
Feng Mei akan segera menyusul teman kelompoknya setelah dia membereskan orang-orang itu.
Namun, saat dia hendak pergi. Betapa terkejutnya dia melihat tiga sosok yang tidak jauh darinya.
Raut wajah Feng Mei menjadi sangat khawatir.
'Apa mereka mekihatnya?' Batinnya.
Dia menatap tiga orang di depannya dengan tatapan lebih khawatir dan bingung.
'Siapa mereka?'
'Apakah mereka berasal dari salah satu perguruan?'
'Tapi aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya'.
Beberapa pertanyaan terlintas di benaknya.
Ke tiga orang itu semakin mendekat, namun dia tetap diam dan tenang menyaksikan pergerakan ke tiga orang itu.
Hingga mereka mendekat.
Samar-samar dia mengingat salah satu dari mereka.
Tetapi dia lupa 'siapa'.
Dia selalu menyendiri, itulah masalahnya.
Tatapannya terhenti pada sosok gadis yang berada di tengah-tengah mereka.
Feng Mei berusaha terlihat tenang, tetapi saat mata mereka bertemu. Feng Mei merasakan tekanan yang luar biasa hanya dari tatapan matanya.
Jika tatapan dari Feng Mei terbilang dingin dan dingin berbeda dengan gadis itu.
Tatapan gadis itu terlihat sangat dalam dan dingin, tetapi juga tegas bersamaan. Ada juga seperti kekuatan mengintimidasi hanya dari netra hitam kelamnya.
Feng Mei juga bisa melihat aura kecantikan dari gadis itu, meskipun bagian bawah wajahnya ditutupi oleh cadar.
Keheningan menyapa mereka.
Cukup lama mereka tidak bergeming.
"Yang Mulia Putri Mahkota". Ucap salam dari salah satu gadis yang ada.
Tentu bukan gadis yang berada ditengah.
Bukan hanya Feng Mei saja yang mengalihkan atensinya ke gadis yang menyapanya. Tetapi, kedua orang yang bersama dengan gadis itu juga sama.
'Tidak aku sangka, status gadis didepan ini begitu bagus'. Pikir salah satu dari kedua orang itu.
Feng Mei menatap gadis itu bingung.
Melihat itu, gadis tersebut segera melanjutkan, "Saya Wen Xia dari keluarga Wen".
Barulah Feng Mei menganggukan kepalanya.
Meskipun dia tidak pernah bergaul dan selalu menyendiri, dia masih tau beberapa keluarga bangsawan yang ada.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Feng Mei.
"Tidak ada alasan untuk itu, kami seharusnya pergi ke Benua Tengah, tetapi kami diserang di tengah perjalanan oleh Binatang Raksasa yang membuat kami sampai kesini". Jelas Wen Xia.
Feng Mei mengerutkan keningnya.
'Alasan macam apa itu'. Pikir Feng Mei.
__ADS_1
Wen Xia melihat wajah Feng Mei yang terlihat tenang dan dingin tetapi juga ada semacam ketidakpercayaan.
"Aku tau Putri tidak akan mempercayai kami, tapi itulah kenyataannya". Ucap Wen Xia lagi.
Hongling dan Zora hanya diam mendengar percakapan mereka berdua.
'Kenapa rasanya tempat sangat akrab denganku'. Batinnya
Zora mengalihkan atensinya kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu.
'Tapi aku baru di tempat ini, bagaimana itu mungkin'. Batinnya lagi.
'Lapisan inti'.
Saat setelah membatin tentang itu, Zora kemudian tersentak dari pikirannya.
Dengan cepat tangannya bergerak.
Wosshh...
Belati kecil nan tajam terbang ke arah lemparan.
Zora menghentikan belati itu tepat didepan wajah orang dibalik semak-semak.
Tentu saja tindakan kecilnya itu dilihat oleh tiga orang yang bersamanya.
Hongling tetap diam tidak memasang ekspresi apapun.
Sedangkan Wen Xia dan Feng Mei cukup terkejut dengan apa yang terjadi secara tiba-tiba.
Dari gerakan hingga berakhir pada lemparan hanya memakan waktu setengah detik saja.
'Sekarang aku mengerti dengan perkataannya saat itu'. Batin Wen Xia meringis. 'Beruntungnya aku saat itu'.
Meskipun dia sudah melihat bagaimana Zora bertarung, tetap saja itu berbeda dengan yang satu ini.
Keringat dingin menyerbu dan mengalir tanpa henti.
Kalau saja belati itu tidak berhenti tepat waktu, mungkin 'itu' sudah menembus kepalanya.
Dia menelan salivanya dengan susah payah, "F-Feng Mei". Ucapnya dengan terbata-bata.
Feng Mei melebarkan matanya saat melihat orang itu, "Li Wei?!"
