
Pertengkaran antara Tuan Muda Chen Yun dan istrinya semalam sangat hebat. Bahkan Istrinya berteriak dengan keras membuat semua orang dirumah mendengar teriakannya.
“Apa benar kau akan membawa kembali anak kakak mu?” Nyonya Yun bertanya ketika suami nya saat baru pulang dari kantor.
“Ada apa?” Jawab Tuan Chen.
“Jawab aku. Apa kau benar akan membawa dia kembali?” Nyonya Yun semakin marah.
“Apa urusan mu. Kau hanya harus focus pada rumah tangga. Urusan lain tidak perlu kau ikut campur.” Tuan Chen masih manahan emosinya.
“Ini juga menjadi urusan ku. Dia sudah bukan keluarga kita lagi. Dan kakak pun sudah meninggal. Jadi untuk apa kau membawa nya kembali.” Nyonya Yun semakin marah.
“Tunggu, dari mana kau tahu kakak sudah meninggal?”Curiga Tuan Chen.
“Aku…aku, “ Nyonya Yun tergagap.
“Semua keputusan ada ditangan ku, kau tidak perlu ikut campur.” Tuan Chen pergi kekamar mandi dan meninggalkan istrinya yang kebingungan.
Sebenarnya dia sudah curiga dengan istrinya ini, namun dia masih menunggu dan mencari bukti siapa dibalik semuanya. Setelah selesai dari kamar mandi dia keluar dan ingin tidur. Istrinya sudah menunggu dikasur. Dan mencoba merayu karena sepertinya suaminya ini sedang emosi dan marah.
“Sayang, apa ingin ku pijat.” Goda istrinya.
“Aku ingin tidur, lebih baik kau istirahat.” Ucap Tuan Chen acuh.
Karena merasa diacuhkan Nyonya Yun marah.
“Kau ini kenapa? Aku ingin memperhatikan mu saja malah ditolak.”
“Lebih baik kau perhatikan anak-anak mu yang sembrono itu.” Ucap Tuan Chen membelakangin istrinya.
Nyonya Yun berbalik dan marah mendengar perkataan suaminya itu. “Apa maksud mu? Memang ada apa dengan anak-anak kita?” Nyonya Yun tidak bisa menahan emosinya dan berteriak.
“Ada apa? Kau tidak lihat apa yang mereka lakukan? Yang laki-laki hanya tau bermain wanita dan mabuk setiap malam. Yang gadis hanya tahu berfoya-foya. Apa menurut mu mereka tidak bermasalah.” Tuan Chen tidak mau kalah dengan berteriak.
“Mereka juga anak-anak mu. Kau yang tidak pernah meperhatikan mereka hanya tahu mengurus perusahaan mu saja. Bahkan saat mereka sakit kau sama sekali tidak manyakan mereka.” Nyonya Yun yang semakin tidak bisa menahan emosi berteriak dengan menangis.
“Jika kau tidak menerima anak-anak mu. Lebih baik kita berpisah.” Nyonya Yun yang emosi dan pergi dari kamar.
Tuan Chen hanya diam dengan menahan emosinya dan tidak berucap apa-apa. Istrinya benar-benar sudah kelewat batas pikirnya.
__ADS_1
Malam itu mereka tidur terpisah, namun Tuan Chen tidak memperdulikannya. Nyonya Yun yang menangis memilih tidur dikamar tamu hingga pagi menjelang.
Pagi harinya Nyonya Yun yang berinisiatif untuk berbaikan dengan suaminya tetapi sepertinya percuma, karena suaminya tetap acuh dan tidak memperhatikannya.
Setelah siap Tuan Chen langsung pergi meninggalkannya.
“Aku harus bebruat sesuatu. Jika anak itu kembali maka semuanya akan berantakan.” Ucapnya dengan berbisik.
Sesampainya dikantor Tuan Chen langsung bertanya tentang pertemuannya dengan keluarga Kim kepada Asisten Gong. “Bagaimana dengan jadwal pertemuannya?”
