
"Aku akan berbicara dengan Zhusu sebentar". Ucap Hongling memecahkan suasana.
Zora hanya mengangguk.
Zhusu dengan patuh mengekori Hongling tanpa suara.
Zora kemudian mengeluarkan sebuah botol persolen lalu memberikannya pada Feng Mei, "Beri mereka satu-satu untuk dikonsumsi". Ucapnya.
Feng Mei mendengar dan mengikuti perkataan Zora.
Zora kemudian kembali menatap serigala yang masih meringkuk ketakutan. Dia mengamati serigala itu dengan lekat.
Sedangkan fokus yang lain ada pada pil ditangan mereka masing-masing. Tapi belum ada diantara mereka yang telah mengonsumsi pil tersebut.
"Ini bukan racun kan?" Ucap Min Yue tiba-tiba sambil memperhatikan pil yang ada di tangannya.
Zora dan yang lainnya mengalihkan atensinya ke sumber suara, menatap Min Yue dalam.
"Kenapa? Toh, aku hanya bertanya". Ucap Min Yue Kembali.
"Sangat mudah membunuhmu dengan kondisimu yang sekarang tanpa harus menggunakan racun, bahkan jika kau berada pada kondisi puncakmu sekalipun aku masih bisa membunuhmu dengan mudah. Tapi, apa untungnya bagiku?" Jawab Zora dingin.
"Aku setuju dengan ucapanmu, karna bagaimanapun akan sangat mudah dan cepat menggunakan pedang dari pada harus mengeluarkan pil racunmu yang berharga". Timpal Leng Yu.
Min Yue, "....."
Semua orang yang mendengar itu mengangguk setuju, tapi tidak dengan Min Yue yang wajahnya terlihat sangat hitam.
Zora kembali mengalihkan atensinya untuk melihat serigala tersebut. "Li Wei, apakah kau sudah memiliki Binatang Kontrak?" Tanya Zora tiba-tiba.
Li Wei tersentak mendengar ucapan Zora. Dia menatap Zora rumit. Dia memang sangat ingin memiliki Binatang Kontrak, namun dengan kekuatan yang dia miliki sekarang sangatlah sulit baginya. Ditambah lagi dia bukan seorang Summoner yang dapat mengendalikan Binatang dengan bebas tanpa adanya ikatan kontrak.
Li Wei menggeleng kepalanya pelan, "Saya belum memilikinya". Ucapnya pelan.
"Oh.. kebetulan sekali". Ucap Zora.
Yang lain tersentak dengan apa yang dimaksud dari ucapan Zora, begitu juga Li Wei.
"Apa kau sudah gila?"
Teriak Min Yue dan Feng Xin secara berasamaan.
Sedangkan yang lainnya hanya diam tidak mengerti dengan jalan pikiran Zora.
"Kau mau menyuruhnya untuk mengontrak Binatang Iblis itu? Kau pikir siapa dirimu?" Ucap Feng Xin.
Zora menatap Feng Xin cukup lama, "Apakah ada peraturan untuk itu?" Tanya Zora.
"T-tidak". Jawab Feng Xin gelagapan.
"Lalu?" Tanya Zora kembali.
"Tidak ada, bukan berarti bahwa kau bisa melakukan hal itu di Alam ini, pernahkah kau melihat seorang kultuvator memiliki Binatang Iblis sebagai Binatang Kontraknya? Itu tidak akan dan tidak pernah ada". Jawab Feng Xin cukup berani dan tegas.
"Kau benar-benar yakin itu tidak ada?" Tanya Zora yang kini menatap Min Yue dengan mata yang sedikit menyipit.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Feng Xin yang kini dalam keadaan bingung menatap Zora dan Min Yue bergantian.
"A-apa yang kau lihat?" Tanya Min Yue dengan gugup, jantungnya seakan melompat keluar dari tempatnya.
Zora hanya tersenyum tipis dibalik cadarnya, "Kenapa tidak keluarkan saja Binatang Kontrak milikmu". Ucap Zora.
Wajah Min Yue seputih kertas mendengar ucapan Zora. "K-kenapa saya harus?" Tanyanya berusaha untuk tetap tenang meskipun dia berbicara dengan terbata-bata.
"Hanya untuk memastikan saja". Jawab Zora santai.
"Saya bukan bawahanmu yang akan mengikuti apa yang kau katakan". Ucap Min Yue yang sudah cukup kesal.
'Siapa gadis sialan ini'.
"Saya tidak pernah menganggap anda sebagai bawahan saya, ataupun mereka, saya memintamu hanya untuk memastikan saja dan saya tidak memaksa untuk itu, kenapa anda malah terlihat begitu kesal dan ketakutan". Ucap Zora dengan tatapan jijik.
'Jala** sialan'. Batin Min Yue memaki.
Dengan sedikit senyum licik dibibirnya, "Saya tidak ingin melakukannya, kenapa tidak anda saja? Lagi pula tidak baik anda meminta seseorang melakukannya sedangkan anda tidak. Dan lagi, anda hanya seorang rakyat biasa tapi anda malah berani meminta saya yang adalah Putri Mahkota suatu Benua hanya untuk memastikan pemikiran anda, bukankah itu tidak sopan?" Ucap Min Yue dengan nada sedikit mengejek.
Zora hanya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Min Yue. 'Putri Mahkota? Sekalipun itu Kaisar seluruh Alampun aku tidak peduli'. Batinnya.
Min Yue yang melihat Zora tidak membalas perkataannya semakin melebarkan senyum kemenangannya.
"Lancang!" Teriak Zhusu yang tiba-tiba muncul bersama Hongling dengan sedikit marah.