Mendengar dan melihat bagaimana reaksi mereka, Zora menarik kembali belati yang melayang tepat beberapa centi di kening Li Wei.
'Bukankah aku sudah menyuruh mereka untuk pergi?
Bagaimana dia bisa berada disini?'
Feng Mei sangat khawatir sekarang, 'apakah dirinya telah diekspos?' Batin Feng Mei bertanya-tanya.
Wajah sedikit terlihat suram, namun itu terjadi hanya sedetik saja.
Feng Mei segera berjalan menuju Li Wei, "Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya.
Li Wei sudah sedikit tenang saat belati itu sudah menghilang dari hadapannya meskipun wajahnya masih sangat terlihat pucat.
"Y-ya". Ucap Li Wei.
"Sejak kapan kau berada disini dan mengapa kau bisa ada disini?" Tanya Feng Mei kembali dengan cemas.
"Aku baru tiba beberapa saat yang lalu, aku mencarimu karna mengkhawatirkanmu". Ucap Li Wei setelah mendapat semua nyawanya.
"Hah.. bukankah sudah ku katakan tadi, bahwa aku akan menyusul setelah urusanku selesai". Ucap Feng Mei.
__ADS_1
"Maaf.. aku hanya terlalu khawatir". Ucap Li Wei meminta maaf.
Feng Mei hanya menganggukan kepalanya.
Lagipula gadis itu terlihat sangat menyedihkan, dia tidak sanggup lagi untuk memarahinya.
Hongling dan Wen Xia hanya diam memperhatikan adegan dihadapan mereka.
Sedangkan Zora, dia sedari tadi tengah menyebarkan kekuatan jiwanya untuk mendeteksi lebih jauh ke kedalaman hutan.
Namun, pada saat kekuatan mentalnya hendak masuk ke inti hutan. Dia mendapat serangan balik.
Akibatnya dia memuntahkan seteguk darah.
Hongling dan Wen Xia terkejut melihat hal itu.
"Apa yang terjadi?"
"Apa kau baik-baik saja?"
Tanya Hongling dan Wen Xia bersamaan.
Hal itu menarik perhatian Feng Mei dan Li Wei.
"Siapa mereka?" Tanya Li wei
"Entalah, aku hanya mengetahui salah satu dari mereka". Jawab Feng Mei.
Li Wei menganggukan kepalanya sambil menatap ketiga orang itu dengan bingung.
"Zora". Panggil Hongling karna tidak mendapat jawaban dari Zora atas pertanyaannya.
Zora sedikit tersenyum di balik cadarnya kemudian menjawab dengan tenang, "Aku baik-baik saja".
"Omong kosong apa yang kau katakan? Kau baru saja memuntahkan seteguk darah dan kau berkata bahwa kau baik-baik saja?" Ucap Hongling sedikit marah.
Zora mengerti dengan kekhawatiran Hongling, hatinya terasa sangat hangat.
Ingatan dikehidupan sebelumnya terlintas di kepalanya begitu saja.
'Apa aku terlalu keras saat itu?'
'Jika saja aku bisa menerima seperti saat ini, apakah mungkin bagiku untuk merasakan kehangatan yang sama'. Betin Zora meringis
"Ini tidak akan membunuhku dengan mudah kakak". Ucap Zora tenang. "Ada sesuatu pada inti hutan ini". Zora kembali berkata.
"Apa itu?" Tanya Hongling dan Wen Xia bersama.
"Kehidupan, yah ada aura kehidupan yang terpancar dari Inti hutan ini, tetapi itu sangat tipis seperti ada penghalang yang memisahkan". Jelas Zora.
Hongling dan yang lainnya terkejut dengan pernyataan Zora barusan.
Bagaimana mungkin ada aura kehidupan disini? Sedangkan tempat ini sudah tidak dihuni sejak 5000 tahun yang lalu.
Mereka bahkan belum lahir saat itu.
Um.. kecuali Hongling pastinya.
"Apakah kamu yakin?" Tanya Hongling sedikit ragu.
"Iya.. apakah kamu yakin dengan hal itu? Mungkin itu adalah aura kehidupan dari Binatang Iblis yang berada disini". Timpal Wen Xia.
"Sangat yakin! Aku sangat tau betul perbedaan aura Kehidupan Manusia dan juga Binatang. Aku tidak mungkin salah dengan hal itu". Ucap Zora yakin.
"Ayo pergi". Ucap Zora kembali sambil melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Hongling dan Wen Xia mau tidak mau, mengikuti Zora dari belakang bahkan mereka sama sekali tidak memperdulikan Feng Mei dan Li Wei yang masih dalam mode bingung dan penasaran.
"Tunggu...." Teriak Feng Mei setelah tersadar dari keterkejutan.