Wanita Penguasa

Wanita Penguasa
37. Pergi


__ADS_3

Hari sudah semakin gelap, Sora yang sedang asik bermain dengan peliharaan barunya itu sampai lupa waktu. Dia segera saja masuk kedalam tapi kucing itu terus mengikutinya. Sora bingung, jika dia dimasukan kedalam mansion apa yang akan terjadi. Pasti Albern tidak akan setuju.


Sora mencoba berbicara dengan kucing itu.


“Teman, kau tidak boleh masuk kedalam. Tuan rumah ini sangat galak. Jika dia mengetahui kau ada didalam maka kau akan dicincang-cincang,” saat Sora berbicara seperti itu tapi anehnya kucing itu seperti mengerti dengan apa yang Sora ucapkan.


“Eh, dia pergi? Apakah mengerti?” pikirnya. Sora langsung masuk dan menutup pintu taman.


Ketika berbalik dia menabrak tubuh Albern yang sudah berada dibelakangnya.


“Aduh!” Sora memegangi hidungnya.


Albern yang sedang bersedekap langsung berkata. “Aku tidak mau ada binatang apapun dirumah ini, paham!” Tanpa bertanya sedikit pun Albern langsung mengeluarkan perintah.


“Baik, aku mengerti,” Sora hanya menunduk ketika tahu itu adalah Albern.


"Direktur, sampai kapan aku harus ada disini?” Tanya Sora ketika Albern akan pergi.


“Sepertinya kau sangat tidak betah ya, baiklah kau boleh pergi sesuka mu. Dan jangan mencari aku jika terjadi apapun pada mu.” Jawab Albern dengan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Sora.


“Memang siapa yang menyuruhku tinggal disini? Dan menyuruhku cepat-cepat kembali kesini.” Gerutunya pelan dan tetap menatap Albern yang berjalan menjauh. Sora mengepalkan tangannya dengan sangat kesal lalu pergi kekamar untuk mengambil barang-barang dan pergi.


Sedangkan Albern dengan santai duduk dimeja makan sambil menunggu makan malam. Sora bergegas pergi tanpa mau berpamitan pada Albern, tetapi dia bertanya kepada kepala Pelayan Park jika mau kembali kekota naik apa. Pelayan Park menyarankan memakai supir karena tidak ada kendaraan umum disekitar sini. Sora menjadi ragu tapi dia tidak mau pergi dengan bantuan Albern lagi.


“Tidak paman, terima kasih. Aku akan berjalan saja.” Yakin Sora.


“Tapi nona, ini sudah larut,” Khawatir kepala Pelayan Park.


“tidak apa-apa, sampai jumpa.” Sora bergegas keluar dari mansion dengan yakin.


Langit sudah gelap, tapi Sora sudah tidak mau tinggal bersama Albern karena bisa-bisa dia memcekik laki-laki itu karena kesal. Sora berjalan dengan yakin keluar mansion sendirian.


Pelayan Park yang khawatir melaporkannya pada Albern


“Biarkan saja paman, nanti juga dia akan kembali karena takut,” ucap Albern santai.

__ADS_1


“Tapi Tuan Muda, apabila Nyonya besar tahu. Tuan akan disalahkan jika terjadi apa-apa dengan Nona Sora.”


Albern yang mendengar perkataan Pelayan Park menjadi kesal dan berfikir. “Siapkan mobil,” sambil berjalan pergi kekamar dan mengganti bajunya.


Dia tidak mau membuat masalah menjadi lebih panjang dengan ibunya jika terjadi apa-apa pada Sora.


Sora berjalan menyusuri jalan sendirian, dengan pencahayaan hanya dari ponselnya. Sebenarnya dia sendiri sangat takut, tapi tekatnya lebih kuat dari pada rasa takut. Saat sedang berjalan dengan pelan Sora mendengar suara dari balik semak-semak dan membuatnya merinding.


“Apa itu binatang buas?” pikir Sora.


Dia mempercepat langkah kakinya, namun sepertinya suara itu juga mengikuti kecepatan langkahnua, Sora semakin ketakutan dan segera saja dia berlari. Suara disemak-semak juga mengikuti langkah kaki nya yang berlari dengan cepat. Hal itu membuat Sora menjadi panik lalu terjatuh.


Dia memegang lututnya yang terluka,namun suara itu semakin dekat , tubuh Sora yang gemetar hebat dengan keringat becucuran.


tetapi di terus memperhatikan semak-semak yang bergoyang itu, lalu tiba-tiba ada yang keluar dan Sora menjerit “Akkhhh…!!” dengan menutupi wajahnya.


