
Albern telah sampai dikantor pusat. Saat sedang memeriksa beberapa berkasnya Sekretaris Choi datang dan memberi beberapa file yang diminta Albern. Albern menerima dan membaca laporan itu.
“Kucing Batu?” tanya nya pada Sekretaris Choi.
Kucing batu atau dengan nama latin (Pardofelis Marmorata) adalah adalah jenis kucing gunung yang habitat aslinya dihutan atau gunung-gunung. Kucing ini berasal dari Asia selatan dan tenggara. Populasi kucing ini sangat sedikit karena itu bisa termasuk kucing langka karena jarang terlihat.
Mansion tempat tinggal Albern ada dibukit kemungkinan kucing ini mencari tempat perlindungan seperti habitat aslinya.
“Benar Tuan Muda, tapi ini baru kemungkinan, jika dari jenis bulu dan wajahnya memang mengarah kesana. Namun dari ukuran yang sepertinya hewan ini masih anakan dia sedikit lebih besar. Mungkin jika dia sudah dewasa akan terlihat lebih jelas.” Terang Sekretaris Choi.
“Bagaimana dia bisa ada diwilayah ku? Bahkan hewan ini bukan asli sini,” Albern semakin penasaran.
“Hanya ada satu kemungkinan Tuan Muda perdagangan hewan langka. Kemungkinan dia melarikan diri. Dari keterangan pelayan Park. Nona Sora menemukannya dalam keadaan lemah karena kelaparan dan ada beberapa luka namun tidak parah.” Terang Sekretaris Choi.
“Hah... lama-lama aku bisa gila dengan gadis ini.” Albern langsung menyenderkan badan dikursi kebesarannya dan memijat tengkuk belakang kepala karena merasa lelah.
“Direktur, mengenai perjamuan di keluarga Kim bagaimana?” Tanya Sekretaris Choi dengan ragu.
“Pikirkan nanti saja, aku ingin istirahat dulu dirumah.” Albern beranjak dari kursinya dan hendak pergi. Namun pintu ruangannya terbuka dan ada seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi dan kulit putih muncul.
“Apakah Direktur Kim akan pergi?” tanya wanita itu dengan elegan.
Albern hanya menatap sekretarisnya.
“ini nona Youra, Putri dari direktur Yoon. Perusahaan Seven Entertainment.” Bisiknya pada Albern.
“Maaf nona, aku masih ada keperluan lain. Kita juga sedang tidak membuat janji” dengan sopan Albern memberitahu Youra.
“Panggil saja aku Aya, aku memang tidak membuat janji dengan mu. Aku hanya sekedar mampir.” Terang Youra dengan suara yang sangat lembut.
“Jika begitu aku mohon maaf, kita bisa bertemu lain kali. Aku permisi.” Albern masih terlihat Sopan.
Albern berjalan melewati Youra begitu saja, Youra merasa ini sangat menarik. “Tunggu,” dengan memegang tangan Albern.
__ADS_1
Albern reflek dan langsung melepaskannya, Youra juga terkejut dengan tindakan Albern yang sedikit kasar.
“Ah, maaf. Aku hanya ingin mengundang mu makan malam. Apa kau bersedia?” tanya Youra dengan gaya memelas dan memegangi tangannya yang tidak sakit.
“Kau bisa bicarakan dengan sekretaris ku, permisi.” Albern merasa tidak senang dengan tingkah laku wanita seperti ini. Sudah berapa kali wanita dengan tidak tahu malunya melakukan berbagai hal yang tidak pantas untuk mendapatkan perhatian dari nya.
Dia masih memaafkan Youra karena hanya memegang tangannya. Jika lebih jauh dari itu entah apa yang akan dilakukannya pada wanita ini. Bahkan mungkin akan menghancurkan perusahaannnya.
Albern sampai dirumah dengan wajah yang tidak baik. Ketika sedang berjalan kekamar dia melihat Sora sedang duduk ditaman dan bermain dengan kucing peliharaannya. Albern melihat dan memandangi mereka dalam diam seperti patung, lagi-lagi dia terpesona oleh sosok wanita didepannya itu. Dengan senyum yang manis, tertawa lepas, tangan mungilnya yang mengelus bulu-bulu kucing itu sangat membuat hati Albern berdesir.
