
Mereka memilih satu kertas yang cukup untuk menampung tulisan mereka.
Bagaimanapun juga, tubuh marmut itu sangat kecil. Mereka takut dia akan kesusahan jika mereka menulis pada lembar kertas yang besar.
Untuk itu, mereka menulis beberapa hal penting secara singkat.
Selesai menulis, mereka membentuk kertas itu menjadi sebuah gulungan kecil lalu di berikan pada Zora.
Zora lalu mengikatkan gulungan itu dengan hati-hati pada si kecil.
Melihat si kecil terbang menjauh dari tempat itu, Li Wei bertanya dengan ragu-ragu, "Apakah si kecil akan memberikan pada kerabat kami?"
"Tidak. Si kecil hanya di khususkan untuk menerima dan memberi pesan pada Kaisar Běi. Bahkan jika dia menabrak kerabat kalian dalam perjalanannya, dia tidak akan berhenti". Jawab Zora.
Mengangguk, Li Wei mengalihkan atensinya pada Wen Xia kemudian bertanya, "Mengapa kamu tidak menulis?"
Dong Fang dan Feng Mei secara tidak sadar mendongak, menatap Wen Xia penuh tanya.
Meski mereka tahu bahwa dia mengikuti Zora sedari awal, mereka tidak tahu bahwa dia telah meminta ijin pada kerabatnya.
"Aku telah melakukannya sejak awal". Jawab Wen Xia santai.
"Itu aneh". Ucap Li Wei.
"Kenapa?"
"Kamu adalah anak kesayangan keluarga Wen, tapi kamu di ijinkan begitu saja. Bukankah itu aneh?" Jawab Li Wei penasaran.
"Kamu benar". Ucap Wen Xia membenarkan perkataan Li Wei.
"Itu mungkin supaya kamu tidak lagi membuat masalah dan membuat keluargamu sakit kepala". Ketus Feng Mei.
Wen Xia. "..." Bisa jadi seperti itu. Tapi aku anak kesayangan mereka, bagaimana mereka bisa melakukan itu padaku. Aku sangat sedih sekarang.
Tidak peduli dengan Wen Xia yang tengah membutuhkan penghiburan, Feng Mei mengalihkan atensinya pada Zora, "Kamu terlihat akrab dengan Ayah Kaisar, apakah itu karna Hutan Kabut?" Tanyanya.
"Ya". Jawab Zora ringan.
"Apakah kalian telah menemukan pelakunya. Em, maksudku orang-orang yang merusak Hutan tersebut?" Tanya Feng Mei.
Entah mengapa dia menjadi gugup saat berbicara tentang Hutan Kabut.
"Belum. Tapi mereka telah mengambil umpannya". Jawab Zora.
"Be-benarkah?"
"Ya".
Melihat keanehan pada Feng Mei, Zora dan Hongling mengerutkan keningnya masing-masing.
"Katakan. Ada apa denganmu?" Tanya Hongling pada Feng Mei.
Feng Mei yang tiba-tiba di tanya, merasa seperti seluruh rambutnya berdiri tegak.
Di bawah tatapan penuh tanya semua orang. Feng Mei ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya membuka mulutnya, "I-itu.. apakah ada sesuatu yang mengendalikan Kabut dari hutan itu?". Tanyanya.
"Ya, kamu benar. Kabut itu berasal dari bunga Lydra. Bunga itu berwarna hitam mirio seperti mawar. Hanya saja itu lebih indah di bandingkan dengan mawar itu sendiri". Jawab Hongling.
__ADS_1
Tiba-tiba memikirkan sesuatu, dia menatap Feng Mei, menyipitkan matanya kemudian bertanya, "Bagaimana kamu tahu bahwa kabut itu di kendalikan?"
Zora tercengang mendengar itu, dia telah tinggal di Hutan Kabut setelah bangun dari tidur panjangnya. Tapi, dia bahkan tidak tahu apa-apa tentang Hutan Kabut itu sendiri. Dia bahkan tidak tahu bahwa Kabut beracun dari hutan itu berasal dari sebuah bunga.
"I-itu. Saya minta maaf". Ucap Feng Mei tiba-tiba.
Hal itu membuat Zora dan yang lainnya kebingungan.
"Kenapa kamu minta maaf?" Tanya Zora penasaran.
"Semua.. semuanya terjadi karna saya". Ucap Feng Mei pelan.
Dia menggigit bibirnya dan dengan pelan menggerakan tangannya.
Setangkai bunga berwarna hitam tiba-tiba muncul di tangannya.
Awalnya mereka berpikir bahwa tidak ada bunga yang lebih indah yang dapat dibandingkan dengan mawar.
Pada saat Hongling mengatakan bahwa bunga itu bahkan lebih indah dari mawar, mereka menganggapnya hanya lelucon kecil.
Siapa yang tahu bahwa setelah Feng Mei mengeluarkan bunga tersebut, bukan hanya Hongling, bahkan Zora dan yang lainnya tercengang.
Bunga itu bahkan tidak ada tandingannya.
Tangkainya berwarna hijau tua, tetapi daunnya berwarna abu-abu terang, dan itu sangat menyatu dengan kelopaknya yang berwarna hitam gelap.
Melihat itu, Hongling tersedak ludahnya sendiri.
