
Albern menghampiri dan memeluk Sora. “Untuk apa aku meladeni wanita lain jika ada bidadari didepan ku.” Ucapan manis Albern membuat Sora bergidik dan menjauh.
“Jaga kelakuan mu.” Sora mengancam.
Albern tersenyum dan mengambil bekal makanan dari tangan Sora untuk lanjut menyantapnya.
Albern yang duduk sembari memakan bekalnya dan Sora berjalan melihat tumpukan berkas dimeja kerja Albern. Dia melihat-lihat file-file yang bertumpuk lalu tertarik dengan satu berkas dan mengambilnya.
“Apa pekerjaan mu selalu banyak seperti ini,” Tanya nya sembari membolak balikan kertas ditangannya.
“Tidak, karena ibu ingin beberapa hari sebelum pertunangan aku berada dirumah. Jadi mau tidak mau aku harus menyelesaikan semuanya secepatnya.” Jelas Albern dengan mulut masih mengunyah mengunyah.
Sora melihat dia makan dengan terburu-buru pergi mengambilkn air dan menaruhnya dimeja. “Terima kasih,” dengan tersenyum Albern berucap.
Sora duduk didepan nya dengan melihat Albern.
“Apa aku bisa mendampingi mu?” Sora berkata dan menatap Albern dengan sendu.
“Albern mendengar perkataan Sora langsung tersenyum dam mengambil minum. “Dengar, jika ingin menjadi wanita ku. Tidak ada kata ragu dan tetap menjadi kuat. Saat ini kau sudah memenuhi semuanya. Jadi jangan merusak itu dengan pemikiran aneh.” Yakin nya. Membuat Sora tersenyum manis.
“Ibu sudah mengurus semua hal. Dia sangat bersemangat. Bahkan dia memaksa kakak ipar untuk pulang secepatnya.” Sora tertawa.
Albern mendengar cerita Sora juga tersenyum.
“Ibu memang seperti itu. Bahkan saat ayah dan kakek ulang tahun dia membuat acara itu secara bersamaan dan semua keluarga dikumpulkan.” Menimpali dengan tertawa. Mereka berbincang santai siang itu.
Makan siang Albern juga sudah habis. “Aku akan pulang. Kau jaga kesehatan mu dan jika bisa pulang lah. Jangan menginap dikantor.” Ucap Sora sembari membereskan kotak makan siang itu.
“Hem, aku pasti pulang. Sekarang hati ku sudah tenang.” Seraya mencubit kecil hidung Sora yang mungil dan mancung itu.
“Ish, kau ini. Baiklah aku pergi.” Sora tersenyum.
Albern memeluknya dan mengecup kening Sora.
“Hati-hati. Kabari aku jika sudah dirumah.” Sora mengangguk dan pergi meninggalkan Albern.
__ADS_1
Setelah Sora pergi Albern tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya dan hati yang berbunga-bunga. Dia terus tersenyum. Sampai sekretaris Choi masuk. Tadi dia melihat Sora pergi dengan para pengawalnya jadi langsung menuju ruangan Albern.
“Direktur.” Sapa Sekretarisnya itu.
Albern menengok dan masih tersenyum.
“Sepertinya anda bahagia sekali.” Albern tidak memperdulikan Sekretarisnya itu dan tetap melihat seluruh berkas dimeja.
“Selesaikan semua ini dengan cepat dan kita akan pulang.” Ucap nya dengan tersenyum.
Sekretaris Choi hanya menggeleng.
“Direktur. Semua nya sudah sesuai perintah anda. Dugaan kita sangat benar. Orang-orang Nona Youra sudah ditangkap dan mengaku.” Terang Sekretaris Choi.
“Biarkan semua berjalan sesuai dengan yang dia mau. Aku ingin tahu sampai mana dia bertindak.” Wajah Albern langsung berubah menjadi serius.
“sepertinya dia akan memanfaatkan kejadian di hotel waktu itu. Aku sudah menyelidikinya dan memang benar dia mengatur secara rapih semuanya untuk menjebak kita.” Jelas Sekretaris Choi.
Albern hanya diam dengan tatapan serius dan tidak mengatakan apa-apa.
“Ibu.” Sapa Sora.
