
Albern merasa interaksi ini sedikit mengerikan, dengan jarak yang dekat seperti ini dia jadi lebih memperhatikan ukuran tubuh, corak serta bentuk wajah Leo. Dia semakin yakin kucing ini bukan kucing biasa.
Cukup lama mereka mengelus dan berinteraksi dengan Leo. Leo pun tetap tenang tanpa gerakan yang berarti.
“Sora, apa kau yakin mau memelihara Dia.” Sembari menatap Leo.
“Ya, aku sudah sangat terikat dengan kucing ini.” Jawab Sora dengan tetap mengelus Leo dipangkuannya.
“Dia bukan kucing biasa, aku sudah mencari tahu tentang binatang ini. Dia jenis Kucing batu. Hewan yang biasa hidup dihutan belantara.” Jelas Albern dengan hati-hati.
Sora menatap Albern sedikit terkejut, jika diperhatikan tubuh Leo memang sudah banyak kenaikan, ukurannya jauh dari saat dia ditemukan. Makanannya juga bukan seperti kucing biasa.
“Lalu aku harus bagaimana?” Lirih Sora pada Albern.
“Kita urus dia nanti, aku sudah menyiapkan kandang dirumah Utama. Dan aku juga sudah mencari dokter hewan untuk nya.” Terang Albern pada Sora..
Mendengar itu mata Sora menatap Albern dengan mata berkaca-kaca. “Terima Kasih.” Dengan tetesan air mata.
“Hei mengapa kau menangis?” Albern merangkul tubuh Sora.
“Semenjak Orang Tua ku meninggal, aku tidak pernah meminta bantuan orang lain, tidak punya teman, sebisa mungkin tidak mencari masalah dengan orang lain pula supaya hidup ku aman dan tidak ada masalah.” Ucapnya dengan menatap Leo.
“Namun entah kenapa, akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi. Sampai aku bertemu dengan orang-orang yang menjaga ku, mengerti aku dan aku merasakan bahwa mereka perduli pada ku. Aku tidak pernah berfikir masih ada orang yang mau dekat dengan ku.” Air mata Sora semakin deras ketika menceritakan kehidupannya.
Albern memegang wajah Sora dengan kedua tangannya yang membuat mereka saling menatap satu sama lain.
“Dengar, mulai sekarang kau harus membuka diri pada orang lain. Jangan memendam semuanya. Jika kau lelah maka katakan. Jika kau membutuhkan sesuatu juga katakan. Dan mulai detik ini sampai kapan pun aku ada disisimu.” Sora semakin menangis, melihat itu Albern menarik Sora kedalam pelukannya.
Mencoba menenang kan, pelukan mereka merenggang dan lepas. Albern kembali memegang dagu Sora dan menatap nya. Wajah mereka semakin dekat. Albern pun mengarahkan bibirnya ke bibir tipis Sora. Dan menutup mata untuk menciumnya. Sora merasakan ciuman lembut dan membuatnya terlena lalu menutup mata.
Ciuman itu semakin bergairah, Albern menggerakkan bibirnya dan terus mengulum bibir Sora, dengan sedikit Gerakan dari Albern Sora mengikuti alur permainan bibir Albern.
Leo melihat suasana didepan matanya memilih menjauh dan kembali kekandang dengan membelakangi mereka. Dia seperti paham dua orang tuannya ini sedang dimabuk asmara.
__ADS_1
Ciuman mereka pun terlepas dengan perlahan, mereka saling membuka mata dan betatapan. Albern tersenyum, berbeda dengan Sora yang langsung menundukan wajahnya dan tersipu malu.
“Ayo kedalam. Diluar sudah dingin.”Ajak Albern seraya membantunya berdiri.
Mereka berjalan bersama kedalam. “Leo bagaimana?” tanya sora tiba-tiba.
“Paman Park yang akan mengurus pemindahannya,” ucap Albern dengan senyum.
Mereka berjalan keruang tengah yang besar, dengan sofa-sofa yang disusun rapih untuk beristirahat dan menunggu makan malam.
“Oh iya, ada yang ingin ku tanyakan.” Sora membuka pembicaraan saat Albern sedang mengambil sebuah buku.