Uhuk, uhuk . . .
Dia batuk beberapa kali dan tidak bisa berkata-kata.
Jika saja saat itu dia terlambat, Hongling bahkan tidak lagi berada di sisinya saat ini.
Bukan hanya itu saja, semua penghuni Hutan Kabut juga menderita karna ini.
Tapi, bahkan orang yang menyebabkan semua itu baik-baik saja.
Memikirkan ini, wajahnya yang cantik berubah menjadi gelap.
"Bagaimana.. bagaimana kamu mendapatkannya?" Tanya Hongling setelah mendapatkan kembali suaranya.
"Saya ..."
Belum selesai dengan ucapannya, Feng Mei tiba-tiba merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
Tubuhnya tiba-tiba dipukul menjauh dari tempatnya, punggunya menabrak pohon membuatnya memuntahkan beberapa teguk darah.
Semua orang yang melihat itu tercengang.
Tapi, melihat Feng Mei yang memuntahkan banyak darah, mereka segera pulih dari keterkejutannya masing-masing.
Hongling dan Wen Xia dengan cepat meraih Zora sedangkan Dong Fang dan Li Wei berlari menuju Feng Mei.
"Lepas". Ucap Zora dengan dingin.
Meski takut pada Zora, Wen Xia dengan tegas tidak melepaskan tangannya dari Zora.
__ADS_1
Begitu juga Hongling, dia bahkan mempererat cengkramannya pada Zora.
"Tenangkan dirimu". Ucap Hongling membujuk Zora dengan pelan.
"Tenang? Jika saja aku terlambat saat itu, kamu mungkin sudah mati. Tidak hanya kamu, semua yang ada di dalam Hutan tersebut harus menderita karnanya. Tapi lihat dia. Setelah semuanya yang terjadi, dia bahkan baik-baik saja. Bagaimana aku bisa tenang? Lepaskan, biarkan aku membuatnya merasakan apa yang kamu dan yang lain rasakan". Ucap Zora marah sambil berusaha lepas dari cengkraman Hongling dan Wen Xia.
Melihat Zora yang seperti ini, mata Wen Xia seketika memerah. Dia orang yang cukup dekat dengan Zora. Dia tahu betul bagaimana Zora.
Di lebih tua satu tahun dari Zora, tetapi karna selalu di manjakan sejak kecil, sikapnya pun seperti anak kecil. Dia juga tidak pernah mengalami hal-hal seperti ini sebelumnya.
Melihat bagaimana Zora dan Feng Mei seperti ini, dia tidak bisa menahan air matanya.
Keduanya adalah orang terdekatnya, tetapi melihat mereka saat ini, dia bahkan tidak dapat berbuat apa-apa.
Dia bahkan membenci dirinya sendiri saat ini.
"Zora. Tolong tenangkan dirimu. Aku percaya Feng Mei pasti memiliki alasannya sendiri". Ucap Wen Xia pelan.
Mendengar itu, wajah Zora yang tadinya gelap berubah menjadi hijau.
Dia akan berteriak dengan marah, tapi melihat air mata Wen Xia, dia entah mengapa menelan kembali kata-katanya.
Dia terdiam dan bingung.
Tidak tahu kenapa, segala sesuatu yang berkaitan dengan Hutan Kabut ataupun Hongling dapat membuatnya kehilangan kendali.
Disisi Feng Mei, Dong Fang dan Li Wei membantu Feng Mei untuk duduk.
"Bagian mana yang terluka? Biarkan aku melihatnya". Ucap Dong Fang khawatir.
"Aku baik-baik saja". Jawab Feng Mei ringan.
Meski dia berkata demikian, Dong Fang dan Li We tahu bahwa dia cukup terluka.
"Apakah itu akan baik-baik saja?" Tanya Li Wei.
"Mari kita bicara dengannya dan biarkan aku yang menanggung konsekuensinya. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini". Ucap Dong Fang.
Feng Mei menggelengkan kepalanya pelan, dia terbatuk beberapa kali sebelum berkata, "Tidak apa-apa. Ini adalah kesalahanku. Aku harus bertanggung jawab dengan itu. Lagi pula, aku harus berterima kasih padanya. Kalau bukan karna dia mengendalikan kekuatannya, aku mungkin sudah mati".
"Dalam keadaan seperti itu? Apakah kamu yakin dia dapat mengendalikan kekuatannya?" Tanya Li Wei.
Jelas Li Wei dan Dong Fang ragu akan hal itu.
Mereka mengenal Zora dengan sangat baik setelah berinteraksi dengannya beberapa hari ini.
Dia adalah tipikal orang yang tempramennya cepat berubah-ubah.
Selain itu, dia akan menghancurkan apapun yang membuatnya marah.
"Lihat aku. Apakah kamu pikir, aku masih dapat berbicara denganmu jika dia tidak mengendalikan kekuatannya?" Tanya Feng Mei.
"Baiklah. Berhentilah berbicara. Apakah kamu dapat berdiri?" Tanya Dong Fang.
"Ya".
Dong Fang dan Li Wei segera membantu Feng Mei untuk berdiri.
__ADS_1
Keduanya mengambil posisi masing-masing, kemudian membawa Feng Mei kembali menuju Zora dan yang lainnya.