Nyonya Kim menengok.”Kau sudah kembali. Bagaimanaanak nakal itu?” Tanya Nyonya Kim dan masih sibuk dengan tanamannya.
“Dia baik-baik saja bu. Boleh aku membantu?” Tawar Sora dan mulai mengambil peralatan.
Nyonya Kim hanya tersenyum dan membiarkan Sora membantunya. Mereka asik menyelesaikan semua tanaman.
“Sora, apa kau bahagia?” tiba-tiba Nyonya Kim bertanya.
Sora beehenti dan terdiam lalu menengok kearah Nyonya Kim. Nyonya Kim berbalik menatap Sora dengan anggun. Dia berjalan kekursi dan duduk.
“Aku tidak tahu bagaimana kalian bertemu. Aku juga tidak pernah bertanya pada mu tentang pertunangan dan pernikahan ini.” Jelas Nyonya Kim.
Sora mendengar itu lalu berjalan mendekati Nyonya Kim dan duduk disampingnya dengan memegang tangan Nyonya Kim.
__ADS_1
“Bu, atas alasan apa aku tidak bahagia. Kalian begitu menyayangi ku. Bahkan kalian menganggap ku seperti keluarga sendiri. Melindungi ku. Lalu apa lagi yang kuharapkan.” Sora menatap Nyonya Kim dengan tulus. Tatapan itu dibalas dan Nyonya Kim memeluk Sora.
“Jika ada yang mengganjal dihati mu katakan lah. Aku hanya ingin kalian bahagia.” Ucap Nyonya Kim.
Sora tersenyum dan melepaskan pelukannya.
“Ada.” Ucap nya.
Nyonya Kim tertengun dan menatap nanar Sora.
“Apa itu?” Tanya nya dengan khawatir.
“Aku mohon, ibu jangan memaksakan semua nya sendiri. Beristirahat lah. Aku tidak mau saat acara ku nanti ibu kelelahan.” Tulus Sora yang benar-benar khawatir dengan calon mertuanya itu.
Nyonya Kim mendengar itu langsung menteskan air mata. Lalu kembali memeluk Sora. “Ya, Ya… aku akan menjaga diri dan beristirahat. Kau benar.” Sora tersenyum dan memeluk erat Nyonya Kim.
Sora benar-benar merasa beruntung karena mendapatkan limpahan kasih sayang dari keluarga Kim. Terlepas siapa dia nanti. Sungguh tidak menjadikannnya beban pikirannya.
Jauh dinegara lain. Tuan muda Chen sudah bersiap untuk terbang ke negara tempat tinggal Sora. Dia sangat bersemangat untuk menemuin keponakannya itu. Jadwal pertemuan mereka telah ditetapkan. Meski sulit namun tuan Chen paham karena orang yang berada disamping Sora bukan keluarga sembarangan.
Justru ini membuat Tuan Chen bangga. Jika Sora bisa kembali kepadanya dan memegang semua kendali. Bukankah ini sangat menguntungkan juga untuk dirinya. Tuan Chen juga telah mengetahui jika ada yang ingin menyabotase keinginannya untuk membawa kembali Sora kekeluarga Yun ini.
Dia sudah menyelidiki semuanya. Namun belum membuahkan hasil. Pertempuran pengawalnya yang dia kirim waktu itu sudah menjelaskan semuanya.
Banyak yang tidak menginginkan keputusannya ini. Dan ini membuat dia semakin yakin jika Sora lah yang pantas berada dam meminpin perusahaan dan keluarga besar Yun.
Besok dia akan mengadakan rapat internal dan mengumpulkan semua tetua. Untuk membicarakan keputusannya dan keberangkatannya untuk mencari ahli waris yang Sah.
“Suami ku.” Nyonya Yun masuk kekamar.
Tuan Yun yang sedang bersiap kekantor tidak menjawab sapaan istrinya itu. Nyonya Yun membantu Suaminya bersiap mengambil tas kerja dan menatap suaminya yang sedang sibuk merapihkan diri.
Tuan Yun mengambil tas itu tanpa sepatah kata pun. Semalam mereka berdebat hebat dan membuat Tuan Yun kecewa.
Nyonya Yun sudah meminta maaf sejak pagi. Dan mengaku salah. Tapi Tuan Chen sangat sakit hati ketika istrinya mengatakan perpisahan.
__ADS_1