
Hari yang ditentukan telah berakhir.
Semua murid dari masing-masing Pelatihan telah kembali ke pinggiran Hutan Terkutuk.
Tidak ada dari mereka yang menyadari bahwa ada beberapa dari mereka belum kembali dari pelatihan.
Sejak awal mereka berpisah, mereka tahu bahwa orang-orang itu bisa menjaga diri mereka dengan baik, sehingga mereka tidak merasa khawatir.
Tapi siapa yang tahu, bahwa orang beberapa orang tersebut malah belum kembali dan tidak ada yang menyadarinya.
Ada begitu banyak orang.
Jika mereka kembali dalan bentuk kelompok, mereka akan berdiri bersama.
Tapi apabila mereka kembali dengan berpencar, untuk mencari teman kelompok akan sulit.
Ini adalah akhir dari pelatihan mereka, yang membuat mereka berdiri secara acak.
Juga, kelompok yang sampai ke pinggiran lebih awal, telah menyerahkan Inti Spirit yang mereka dapatkan untuk di hitung.
Begitu juga yang lainnya.
Guru yang bertugas menghitung Inti Spirit tersebut adalah seorang Tetua yang di pilih secara acak, agar terhindar dari kecurangan.
"Baik. Karna semuanya telah kembali, dan telah mengumpulkan Inti Spirit yang di dapat untuk di hitung. Maka, selanjutnya kita akan mendengar dari Tetua yang bertugas menilai untuk mengumumkan hasilnya". Ucap salah seorang Guru, Wang Dui.
Keributan terjadi.
Semua murid perguruan, tidak bisa tidak untuk merasa cemas ketika mendengarnya.
Tentu saja mengingat hadiah yang akan diberikan sebagai pemenang, jantung mereka berdegup kencang.
Hadiah yang disebutkan sebelumnya sangat menggiurkan!
Berbeda dengan para Guru dan yang lainnya, Tetua yang seharusnya melaporkan hasil dari perhitungan Inti Spirit tersebut malah terlihat linglung.
"Tetua, ada apa?" Tanya salah satu Guru.
Tetua tersebut hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia berkata, "Ada 2 perguruan yang menghasilkan Inti Spirit dengan jumlah yang sama".
"Huh? Kalau begitu, bukankah kita hanya perlu menyeleksi mereka?". Ucap Guru lainnya.
"Tidak". Ucap Tetua tersebut, "Masalahnya, ada pada salah satu kelompok dari salah satu Perguruan". Lanjutnya.
"Maksud Tetua?"
"Salah satu kelompok, dari salah satu Perguruan belum menyerahkan Inti Spiritnya". Jawabnya. Kemudian dengan linglung mengangkat kepalanya menatap para Guru, "Apakah para murid kalian benar-benar telah kembali dari pelatihannya?" Tanyanya.
Para Guru membeku.
Apakah sebagian dari mereka belum kembali?
Para Guru berbalik dengan cemas.
Untuk melakukan pelatihan di tempat ini saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memutuskannya.
Banyak yang bahkan menentang pemikiran mereka saat itu, tetapi karna alasan mereka yang begitu masuk akal membuat orang-orang yang menentang saat itu menjadi luluh.
Jika mereka berhasil kembali dengan murid dengan jumlah lengkap sebelum keberangkatan, itu akan menjadi sebuah kesuksesan yang besar.
Itu akan menjadi sejarah bagi mereka untuk pertama kalinya melakukan pelatihan ditempat ini.
Hanya saja. Jika gagal, itu juga akan menjadi kerugian terbesar mereka.
Tidak hanya mengalami kerugian atas sumber daya tetapi juga, kemungkinan kehilangan murid yang berbakat juga besar.
Hal itulah yang menyebabkan pro dan kontra yang begitu lama.
Mendengar bagaimana Tetua mengatakan bahwa ada beberapa murid yang belum kembali, hati mereka terpacu dengan cepat.
__ADS_1
Murid-murid yang mereka bawa ke tempat ini, merupakan jenius yang dipilih dan diseleksi dengan ketat.
Bahkan jika hanya kekurangan 1 orang saja, itu sudah menjadi kerugian bagi Perguruan.
Tentu saja, bakat adalah yang nomor satu.
"Semuanya, kembali ke posisi awal saat pertama kali kalian akan memasuki Hutan ini". Ucap salah seorang Guru.
Mendengarnya, semua orang bertukar pandang.
"Apakah sesuatu terjadi? Mengapa wajah Guru terlihat begitu tegang?" Tanya seseorang.
"Kita akan mendengar hasil dari pelatihan. Bukankah itu wajar?" Jawab seseorang yang lain.
"Benar. Dan apa bila berita itu tersiar, bukankah Perguruan juga mendapat keuntungan dari itu?" Tanya yang lainnya.
"Itu benar. Lagi pula hadiahnya memang benar-benar luar biasa".
"Sudah. Tidak perlu di pikirkan, ayo cepat kembali ke tempat masing-masing".
Dengan keengganan masing-masing pihak, merekapun mengikuti instruksi Guru tersebut.
Setelah beberapa menit.
"Guru. Kami sudah mengikuti apa yang dikatakan olehmu. Sekarang, apakah kami sudah dapat mendengar hasil dari pelatihan tersebut?" Ucap salah seorang murid.
"Ya. Kami sudah sangat penasaran dengan hasilnya..."
Mendengar itu, semua mata para murid berbinar.
Tetapi, dari sekian banyaknya murid, hanya ada 1 kelompok yang merasa ada yang hilang.
Itu adalah kelompok Leng Yu dan yang lainnya.
Tapi mereka tidak tahu dimana letaknya, dan hanya berdiri diam menyaksikan murid lain yang tengah bersemangat.
