
Langit kembali gelap, namun Zora sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
Setelah pulang dari Pavilliun siang tadi, meski tubuh Hongling, Dong Fang dan yang lainnya tidak parah seperti sebelumnya, dia tetap dengan telaten merawat mereka hingga mereka tertidur.
Kini dia tengah duduk sendirian di atas genteng, memandangi bulan dengan linglung.
Dia bingung akan keputusan terbaik yang perlu diambilnya.
Di satu sisi, dia ingin membawa mereka kembali sebab tidak ingin melihat mereka terluka. Di sisi lainnya, dia sangat penasaran dengan orang-orang yang muncul di mimpinya.
Itu tidak seperti mimpi yang biasanya dia mimpikan.
Ini sama sekali berbeda.
Orang-orang itu terlihat seperti sebuah keluarga yang berjuang mati-matian dari gerbang neraka.
Melakukan pelarian dari satu tempat ke tempat lainnya dan bertarung melawan banyak orang yang menginginkan kematian mereka.
Itu adalah adegan berdarah yang sangat mengerikan.
Meski demikian, dia tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang-orang tersebut. Hal itu membuatnya sulit untuk mengidentifikasi identitas mereka.
Hal yang menjadi tanda tanya baginya adalah, mengapa dia memimpikan hal-hal tersebut?
Itu sangat tidak masuk akal.
Dia sendiri tidak tahu bagaimana tempat ini terasa akrab baginya. Tapi meski dia sangat penasaran, keselamatan orang-orang yang bersamanya adalah yang utama.
Zora tidak tidur hingga keesokan paginya. Malam itu, menjadi malam yang singkat bagi orang-orang. Namun, bagi Zora, itu merupakan malam yang cukup panjang.
Dia bertarung melawan ego dan keinginannya yang kuat hanya untuk mengambil keputusan.
Semua orang bangun lebih awal dari biasanya, tetapi karna keadaan mereka, pada akhirnya Zora dan Ling Fei Ting-lah yang kembali merawat mereka.
__ADS_1
Meski telah diberi pil dan air dewa, keadaan mereka masih terbilang lebih dari cukup. Perbedaan kekuatan mereka, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan miliki Tetua Kedua.
Dengan perbedaan kekuatan yang begitu besar, bagaimana mereka bisa baik-baik saja hanya dengan pil dan Air Dewa?
Akar spiritual mereka mungkin akan rusak jika Tetua Kedua tidak mengendalikan kekuatanya. Tetapi, meski telah menekan kekuatannya, tetap saja, derita yang diterima oleh mereka sangat parah dan mereka perlu beberapa hari dalam perawatan.
Setelah mengurus kelima orang tersebut, keduanya berencana untuk pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak.
Namun, ketika keduanya keluar dari rumah, keduanya dikejutkan dengan beberapa prajurit.
Keduanya tertegun sejenak dengan pemandangan tersebut.
Menaikan alisnya, "Apa yang membuat kalian berada di sini?" Tanya Ling Fei Ting. Dia tahu dengan sangat jelas siapa para prajurit ini, sangat mudah baginya untuk mengenali mereka hanya dengan sekali pandang.
"Kami disini atas perintah Patriak". Ucap prajurit itu sambil melirik Zora, dia kembali berkata dengan sedikit gugup, "Patriak ingin menyampaikan permintaan maafnya atas apa yang terjadi kemarin". Mengulurkan tangannya, dia menyerahkan sebuah kotak kecil pada Ling Fei Ting.
Menerima kotak kecil tersebut, Ling Fei Ting sedikit linglung, "Ini....?"
"Itu adalah pil kelas 7 yang telah disiapkan oleh Patriak. Itu dapat membantu pemulihan rekan-rekan Anda yang telah terluka oleh Tetua Kedua". Jawab prajurit itu. Meski dia dengan sangat sopan menyampaikan kalimat tersebut, masih ada sedikit kesombongan dan kepuasan di dalamnya.
Dengan linglung, Ling Fei Ting mengalihkan atensinya pada Zora, dari tatapannya dapat terliht jelas bahwa dia tengah meminta pendapat dari Zora.
Bagaimanapun juga orang-orang yang terluka adalah orang-orang milik Zora.
