Wanita Penguasa

Wanita Penguasa
45. Perjanjian


__ADS_3

Albern sampai dirumah utama lebih cepat. Karena ingin bertemu dengan Ayah dan kakeknya untuk menanyakan banyak hal tentang Sora. Para pelayanpun menyambut kedatangannya.


“Dimana Ayah dan Kakek?” Tanya Albern kepada kepala pelayan.


“Ayah anda belum kembali, Tuan besar ada ditaman bersama Nyonya dan Nona Sora Tuan Muda,” pelayan itu memberi tahu.


“Baiklah,” Albern langsung pergi menuju kamar untuk membersihkan diri. Tidak lama dia kembali dan ikut bergabung dengan yang lain ditaman.


“Kau sudah pulang sayang,” Ucap sang ibu.


Albern tersenyum dan langsung mencim pipi ibunya lalu melihat Sora sesaat yang sedang mengupas buah. Dia duduk disamping sang kakek yang sedang membaca sebuah buku.


“Kakek tidak ada kesibukan?” Albern membuka percakapan.


“Aku sudah tua, sudah tidak banyak yang bisa ku lakukan.” Jawab sang kakek dengan membalikan bukunya.


“Albern, ibu sedang memilih tema pernikahan mu, Sora terlalu sulit memilih. Bagaimana dengan mu?” Tanya sang ibu dengan lembut.


“Ibu dan Sora saja yang memilihnya, aku ikut mau kalian.” Ucap Albern dengan tersenyum dan melirik kearah Sora. Sora yang mendapat senyuman itu menjadi tersipu dan langsung menundukan kepala.


“Kakek, ada yang ingin kubicarakan.” Albern memandang kearah kakeknya dengan serius.


Kakek Albern melihat itu menjadi mengerti dan langsung berdiri. “Ayo keruang kerja ku.”


Mereka berdua berjalan meninggalkan Sora dan Nyonya Kim.


“Laki-laki tidak pernah bisa santai sedikit saja.” Ucap Nyonya Kim dan membuat Sora tersenyum.


“Ini buah nya ibu,” Sora memberikan potongan buah.


“Terima Kasih sayang,” sambut Nyonya Kim.


Albern dan kakeknya sudah berada diruang kerja. Mereka duduk di sofa besar yang berada diruangan itu. Setelah Albern tidak membuka pembicaraan apapun, sampai sang kakek berkata.


“Sebenarnya apa yang kau inginkan?”


“Kenapa kakek yang bertanya, justru sebaliknya tidak adakah yang ingin kakek berutahukan pada ku?” Jawab Albern tanpa melepaskan pandangannya pada sang kakek.


“Aish, bocah ini. apa lagi yang harus ku beritahukan jika kau sendiri sudah mengetahuinya.” Acuh kakek Albern.

__ADS_1


“Apa Sora mengetahui identitas dia yang sebenarnya?” Tanya Albern tanpa basa-basi.


“Ku rasa tidak, tapi jika memang dia yang memiliki kalung itu, maka sudah pasti Soralah yang mereka cari."


“Lalu apa yang akan kau lakukan kek?”


“Karena Situa Bangka Yun sudah meninggal dan tidak bisa membawa cucunya kembali. Ini menjadi agak sulit.” Ungkap sang kakek.


“Lalu perjanjian itu?” Albern menimpali dengan penasaran.


“Untuk apa membicarakan perjanjian itu. Hanya perjanjian asal ucap saja, apa kau menganggapnya serius?” Kesal Tuan besar Kim.


Albern tersenyum manis melihat kakeknya yang kesal.


“Atur penjagaan yang ketat pada Sora, ini bukan masalah yang sepele. Jika mereka sampai melakukan hal yang lebih parah dari kemarin maka akan berbahaya untuk Sora.” Terang Tuan Besar Kim dengan muka serius.


“Dan jaga cucu menantu ku yang cantik ini. Jika tergores sedikit saja maka kaki mu kupatahkan,” Ancamnya pada Albern.


“Ish, cepat sekali kakek berubah perasaan pada ku.” Kesalnya dengan melirik jahat.


