Wanita Penguasa

Wanita Penguasa
36. Desakan


__ADS_3

Sora bergegas pergi kembai ke mobil, saat akan menuju parkiran dia bertemu dengan pak Han.


“Sora, sedang apa disini? Aku dengar kau izin?” Tanya pak Han membuat Sora kaget.


“Ah, Pak Han. Benar aku izin karena ada keperluan, sekarang aku akan kembali kerumah. Aku permisi dulu.”


Sora yang sudah panik tidak lagi melihat wajah Pak Han. “Aneh, siapa laki-laki yang bersamanya?” pikir Pak Han yang terus melihat kearah Sora pergi.


Sora langsung bergegas masuk kemobil, Dan menuju mansion biru. Dipikirannya Albern sudah menunggu dan akan marah-marah seperti tadi pagi. Sepanjang perjalanan dia memikirkan banyak hal, bagaimana menghadapi pria itu, dan bagaimana jika dia benar-benar mengurungnya.


Semakin dia pikirkan semakin membuat panik dan tangan nya sudah sangat dingin karena gugup.


Sesampainya di mansion dia disambut pelayan Park. “Apa Tuan Muda ada?” tanya nya pelan kepada pelayan Park.


“Tidak nona,” Jawab nya.


“Tidak ada? Lalu mengapa dia menyuruh ku untuk cepat kembali?” Gerutu Sora kerena Kesal.


Albern yang sudah sampai di rumah utama Kim langsung saja masuk dan disambut para pelayan. Dia bertanya pada Kepala Pelayan. “Dimana kakek dan yang lain?” Tanyanya.


“Semua sedang berkumpul di ruang tengah tuan muda,” Jawab kepala pelayan dengan memberi hormat.


Albern langsung menuju ruangan tempat keluarganya berkumpul.


“Kakek.” Sapa Albern dengan lembut lalu memeluknya, dilanjutkan melakukan hal yang sama kepada ayah dan ibunya.


“Jadi kapan kau akan membawanya kepada ku?” Tanya sang kakek tanpa aba-aba.


Ayah dan ibunya hanya tersenyum mendengar pertanyaan Tuan besar Kim.

__ADS_1


“Kek… ini tidak seperti yang kalian fikir kan” Albern mencoba menjelaskan.


“Apa maksud mu?” Tanya sang ibu dengan heran.


“dDa bukan kekasih ku, aku hanya menolongnya saja. Dan aku merasa dia sedikit membutuhkan bantuan ku,” Ungkap Albern dengan yakin.


“aku sudah mencari tahu tentang gadis ini, dia hanya gadis biasa. Mungkin tidak ada yang berbahaya atau mungkin mereka salah menculik orang.” Terang sang kakek.


“aku tetap mau dia dibawa ke sini, aku ingin bertemu,” Tekan sang kakek.


Albern mendengar ucapan sang kakek tidak bisa membantah lagi. Jika dia memberi perintah tidak akan bisa dibantah. Ayah Albern hanya bisa tersenyum, jika itu masalah jodoh anaknya dia hanya bisa menyerahkan segala keputusan pada anak-anaknya karena mereka yang menjalani. Tapi jika kakeknya yang bertindak maka mereka juga tidak bisa menolak.


Albern hanya diam ketika kakek nya berkata demikian.


“Albern ikut ibu.” Ajak Nyonya Kim.


Mereka berdua keluar dari ruangan meninggalkan dua orang laki-laki itu.


“Siapa gadis itu?” Tanya Nyonya Kim dengan serius.


“Sora lee, dia pegawai ku dikantor pengiriman. Ibu aku tidak ada hubungan apa-apa dengan nya,” jelas Albern dengan sedikit memelas.


“Aku menyukai gadis ini, kenalkan pada keluarga. Dia sepertinya baik.” Tanpa memperdulikan rengekan Albern.


“Tapi bu, dia pasti tidak akan mau.” Albern masih mencoba menyakinkan.


“Aku yang akan bicara jika kau tidak mau. Sudahin masa lajang mu, aku ingin melihat kau menikah.” Tegas Nyonya Kim.


Albern hanya diam. Dan tidak berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


“Dengar, perasaan ibu mu tidak pernah salah.”


Nyonya Kim memegang tangan anaknya dan mencoba meyakinkan dia supaya segera mencari pendamping. Ibu mana yang tidak khawatir dengan masa depan anaknya. Dulu dia tidak mau memaksanya, tapi ketika melihat Sora dia merasa gadis itu jodoh anaknya.


“Aku akan berusaha bu,” Albern hanya menjawab seadanya.


Dia langsung pamit pergi kepada ibunya. Pikirannya sekarang harus bagaimana. “Kenapa jadi begini.” Keluh nya.


Sora yang sudah dikamar menjadi bingung apa yang akan dilakukan disini sekarang. “Apa aku ketaman saja, mungkin akan ada yang bisa ku kerjakan,” pikirnya.


Mencoba menghilangkan fikiran-fikiran tentang bagaimana menhadapi Albern nanti, Sora memeilih untuk berjalan-jalan ditaman. Mungkin saja ketika berjalan-jalan dan melihat tanaman akan membuat perasaannya lebih tenang.


Albern sampai di mansion sore hari. Dia langsung menuju kekamar utama, jalan menuju kamar utaman melewati taman belakang. Jadi saat berjalan dia melihat Sora yang sedang berjalan-jalan dengan membawa kucing.


“Dari mana dia bisa mendapakan binatang itu,” pikir Albern. Selama ini dia tidak pernah memelihara binatang apapun.


Albern menatap Sora yang sedang senang bemain dengan binatang yang ditemukannya, matanya terpaku dan merasa ada desiran aneh dihatinya.


Semakin lama dia menatap Sora dari dalam ruangan. Entah apa yang difikirkannya, gadis yang membuatnya kesal sekaligus penasaran dengan apa yang dilakukannya dan keras kepala itu tetapi jika diperhatikan lagi. “cantik.” guman nya pelan.


Albern langsung tersadar dari lamunan dan keanehan pada dirinya yang diam menatap Sora, sehingga dia langsung saja dia menepis semuanya. Dan bergegas ke kamar utama dengan langkah kaki dipercepat.


Sora merasa ada yang memeperhatikan dirinya langsung menengok tapi tidak ada siapa-siapa disana. Tadi saat berjalan-jalan dia melihat seperti ada suara aneh dari balik pohoh pinus yang besar. Ketika dia mencari sumber suara itu dan sampai dibawah pohon, dia melihat ada seekor kucing dengan ukuran lebih besar dari biasanya sedang merintih.


Ketika dia mendekati kucing itu tidak menghindar justru malah ikut menatap Sora seperti meminta pertolongan. Langsung saja di elus kepala binatang itu, kucing ini memiliki warna bulu agak keemasan, dan sedikit bercorak. Badannya yang sedikit lebih besar dan panjang dari kucing biasanya namun ketika Sora mencoba menggendongnya dia terlihat lemas dan sangat kelaparan.


Sora langsung meminta pelayan membawakan makanan kucing dan minum. Tapi sepertinya dia tidak mau memakan makanan itu, Sora berinisiatif memberikan daging segar dan benar saja dia langsung malahapnya. Maka dari itu dia kembali pulih dan bisa sedikit bermain dengan Sora.


Albern yang sudah membersihkan diri dikamar langsung merebahkan badanya di kasur besarnya. Sepertinya dia merasa sangat lelah hari ini.

__ADS_1


Desakan dari keluarganya dan pekerjaannya yang menumpuk membuat badannya tidak dapat menghindari rasa kantuk. Langsung saja Albern tertidur dengan pulas.


__ADS_2