Tanpa sadar Albern sudah ada disamping Sora.
Sora mengengok dan sedikit kaget melihat sosok Albern yang sudah berdiri dengan memandanginya. “Direktur? Sedang apa anda disini?” tanya Sora sedikit heran.
Albern tersadar dan sedikit gelagapan. “Ah, ya... Aku.. aku... “ Albern yang bingung mau menjawab apa, karena dia pun tidak tahu mengapa dia bisa berada disamping Sora.
“Bagaimana keadaan kaki mu?” tanya nya sembarangan.
“Begitu rupanya, bagus lah.” Jawab Albern sembarangan.
“Lalu kucing ini mau kau apakan?” tanya Albern lagi dengan menatap kucing didepannya. Kucing itu seperti mengerti apa yang diucapkan Albern lalu membalas tatapannya. Albern sedikit merinding jika benar kucing ini hewan buas seperti informasi yang didapatkannya. Tiba-tiba kucing itu menggerang kecil dan sedikit mendesisi pada Albern.
“Hei tenang lah, dia tuan mu juga.” Sora mencoba menenangkan Leo yang seperti marah pada Albern.
“Direktur, namanya Leo.” Sora melirik Albern dengan sinis dengan tetap mengelus Leo.
“Dia sudah punya nama?” batin Albern heran. Lalu Albern hanya mendehem.
“Apa kau tahu jenis kucing apa ini?” tanya nya pada Sora.
“Jelas ini kucing biasa seperti yang orang-orang punya dirumahnya,” yakin Sora.
Mendengar penjelasan Sora yang sembarangan ingin rasanya memarahi karena kesal, tapi dia sedang sakit.
__ADS_1
“Dia harus diberikan kandang, kita tidak tahu dia binatang buas atau bukan. Jika kau perhatikan dia sedikit berbeda dengan kucing biasanya.” Jelas Albern dengan pelan kepada Sora karena tidak mau ribut lagi dengan wanita ini.
Sora mendengar itu hanya diam, dia juga merasa sedikit aneh dengan Leo, dari ukuran, dan kecepatannya berlari malam itu.
“Tapi bisakah nanti saja diberikan kandang? Aku yakin dia tidak akan berbahaya.” Pinta Sora dengan sedikit memohon pada Albern.
Albern melihat wajah memelas Sora malah menjadi gelagapan dan tersipu, dia langsung memalingkan wajahnya. “Terserah kau saja, asal kau menjamin dia tidak membuat masalah.”
Albern langsung pergi dari sana menuju kamarnya, Sora yang melihat dari belakang merasa aneh dengan sikap Direkturnya itu. Tidak lama hanpon Sora benrdering.
“Halo Heira.” Sapa Sora.
“Kau dimana? Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” Balas Heiran.
“Aku masih dimansion direktur,” dengan suara yang pelan.
“Apa kita bsa bertemu? Aku rindu pada mu, dan ada yang ingin kau beritahu pada mu.” Jelas heiran dengan suara memelas.
“ Ada apa? Aku akan bicara pada direktur dulu, nanti aku akan menghubungi mu,” jawab Sora. Sebelum Sora menutup telponnya tiba-tiba Heiran bertanya.
“Apa benar kau dan direktur berkencan?”
“sudah ku bilang jangan bicara sembarangan, aku tutup telponnya.” Sora langsung mematikan telpon mereka.
Sebenarnya Heiran menelpon karena desakan Ji Min yang ingin tahu keberadaan nya sekarang. Mereka berempat sedang ada dikedai makan bersama Ji Hun dan Alex.
“bagaimana? Tanya penasaran Ji Min.
“Sudah ku bilang jangan membuat pertanyaan aneh, dia menjadi kesal pada ku.” Ketus Heiran pada Ji Min.
“Kenapa kesal? Jika memang tidak benar ya tidak apa-apa.” Keluh Ji Min.
“ish, kau ini.” Lirik Heiran. Yang lain hanya menggeleng melihat perdebatan mereka berdua.
__ADS_1