“Apa itu?” Albern mendekat.
“Ada apa dengan Nona Hong? Aku dengar dia dipecat dari perusahaan.” Tanya Sora dengan penasaran.
“Penyalahgunaan wewenang?” jawabnya sedikit ragu.
“Kurang lebih, tetapi masih banyak lagi. Kau ingat kasus mu digudang?” Albern memposisikan duduk disamping Sora lalu menghadapnya.
“Kotak-kotak itu? Apa kau tahu siapa pelakunya?” Sora semakin penasaran.
“Dua orang yang masuk Gudang saat itu adalah Sekurity dan salah satu Staf pengepakan. Mereka mengaku diperintahkan Nona Hong. Saat diintrogasi, Nona Hong mengaku dendam dengan mu karena merebut posisi ponakannya dan membuat dia disalahkan oleh ibu keluarganya. Kurang lebih dia menjanjikan pekerjaan itu sendiri.” Jelas Albern dengan hati-hati pada Sora.
“sudha ku duga dia pelakunya." dengan kesal Sora berfikir. " Tapi keponakan? Apa wanita yang dulu pernah datang kekantor?” pikir Sora mencoba mengingat.
"Akan tetapi aku curiga hal ini tidak sesederhana itu.” Albern terdiam.
“Apa yang kau pikirkan?” Sora melihat Albern terdiam.
“Sora, apa kau pernah bertemu dengan keluarga dari ayah mu?” Albern bertanya dengan memegang tangan Sora dan menatapnya.
__ADS_1
Pertanyaan yang pelan namun membuat Sora terdiam.
Melihat Sora yang hanya diam Albern langsung mengerti. “Sudah jangan kau pkirkan lagi, abaikan saja pertanyaan ku,” seraya mengelus lembut pipi Sora.
“Tidak, aku hanya berfikir. Memang selama ini dan sampai mereka meninggal pun aku tidak pernah bertemu dengan keluarga ayah ku. Ayah juga tidak pernah membahasnya sama sekali. Aku pernah bertanya pada ibu. Namun ibu hanya berkata nanti aku akan mengetahuinnya.” Terang Sora dengan gaya berfikir.
“Sejak saat itu aku tidak pernah bertanya lagi. Dan ku pikir memang ayah ku sendiri didunia ini seperti aku saat ini yang ditinggalkan mereka semua.” Sora tertunduk.
“Hei sudahlah, aku tidak akan membahasnya lagi.” Albern merangkul pundak Sora dan memegang tangannya.
“Tapi mengapa kau bertanya?” Sora mengengok kearahnya.
“Eh tunggu, pernah ada yang menelpon ku, dan berkata dia paman ku. Tapi aku lupa dengan namanya.” Sora mencoba mangingat.
“Lalu?” Albern semakin penasaran.
Sora hanya menggeleng. “Aku mematikannya karena mengira mereka penipu. Dan sampai sekarang tidak ada yang menghubungi lagi.”
“Bagus.” Albern tersenyum dengan tindakan Sora.
“Hah? Kenapa bagus?” Sora menjadi heran.
“Tidak apa-apa. Dengar, jika ada yang terjadi suatu saat nanti, maka tetaplah percaya pada ku. Dan jangan pergi dari sisi ku. Mengerti?” Jelas Albern yang menghawatirkan Sora.
“Sebenarnya apa yang akan terjadi? Tunggu, apa kau mengetahui sesuatu?” Sora berbalik menghadap Albern dan memandangnya.
Albern terdiam melihat tatapan Sora. Dia menjadi bingung karena apa yang mau dikatakan, takut jika Sora mengetahui hal ini dia terkejut.
Tidak lama Pelayan Park datang “Tuan, Nona. Makan malam telah siap.” Dengan menundukan badan sedikit. Membuat Sora menengok kebelakang.
“Ah, makan malam telah siap. Kita makan Dulu.” Albern berdiri dan langsung meninggalkan Sora yang masih duduk dengan pertanyaannya tadi.
“Ish, orang ini mau ku apakan?” Lirikannya semakin sinis saat melihat Albern pergi melewatinya.
__ADS_1