyakinkan aku bahwa kau yang terbaik dan aku satu-satunya.” Ucapnya dengan tulus.
“Terima Kasih karena tetap percaya dan berada disiku. Jangan pernah berubah.” Balas Albern.
Mereka berpelukan dan tiba-tiba ponsel Albern berdering.
“Ya.” Jawab Albern dengan masih memeluk Sora.
__ADS_1
“Kita bicarakan nanti.” Albern menutup telponnya dan menatap Sora.
“Ada apa?” Tanya Sora yang melihat wajah Albern berubah menjadi serius.
“Sepertinya Tuan Yun belum puas untuk bertemu dengan mu, padahal saat tadi diacara kita dia dan istrinya sudah bertegur sapa dengan mu.” Jelas Albern.
Sora hanya terdiam, sejujurnya dia belum siap jika harus bertemu dengan paman nya itu. Karena masih banyak hal yang belum bisa diterima Sora.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Albern yang melihat Sora hanya terdiam.
Sora hanya menggeleng dan tetap diam. Albern menangkup wajahnya untuk saling berhadapan.
“Dengar, aku ada disamping mu. dan keluarga Kim ada dibelakang dan depan mu untuk melindungi. Jadi kau jangan khawatir.” Ucapnya dengan menatap sendu Sora.
Sora tersenyum mendengar penjelasan Albern.
“Bukan itu yang ku khawatirkan.” Jawab Sora.
“Lalu?”
“Sejujurnya aku belum siap bertemu mereka. Terlalu banyak pertanyaan dibenak ku yang tidak bisa diungkapkan.” Sambil menjelaskan. Albern mengikuti dan duduk disampingnya.
“Apalagi ketika aku melihat Paman, wajahnya sangat mirip dengan Ayah. Tapi justri membuat ku sakit.” Sora memegang dadanya dan meneteskan air mata.
Albern melihat Sora menangis langsung memeluknya.
“Aku akan bicara pada mereka jika kau belum siap untuk bertemu. Mereka pasti akan menunggu.” Ucap Albern mencoba menenagkan.
Sora berfikir sejenak. “Bagaimana jika beri aku waktu beberapa hari dulu? Aku akan mengatur emosi ku dan mencoba bersiap untuk bertemu dengan mereka.” Pinta Sora.
“Baiklah, sesuai mau mu saja.” Jawab Albern dengan tersenyum.
“Istirahat lah, ini hari yang melelahkan untuk mu.” Ucap Sora dengan tersenyum.
“Kenapa kita tidak istirahat bersama dalam satu kamar?.” Gurau Albern.
__ADS_1
“Ish, dasar mesum,” Sora memukul lengan Albern dan pergi meninggalkannya lalu masuk kekamar.
Albern yang dipukul tersenyum bahagia, dan memegang bagian yang dipukul Sora. “Ah, rasanya bahagia sekali. Aku benar-benar jatuh cinta pada nya.” Batin Albern, lalu dia berjalan dengan tenang kekamarnya.
Pagi hari sudah sangat ramai. Kakek mereka menyiapkan acara penyambutan untuk Sora. Dulu Alyne juga diberikan penyambutan seperti ini, namun mereka tidak ada acara pertunangan seperti Sora dan Albern melainkan langsung menikah jadi sedikit berbeda.
“Aku mengadakan acara ini untuk menyambut cucu menantu ku yang kedua. Yaitu Sora.” Dengan sedikit tertawa bahagia Kakek Kim mengatakannya. Membuat yang lain ikut senang dan tertawa bahagia.
Acara penyambutan yang diadakan tidak besar. Hanya keluarga mereka dan pelayan inti saja. Setelah selesai acara makan-makan mereka sekeluarga mengobrol ditaman.
“Aku ada kabar bahagia untuk mu.” Ucap Albern pada Sora, yang lain terdiam.
“Apa itu?” Sora penasaran.
“Aku sudah mendapatkan izin untuk memelihara Leo.” Jawabnya bangga.
Sora mendengarnya menjadi bahagia dan memeluknya.” Benarkah? Terima kasih.” Ucapnya.
Yang lain tersenyum bahagia. Alyne sebenarnya tidak setuju dengan keputusan mereka memelihara Leo, namun Albern berkata Leo sedikit berbeda. Maka dari itu dia sekalian ingin menelitinya jadi Alyne sedikit memahami.
“Tapi dengar, Leo sedikit berbeda. Aku tidak tahu dia berbeda dimananya, yang kuperhatikan malam itu adalah bentuk tubuh dan warna matanya langsung berubah drastis.” Jelas Albern dan semua mendengarkan.
“Saat bertarung dan menerkam, Leo mengeluarkan taring dan kuku yang tajam. Tapi ukuran tubuhnya jauh dari saat belum bertarung di Sore hari. Dan aku juga melihat matanya yang berubah menjadi warna merah menyala.” Lanjut Albern lagi.
Sora menatap kekandang Leo. Leo sedang santai menjilati lengannya. Dan kembali melihat kearah Albern.
“Kau ingat waktu aku pergi dari mansion malam itu?” tanya Sora.
“Ya, kau terluka dan ada Leo dipangkuan mu.” jawabnya.
“Sebelumnya aku merasa ada yang mengikuti ku dari semak-semak, lalu aku merasa benda yang mengikuti ku itu hewan buas yang besar. Terdengar sedikit erangan dan langkah yang mantap. Aku berlari dan menurut ku lari ku cukup kencang. Namun dia bisa menyusulnya dan saat aku terjatuh aku merasakan ada yang mau menerjangku seperti benda yang sangat besar. tapi ternyata itu Leo.” Sora menjelaskan dengan perlahan dan mencoba mengingat kejadian malam itu.
“Aku ingin kalian bertemu pendeta Kang.” Ucap sang Kakek dengan sambil menyeruput teh.
“Untuk apa kita sampai melibatkan pendeta Kang?"Tanya Ayah Albern.
__ADS_1
“Nanti kalian sendiri yang akan mengetahuinya.” Tuan Besar Kim tidak memberi jawaban yang pasti dan memberi teka teki.