
Pagi ini, Hongling disibukkan kesana kemari.
Seperti keputusan Zora kemarin, bahwa hari ini mereka akan pergi menuju Kerajaan Běi.
Sebagai seseorang yang baru keluar ke untuk melihat dunia luar, Zora meminta agar mereka mengikuti jalan darat menggunakan kereta kuda, dengan alibi untuk melihat pemandangan sekitar.
Segala persiapan telah dilakukan oleh Hongling dengan sangat baik.
Kereta yang dibelinya juga merupakan kereta yang cukup bagus.
Zora kini berada didalam kereta kuda dengan Xiao Dai dipangkuannya, sedangkan Hongling memilih untuk mengendarai sendiri salah satu kuda yang dia beli.
Tentu mereka juga menyewa seseorang untuk mengendarai kereta kuda tersebut.
Wajah Zora tidak terlihat baik hari ini, akibat mimpinya semalam dia jadi lebih banyak melamun.
Dia berusaha mengingat kembali mimpinya semalam, dia yakin kalau orang yang dicambuk itu adalah gadis kecil yang tubuhnya kini dia tempati sekarang.
Hanya saja, mimpinya itu tidak terlihat jelas karna tidak jelas dan sangat kabur, hal itu membuatnya jadi frustasi.
Dia sangat ingin tau siapa orang-orang yang ada saat itu, dan siapa yang mencambuk pemilik asli tubuhnya.
"Rara..." panggil Xiao Dai yang sedari tadi memperhatikan Zora, bahkan Zora tidak sadar kalau Xiao Dai telah mengubah dirinya menjadi manusia.
Xiao Dai kembali untuk menyadarkan Zora, namun dia tidak berteriak atau menyebutka nama Zora melainkan menarik-narik lengan baju milik Zora.
"Huh..
Lamunan Zora buyar, cara yang digunakan Xiao Dai berhasil.
"Ada apa Dai'er?" Tanyanya sambil mengalihkan atensinya pada Xiao Dai.
"Sejak kapan kau mengubah dirimu, hum?" Tanyanya kembali saat melihat wujud Xiao Dai yang imut sambil memainkan pipi Xiao Dai yang gembul.
"Sejal tali, lala sala ang idak adar (sejak tadi, Rara saja yang tidak sadar)". Rancaunya tidak jelas akibat pipi gembulnya dimainkan oleh Zora.
Zora melepaskan tangannya dari pipi Xiao Dai, kemudian menatap lekat wajah Gadis kecil yang ada dipangkuannya itu.
Ini adalah pertama kalinya Xiao Dai mengubah dirinya menjadi manusia.
Ketika dia dalam wujud harimau asli (besar) dia akan sangat terlihat menyeramkan dan kejam.
Siapa sangka bahwa Harimau besar dan terlihat menyeramkan itu merupakan Gadis kecil yang baru mau memasuki usia ke tujuh.
"Oh benarkah? Mengapa Rara tidak menyadarinya?" Tanyanya pada Xiao Dai.
"Aku pikir itu akibat dari jiwa Rara yang melayang-layang entah kemana". Ucapnya polos dengan jari kecilnya mengelus-elus dagu.
"He he he.." Zora terkekeh mendengar ucapan Xiao Dai, sepertinya dia memang sedari tadi memperhatikan Zora yang melamun.
***
Beberapa murid dari berbagai Perguruan yang kemampuannya cukup tengah berkumpul di Benua Tengah.
Mereka terpilih memasuki Benua Selatan untuk melatih ketangkasan mereka dalam bertarung.
Bulan terakhir tahun itu, saat Zora tengah menyembuhkan racun pada tubuh Xiao Dai, para pemuda pemudi saat itu juga tengah melakukan tes untuk masuk ke perguruan pilihan mereka masing-masing.
Banyak dari mereka yang berlomba-lomba untuk memasuki Peruguran yang bagus.
__ADS_1
Tidak dengan Běi Feng Mei yang memilih Perguruan Bintang Utara sebagai tempat mengenyam pendidikannya.
Cukup aneh dengan pilihan putrinya itu, namun Kaisar dan Permaisuri tidak mempermasalahkannya.
Feng Mei kini tengah makan di lantai satu Rumah Penginapan bersama teman-temannya.
Ada juga beberapa kelompok dari Perguruan lain yang tengah menikmati hidangan.
Seseorang yang duduk tidak jauh darinya tengah menatapnya benci.
Lima bulan yang lalu, Kaisar Dong secara pribadi pergi ke Kekaisaran Xī untuk membicarakan kembali perjodohan yang pernah direncanakan waktu itu.
Karna hal itu membuat Kaisar Xī sedikit marah sebab putrinya akan ditunangkan dengan Pangeran Kedua Dong Ling.
Dia mengira bahwa putrinya akan di sandingkan dengan Putra Mahkota Dong Fang tapi ternyata ekspektasinya terlalu jauh.
Meskipun begitu dia tidak bisa secara terang-terangan melakukan pemberontakan, sebab pembicaraan mereka diawal saat itu Kaisar Dong memang tidak menyebutkan siapa putranya yang akan dijodohkan.
Putri Xī yang awalnya sangat senang karna akan menikah dengan Putra Mahkota Dong menjadi marah dan benci pada Kaisar Dong saat mengetahui siapa yang akan disandingkan dengannya.
Putri Xī berusaha mencari tau alasannya mengapa bukan Putra Mahkota Dong yang bertunangan dengannya.
