Wanita Penguasa

Wanita Penguasa
67. Jiao Yun


__ADS_3

Nyonya Yun sudah tidak bisa berkata-kata lagi, anak-ananya pun hanya diam Ketika sang ibu mengeluh dengan kelakuan mereka. Jiao Yun berjalan mendekati adiknya.


“Bagaimana keadaan mu?” Tanya sang Kakak.


“Sudah lebih baik kak.” Sambil tersenyun tipis.


Jiao Yun duduk dikursi samping ranjang adiknya, “Dengar jaga kelakuan mu saat ini, kita sedang dalam perhatian ayah.” Bisik Jiao Yun.


Adiknya hanya mengangguk meski sedikit tidak paham. Jiao Yun pun berbalik dan melihat ibunya yang masih duduk disofa dan terdiam.


“Bu, aku pastikan Ayah tidak akan bisa membawa gadis itu Kembali kekeluarga kita.” Ucap Jiao Yun yang membuat Ibunya menoleh.


“Sudahlah, kau tidak akan bisa melakukan apapun. Ayah mu sudah bertekat.” Balas sang ibu.


Jiao Yun terdiam dan berfikir, lalu dia pergi dari ruang rawat adiknya tanpa pamit. Adik dan ibunya hanya melihat dengan heran dan saling memandang saat kepergian Jiao Yun begitu saja.


Tuan Chen Kembali kerumahnya, perjalanan dari negara tempat tinggal Sora dan kembali ke negaranya tadi sangat melelahkan. Dia ingin beristirahat sejenak. Belum lama dia terbaring, pintu kamarnya diketuk. “Ayah apa kau didalam?”


Terdengar suara Jiao Yun memanggil.


Tuan Chen yang memang tidak tidur sepenuhnya, dan hanya merebahkan badan.


Tubuhnya yang sudah tua dan terlalu banyak bekerja, sehingga kadang membuatnya sulit untuk tidur. Karenanya suara Jiao Yun itu langsung membangunkannya.


Tuan Chen berjalan kearah pintu kamar lalu membukanya. Dilihat sosok Jiao Yun yang sedang berdiri.


“Ayah. Aku ingin bicara sebentar.” Pintanya.


“Masuk lah.” Ajak sang Ayah yang mempersilahkan anaknya untuk bicara.


Mereka duduk disofa dan saling berhadapan. Tuan Chen mengambil cerutu dan menghidupkannya lalu menghisap dengan santai.


“Ada apa?” Tanya sang Ayah.


“Aku ingin masuk keperusahaan.” Jiao Yun langsung berbicara pada intinya.

__ADS_1


Tuan Chen tersenyum sinis lalu mengambil asbak dan membuang abu cerutunya.


“Perusahaan bukan tempat bermain, jangan sembarangan.” Jawab sang Ayah.


“Aku tidak sedang bercanda Ayah, aku serius. Bawa aku keperusahaan.”


“Dulu aku sudah menyuruhmu bekerja diperusahaan tapi kau menolak dengan lantang. Karena menurut mu itu bukan dunia mu.” Sindir Tuan Chen.


“Maaf Ayah, dulu aku terlalu muda jadi tidak bisa berfikir dewasa. Tetapi sekarang aku sudah yakin dan berjanji pada mu akan melakukan yang terbaik.” Jiao Yun mencoba meyakinkan sang Ayah.


Tuan Chen berfikir sejenak dan memperbaiki duduknya. “Baik, datang lah nanti keperusahaan. Dan aku akan menempatkan mu di posisi yang pas.” Ucap Tuan Chen dengan tegas.


Jiao Yun tersenyum. “Baik Ayah, terima kasih atas kesempatan mu.” Jiao Yun langsung berdiri dan memberi hormat.


“Istirahat lah Kembali Ayah. Aku pamit.” Jiao Yun melangkah keluar kamar sang Ayah.


