Wanita Penguasa

Wanita Penguasa
74. Kuil Tian Tan


__ADS_3

Tengah hari mereka sudah tiba dinegaranya dan langsung menuju Rumah Utama. Sora menyambut kedatangan mereka berdua, tidak lama Alyne menyusul.


“Akhirnya kalian sampai juga,” Ucap Sora yang sedikit khawatir.


Albern tersenyum dan memeluk Sora yang sangat dia rindukan. Dari belakang Ellard menyusul dan langsung memeluk istrinya Alyne.


“Apa semua berjalan dengan lancar?” Tanya Alyne yang mengkhawatirkan suaminya juga.


“Hm, aku lapar kita masuk sekarang.” Ajak Ellard.


Mereka masuk kerumah dan langsung menuju meja makan.


“Dimana Ibu dan Ayah?” Tanya Albern.


“Ibu dan Ayah pergi kespanyol mereka bilang diundang oleh keluarga kerajaan.” Jawab Sora seraya mengambilkan nasi untuk Albern. Alyne juga melakukan hal yang sama.


“Kakek?” Tanya Ellard.


“Masih dikamarnya. Biar kupanggilkan.” Baru Alyne mau berjalan namun Sang kakek sudah lebih dulu menuruni tangga dan berjalan mendekati meja makan. “Kalian sudah tiba?” Tanya sang Kakek basa-basi.


“Ya kek.” Ellard tersenyum.


“Makan lah, setelah itu keruangan ku.” Ajak sang kakek.


“Kek, aku Lelah.” Rengek Albern dan disenggol oleh Sora. Albern langsung melirik tuanangnnya itu yang memperingatkannya. “Apa?” bisiknya.


“Dasar anak nakal. Yasudah, istirahat lah dulu.” Ucap sang Kakek dengan sedikit kesal.


Albern hanya tersenyum kemenangan dan menyantap makan siangnya, dan yang lain hanya menggeleng.


“Aku akan istrihat terlebih dahulu.” Ucap Ellard setelah selesai makan da kembali kekamarnya diikuti Alyne.


Albern juga pergi beristirahat namun Sora tidak mengikutinya. “Kau tidak mengantar ku juga?” Goda Albern dengan wajah memelas.


“Ish, pergi sana.” Sora mengabaikannya dan terus membantu membereskan meja makan. Albern pergi dengan kecewa.


Ketika Tuan Besar Kim juga mau beranjak Sora memanggilnya. “Kakek bisa aku bicara sebentar?” Tanya Sora.


“Baiklah,” Jawab Sang kakek. Sora mengajaknya kekandang Leo.


“Semalam saat aku memberi makan Leo, aku melihat cahaya dimatanya. Dan kalung ku juga bercahaya, aku pikir itu karena pantulan cahaya lampu. Namun setelah kuperhatikan itu cahaya dari mata dan kalung ku.” Sora menyerahkan Kalungnya pada Tuan Besar Kim.

__ADS_1


Tuan Besar Kim memperhatikan Kalung itu dan Kembali untuk duduk dikursi taman.


“Sebenarnya inilah alasan mengapa aku menyuruh mu bertemu dengan pendeta Kang, karna aku mecurigai jika Leo adalah mahkluk mitologi milik keluarga kalian. Bukan kucing batu seperti yang kalian bicarakan.” Ucap sang kakek.


“Maksud anda?” Sora menjadi bingung.


Tuan besar Kim menghela nafas Panjang. Dan mulai menceritakan kisah nya pada Sora.


“Dulu, saat aku berkuliah dengan Yun Tua yaitu kakek mu. Kami melakukan perjalanan trekking kehutan Amazon di Brazil, tidak terlalu dalam karena orang Tua kami melarangnya. Jadi kami hanya menyusuri luar Hutan.” Tuan Kim berhenti dan memandang langit.


“Saat itu hari sudah hampir gelap, kami yang pergi dengan dua orang lainnya berencana menginap. Namun dua teman kami tidak setuju dan memilih untuk pulang saat mata hari akan terbenam karena mereka tidak mau bermalam dihutan seperti kami.” Lanjut Tuan Besar Kim.


KEMBALI KEMASA MUDA TUAN BESAR KIM.


“Tendanya Sudah jadi, ayo beristirahat sebentarlagi malam.” Ucap Kim Muda kepada Yun Muda.


Malam itu mereka memutuskan untuk menginap satu malam saja, karena kemungkinan banyak hal yang bisa diteliti jika malam hari. Saat sudah gelap Kim yang ingin buang air kecil. Pergi kebelakan untuk mencari tempat yang agak jauh dari tenda. Setelah selesai dia segera ining meninggalkan tempat itu tapi karena gelap dia tidak memperhatikan langkahnya dan terperosok kejurang.


Kim berteriak sekuat tenaga, namun jaraknya saat ini cukup jauh dari tenda kemungkinan Yun tidak mendengar teriakannya. Jadi dia berusaha untuk naik sendiri dengan perlahan. Senter yang dia bawa juga sudah jatuh kebawah hingga saat ini dia hanya diterangi oleh sinar dari cahaya bulan.


Tiba-tiba saat berusaha bukannya naik malah kakinya terpeleset lagi dan Kim langsung terperosok semakin dalam. Pegangan tangannya sudah licin karena embun dan tanah. Dia yang putus asa, mencona berteriak lagi.


