Widodari

Widodari
bab 56. Mie Instan.


__ADS_3

...****************...


Akhirnya pesenan mereka di antarkan pelayanan dan menikmati mie instan dengan sesuai pesanan mereka.


" Kamu terlihat sangat menikmati banget makan mie instan. Memang nya pangeran seperti kamu gak pernah makan seperti ini ya?!" ujar Widodari yang terkejut melihat pangeran Valir lahap makan mie instan.


" Dulu waktu kecil aku pernah makan mie instan. Tapi semenjak ketahuan oleh ibuku. Jadinya aku tidak di perbolehkan lagi. Sebenarnya yang sekarang jadi ibuku itu bukan ibu kandung aku. Melainkan ibu tiri aku. " ujar pangeran Valir memberitahu.


" hah?! Ibu ratu bukan ibu kandung kamu?! Kok bisa?!" ujar Widodari penasaran.


" Ya betul. Makanya aku gak terlalu dekat sama ibu ratu. Karena ibu kandung aku itu sudah meninggal dunia ketika melahirkan aku. Itu yang ayahku ceritakan." ujar pangeran Valir menjelaskan.


" Ya ampun!! Maafkan aku ya mas sayang!! Aku tak bermaksud untuk membuat kamu menjadi bersedih seperti ini" ujar Widodari merasa bersalah.


" Enggak apa-apa kok sayang!! Memang aku yang ingin bercerita sama kamu" ujar pangeran Valir mencoba tegar.


" Berarti kamu sama kaya aku dong. Hanya bedanya aku gak punya ayah dan ibu. Kalo kamu hanya tak punya ibu Saja. Kita senasib. Iya jangan bersedih ya meskipun orangtua hanya tinggal satu. Ingat hidup terus berjalan. Kita harus tetap menjalani hidup dengan bahagia. Agar ibu kamu juga senang melihat kamu hidup bahagia pula " ujar Widodari bercerita.


" Ya sayang. Semenjak kamu hadir. Kehidupan aku jauh lebih berwarna. Aku jauh lebih menghargai hidup ku. Biasanya aku selalu murung jika dekat dengan siapapun. Karena aku tak mau kehidupan pribadi aku di ketahui oleh siapapun " ujar pangeran Valir menjelaskan.


" Owh begitu. Pantas saja kamu suka meledek aku dan suka membuat aku marah ya. Ternyata kamu cari perhatian sama aku. Terlebih juga aku liat kamu dan ibu ratu jarang mengobrol ataupun bercengkrama. Seperti ada jarak di antara kalian" ujar Widodari berkomentar.

__ADS_1


" Ya benar yang kamu katakan begitu. Aku pun dari kecil di asuh oleh pengasuh. Ibu ratu tak pernah menggendong ataupun mengajak aku ngobrol dari kecil. Makanya aku suka membatah ucapan dan perintah dari nya. Karena menurut aku agar aku tak takut dengan nya. Karena ibu ratu juga tak perduli kepada aku" ujar pangeran Valir menjelaskan.


...****************...


Widodari pun merasa iba dengan pangeran Valir yang membicarakan bahwa ibunya telah meninggal dunia usai melahirkan nya. Yang awalnya Widodari hanya ingin memainkan perasaan pangeran Valir berubah menjadi suka beneran. Ya begitulah hati bisa di bolak balik sesuai dengan situasi dan kondisi yang akan terjadi dalam kehidupan kita.


" Sudahlah jangan di bahas lagi. Aku gak mau nanti jadi nangis karena mendengar cerita kamu. Biarkan masalah ibu kamu cukup di hati saja. Tak perlu orang lain tahu selain aku ya"ujar Widodari memberitahu.


" Ya siap sayang. Makanya aku kurang suka dengan ibu ratu. Seharusnya aku yang menjalankan bisnis. Tapi ibu ratu ingin menggantikan posisi ayahku. Biar dia bisa dekat terus dengan dokter yang kini merawat ayahku" ujar pangeran Valir keceplosan.


" Hah?! Seriusan?! Kamu tahu darimana?!" tanya Widodari pura pura tidak tahu.