Tuan Chen menyenderkan badannya diSofa dan menghela nafas panjang. Banyak yang dia fikirkan. Tentang Sora, Perusahaan dan keluarganya serta dia masih mencari tahu siapa yang menjadi musuh dalam selimut dikeluarganya dan ingin menggagalkan rencananya untuk membawa Sora kembali. Semua menumpuk jadi satu dan semakin membuatnya sulit untuk tidur.


Jiao Yun Kembali kekamarnya dia merasa berhasil merayu sang Ayah dan langsung menelpon seseorang.


“Bekerja lah dengan baik dulu dan tunggu aba-aba dari ku.” Ucap seseorang.


Jiao Yun mematikan telponnya dan tersenyum puas. “Ibu aku tidak akan mengecewakan mu. Dan Ayah pasti akan bangga pada ku.” Ucapnya berbisik.


Beberapa hari berlalu, Fang Yun sudah keluar dari rumah sakit. Ibunya dan Jiao Yun yang menjemput, sedangkan ayah mereka masih sibuk dikantor. Sesampainya dirumah sang ibu langsung bertanya pada Jiao Yun.


“Kapan kau akan keperusahaan?”


“Ayah bilang dua hari lagi aku bisa kesana bu, kerena masih banyak yang ayah urus.” Ucap Jiao Yun dengan memapah adiknya kekamar.


”Istirahat lah, ibu akan ke butik dulu, sudah beberapa hari tidak melihat kesana.” Ucap Sang ibu, dan Fang Yun hanya mengagguk.


“Kak, aku ingin minum.” Pinta sang adik.


“Baiklah, akan aku ambilkan.” Jiao Yun berjalan mengambil air untuk adiknya dan diserahkan.

__ADS_1


“Terima Kasih, Kak apa benar kau akan pergi keperusahaan?” Tanya Sang Adik.


“Hm, ada apa?” Jiao Yun mengiyakan.


“Kenapa mendadak?” Tanya Fang Yun lagi yang merasa heran. Setahu dia kakaknya ini paling malas jika sudah berhubungan dengan perusahaan, dia lebih senang berbisnis dan berpergian entah kemana. Bahkan untuk pulang kerumah pun bisa dihitung.


“Aku hanya tidak tega pada ibu, jika dia mengeluh terus lama-lama dia akan pingsan.” Jiao Yun sedikit bercanda.


“Ish kau ini kak,” Jawab Fang Yun kesal.


“Sudahlah, kau beristirahat saja dan fokus pada terapi mu. Jika sudah lebih sehat maka kau bisa berjalan-jalan lagi.” Sang kakak menasehati lalu meninggakal adik nya untuk beristirahat.


Fang Yun tersenyum sambil melihat kakaknya keluar dari kamar.


Tuan Chen yang sedang ada pertemuan bisnis disebuah rumah makan dengan koleganya lalu dibisikan sesuatu oleh Asisten Gong.


“Aku mengerti,” Ucapnya pada Asisten Gong.


“Tuan-Tuan, silahkan menikmati makan siang kalian. Aku ada urusan sebentar.” Tuan Chen meninggalkan meja pertemuan, karena memang sudah tinggal menunggu makan siang.


Dia memasuki sebuah ruang khusus, sama seperti ruang VVIP.


“Apa yang mereka katakan,” Tanya Tuan Chen pada Asistennya.


“Dalam beberapa hari mereka akan berkunjung kemari Tuan, namun tanpa Nona Sora. Hanya Tuan Kim bersaudara saja.” Jelas Asisten Gong.


“Mengapa?”


“Ada yang ingin mereka bicarakan terlebih dahulu dengan anda.” Jawab Asisten Gong dengan pelan.


“Aku mengerti, sepertinya mereka masih meragukan kita.” Ucap Tuan Chen.


“Siapkan segala sesuatunya, jangan beri celah kepada siapa pun untuk menganggu pertemuan ku dengan mereka.” Perintah Tuan Chen.


“Baik.”

__ADS_1


__ADS_2