
KEMBALI KE MASA KINI
“Sora, dengarkan aku. Keluarga mu bukan sekedar keluarga biasa. Maka dari itu kau harus kembali pada mereka.” Ucap Tuan Besar Kim kepada Sora dengan kembali menatapnya.
Sora menatap mata Sang kakek seperti pengharapan. Kalung yang ada ditangan Tuan Besar Kim diserahkan kembali kepada Sora. Sora menerimanya lalu menatap Leo.
Leo memang tidak menunjukan perbedaan yang berarti. Namun, jika diperhatikan dengan seksama Leo memiliki keistimewaan tersendiri.
“Lalu aku harus bagaimana kek?” Sora bertanya.
“Bicarakan pada Albern dengan pelan-pelan. Dia pasti mengerti. Lalu kau pergi menemui pendeta Kang.” Jelas Tuan Besar Kim.
“Dengar jika urusan keluarga Yun sekarang masih bisa kita tangani. Maka aku tidak tahu kedepannya jika kau tidak memiliki kesiapan.” Yakin Tuan Besar Kim lagi.
Sora hanya terdiam dan kembali menatap Leo yang masih berjalan santai di kandang besarnya.
Hari sudah menjelang Sore, Albern pergi mencari Sora yang ada didapur. Saat melihat Sora langsung saja dia memeluknya.
“Ish, kau ini. Banyak orang disini yang melihat, lepaskan.” Sora berontak karena pelukan Albern yang tiba-tiba.
“Apa kau tidak merindukan ku, bahkan aku tidak bisa istirahat dengan tenang karena kau tidak menemani ku.” Rengek Albern dengan manja.
Sora memukul lengannya. “Kau ini seperti anak kecil, apa tidak malu?” Sora menunjuk kepada para pelayan yang sedang membantunya memasak.
Albern melihat mereka semua dengan mata melotot. Mereka yang tersenyum-senyum langsung merubah ekspresinya dan kembali bersibuk ria.
Sora melihat tingkah Albern hanya menggelengkan kepala.
“Ah iya, aku ingin bicara pada mu.” Ajak Sora dan meninggalkan pekerjaan didapur. Sora mengajak Albern pergi mendekat kekandang Leo.
“Ada apa? Mengapa kita kesini?” Tanya ALbern penasaran.
“Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Namun tadi siang aku bercerita pada kakek. Bahwa kalung ku bercahaya saat berdekatan dengan Leo.” Sora mencoba menjelaskan dengan perlahan.
Sora menunjukan kalungnya yang dia pakai. Dan memanggil Leo untuk mendekat.
Benar saja karena matahari sudah hampir terbenam, sehingga cahaya kalung milik Sora dan mata Leo semakin terlihat bersinar. Albern terkejut dan memegang kalung itu, namun langsung redup. Leo pun pergi menjauh dari mereka.
“Eh, mengapa bisa begitu?” Albern menjadi heran dan bingung.
“Duduk Lah.” Sora mengajaknya duduk direrumputan dan masih didepan kandang Albern.
“Kakek bercerita pada ku tentang sahabatnya yaitu Kakek Yun.” Sora mulai bercerita sesuai dengan apa yang Tuan Kim ceritakan.
__ADS_1
Albern mendengarkan dengan seksama menjadi terkejut. Dan dia menatap Sora dengan tajam.
“Apa kakek tidak sedang mengarang?” Batinnya.
“Kau percaya?” Tanya Albern setelah Sora selesai bercerita.
Sora mengagguk. “Meski ini mustahil, namun banyak keanehan yang terjadi dengan ku dan Leo. Apa salahnya jika kita mencari pendeta Kang sesuai dengan saran Kakek.” Ucap Sora meyakinkan Albern yang sangat nampak ragu dengan hal ini.
“Aku akan bicara pada kakek terlebih dahulu,” Albern bangkit dan hendak pergi.
“Aku ikut.” Sora yang memegang tangan Albern dan mereka pergi mencari Tuan Besar Kim bersama.
Tuan besar Kim sedang ada diperpustakaan membaca buku-buku favoritnya.
“Kek,” Panggil Albern membuka pintu dan melihat sekeliling ruangan perpustakaan tersebut.
Tuan Besar Kim yang sedang berada dibalik rak buku, mendehemkan suaranya. Sora mendengarnya langsung duduk di Sofa baca ruangan itu.
“Ada apa kalian mencari ku?” Tanya Sang kakek berjalan kearah Sora dan Albern.
“Aku ingin bicara sebentar.” Jawab Albern. Kakek mereka duduk berhadapan dan meletakkan bukunya.
