
Feng Mei tidak memiliki alasan lagi untuk menolak pertunangan itu.
Alasan awal mengapa dia tidak ingin melakukan pertunangan itu, karna dia tidak mau dirinya dikekang atau ada larangan-larangan yang membuatnya tidak bebas.
Tapi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Dong Fang, dia akhirnya menyetujui pertunangan itu.
Tidak adanya larangan yang diberikan oleh Dong Fang setelah pertunangan mereka.
Dengan begitu dia bisa menyelesaikan urusannya.
Dia memiliki Elemen Ganda yang salah satunya tidak berasal dari orang tuanya.
Hal itu membuatnya ragu dengan identitasnya sendiri.
Memiliki Elemen langkah merupakan keajaiban baginya, karna hal itu mustahil bagi orang lain.
Tetapi dia menyembunyikan hal itu dengan sangat rapat bahkan dengan kedua orang tuanya.
Elemen Es miliknya merupakan Elemen yang biasa atau Elemen yang cukup legal.
Tatapi tidak dengan Elemen Tumbuhan miliknya.
Ada tiga Elemen khusus yang tidak bisa dimiliki oleh Ras Manusia atau yang lainnya, seperti Elemen Tumbuhan, Elemen Cahaya dan Elemen Kegelapan, sebab tiga Elemen tersebut hanya dapat dimiliki Oleh Ras Elf (Tumbuhan), Ras Dewa (Cahaya) dan Ras Iblis (Kegelapan).
Kecuali mereka adalah keturunan Campuran dari Ras Manusia dan salah satu Ras dari tiga Ras yang disebutkan.
Meskipun demikian, kasus yang terjadi pada dirinya merupakan kasus yang langka.
Seperti yang dikatakan saat diawal, sangat mustahil menemukan orang yang memiliki Elemen Ganda.
Kalaupun dia memiliki darah campuran antara Ras Manusia Dan Elf, sangat mustahil baginya untuk memiliki kedua Elemen sekaligus dari dua Ras yang berbeda itu.
Maka dari itu dia sangat ragu dengan identitasnya.
...
Hari demi hari berlalu begitu saja.
Para murid yang dipilih kini tengah melakukan perjalanan mereka ke Benua Terkutuk.
Mereka memilih untuk tinggal di Benua Tengah sebelum ke Benua Terkutuk, sebab perjalanan menuju Benua Terkutuk hanya akan memakan waktu satu hari melewati lautan jika dari Benua Tengah.
***
Zora dan lainnya juga telah sampai ke Pusat Kota Kerajaan.
Mereka memilih untuk makan sebelum pergi menemui Kaisar Běi Kang.
Kini mereka duduk disebuah Rumah Makan yang cukup besar dan ramai.
Kali ini Hongling yang memesan makanan untuk mereka bertiga.
Dia memesan 2 Porsi Sanbeiji dan Chow Mein, beberapa Nian Gao (kue keranjang) dan dua ayam panggang untuk Xiao Dai.
Mereka memakan makanan itu dengan penuh kidmat dan damai.
Tidak lupa Air Spritual yang selalu dia berikan untuk Xiao Dai.
Dia punya alasan tersendiri mengapa memberi Xiao Dai Air Spritual tersebut.
Hongling sendiri sudah terbiasa dengan hal itu, kadang dia juga meminumnya karna dipaksa oleh Zora.
...
Mereka kembali menempuh perjalanan setelah selesai makan.
Ketika sampai didepan gerbang Istana, Zora cukup takjub melihat Istana dihadapannya itu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya salah satu penjaga gerbang.
"Kami diminta oleh Kaisar Běi datang kemari, untuk membicarakan kembali tentang kejadian pada Hutan Kabut Bulan lalu". Jawab Hongling berbohong.
Penjaga gerbang sedikit tidak percaya akan hal itu, mereka tau tentang kejadian itu, tetapi mereka juga sedikit tau tentang sifat Kaisar Běi.
"Apakah kalian memiliki tanda atau sebuah token dari Kaisar?" Tanya Penjaga itu ragu-ragu.
"Tidak.. kami hanya berkomunikasi melalui surat yang dikirim oleh burung pengantar surat, tetapi karna itu merupakan hal yang sangat rahasia maka surat-surat itu kami bakar setelah dibaca". Ucap Hongling kembali.
