
Di sebuah ruangan yang indah, terlihat seorang pria yang tengah berdiri. Matanya tidak pernah lepas dari wanita d hadapannya yang sedang melakukan meditasi.
Merlihat raut wajah wanita tersebut yang sering berubah-ubah sepersekian detik membuatnya manjadi khawatir.
Beberapa saat kemudian, wanita tersebut memuntahkan beberapa teguk darah dengan warna yang begitu pekat, hal itu menandakan bahwa sudah cukup lama bagi racun yang bersarang di dalam tubuhnya.
Walaupun tidak separah milik pria yang tengah berdiri memperhatikannya.
Racun Kalajengking Berkepala Dua merupakan Racun yang cukup berbahaya. Meskipun demikian akan lebih berbahaya jika Racun tersebut tidak segera di bersihkan.
Racun tersebut dapat melemahkan saraf tubuh seseorang secara perlahan. Selain itu tubuh yang terkena Racun tersebut tidak dapat menggunakan kekuatannya dengan leluasa. Sebab hal itu dapat merangsang dan mempercepat kerusakan saraf serta menghancurkan titik meridian yang berakibat fatal bagi seorang Kultuvator.
Itulah mengapa Kaisar Bei Kang tidak dapat berbuat apa-apa ketika 'sesuatu' yang penting di ambil secara paksa dari Hutan Kabut.
Bang!!
Ledakan kecil terdengar dari dalam tubuh Permaisuri Mo Lan Xi setelah beberapa jam menyerap Pil Penawar Racun Kalajengking Berkepala Dua dan memuntahkan Racun tersebut dari dalam tubuhnya yang bercampur dengan darah miliknya.
Setelah beberapa saat ledakan itu terjadi, raut wajah milik Permaisuri Mo Lan Xi berangsur-angsur membaik dan warna wajahnya juga kembali cerah.
Senyum muncul di sudut bibirnya saat dia membuka matanya dan mendapati seorang pria yang dia cintai berada tepat dihadapannya.
"Bagaimana perasaanmu? Apakah semua baik-baik saja?" Tanya Kaisar Bei khawatir.
Senyum di wajah Permaisuri Mo semakin cerah, mendapati kekhawatiran dari pria tersebut, "Semuanya baik-baik saja Yang Mulia". Jawabnya.
"Tidak saya sangka, hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk membersikan racun dan juga menerobos". Ucap Permaisuri.
Kaisar Bei Kang mengangguk setuju dengan pernyataan Permaisuri Mo.
Kaisar Bei juga Cukup tercengang dengan kecepatan kerja dari Pil tersebut.
Setidaknya butuh beberapa jam untuk mengeluarkan racun dan satu hari untuk penerobosan. Sehingga dalam segi normalnya bisa di katakan bahwa butuh waktu setidaknya 2 hari untuk menghilangkan racun dan penerobosan tersebut.
Tapi yang terjadi saat ini, diluar dugaan. Bahkan di luar dari perkiraan Kaisar Bei.
'Untuk Pil Level 8 saja, kecepatan kerjanya sudah semengerihkan ini, lalu bagaimana dengan Pil Level 9 dan 10?' Pikir Kaisar Bei. Membayangkan saja dia sudah bergidik ngerih.
"Jangan dipikirkan terlalu jauh Yang Mulia". Ucap Permaisuri membuat lamunan Kaisar Bei buyar.
Dia memandang Permaisuri sejenak, kemudian senyum muncul di wajahnya. "Kamu memang selalu bisa menebak apa yang aku pikirkan Permaisuri". Ucap Kaisar Bei sambil menyeka lembut sisa keringat di wajah Permaisuri Mo.
__ADS_1
Perlakuan manis Kaisar Bei Kang sukses membuat Permaisuri Mo memerah karna malu.
"Kamu masih saja malu Permaisuri," Goda Kaisar Bei dan didapati dengan pukulan ringan dari Permaisuri Mo.
Tawa Kaisar pecah, melihat wajah permaisuri yang seperti tomat masak. "Baiklah.. baiklah.."
Dengan cemberut Permaisuri berkata, "Hmmph..! sebaiknya Yang Mulia segera memakan Pil tersebut, dosis Racun pada tubuh Yang Mulia setidaknya lebih besar dari pada milik saya. Jangan ditunda terlalu lama".
"Hm". Kaisar bersenandung sebagai jawaban.
"Segeralah. Saya akan menemani Yang mulia di sini".
Kaisar Bei menggeleng kepalanya pelan, "Tidak semudah itu Permaisuri. Saya setidaknya memerlukan waktu untuk hal seperti ini". Ucap Kaisar Bei.
"Mengapa demikian? Bukankah....."
"Saya tau...". Ucap Kaisar Bei sambil mengusap pelan pucuk kepala Permaisuri. "Sayangnya saya perlu menelan 2 Pil yang tersisa ini. Meskipun kecepatan kerja Pil ini terbilang luar biasa, saya masih harus memerlukan waktu untuk menyesuaikan kekuatan dengan lompatan Ranah yang tiba-tiba dalam satu waktu".
Bagi seorang Kultuvator, penerobosan 1 tahapan bisa dikatakan luar biasa. Tetapi, untuk peningkatan dengan 2 tahapan dalam satu waktu adalah sesuatu yang diluar logika seseorang.