“Aku sudah mendengar cerita mu kepada Sora. Apakah itu benar kek?” Tanya Albern yang terlihat tidak percaya.
“Anak nakal ini, kau pikir aku suka bercanda untuk hal seperti ini?” Kesal Sang Kakek membuat Albern terdiam dan duduk mundur dengan menunduk.
“Aku sarankan kalian secepatnya pergi, waktu Sora tidak banyak.” Tegas Sang Kakek.
Albern melihat Sora dengan wajah ragu, namun Sora merasa yakin dan mengangguk padanya menandakan dia siap.
“Baik,” Albern mengiyakan.
“Sudah waktunya makan malam, Ayo Kek.” Ajak Sora dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Albern yang hendak pergi dihentikan dengan kata-kata sang kakek.
“Saat ini Sora hanya memiliki mu, jika kau saja ragu. Bagaimana dengannya. Dan ini tidak sesederhana yang kau fikirkan.” Ucap sang Kakek.
“Aku mengerti kek,” Albern memberi hormat dan meninggalkan Sang Kakek.
Tuan Besar Kim melihat keatas. “Yun, apa kau senang?” Ucapnya Lirih.
Setelah Albern menyelesaikan pekerjaannya beberapa hari ini karena dia akan menemani Sora untuk pergi.
__ADS_1
“Baiklah, sampai bertemu lagi nanti.” Ucap Sora seraya menelpon dan menutupnya.
“Kau menelpon siapa?” tanya Albern dari belakang.
“Ah, Heiran dan Ji Min. sejak acara pertunangan kami belum sempat bertemu lagi. Dan sekarang kita akan pergi, aku takut mereka mengkhawatirkan ku.” Jelas Sora.
“Jika begitu apa kau sudah siap?” tanya Albern dengan tersenyum.
Sora mengangguk dan mengambil tas kecilnya. Mereka langsung pamit kepada yang lain.
“Bilang pada ayah dan ibu juga jika mereka menanyakan.” Ucap Albern pada kakak iparnya.
“Tenang saja, kalian berhati-hati lah dijalan.” Ucap Alyne dan memeluk Sora.
Albern dan Sora pergi dengan membawa Leo. Karena semua ini berhubungan dengannya. Mereka juga membawa pengawal sebanyak sepuluh orang. Dan mobil kandang yang besar untuk Leo.
Alamat yang diberikan Sang Kakek adalah Kuil diatas Gunung, bisa dilalui oleh mobil dan mereka kemungkinan akan tiba saat malam hari.
Selama diperjalanan mereka asik mengobrol, Sora sudah lebih santai dengan Albern. Albern juga membawa Choi, selain ilmu beladirinya tangguh, Choi juga cerdas jadi kemungkinan akan membantu nanti.
Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya sampai juga ditujuan tepat jam sepuluh malam mereka tiba didepan pintu gerbang Kuil yang besar itu.
Mereka berada didepan gerbang masuk yang besar.
“Aku baru tahu jika ada Kuil disini.” Ucap Albern seraya merenggangkan badannya. Sora meihat Kuil itu tiba-tiba dadanya terasa sesak dan sangat panas, padahal ini malam hari dan diatas Gunung.
“Mengapa sesak dan panas sekali?” Batinnya dengan memegang dadanya.
“Ada apa?” Albern melihat Sora yang memegang dadanya sedikit khawatir.
“Tidak, hanya …” belum selesai menjawab, tiba-tiba gerbang Kuil Terbuka. Membuat semua pengawal menjadi waspada dan mendekati Tuan Muda dan Nona mereka.
“Selamat datang Tuan Muda dan Nona.” Seorang Biksu muda memberi Hormat.
“Bahkan mereka saja belum mengetuk dan mengatakan siapa mereka tapi sudah disapa langsung. Sora dan Albern langsung Heran.
“Silahkan Masuk, kepala Biara Sudah menunggu.” Biksu itu mempersilahkan.
“Bawa juga hewan itu Nona.” Sang Biksu bicara pada Sora.
Sora terkejut dan merasa bingung namun tetap menyuruh para pengawal membuka kandang Leo.
__ADS_1
Tidak disangka Leo bertumbuh sangat pesat, tingginya saat ini melebihi Mobil Kandang yang digunakan, membuat semua orang mundur ketakutan. Leo berjalan mendekati Sora dan memberi Hormat kepada Biksu muda itu. Dia seperti kembali pulang kerumah.
Sora menyentuh Leo dan Leo pun menundukan kepalanya. Albern langsung menelan ludahnya karena takut dan khawatir dengan binatang itu yang semakin besar.