__ADS_1
Zora hanya tersenyum dibalik cadarnya mendengar alibi yang dibuat oleh Hongling, Wah.. dia memang luar biasa, berbohong tanpa berkedip.
Walaupun ada jejak tidak percaya dari dua penjaga itu mereka tidak bisa melakukan apapun.Di tambah lagi dengan alasan yang diberikan oleh Hongling cukup masuk akal.
"Kalian hanya perlu memeriksa kami, kalau memang kalian masih tidak mempercayai kami". Ucap Zora yang memperhatikan wajah rumit kedua penjaga itu.
Tentu saja, mereka datang hanya untuk bertanya bukan bertarung.
Lagi pula mereka tidak punya alasan untuk membunuh Kaisar Běi Kang.
"Baiklah, silakan masuk tuan dan nona". Ucap penjaga itu mempersilahkan keduanya masuk setelah melakukan pemeriksaan.
...
Kasim masuk ke Ruang Pertemuan untuk melapor.
Kebetulan saat ini Kaisar sedang pertemuan dengan beberapa menterinya.
"Salam Yang Mulia". Ucap Kasim itu sambil menunduk dengan mengepalkan dua tangan di depan dada.
"Ada apa?" Tanya Kaisar
"Maaf Yang Mulia, tamu Yang Mulia telah sampai". Ucap Kasim itu kembali.
Kaisar Běi kebingungan mendengar ucapan Kasim dihadapannya itu, pasalnya dia tidak memiliki tamu untuk hari ini.
"Salam Yang Mulia".
"Salam Yang Mulia".
Ucap Hongling dan Zora bersamaan.
"LANCANG!! Beraninya kalian masuk ruangan ini sebelum Kaisar menyetujuinya". Ucap Fu Su yang adalah salah satu Menteri Pertahanan Kekaisaran.
"Huh".
Zora menatap Fu Su dengan tatapan tajamnya.
Dia adalah orang yang sangat tidak suka dengan kata menunggu. Lagi pula sejauh yang dia tau, dia sudah menempatkan dirinya dengan sangat sopan.
Mendapat tatapan tajam seperti itu membuat tubuh Fu Su berkeringat dingin. Dia bahkan tidak bisa kembali berbicara, kerongkongannya seakan tercekat sesuatu.
Tetapi tidak dengan tatapan milik Kaisar Bě, netranya menatap lekat kedua pemuda dihadapannya itu dengan tatapan rumit dan bingung.
"Maaf atas kelancangan kami Yang Mulia". Ucap Hongling memecahkan kecanggungan itu.
"Tidak masalah". Ucap Kaisar
"Tapi Yan..... Ucap Lao Ai yang adalah menteri pemerintahan terputus.
Kaisar mengangkat tangannya pelan yang membuat semua para menteri itu kembali duduk diam.
"Apa yang bisa Zhen bantu untuk kalian?" Tanya Kaisar Běi
"Begini Yang Mulia, kami ingin tau perkembangan penyelidikan yang dilakukan oleh Kekaisaran pada Hutan Kabut tersebut". Jawab Hongling dengan hati-hati.
Kaisar Běi mengerutkan keningnya mendengar tujuan dari kedua pemuda itu.
"Apa yang akan kalian lakukan dengan orang-orang yang telah melakukan hal keji itu?". Tanya Kaisar kembali.
Hongling diam mendengar itu, dia tentu bingung untuk menjawab apa.
Tidak mungkin dia mengatakan kalau mereka ingin mengambil Pedang Salju itu kembali.
"Membunuh mereka tentunya".
Kali ini bukan Hongling yang menjawab tetapi Zora, dia mengucapkan kalimat itu tanpa berkedip netra kelamnya memancarkan Aura membunuh yang kuat.
Tentu dia sangat membenci orang-orang itu, bagaimana dia bisa membiarkan mereka hidup dan berkeliaran begitu saja tanpa membalaskan apapun.
Kaisar Běi tersenyum simpul mendengar ucapannya, namun itu tidak bertahan lama.
Dia juga menginginkan hal itu, tetapi bahkan sampai sekarang pun Dia belum menemukan petunjuk tentang orang-orang keji itu.
"Zhen sangat salut dengan keberanianmu nak, sejujurnya Zhen juga menginginkan hal itu, sayangnya bahkan sampai saat ini Zhen tidak memiliki petunjuk apapun tentang mereka". Ucap Kaisar.
