Zora

Zora
CH 35


__ADS_3

Seorang pria tua tengah duduk bersila menghadap sebuah Pedang.


Matanya tetutup, dengan kedua tangan yang di arahkan ke Pedang itu. Entah apa yang dia perbuat.


"Tuan". Sapa seorang wanita.


Dia terlihat cukup cantik dengan rambut hijau toskanya.


Tatapan matanya terlihat sangat kejam dan licik.


"Ada apa Liang'er". Tanya pria tua itu masih dengan kegiatan tanpa membuka matanya.


"Baru-baru ini kami mendapat kabar bahwa Hutan Kabut telah kembali seperti sedia kala". Jawab Ye Liang dengan tenang.


Wajah pria tua itu tiba-tiba berubah.


Kerutan timbul di keningnya. "Bagaimana bisa begitu? Sedangkan 'jantung' dari Hutan tersebut ada pada kita?!" Tanya Pria itu penasaran.


"Kami sudah menyelidikinya tuan.. tapi sepertinya tidak ada jejak apapun". Jawab Ye Liang


"Bagaimana dengan Naga itu?"


"Tidak ada yang tau.. Hutan itu dilindungi oleh Elemen Kegelapan, tidak ada yang selamat saat memasukinya".


Wajah pria tua itu semakin suram.


"Ye Liang.. kau tau harus apa bukan? Lakukan dengan segera, jangan sampai ada yang mendahului". Ucap pria tua.


Ye Liang mengangguk paham. "Saya permisi tuan". Ucap Ye Liang kemudian menghilang dari tempat itu.


Kerutan pada kening pria tua itu memudar seketika.


Hanya menyisahkan ketenangan dan kesunyian.


Tentu dia percaya dengan kemampuan 'murid'nya yang satu itu.


***


Kembali ke Hutan Terkutuk.


Pada lapisan kedua terlihat kelompok murid dari perguruan 'Langit Cerah' tengah bertarung melawan beberapa Serigala Malam.


Sama seperti Haocun, Dong Fang tidak ikut campur dalam pertempuran itu.


Dong Fang hanya memperhatikan mereka dari jauh.


Murid-murid dari perguruan Langit Cerah tidak perlu diragukan lagi.


Selain sebagai Perguruan yang terkenal, Perguruan Langit Cerah memiliki banyak sekali bakat-bakat yang luar biasa.


Lawan mereka saat ini adalah Serigala Malam yang berada di Ranah Bintang Akhir, setara dengan Ranah Master.


Walaupun demikian mereka dapat menyelesaikan dengan mudah.


Kerja sama mereka sangat baik. Selain itu mereka juga memiliki beberapa alat bantu dari Perguruan seperti Artefak.


Meskipun hanya Artefak Tingkat Rendah, itu lebih dari cukup untuk mereka mengalahkan Serigala-serigala tersebut.


Artefak cukup langkah di Alam Rendah. Itu juga menjadi salah saru alasan mengapa Perguruan Langit Cerah sangat diminati banyak orang.


Namun, nasib baik sepertinya tidak berpihak pada mereka.


Seekor Serigala lainnya muncul entah dari mana.

__ADS_1


Serigala itu terlihat sangat berbeda dari serigala-serigala yang baru saja mereka kalahkan.


Serigala tersebut memiliki badan yang besar serta tinggi yang setara dengan orang dewasa.


'Bisa dibayangkan seberapa besar dan tingginya'.


Serigala itu cukup menarik perhatian dengan penampilannya.


Memiliki tiga mata dan sebuah tanduk pada kepalanya.


Terlihat indah tetapi juga menakutkan secara bersamaan.


Tatapan haus darah terlihat jelas dari mata Serigala itu. Selain itu Serigala tersebut berada di Ranah Immortal yang artinya setara dengan Ranah Surgawi.


"Semuanya mundur". Teriak Dong Fang khawatir.


Mendengar itu, mereka semua yang kelelahan karna baru saja bertarung, mau tidak mau harus bergerak dengan cepat.


Lawan mereka terlalu kuat untuk seukuran mereka, mereka bisa mati kapan saja jika mereka memilih untuk melawan.


'Siapa yang akan memilih opsi itu'.


Bahkan Artefak yang ada pada mereka tidak akan berguna dihadapan Serigala itu.


Jalan terbaik bagi mereka adalah tidak melawan dan pergi dari tempat itu sesegera mungkin.


Sayangnya, kecepatan Serigala itu lebih menakutkan lagi.


"Akkhhh...."


Salah satu dari mereka terkena hantamam dari Serigala tersebut. Kini tubuhnya terperangkap dibawah kukungan tubuh Serigala itu.