" Aku sudah tahu dari awal dokter tersebut merawat ayahku. Karena aku tak sengaja melihat ibuku sedang berhubungan intim dengan dokter tersebut. Namun aku hanya diam saja. Karena percuma aku marah. Nanti yang ada kesehatan ayah ku di buat memburuk oleh dokter tersebut. Kadang yang aku aneh sudah dua tahun berlalu. Ayahku belum juga sadar dari koma nya" ujar pangeran Valir bercerita.


" Rahasia apa itu?! Apa kamu sudah kembali ingatan kamu?!" tanya pangeran Valir penasaran.


" Bukan itu. Aku masih belum ingat kembali semua ingatanku. Sebenarnya usai kita berciuman di kamar tidur ayahmu. Ternyata ayahmu sudah sadar dari koma nya. Dan menyuruh aku meneliti obat yang di berikan dokter tersebut. Makanya aku meminta kamu untuk mengantarkan aku ke tempat tadi" ujar Widodari bercerita.


" Seriusan kamu berkata seperti itu?! Bukan berhalu kan?! soalnya kan kamu terkenal dengan cap orang yang aneh. Apalagi suka ngobrol sendiri. Takutnya kamu berkhayal berbicara dengan ayahku. Saking kamu merasa bete dengan kerjaan kamu merawat ayahku" ujar pangeran Valir berkomentar.


";Awal aku tahu juga. Saat itu ayah kamu menggenggam tangan aku sambil bilang minta tolong. Dengan ucapan nya yang lemah lembut lalu berbisik kepada aku untuk melakukan apa yang di perintahkan kepada aku. Makanya aku melakukan semua yang di perintahkan " ujar Widodari bercerita.

__ADS_1


...****************...


Pangeran Valir pun sempat kebingungan dengan ucapan Widodari. Karena takutnya Widodari berkhayal tentang ayahnya pangeran Valir yang sudah bangun dari koma nya.


" Kamu seriusan dengan ucapan kamu sayang?! Bahwa kemarin kamu mengobrol dengan ayahku?! Kamu gak berkhayal kan?!" ujar Pangeran Valir yang masih belum percaya dengan ucapan Widodari.


" Ya aku beneran. Aku enggak bohong. Makanya nanti kalo kita balik ke istana. Kita harus ke ruangan kamar tidur ayahmu . Agar kamu percaya dengan ucapan aku. Dan aku berkata jujur kepadamu agar aku tak di salahkan. Dan agar ayah kamu bisa aman jika kamu tahu soal kondisi nya sekarang" ujar Widodari bercerita.


"Baiklah akan aku coba untuk percaya dengan ucapan kamu. Asalkan kamu nanti bisa buat aku untuk mengobrol dengan ayahku. Karena aku sangat rindu dengan ayahku. Kangen ngobrol bersama ayahku. Terimakasih sudah menceritakan rahasia ini sama aku. Dan aku janji takkan menceritakan hal ini sama ibu ratu. Nanti kalo aku ceritakan dengannya. Gak tahu deh nasib ayahku selanjutnya" ujar pangeran Valir berkomentar.


" Iya katanya dokter yang meneliti obat dan cairan obat untuk ayahmu hasilnya besok akan keluar. Aku gak akan mungkin keluar dari istana. Besok kamu kesana ya buat ambil hasil nya. Karena aku gak mungkin keluar istana lagi. Nanti ibu ratu akan curiga" ujar Widodari menjelaskan.


" Oke. Baiklah. Namun bagaimana jika dokter tersebut tak memberikan bukti hasilnya karena kan tadi kamu yang kesana" ujar pangeran Valir berpendapat.


" Ya gampang. Kamu tinggal bilang bahwa kamu anak dari ayah kamu. Pasti akan di berikan. Soalnya dokter tersebut orang kepercayaan ayah kamu" ujar Widodari memberitahu.


" Owh begitu ya. Baiklah akan aku lakukan sesuai yang kamu beritahu" ujar pangeran Valir tersenyum.


" Ya lakukan sesuai perintah ya. Soalnya aku juga melakukan sesuai perintah ayah kamu" ujar Widodari memberitahu.


...****************...

__ADS_1


Hujan pun reda. Widodari dan pangeran Valir pun bergegas pergi pulang menuju istana kembali. Mereka pulang dengan menaiki burung merpati. Pemandangan alam yang indah dari atas langit. Memanjakan mata Widodari dan pangeran Valir.


__ADS_2