Saat dia mengetahui yang sebenarnya, dia terus menargetkan Běi Feng Mei yang adalah alasan mengapa bukan Putra Mahkota yang menjadi tunangannya.
Dia terus menyewa organisasi-organisasi pembunuh dari berbagai Benua hanya untuk membunuh Feng Mei.
Meskipun misi yang diberikannya selalu gagal.
Feng Mei sendiri mengetahui hal itu, hanya saja dia terlalu malas untuk menanggapi orang seperti Putri Xī.
Dia tau dari menginterogasi setiap pembunuh yang datang padanya.
Apalagi dia memilih untuk masuk di Perguruan yang berbeda dengan Dong Fang.
Dengan sikapnya yang seperti itu, menjadi tantangan tersendiri bagi Dong Fang.
...
Putri Xī Min Yue saat ini, tengah memikirkan rencana untuk menyingkirkan Feng Mei.
Hanya dengan begitu dia bisa mendapatkan Putra Mahkota Dong.
Rendah memang, tapi begitulah kalau cinta berubah menjadi obsesi.
"Mei'er..."
Feng Mei mengangkat sebelah alisnya saat mendengar namanya di panggil.
Dia mengalihkan atensinya dari makanan didepannya lalu mancari asal suara tersebut.
Setelah mendapati siapa orang yang memanggilnya, dia dengan malasnya kembali menikmati makanannya.
"Bolehkah kami bergabung?" Tanya Běi Nue.
"Boleh". Jawab salah satu dari mereka..
Feng Mei sama sekali tidak memperdulikan hal sekitar, dia sangat acuh dan terlalu malas untuk menanggapi.
Tidak dengan Putri Min Yue yang mukanya kini memerah karna marah, pasalnya bukan hanya Běi Nue yang mendatangi meja Feng Mei tetapi ada juga Putra Mahkota Dong.
__ADS_1
Melihat hal ini membuatnya semakin gencar untuk menyingkirkan Feng Mei.
"Mei'er..." Panggil Běi Nue lagi
"Hmm..."
Beruntunglah karna Běi Nue sudah terbiasa dengan sikap adiknya itu, jadi tidak ada kekesalan atau kemarahan yang terpancar dari matanya.
"Apakah kau ada waktu setelah pelatihan ini selesai?" Tanya Běi Nue.
"Ada apa?" Tanya kembali Feng Mei dengan malasnya
"Ayah memintamu kembali ke Kekaisaran".
"Untuk?"
"Membicarakan pertu....."
Takk
Ucap Běi Nue terhenti saat Feng Mei meletakan sumpitnya dengan cukup kuat. Dia tau adiknya itu sangat tidak ingin membicarakan hal tersebut.
Setelah Kaisar Dong bertemu dengan Kaisar Xī untuk memperjelas perencanaan pertunangan yang akan mereka lakukan. Kaisar Xī dengan terpaksa menerima pertunangan itu, meskipun dia sedikit marah.
Kaisar Dong pun dengan segera pergi ke Kekaisaran Běi dan mengatakan maksud dari kunjungan itu, membuat Kaisar Běi cukup terkejut, tetapi dia juga hanya bisa menerima dengan baik perjodohan itu.
Feng Mei yang mengetahui hal itu, tidak pernah kembali lagi ke Kerajaan, dia benar-benar marah dengan ayahnya karna menerima perjodohan itu tanpa persetujuannya.
"Maka aku tidak akan pernah kembali ke Kerajaan". Ucap Feng Mei dingin lalu pergi dari tempat itu.
"Maaf akan sikap adikku". Ucap Běi Nue pada Dong Fang, dia merasa sangat bersalah.
"Tidak apa-apa, aku akan mencoba untuk berbicara dengannya langsung". Ucap Dong Fang kemudian mengikuti Feng Mei.
Feng Mei memasuki sebuah Kedai Kecil, dia memesan beberepa Kue Beras untuk dimakan karna dia masih sangat lapar.
Dong Fang yang melihat itu, segera menghampirinya, tanpa bertanya atau apapun dia duduk dihadapan Feng Mei.
"Apa kau begitu membenciku?" Tanya Dong Fang langsung ke intinya.
"Tidak". Jawab Feng Mei dingin sambil mengunyah Kue Beras dengan malas.
"Lalu apa alasanmu menolak pertunangan ini?"
"Dan apa alasanmu untuk bertunangan denganku?" Tanya kembali Feng Mei dengan menatap tajam Dong Fang.
"Karna hanya dengan begitu aku dapat mengklaim bahwa dirimu hanya milikku seorang". Jawabnya cepat.
"Apa akan ada peraturan atau larangan setelah bertunangan?" Tanya kembali Feng Mei.
"Tidak.. kita hanya bertunangan, segala urusan dan tindakanmu aku tidak akan ikut campur, tetapi tentu saja tidak melewati batas". Jelas Dong Fang
"Baiklah". Ucap Feng Mei yang ambigu membuat Dong Fang bingung.
"Aku setuju dengan pertunangan itu, tetapi seperti yang kau katakan, tidak ada larangan untukku atas segala urusan dan tindakkanku, dan tentu saja aku tidak akan melakukan sesuatu yang melewati batasku". Ucap Feng Mei kembali
Dong Fang sangat senang mendengar ucapan Feng Mei, dia ingin sekali memeluk Gadis dihadapannya itu tapi ditahannya karna mendapat tatapan tajam dari Gadis tersebut.
...
__ADS_1