Wanita Penguasa

Wanita Penguasa
50. Kebenaran


__ADS_3

“Sora, keluarga ayah mu sedang mencari dirimu.” Tuan Besar Kim memberitahunya.


“Keluarga Ayah? Siapa?” Sora merasa bertanya-tanya.


Kakeknya mulai bercerita siapa ayah Sora, siapa ibunya, dan silsilah keluarganya. Marga yang dipakai selama ini adalah marga dari ibunya. Dan bagaimana dia bisa diincar sampai seperti ini serta semua alasan dan kemungkinan yang terjadi.


Mendengar penjelasan Tuan Besar Kim membuat tangan Sora bergetar. Keringat dingin keluar. Serta detak jantung tidak beraturan. Dia terlalu terkejut akan informasi yang diterima. Bahkan banyak kata-kata Tuan Besar Kim yang tidak dia dengarkan karena terlalu berat.


Nyonya Kim melihat kondisi Sora langsung menghampiri dan memegang tangannya yang sangat dingin.


“Sayang, tenangkan diri mu. Ada kami disini.” Sora mendengar dan merasakan sentuhan Nyonya Kim langsung menatapnya. Sejak awal Sora sudah sangat menyiapkan hatinya untuk mendengar semua penjelasan. Namun saat Nyonya kim yang mencoba menenangkannya justru membuat dia meneteskan air mata.


Nyonya Kim melihat Sora menangis langsung memeluk dan menepuk-nepuk punggung nya dengan lembut. Seperti seorang ibu yang menengakan anak perempuannya. Interaksi antara dua orang Wanita ini membuat Suasana menjadi haru.


Setelah Sora tenang, dia mulai bisa menerima semua informasi yang ada. Melapaskan pelukan nya dengan Nyonya Kim, menghapus air mata dan menarik nafas dengan perlahan.


“Lalu apa yang harus ku lakukan?” Tanya Sora kepada mereka semua.


“Apa kau memiliki kalung peninggalan ayah mu?” tanya tuan Besar Kim.


Sora berfikir. “Aku tidak pernah menerima kalung apapun dari Ayah, tapi ada kalung peninggalan ibu yang ku pegang saat ini.” Ungkap Sora.


“Bisa kau tunjukan pada kami?” pinta Ayah Albern.


“Akan ku ambilkan sebentar,”

__ADS_1


“Aku temani.” Albern langsung berdiri mengikuti Sora. Sora Kembali kekamarnya dan mengambil kotak perhiasan milik ibunya itu, dia menatap kotak itu dan terdiam. Albern melihatnya lalu berkata.


“Apa yang kau pikirkan?”


“Jika memang ini yang mereka cari. Apa masalah ini akan menjadi lebih besar?” Tanya Sora tanpa melihat Albern.


Albern memegang kedua Pundak Sora dan membuatnya berhadapan, dia menyentuh dagu Sora dan berkata.


“Dengar. Apapun yang terjadi. Aku ada disamping mu. Dan keluarga Kim akan selalu melindungi dirimu. Karena kau adalah bagian dari keluarga ini.” Tegas Albern.


Sora Kembali meneteskan air mata. Albern memeluknya. “Ini belum seberapa, namun kau sudah terluka. Bagaimana nanti?” didalam pelukan Sora menangis.


“Jika memang akan terjadi sesuatu yang lebih besar. Maka kau harus menyiapkan diri dari sekarang. Karena segala kemungkinan itu ada.” Albern melepaskan pelukannya.


“Kau harus siap dengan segala sesuatunya. Karena kau adalah Wanita ku. Menantu keluarga Kim.” albern menatap dengan penuh ketegasan dan meyakinkan.


Mereka berdua Kembali keruang kerja milik kakeknya itu. Sora meletakkan kotak itu dihadapan Tuan Besar Kim. Tuan Besar Kim melihat dan mengambil kotak itu. Karena kodenya sudah dibuka Sora maka kakek Albern bisa langsung melihat kalung yang ada didalamnya.


Diangkatnya kalung itu, ibu Sora menutup mulutnya karena terkejut. Meski mereka baru melihatnya pada foto yang diberikan Tuan Besar Kim waktu itu. Namun langsung bisa mengenali bahwa kalung itu lah yang mereka cari.


“Oh Tuhan, memang benar itu kalungnya.” Ucap Nyonya Kim.


Tuan Besar Kim yang lain hanya terdiam, dia mengamati setiap inci kalung itu dan ukiran dibelakangnya. Lalu menatap Sora. Dia tidak menyangka jika cucu sabahatnya sekarang ada dihadapannya dan harus melindungi Sora.


“Sora dengarkan aku.” Tuan Besar Kim meletakkan kalung itu Kembali.

__ADS_1


“Apapun yang terjadi kau harus siap. Karena sudah sangat jelas kau lah yang mereka cari. Kemungkinan ada yang tidak menerima mu sebagai ahli waris. Jadi kau harus berhati-hati.” Jelas sang kakek.


Albern sekarang duduk disamping Sora. Sora menatap Albern dan yang lain.


“Jadi benar aku yang mereka cari, apa kalung itu berhubungan dengan keluarga ayah ku?” Tanya Sora perlahan.


“Ini adalah kalung yang diberikan secara turun temurun oleh keluarga mu. Aku tidak tahu mengapa ini dipegang oleh ibu mu. Namun yang pasti ini membuktikan jika kau adalah Ahli Waris yang sah.”terang Sang Kakek dengan perlahan kepada Sora.


Sora hanya terdiam, dia seperti memikirkan sesuatu.


“Ada apa?” Tanya Albern.


“Mengapa mereka tidak langsung saja bertemu dan bertanya apakah aku mau menjadi Ahli waris dari keluarga ayah ku itu. Tanpa harus mencelakakan orang lain.” Emosi Sora seperti tidak stabil saat berkata. Albern mencoba menenangkannya.


“Dengar. Ini tidak semudah yang kau fikirkan. Jadi kita tidak bisa begitu saja bertemu dengan mereka.” Ucap ALbern.


“Benar, mulai sekarang kau harus belajar mengendalikan emosi mu. Dan berfikir yang rasional, Mengerti.” Kakek Albern yang melihat Sora sudah mulai gelisah memilih pergi.


Ayah Albern yang sejak tadi diam berjalan mendekati Sora.


“Sora, dengarkan Ayah. Mulai saat ini kau adalah putri ku. Jadi apapun yang terjadi pada mu adalah tanggung jawab kami Keluarga Kim. karena ayah dan kakek mu adalah sahabat kami.” Ucap Ayah Albern dengan sangat lembut dan memegang tangan Sora serta menepuk-nepuknya.


Sora menatap mata Tuan Kim. dia mengerti maksud dari perkataanya.Sora mengangguk dan tersenyum. “Aku paham Ayah.” Jawab Sora.


Tuan Kim tesenyum dan mengelus pundaknya.

__ADS_1


“Istirahat lah, besok kita lanjutkan. Ini sudah sangat larut” Sembari berdiri Tuan kim mengajak istrinya keluar.


“Ayo,” Albern menggandeng tangan Sora.


__ADS_2