Wanita Penguasa

Wanita Penguasa
22. Obat


__ADS_3

Ada berkas yang tertinggal di kantor pengiriman tempat Sora bekerja, sehingga Albern menyuruh Sekretaris Choy untuk kembali kesana sementara dia menunggu di mobil. Pak Choi kembali kemobil setelah mengambil berkas yang dicari dan disehkan kepada Albern.


“Tuan obat Nona Sora tertinggal, apa perlu kita antar?” Tanya Pak Choi.


“Kau sangat perduli pada gadis itu, kenapa tidak kau ajak tinggal bersama?” Ketus Albern.


Pak Choi yang mendengar itu seketika terdiam. “Haahh.. sangat tidak memiliki keperdulian, ” Batin nya.


Mereka langsung melaju kan mobil untuk pulang kerumah utama, diperjalanan Albern merasa haus dan menyuruh sekretaris Choi turun membeli air mineral.


Albern melihat sosok yang sepertinya dia kenal dari dalam mobil, itu adalah Sora yang sedang duduk sendirian dikursi pinggir jalan dengan jaket tebal. Pak Choyiyang sudah selesai membeli apa yang dibutuhkan Bos nya segera masuk kemobil.


“Orang yang kau cari ada didepan sana,” Terang Albern.


Seketika saja Pak Choi melihat depan langsung tertuju pada Sora. “Nona Sora,” Ucapnya dengan senang.


Pak Choi langsung keluar dan menemui Sora.


“Senang sekali dia, cih!” Pikir Albern sinis.


“Nona Sora?” Panggil Pak Choy sembari mendekati Sora.


Sora langsung menengok karena ada yang memanggilnya.

__ADS_1


“Iya?” Jawab nya sembari berdiri.


“Akhirnya kita bertemu disini. ini obat mu tertinggal diruangan direktur,” Jelas Pak Choi.


“Oohh.. .terima kasih pak Sekretaris,” Sora yang langsung mengenali sosok pria yang menegurnya dan langsung menerima bungkusan obat tersebut.


“Bagaimana keadaan anda, Dan kenapa sendirian disini?” Tanya Pak Choi.


“Aku harus membeli sesuatu dan tubuh ku sudah jauh lebih baik terima kasih,” lalu menunjukan plastick ditangannya.


Mereka berbincang dengan santai, Albern yang melihat ini merasa tidak enak dimata. Langsung saja dia menelpon sekretarisnya yang sedang asik itu.


“Jika kau tidak kembali maka akan ku tinggal,” Ucap nya ditelpon dengan nada kasar. Pak Choi langsung saja menengok kearah mobil.


“Baik tuan.” Balas nya.


“Terima kasih tuan,” Dengan sedikit membungkukkan kepala.


Sekembalinya kemobil langsung saja kena ocehan Albern. “Sepertinya kau sudah sangat mengenal dia ya,” Tanpa melihat Pak Choi dan sambil terus membolak balikkan berkas ditangannya.


“Maaf direktur, aku hanya mencoba membantu sedikit,” Balas nya dengan agak ragu.


“Dia seperti orang yang cemburu,” Batin Pak Choi sesekali melirik.

__ADS_1


Sora sebenarnya tidak mau keluar rumah tapi dia tidak memiliki bahan makan dan keperluan mendesak lainnya, terpaksa dia harus keluar membelinya. Saat berjalan dia merasa lemas dan duduk dikursi pinggir jalan, rumah Sora tidak terlalu jauh dari mini market tersebut sehingga membuatnya tidak terlalu kesulita. Obat sudah ditangannya maka dia akan minum nanti pikir nya.


Ketika hamper medekati pintu rumah hanponnya berdering, tapi tidak mengenali nomornya.


Setelah masuk rumah dia baru mengangkat telpon tersebut.


“Halo...? Jawab Sora.


“Nona Sora, Apa benar ini kau?” Suara seorang laki-laki.


“Ini dengan siapa?” Sora yang merasa tidak kenal dengan si penelpon maka tidak langsung mengiyakan pertanyaan tadi.


“Aku Asisten Paman anda. Tuan Chen Yun,” Jelas orang dibalik telpon.


Sora yang merasa tidak pernah mendengar nama itu.


“Maaf Tuan, anda salah sambung,” Langsung saja Sora mematikan telponnya.


Dia sangat malas meladeni telpon iseng seperti ini, banyak penipuan yang menggunakan nama kerabat, jelas sekali ini penipuan, Sora tidak pernah memiliki paman dengan nama itu . “Mereka ini, sampai kapan mau menipu dan merugikan orang lain?” Kesal nya.


Badannya yang masih terasa lemas, dan perjalanan ke mini market tadi membuat nya semakin lelah, langsung saja dia bersiap-siap tidur dan jika besok memungkinkan dia ingin kembali bekerja, karena dirumah sendirian sangat membosankan.


“Dia mematikan telponnya tuan,” Ucap Asisten Gong.

__ADS_1


“Ya..aku sudah menduganya, ini juga salah ku karena aku tidak pernah mencoba menemui atau sekedar menghubungi kakak, sampai aku baru mengetahui kematian mereka kakak mengganti marganya,” Sesal Tuan Yun.


“Akan ku fikirkan lagi nanti. kau pergilah, ” Perintah tuan muda Yun.


__ADS_2