Mengangkat tangannya untuk meredakan keributan, kemudian berkata, "Sebelum hasilnya diumumkan, masing-masing dari kalian perlu memeriksa kembali anggota kelompok kalian".
Memeriksa kembali?
Apakah ada beberapa dari mereka yang belum kembali?
Bukankah peraturan telah di umumkan sebelumnya? Bagaimana bisa masih ada beberapa yang belum kembali?
..
Sebelum para murid mulai berkata-kata, Guru itu kembali berbicara, "Kita semua tahu, bahwa untuk melakukan pelatihan di tempat ini membutuhkan waktu hampir 5 tahun, hanya untuk mendapatkan keputusan yang tepat. Maka dari itu, jika ada beberapa dari kalian yang tidak kembali, maka pelatihan ini dianggap gagal begitu juga hadiahnya".
Semuanya tercengang.
Gagal?
"Guru, bagaimana bisa seperti itu, lagi pula semua orang telah di ingatkan berulang kali tentang peraturan sebelum melakukan pelatihan ini. Hilang dan tidaknya beberapa orang tidak ada hubungannya dengan itu semua. Kami telah bersusah payah untuk mengumpulkan semua yang kami bisa, bukankah itu tidak adil?" Ucap salah satu dari mereka.
"Benar Guru. Itu tidak adil".
Suasana yang tadinya hening dan sunyi kembali dipenuhi dengan suara-suara penuh penolakan dan kekecewaan.
Merasa sakit kepala dengan tingkah mereka, salah satu Guru berteriak marah, "Diam".
Bersamaan dengan itu, kekuatan miliknya menyebar menekan para murid.
Merasakan tekanan yang begitu luar biasa, semua kembali tenang dan tidak berani mengeluarkan sepata katapun.
Mereka hanya berusaha agar tidak goyah.
Merasa telah terkendali, Guru tersebut menarik kembali kekuatannya dan mundur dua langkah.
Guru lain melanjutkan, "Kami memahami perasaan kalian. Tetapi ini ada peraturan yang telah ditetapkan sejak awal. Meskipun kalian tidak mendapatkan hadiahnya, bukankah pengalaman kalian telah bertambah? Itu adalah harta yang sesungguhnya. Jadi, berhentilah berbicara dan mulailah untuk memeriksa".
__ADS_1
Untuk beberapa alasan, para Guru juga merasa gelisah dari dalam, diam-diam berdoa dengan penuh harap.
Jika itu benar-benar gagal, maka sia-sia sudah persebatan yang mereka alami selama hampir 5 tahun.
Tidak hanya itu saja, semua perguruan yang ada juga pasti akan kena imbasnya.
Sayangnya, doa dan harapan mereka sia-sia.
..
Kembali dari keterkejutannya, Leng Yu dan yang lainnya saling memandang.
Tatapan rumit masing-masing dari mereka terlihat.
Ketika mereka mencapai pinggiran Hutan lebih awal, mereka disibukan dengan urusan masing-masing.
Misalnya Leng Yu yang disibukan dengan mengurus Putri Min Yue yang telah kehilangan akal sehatnya dan yang lainnya yang telah disibukan dengan menyerap Pil untuk mengobati beberapa tulang yang patah akibat dari pertempuran dengan Serigala sebelumnya.
Dengan berbagai kesibukan yang mereka alami saat itu, mereka benar-benar melupakan Senior mereka, Dong Fang.
..
Melihat sekeliling, Mo Cheng dengan perlahan mengangkat tanggannya. "Gu-guru. Senior Fang belum kembali dari dalam Hutan". Ucapnya sedikit gugup.
Ucapannya bagai petir di siang bolong.
Para Guru tercengang.
Sedang para murid membeku di tempat.
Awalnya, para Guru akan menganggap para murid yang tidak kembali sebagai angin lalu jika pelatihan mereka memang terbukti gagal.
Meski kehilangan 1 atau 2 jenius mereka masih akan memakluminya.
Bagaimanapun juga, ini adalah pelatihan perdana mereka. Tentu segala sesuatu pasti akan ada konsekuensinya.
Mereka juga telah menyiapkan beberapa hal di hati masing-masing, untuk bisa menyakinkan para orang tua murid bahwa semua yang terjadi adalah 'kecelakaan'.
Tapi, ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Mo Cheng hati mereka jatuh.
Setiap hal yang telah mereka siapkan dihati menghilang begitu saja.
Terlebih, beberapa Guru dari Perguruan Langit Cerah.
Dong Fang bukan hanya jenius tetapi statusnya juga merupakan sesuatu yang tidak dapat di provokasi.
Meski setiap Perguruan di bangun secara personal, otoritas sebuah Benua juga dapat menentukan hal tersebut.
Dengan kasus seperti ini.
Bagaimana cara mereka untuk mengatakan sepata dua kata untuk menyakinkan Kaisar Dong?
Bukankah mereka hanya akan mencari kematian?
Tidak dapat menemukan kata-kata yang pas, mulut para Guru dari Perguruan Langit Cerah seolah terjahit.
Tidak ada satupun suara yang keluar dari Para Guru.
Namun, kekhawatiran yang mereka hadapi tidak sampai disitu saja.
Bahkan tidak memberi mereka kesempatan sedikitpun, Haocun kembali mengangkat tangannya dan melapor, "Guru, Junior Mei dan Wei juga belum kembali dari dalam Hutan ini".
"Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan?" Tanyanya
Para Guru merasa tersendak dengan darah mereka sendiri.
Apa yang harus dilakukan?
Tentu saja berusaha untuk menemukan mereka.
__ADS_1
Yang satu adalah Putra Mahkota, dan yang lainnya adalah Putri Mahkota.
Mereka benar-benar kehilangan kepala mereka kali ini, jika tidak dapat menemukan mereka.