“Sekarang Chen Muda yang memimpin Perusahaan dan keluarga mereka. Aku tahu dia tidak akan melakukan hal jahat pada ponakannya. Jadi ada kemungkinan dari pihak lain.” Ungkap sang kakek lagi.


“Aku rasa dia mengetahuinya, dia sudah mencari sahabatnya lama sekali. Terakhir pertemuan kalian di Eropa dulu selalu membuat ayahmu penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka.” Sesal sang kakek.


Dulu, kakek Albern dan kakek Sora bersahabat. Mereka bersekolah dan lulus di universitas yang sama. Sampai mereka menikah pun anak-anak mereka juga bersahabat. Suatu ketika ketika keluarga mereka berkumpul. Mereka membuat perjanjian jika nanti cucu mereka laki-laki dan perempuan maka akan dijodohkan. Sebenarnya itu adalah janji gurauan saja.


Sampai saat ayah Sora sudah menikah dan sedang berada di Eropa dia bertemu dengan sahabatnya itu dalam kondisi yang tidak baik.


Saat itu mereka sudah sama-sama menikah dan mempunyai anak. Ayah Sora berceletuk, bagaimana dengan perjodohan anak mereka jika direalisasikan dengan sedikit tertawa.


Albern yang mempunyai daya ingat kuat mendengar itu dan memandangi Sora, meski mereka masih berusia 8 tahun. Albern terpesona oleh wajah Sora. Mungkin itu salah satunya alasan Albern tidak memiliki kekasih hingga dewasa karena terlalu terpikat dengan Sora kecil.


Dan sekarang mereka bertemu disaat sudah sama-sama dewasa, namun Albern masih sangat terpesona dengannya.


Albern keluar ruangan kakek nya mencari Sora dan ibunya. Ternyata Sora sedang menelpon seseorang. Albern berdiri dibelakang dan hanya diam.


“Baik paman, terima kasih.” Sora mematikan telponnya. Tiba-tiba Albern bicara.


“Siapa?”

__ADS_1


“Astaga!” Sora berbalik dengan memegang dadanya yang terkejut.


“Kau mengagetkan ku,” Setelah melihat Albern.


“sikap mu Seperti tertangkap basah sedang berselingkuh .” Albern dengan gaya cuek nya.


Sora hanya menatap kesal laki-laki dihadapannya itu. “Mulut orang ini mauku Tarik sampai mana supaya tata bahasanya baik?” Batinnya.


“Paman Park yangenelpon.” Jawab Sora.


“Untuk apa?” penasaran Albern


“Leo tidak mau makan, dan kau sudah membuatkannya kendang. ada kemungkinan dia menjadi ketakutan.” Sora menjelaskan.


“Kenapa Paman tidak menelpon ku?” tanya Albern lagi.


“Dia sudah menghubungi mu lewat sekretaris Choi. Tapi karena kau disini dia menghubungi Ibu.” Jelas Sora lagi.


“Karena aku masih Bersama ibu saat ditelpon, dan dia menyebut kan Leo aku langsung minta bicara.” Lanjut Sora.


“Ooh…” Albern hanya mengangguk dengan memegang dagunya.


“Apa aku boleh ke mansion untuk melihatnya?” pinta Sora dengan sedikit memohon. Sora tahu Albern tdak menyukai Leo jadi dia langsung memohon.


“tidak malam ini.” Tegas Albern.


“Kapan? Kasihan dia sudah tidak mau makan. Jika mati bagaimana?” keluh Sora.


“hais, apa kau ini selalu keras kepala dan semuanya harus dituruti saat itu juga?” kesal Albern yang melihat Sora sedang protes.


“Iya.” Tegas nya dengan tetap menatap Albern seperti menantang.


Albern menarik nafas Panjang dan membalas tatapan Sora. “Gadis ini benar-benar.” Batin Albern yang sudah kesal.


Albern yang sedang betatapan dengan Sora langsung menyerah. “Setelah makan malam kita kesana. Dan ingat harus dengar apa kata ku.” Perintah Albern.


Sora tesenyum bahagia. “Baik. Aku akan siap-siap.” Dia langsung meninggalkan Albern sendiri.


“Agrh, kenapa aku tidak bisa marah lagi Ketika melihat wajahnya.” Albern yang kesal dan mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2