Melirik kotak yang telah dibuka oleh Ling Fei Ting, dapat dilihat beberapa persolen kecil, meski tertutup rapat, Zora dapat memastikan bahwa iti merupakan Pil kelas 7 seperti yang dikatakan oleh prajurit tersebut.
Melihat keduanya diam, prajurit itu menaikan sudut mulutnya, 'Orang-orang ini... heh'. Cibirnya dalam hati. Dia mengira bahwa keduanya baru pertama kali melihat Pil dengan tingkat yang begitu luar biasa.
Meski itu hanya Pil Kelas 7, itu sudah merupakan Pil yang cukup langka. Tapi melihat bahwa Patriak dengan mengeluarkan Pil-Pil tersebut, prajurit itu yakin bahwa masalah yang terjadi kemarin cukup serius.
Itu sebabnya, Patriak begitu bersungguh-sungguh.
Prajurit itu menghelah napas, berpikir bahwa sangat di sayangkan untuk mengeluarkan pil-pil tersebut untuk orang-orang ini.
__ADS_1
Dia sedikit iri, tetapi juga bangga. Namun otu hanua berlaku beberapa menit sebelum akhirnya suara halus dan dingin datang dari hadapannya.
"Tidak dibutuhkan". Ucap Zora acuh.
Dia tahu bahwa Patriak merupakan orang yang rasional dan bersungguh-sungguh tentang permintaan maaf ini. Namun, dia sama sekali tidak membutuhkan pil-pil ini.
Dia pasti akan menerima permintaan maaf tersebut, tetapi untuk menerima hadiah permintaan maaf ini, itu sama sekali tidak dibutuhkan.
Para prajurit yang mendengar penolakan Zora, terdiam.
Tidak dengan Ling Fei Ting.
Tentu saja, Pil Kelas 7 merupakan pil dengan keberadaan yang sangat langka. Bagaimanapun juga, meski ditempat ini dapat menghasilkan banyak tumbuhan langka, para Alkemis hanya bisa menyuling beberapa pil, untuk pil tertinggi berada pada Kelas 6 dan untuk menghasilkan pil kelas 7, mereka hanya dapat menghasilkan 1 buah pil kelas 7 setiap kali penyulingan.
Itu sebabnya Pil Kelas 7 sangat dianggap langka.
Jika ini diberikan saat setelah orang-orang itu terluka ditempat kejadian, Ling Fei Ting mungkin akan berpikir bahwa betapa luar biasanya pil-pil itu.
Tetapi melihat pil-pil milik Zora, Ling Fei Ting merasa bahwa pil ini sama sekali tidak ada apa-apanya.
Bagaimanapun perbandingan antara pil kelas 7 dan 9 merupakan hal yang sangat mustahil. Meski memiliki efek yang sama, perbedaan pada kemanjuran serta kinerja keduanya sangat jauh.
Ling Fei Ting menggelengkan kepalanya pelan.
Jelas bahwa jika mereka menerima pil-pil ini, itu sama sekali tidak berguna. Jadi, dari pada tidak digunakan sebagaimana mestinya, sangat baik bahwa mereka mengembalikan pil-pil tersebut.
Setelah terdiam cukup lama, prajurit tersebut mengira bahwa keduanya tidak mendengar jelas apa yang dia katakan sebelumnya, "Nona, apakah Anda tidak salah? Ini merupakan Pil Kelas 7. Anda..."
"Saya tahu. Tapi itu sama sekali tidak diperlukan. Katakan pada Patriak, saya menerima niat baiknya namun saya benar-benar tidak dapat menerima pil-pil tersebut". Sela Zora.
Dia sama sekali tidak membutuhkannya, dan itu akan sangat sia-sia jika dia menerimanya begitu saja.
"Ini..." prajurit itu jelas bingung dengan penolakan Zora.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, ini merupakan pil kelas 7. Tapi itu bahkan ditolak dengan tegas.
Menutup kotak kecil itu dengan hati-hati, Ling Fei Ting menyerahkan kembali kotak itu pada prajurit tersebut. "Sampaikan pada Patriak, terima kasih atas niat baiknya. Kami akan menemuinya dalam beberapa hari kedepan".