Meskipun pencapaian seperti itu sangat luar biasa, seorang Kultuvator perlu melakukan penyesuaian terhadap kekuatan yang beru diterima. Sebab, peningkatan yang seperti itu dapat mengacaukan Aliran Qi serta Fondasi seorang Kultuvator.
"Setidaknya 1 minggu cukup bagi saya untuk menanganinya". Jawab Kaisar Bei. "Saya sudah menyampaikan segala sesuatu kepada Para Mentri dan beberapa orang lainnya tentang masalah ini, jadi segala urusan yang berkaitan dengan Kerajaan akan diserahkan padamu untuk sementara waktu".
"Tapi Yang Mulia....."
"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada orang lain yang cocok menggantikan saya untuk saat ini selain anak-anak kita dan kamu. Sedangkan anak-anak kita sekarang berada di luar Istana. Kamu hanya perlu membuat keputusan yang menurutmu itu benar. Untuk selebihnya serakan saja kepada Para Mentri dan mereka yang memiliki posisi penting lainnya yang kamu percayai". Jelas Kaisar.
Permaisuri Mo menunduk mendengar ucapan Kaisar. 'Itu benar, Sebuah kelompok tanpa kepala akan kehilangan arahnya. Meskipun waktu yang dibutuhkan oleh Yang Mulia tidak begitu lama, itu dapat menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Apalagi ada begitu banyak orang yang menginginkan posisi Kaisar'.
"Baiklah Yang Mulia, saya akan berusaha yang terbaik". Ucap Permaisuri dengan senyum disudut bibirnya.
"Itu bagus. Karna segala sesuatu telah diputuskan, maka saya akan pergi sekarang. Lebih cepat lebih baik". Ucap Kaisar Bei lalu mengecup lembut kening Permaisuri. "Jaga dirimu baik-baik".
***
Aula Kerajaan Xī...
"Tuan Li bagaimana menurutmu?" Tanya Kaisar Xī.
"Tidak perlu terburu-buru. Cukup persiapkan segalanya dengan baik, jika memungkinkan kita akan melakukannya pada malam bulan penuh". Jawabnya.
__ADS_1
"Itu bagus. Aku harap saat itu terjadi, putra dan putri ku juga dapat berpartisipasi". Ucap Kaisar Xī dengan mata sedikit berbinar.
Semenjak Putra dan Putrinya memasuki Perguruan, mereka jarang kembali ke Istana. Dengan status Perguruan yang terbaik, mereka dapat dengan mudah memperoleh kekuatan. Dengan begitu malam bulan penuh hanya akan menjadi tempat latihan terbaik mereka.
Dia ingin tau sejauh mana putra dan putrinya berkembang.
"Tidak." Teriak Permaisuri Ning dengan nada yang cukup tinggi lalu melanjutkan, "Aku tidak menyetujui hal itu dan jangan pernah libatkan mereka".
"Kenapa tidak boleh, mereka sudah dewasa dan sudah waktunya bagi mereka untuk tampil".
"Tidak. Aku tidak akan-- "
Brukkk
Belum selesai dengan ucapannya, pandangan Permaisuri Ning dan yang lainnya teralihkan pada pintu aula yang di dobrak paksa oleh seorang pria tua.
Tentu saja itu menimbulkan berbagai macam tatapan mematikan dari setiap orang yang ada di dalam ruangan itu, tapi tidak dengan pria yang di sebut dengan Tuan Li.
Dia sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitar.
Di benaknya hanya memikirkan bagaimana agar supaya semua hal yang telah di rencanakan berjalan dengan lancar, dengan begitu dia tidak memiliki urusan lebih jauh lagi dengan orang-orang ini.
Kalau bukan karena aturan, dia tidak akan sudi duduk di tempat yang sama dengan orang-orang ini.
Keringat dingin membasahi wajah pria tua itu. Napasnya yang tidak beraturan di tekannya dengan susah payah akibat dari tatapan itu.
Pakaian yang dikenakannya juga perlahan-lahan menjadi lengket pada kulit tuanya.
Perpaduan keringat sehabis maraton dengan mendapatkan tatapan tajam, membuatnya terlihat seperti seperti orang yang sehabis diguyur hujan lebat.
"Y-yang Mulia....." Ucap Pria Tua itu dengan susah payah, setelah beberapa saat mengumpulkan semua tenaga dan keberaniannya.
Dia sadar dan tahu bahwa apa yang dilakukannya merupakan kesalahan yang cukup fatal. Namun dia tidak memiliki pilihan lain selain melakukannya.
Cukup baik, bahwa dia secara sadar dan mengetahui bahwa dia akan menerima hukuman yang diberikan padanya setelahnya. Dan dia akan menerimanya dengan baik.
"Katakan. Aku harap itu adalah sesuatu yang masuk akal, jika tidak. Hmmp!!" Ucap Kaisar setelah menekan suasana hatinya.
Awalnya dia akan segera meluapkan amarahnya. Namun, ketika melihat wajah pria tua itu yang terlihat gugup juga cemas secara bersamaan membuatnya menekan semua amarahnya.
Dan lagi, pria tua ini merupakan salah satu dari orang-orang yang berasal dari Aula Tertutup yang bertugas sebagai penjaga Kristal Kehidupan milik anggota Inti Kerajaan.
__ADS_1