Hongling hanya diam mendengar itu, bahkan sudah selama ini tetapi Kekaisaran tidak memiliki petunjuk apapun.
__ADS_1
Apa yang akan mereka lakukan sekarang?
Hongling tenggelam dengan pikirannya, dia memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Tidak dengan Zora yang atensinya dialihkan kesana kemari.
'Hawa pembunuh yang kuat' batinnya.
Zora tersenyum jahat mengetahui asal dari orang yang memiliki hawa pembunuh itu.
'Datang disaat yang tepat'. Batinnya kembali.
Tangannya sungguh sudah sangat gatal untuk membunuh orang saat ini.
Dia mengeluarkan belati kecilnya dari dalan Ruang Dimensi, menyembunyikan belati itu dengan sangat baik dibalik telapak tangannya.
Suttt... Whossshhh...
Suara anak panah melayang ke arah Kaisar Běi yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
Zora dengan cepat memutarkan badannya, dengan tangan kirinya yang masih setia memeluk Xiao Dai sedang tangan kanannya memegang belati kecil itu.
Dia memutar badannya begitu cepat kemudian melemparkan belati itu menuju Kaisar.
Klakkk
Klangg... klanngg..
Suara belati itu mengenai anak panah yang sebertar lagi akan menembus jantung Kaisar.
Zora masih dengan mode memutarnya, kecepatannya masih sama, dia menggunakan teknik kecepatan angin untuk menyelaraskan kecepatan itu.
Dia kembali menyisir rambutnya dengan tangannya.
Jangan salah, di rambutnya ada beberapa jarum beracun yang dia sembunyikan.
Tiga jarum yang kini berada di setiap buku jarinya itu, dia berhenti berputar kemudian melemparkan jarum itu ke tempat persembunyian pembunuh itu.
Gedebukkk...
Terdengar suara orang jatuh dari sudut ruangan.
Semua tindakan Zora di perhatikan oleh semua orang yang berada didalam ruangan itu, sangat cepat namun terlihat indah.
Putaran, langkah kaki serta lemparannya sangat tepat dan sempurna.
Sesaat kemudian terlihat Pengawal yang membawa seorang dengan pakaian serba hitam serta penutup kepala ke hadapan Kaisar Běi.
Kaisar Běi tersadar dari rasa terkejutnya itu.
Dia kembali menatap Zora dengan tatapan rumitnya, sedang yang ditatap malah sibuk mengelus makhluk kecil dipelukannya itu.
"Zhen sangat berterima kasih". Ucap Kaisar Běi.
"Tidak masalah". Jawab Zora memudian mengalihkan atensinya pada pembunuh bayaran itu.
Dia menelisik setiap inci dari tubuh pembunuh itu, hingga dia mendapati sesuatu pada tubuh pembunuh itu. Sebuah gambar unik dan rumit dengan ukuran yang sangat kecil. Jika itu diperiksa dengan sangat teliti akan terlihat dengan jelas.
Dia tersenyum dibalik cadarnya itu, kemudian mengalihkan kembali atensinya pada Kaisar.
"Sepertinya Yang Mulia akan memiliki urusan lain, maka dari itu kami permisi terlebih dahulu, jika Yang Mulia mendapatkan informasi tentang orang-orang itu, mohon untuk memberi kabar". Ucap Zora.
Kaisar mengerti dengan apa yang diucapkan Zora hanya saja dia sedikit bingung, bagaimana caranya dia memberi informasi pada kedua orang itu.
Zora mengerti akan tatapan Kaisar, dia kembali mengambil sesuatu dari dalam Ruang dimensinya, kemudian mengubahnya menjadi Marmut dengan sayap dikedua sisi badannya.
Sekali lagi Kaisar dan lainnya tercengang dengan tindakan Zora.
Dia memberikan Marmut itu kemudian berkata, "Berikan pada Tin untuk membawanya pada kami".
Kaisar Běi menganggukan kepalanya mengerti.
"Kami undur diri". Ucap Hongling dan Zora bersamaan.
Mereka berdua berjalan hingga saat keduanya sampai di pintu untuk keluar.
Zora membalikan badannya kemudian melemparkan sesuatu pada Kaisar Běi, "Untukmu". Ucapnya lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
...