Dan masih tidak ada jawaban, Kim benar-benar pasrah sekarang. Saat sudah putus asa, tiba-tiba ada kilatan cahaya diatas kepalanya dan “wuuuzzz…!!”


Kim tiba-tiba merasa tubuhnya diangkat oleh cahaya itu karena terkejut dia tidak bisa berkata apa-apa, saat ingin teriak dia sudah ada diatas tanah dan cahaya itu tiba-tiba hilang. Kim sangat ketakutan, dengan benda yang baru saja mengangkatnya. Tepat didepannya Yun yang sudah sangat panik pada temannya langsung memegang tangan dan membantunya berdiri. Kim masih terlihat sangat ketakutan jadi tidak mengatakan apa-apa.


Karena masih dalam keadaan tubuh yang gemetar, Yun membawanya ketenda dan membiarkannya beristirahat. Kim yang sudah sangat kelelahan langsung tertidur hingga pagi.


Setelah bangun dia langsung keluar tenda dan mencari sahabatnya Yun. Ternyata dia sedang membuat sarapan untuk mereka berdua, Yun melihat Kim sudah bangun dan keluar dari tenda dengan tergesa-gesa.


Kim terlihat masih dengan wajah yang pucat dan ketakutan membuat Yun tersenyum dan menyodorkan sarapan buatannya.


“Ayo kita sarapan dulu.” Ucap Yun.



Kim langsung mengambil sarapan berupa roti Sandwich buatan sahabatnya itu dengan tetap tidak melepaskan pandangannya.


Mereka sarapan dengan santai, Yun yang asik menatap langit dan menikmati udara pagi, namun Kim masih gemetaran dan juga terlalu banyak pertanyaan yang ingin disampaikan. Setelah selesai sarapan Yun menyerahkan teh buatannya.


Mereka menikmati teh itu Kim juga terlihat sudah jauh lebih tenang, dia melihat kearah temannya.

__ADS_1


“Apa yang ingin kau tanyakan?” Ucap Yun tanpa melihat temannya itu.


“Apa yang terjadi semalam, dan cahaya itu?” Kim bertanya secara perlahan. Yun meletakkan teh dibatu yang ada didepannya langsung memejamkan mata dan “wuzz…!”


Ada seberkas cahaya disampingnya mengejutkan Kim dan spontan langsung memundurkan badan. Cahaya itu perlahan berubah menjadi seekor elang yang sangat besar bahkan ukurannya melebihi mereka orang dewasa.


Elang itu menunduk pada Yun dan melihat Kim yang ketakutan. Yun melihat kearah Kim yang ketakutan langsung tersenyum.


“Jangan takut Ini adalah penjaga Ku. Namanya Dream.” Ucap Yun seraya mengelus hewan disampingnya itu.


Kim hanya diam dan menelan ludah karena keterkejutannya yang besar. Ini pertama kalinya dia melihat binatang aneh seperti ini.


Yun mendekat dan menyodorkan tangannya pada Kim untuk berdiri. “Bangunlah, jangan takut.” Ucap Yun muda.


Kim menyambut tangan sahabatnya itu dengan ragu, namun diyakinkan lagi oleh Yun. “Ayo.”


Tidak lama hewan itu pergi dan menghilang dengan cahaya yang mengiringinya.


“Ap-Apa itu?” tanya Kim gelagapan.


“Dalam keluarga ku, siapa pun yang menjadi Ahli waris utama dia akan memiliki hewan penjaga, jenis mereka berbeda-beda, sesuai dengan aliran darah dan keterkaitannya dengan hewan-hewan tersebut.”


“Dan kalung ini adalah bukti yang bisa mengendalikan mereka.” Yun menunjukan kalung berbentuk kunci dengan ukiran naga dibelakangnya.


“Leluhur kami memiliki perjanjian dengan dewa, dan sampai saat ini tidak ada yang merusaknya. Penerus yang sah keluarga Yun bukan sekedar untuk menjaga Harta dunia, namun harta dewa yang diberikan ini jauh lebih ternilai Kim. Karena itu aku harus menjaganya dengan sungguh-sungguh.” Yun mencoba menjelaskan dengan pelan pada Kim yang hanya terdiam dan mulut ternganga.


“Apa kau mengerti?” Tegur Yun yang melihat sahabatnya itu masih terdiam dengan mulut menganga.


Kim langsung menutup mulutnya dan tersadar.


“Ah ya aku mendengarkan mu.” Ucapnya cepat.


“Lalu dia bisa ada disampingmu bagaimana?” tanya nya penasaran, karena dari ukuran hewan itu saja jelas sangat besar.


“Aku berlatih Bersama pendeta dari Kuil Tian Tan, hanya saja tidak sembarangan orang yang bisa masuk kesana, harus ada perantaranya. Jika bukan Ahli waris pun akan percuma.”


“Kim, banyak yang mau membunuh ku hanya untuk merebut Dream dari tangan ku, karena jika mereka memiliki kalung ini, mereka berfikir jika bisa merebut Dream dari tangan ku maka bisa menguasai dunia.” Lanjut Yun khawatir.


“Apa karena itu kau menyembunyikannya?” Tanya Kim.


“Kami memang tidak bisa menunjukannya kecuali dikeluarga inti untuk pengakuan,” Dan Yun tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2