“semua berjalan dengan lancar Tuan. Dan persiapan keberangkatan sudah selesai.” Ucap Asistennya tersebut.
“Jangan sampai pertemuan ini dikacaukan. Aku mecurigai orang dalam sedang berusaha menyabotasenya. Sampai buktinya kita dapatkan jangan membuat tindaan yang aneh.” Perintah Tuan Chen.
“Baik.” Asisten Gong memberi Hormat dan meninggalkan Tuannya itu.
“Ayah, kakak. Aku akan bertemu dengannya. Kalian tenang lah disana. karena aku akan membawanya kembali. ” Guman Tuan Chen dengan sendu.
Keluarga Kim menyambut kedatangan kakak Albern dan istrinya dari luar negri Ellard dan Alyne Kim. Mereka sudah dipaksa pulang oleh ibunya sejak jauh hari dan baru bisa pulang sekarang.
“Akhirnya kalian tiba juga.” Nyonya Kim memeluk Putra tertuanya berserta menantunya.
“Ibu,” sapa Istri Ellard.
“Apakah ini calon istri Albern?” Tanya Alyne saat melihat sosok Sora.
Sora yang berada disamping Nyonya Kim memberi salam.” Kakak Ipar.” Ucapnya dengan sedikit menunduk. Dan dibalas dengan senyuman oleh mereka berdua.
“Ah, benar.” Jawab Nyonya Kim dan mereka tersenyum.
“Lebih baik kita masuk dulu bu, dimana kakek?” Tanya Ellard.
“Ayo,ayo. Kakek kalian sudah menunggu didalam.
Mereka berempat berjalan masuk diikuti beberapa pelayan. Serta membawa beberapa koper milik mereka berdua.
“Kakek.” Sapa Ellard.
Tuan Besar Kim melihat kedatangan mereka tersenyum.
__ADS_1
“Kemari. Kemari.” Dengan melambaikan tangan.
“Ellard mendekat dan memeluk kakeknya ini. Serta menantu nya.
“Ayo duduk. Bagaimana perjalanan kalian?” Tanya sang kakek yang terlihat bahagia.
“Berjalan dengan lancar kek.” kawan Ellard.
Sora dan Nyonya Kim Juga ikut duduk bersama mereka.
“Dasar anak nakal. Jika bukan karena acara Albern apa kalian tidak mau menengok kakek mu yang sudah tua ini.” Kesal san Kakek.
“Kek, jangan merajuk seperti itu. Maaf jika aku jarang pulang.”ucap Ellard dengan manja. membuat mereka semua tertawa.
“Apa benar nama mu Sora?” Tanya Alyne kepada Sora.
“Benar.” Sora tersenyum.dan dibalas dengan senyuman oleh Alyne.
Tidak lama Tuan Kim yaitu Ayah mereka datang.
“Kau sudah sampai?” sapa nya.
“Ayah?” Ellard menengok ketika mendengar suara ayahnya itu. Dan pergi memeluknya.
“Bagaimana kabar mu nak?” tanya Tuan Kim.
“Baik ayah.”
“Apa kalian akan lama disini?” Tanya nya lagi.
“Jika aku tidak bisa lama tinggal dirumah. Maka ibu akan mengikat kaki ku ditiang.” Candanya dengan sedikit melirik ke ibunya.
Semua tertawa.
“Ish, dasar anak nakal.” Nyonya Kim tersenyum.
“sudah, lebih baik kalian berdua istirahat dulu. Perjalanan panjang pasti melelahkan.” Ucap Nyonya Kim.
Alyne dan Ellard tersenyum. “Baiklah kami akan kekamar dan istirahat sebentar.” Ucap Ellard.
__ADS_1
Semua tersenyum mengangguk. Alyne menghampiri Sora. “Nanti kita akan mengobrol.” Ucapnya ramah dan memberi hormat pada semuanya.
“Baiklah.” Sora membalas dengan senyuman.