"Ughhh.... t-tolong". Ucap Tian Mo.


Teriakan minta tolong itu terdengar seperti bisikan karna saking takutnya Tian Mo. Suaranya ditenggelamkan oleh ketakutan itu.


Beberapa dari mereka mau tidak mau berhenti untuk berlari, termasuk Dong Fang dan Xī Min Yue.


"Kenapa kalian berhenti? Biarkan saja dia". Ucap Feng Xin tidak peduli.


Sikap Feng Xin berbeda dari yang lainnya.


Tidak peduli dan angkuh.


Tentu saja itu didukung oleh keluarganya yang merupakan salah satu Keluarga Bangsawan di Kekaisaran Xī.


Dong Fang menatapnya dingin. Sedangkan yang lainnya menatapnya tidak suka.


Itu disebabkan dari awal perjalanan mereka sampai sekarang, Feng Xin lah satu-satunya orang yang terus menerus membuat onar.


"Apa? Tidak ada salahnya kita mengorbankan satu orang". Ucap Feng Xin kembali dengan acuhnya.


"Apakah itu yang diajarkan saat kau berada di Perguruan?" Tanya Dong Fang.


Feng Xin, "....."


"Pergilah jika kamu tidak ingin tinggal". Timpal seorang gadis yang bernama Leng Yu.


Bukan hanya dia saja, yang lain juga sangat ingin menendang Feng Xin jauh-jauh.


'Membuat sakit mata saja'.


Feng Xin hanya berdecih menanggapi.

__ADS_1


Dia akhirnya memilih untuk tetap tinggal.


Tentu saja itu pilihan terbaik bagi dirinya. Meskipum dia sama sekali tidak menyukai kelompok ini.


"Putri Min Yue, gunakan apimu". Ucap Dong Fang.


"Baik..". Putri Min Yue menjawab.


Dia dengan senang hati melakukan apa yang dikatakan oleh Dong Fang.


Hatinya berbunga-bunga saat ini.


Itu adalah pertama kalinya bagi dirinya mendengar langsung Dong Fang menyebut namanya, meskipun menggunakan embel-embel putri.


Dia mengarahkan api itu pada Serigala tersebut.


Walaupun tidak berefek pada Serigala itu, setidaknya itu dapat membantu Tian Mo lepas dari kukungan Serigala tersebut.


"T-terima kasih". Ucap Tian Mo yang masih di landa ketakutan.


"Hm..". Balas Putri Min Yue.


Kalau bukan karna itu permintaan dari Dong Fang, dia tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu hanya untuk menyelamatkan orang.


Menurutnya nyawa orang hanya sebuah permainan baginya.


Karna keputusan mereka untuk kembali dan menyelamatkan Tian Mo. Mau tidak mau, mereka akhirnya bertukar jurus melawan Serigala itu.


***


Zora, Honglin dan Wen Xia menghentikan langkah mereka.


Mereka memutarkan kepala mereka, melihat ke sumber suara.


"Ada apa?" Tanya Zora.


Melihat tatapan Zora, Feng Mei sedikit merinding didalam. Namun, dia berusaha terlihat untuk tetap tenang.


"Bolehkan kami mengikuti kalian?"


Entah bagaimana, pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Feng Mei.


Tidak hanya Zora, Hongling, dan Wen Xia yang terkejut mendengar hal itu. Li Wei lebih terkejut lagi, ekspresinya jelas terlihat tidak percaya.


Dia menatap Feng Mei dengan bingung, dia mengerjabkan matanya berulang-ulang kali. Seolah apa yang dia dengar itu hanyalah ilusi.


Tentu saja hal itu merupakan sesuatu yang langkah baginya.


Dia sangat mengenal bagaimana bagaimana Feng Mei bersikap.


Feng Mei adalah orang yang dingin dan acuh.


Alasan mengapa dia mencari Feng Mei adalah karna dia tau Feng Mei tidak akan kembali ke kelompoknya. Alasan yang dia gunakan diawal hanyalah alibinya saja.


Feng Mei lebih suka melakukan sesuatu sendiri.


Namun, yang terjadi saat ini adalah berkebalikan dari sifatnya.


'Feng Mei meminta untuk mengikuti orang lain? Apakah ini nyata?'


Zora menatap penuh selidik Feng Mei dan juga Li Wei. Sedangkan Hongling dan Wen Xia menatap Zora penasaran.


Feng Mei dan Li Wei yang ditatap seperti itu menahan napas

__ADS_1


Hingga jawaban Zora membuat mereka bernapas lega.


"Hm..." Jawab Zora, sambil menganggukan kepalanya.


__ADS_2