Sora merasa ada yang mengelus kakinya, lalu dia membuka tangannya dan melihat ada apa, ternyata itu kucing yang dia selamatkan tadi siang. Sora langsung membuang nafas lega. “Ya Tuhan… kau menakuti ku kucing kecil.”


Sora yang terduduk mengambil kucing itu lalu memangkunya. “kau ingin menemani ku berjalan? baiklah. Ikut dengan ku,” sambil tersenyum Sora mencoba berdiri.


Tetapi sepertinya lututnya yang terluka itu cukup parah, dia melihat sekeliling hanya ada kegelapan dan jalanan yang menurun ini membuat goresan lukanya cukup dalam.


Itu adalah lampu dari sebuah mobil. Mobil itu berhenti tepat didepan Sora, dia menyipitkan mata mencoba melihat siapa yang ada dimobil itu.


Pintu mobil dibuka dengan perlahan, sosok pria tinggi keluar dari sana dengan berjalan mendekati Sora. Sora yang masih terduduk dengan kucing yang ada dipangkuannya. Tiba-tiba kucing itu mendesis kearah pria didepannya. Sora memperkuat pelukannya pada kucing itu dan mencoba menenangkan.


Sosok itu mendekati Sora dan langsung bersimpuh dihadapannya. Albern melihat kucing dipangkuan Sora dan lutut Sora yang terluka. “masih mau nekat untuk berjalan turun?” tanya Albern dengan lembut.


Sora terkejut jika itu adalah Albern, dia tidak menyangka pria kejam ini akan menjemputnya. “Tu…Tuan Muda,” panggil Sora dengan tergagap.


Kucing itu langsung merungkal ditangan Sora, Seperti ketakutan. Sora merespon dan memeluknya dengan erat supaya tetap merasa aman.


“Pulang sekarang, besok kau bisa pergi dan akan diantar supir,” terang Albern lagi. Dia berdiri menuju mobil. Sora yang mendengar perkataan Albern hanya tetap terdiam. Ketika Albern akan membuka pintu, dia melihat Sora yang berusaha berdiri namun sulit karena lututnya sakit.


Albern memegang pelipisnya dan memijat-mijat. ”Dasar wanita.” Kesalnya dengan suara pelan.

__ADS_1


Saat Sora sedang berusaha bangun dengan masih menggendong kucing ditangannya, tiba-tiba Albern memegang tangannya untuk membantu berdiri. “Pelan-pelan,” ucap nya.


Sora merasa tidak enak dengan bantuan Albern. Karena Sora yang sangat susah untuk berjalan tetapi Albern yang tidak sabar langsung saja mengendong Sora dengan kedua tangannya didepan. Sora terkejut dan hampir menjatuhkan kucing itu. “Tuan ini…”


“Diam dan jangan bergerak,” ucap Albern tanpa melihat Sora dan terus berjalan mendekati mobilnya.


Sora diletakkan di kursi samping kemudi dengan hati-hati. Albern segera masuk mobil dan memutar mengarah ke mansion.


Mereka disambut oleh para pelayan. Melihat Sora yang dibantu Albern langsung saja kepala Pelayan Park menghampiri. “Bawakan P3K kekamarnya,”Perintah Albern.


“Baik Tuan.”


Sora digendong lagi oleh Albern menuju kamarnya, setelah itu Sora didudukan diatas kasur dengan hati-hati. Dia melihat lutut Sora yang memar dan berdarah. Setelah P3K datang. Albern membukanya dan mengambil peralatan untuk mengobati lukanya.


“Biar aku saja, “ ucap Sora yang merasa tidak enak.


“Tetap diam dan duduk dengan tenang,” tanpa melihat Sora, Albern terus mengobati lukanya dengan cekatan.


Setelah selesai dia langsung berdiri dan berkata.


“istirahat lah, luka mu tidak parah.”


Albern melihat kucing yang dengan manis duduk disamping Sora layaknya penjaga, Sora yang menyadari itu langsung memohon pada Albern.


“Boleh aku membiarkannya tidur disini?”


Albern mendengar itu hanya membuang nafas kecil. ”Terserah.”


Kemudian dia berlalu keluar kamar Sora. Sora yang mendengarnya langsung tersenyum dan mengambil kucing itu untuk duduk dipangkuannya. “Kau mau kuberi nama?” tanya Sora dengan antusias.


Kucing itu tetap menatap Sora seperti mengiyakan perkatannya.


“hm, apa yang ccocok untuk mu?” ditatap dengan dalam kucing itu untuk memilih namanya.


“Leo.”

__ADS_1


Dengan yakin Sora memberi nama kucing itu. Karena dia merasa kucing ini seperti raja Hutan. Kuat, berani dan tatapannya tajam. Sora langsung berbaring sembari memeluk Loe.


K


__ADS_2