"Berani sekali kau mengucapkan kalimat seperti itu, kau hanya seorang Putri Mahkota suatu Benua, tapi kau dengan tidak tau malu merendahkan dirinya dengan bangga, bahkan jika ayahmu ada disini dia harus berlutut dihadapannya, oh.. tidak, ayahmu bahkan tidak layak untuk itu, sebagai pembersih sepatu milik pelayannya saja Ayahmu tidak pantas". Ucap Zhusu kembali dengan dingin, dia bahkan menekan setiap kalimatnya.
Senyum lebar yang tadinya terpatri dibibir Min Yue seketika berubah menjadi kecut wajahnya menjadi seputih kertas, sedang yang lain yang mendengar itu menjadi bingung, bahkan kerutan pada kening Zora semakin dalam dan dalam.
Flashback on...
"Siapa gadis yang bersamamu?" Tanya Hongling langsung pada intinya.
"Tentu saja orang yang terpilih". Jawab Zhusu dengan santai, ada sedikit kebanggan disetiap katanya.
"Yang terpilih? Apa maksudnya?" Tanya Hongling kembali.
"Berapa lama kau tertidur?" Tanya kembali Zhusu tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Hongling.
Hongling sedikit kesal dengan perlakuan Zhusu, tapi dia tetap menjawabnya, "4.000 tahun".
"Kau tau sendiri kalau setelah peristiwa 10.000 tahun yang lalu membuat segalanya menjadi terpecah belah, setelah itu kembali lagi dengan peristiwa yang terjadi 5.000 tahun yang lalu mengenai Keluarga Zhou, sebenarnya kejadian itu saling berkaitan dan tidak bisa dihindari". Ucap Zhusu.
"Aku sama sekali tidak mengerti, lalu apa hubungannya dengan Yang Terpilih dan berapa lama aku tertidur?" Tanya Hongling yang penasaran.
"Yah.. awalnya aku juga tidak mengerti, tapi hilangnya semua pemimpin setiap Tatanan Alam yang membuat perpecahan antar Alam dan Ras, hilangnya semua Binatang Ilahi, musnahnya keluarga dan hilangnya Kepala Keluarga Zhou. Semuanya sejak awal sudah diramalkan". Jelas Zhusu.
"Telah diramalkan sejak awal?" Tanya Hongling yang kebingungan
Zhusu mengangguk. "Yah... Dan 3.500 tahun yang lalu, seseorang muncul entah dari mana dan meramalkan tentang kembalinya segala sesuatu yang telah hilang, 'Yang Terpilih' dan 'Yang Ditakdirkan'". Lanjut Zhusu.
"Yang Ditakdirkan? Kenapa banyak sekali teka-tekinya?" Ucap Hongling yang semakin bingung dan kesal.
"Yah.. Yang Terpilih akan terus mengikuti Yang Ditakdirkan hingga menempati tempatnya yang seharusnya".
__ADS_1
"Jadi maksud kamu Zora adalah 'Yang Ditakdirkan?'".
Zhusu mengangguk sebagai jawaban.
"Mengapa kau begitu yakin akan hal tersebut?" Tanya Hongling.
"Aura miliknya sangat berbeda". Jawab Zhusu pasti.
"Tapi kenapa aku tidak merasakannya?"
"Tidak tau. Mungkin karna kau selalu bersamanya, atau mungkin tidurmu terlalu lama". Jawab Zhusu.
Hongling, "....."
Flashback off...
"Zhusu, apa yang kau katakan?" Tanya Feng Mei.
"Aku hanya mengatakan sesuatu hal yang seharusnya nona". Jawab Zhusu sopan.
Zhusu kemudian mendekat kearah Zora, dia menunduk dengan pelan memamerkan 9 ekornya yang sangat indah, "Suatu kehormatan bagi yang rendah ini menghadap Yang Mulia". Ucapnya dengan sopan namun masih ada sedikit getaran setiap katanya.
Semua tindakannya tidak luput dari perhatian semua orang. Mereka dengan kerutan yang terlihat menyaksikan hal tersebut dengan penuh tanda tanya. Mereka bahkan lupa akan rasa sakit yang mereka alami.
Zora hanya diam melihat itu, meskipun dia sangat kebingungan dengan apa yang terjadi, dia tidak menolak panggilan itu untuknya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa mereka memanggilnya seperti itu, hanya saja dia tidak menolaknya. Entah, mungkin karna dia sudah di perbiasakan oleh Qing Yu.
Lagipula seseorang pasti memiliki alasan sendiri, mengapa memanggilnya seperti itu. Dan itu juga akan menjadi alasan untuk menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.
"Tidak perlu terlalu sopan dan formal". Ucap Zora. "Aku ingin tau perubahan yang terjadi padamu". Lanjut Zora.
"Maafkan Yang Rendah ini sebelumnya Yang Mulia, itu karna A-aura milik Yang Mulia sangat menakutkan". Ucap Zhusu jujur.
'Mengapa kami tidak merasakannya?' Pikiran semua orang.
Zora sedikit terkejut dengan kejujuran Zhusu tapi dia juga tersenyum dibalik cadarnya, "Aku minta maaf soal itu, aku sama sekali tidak tau, aku akan berusaha agar dapat mengendalikannya dengan baik". Jawab Zora.
"Ah.. itu tidak perlu Yang Mulia, karna memang sudah seharusnya seperti demikian". Ucap Zhusu.
"Tidak apa".
"Aku dengar dari pria tua itu bahwa Yang Mulia akan pergi ke inti Hutan ini". Ucap Zhusu.
Zora mendengar itu segera memandang Hongling yang disebut sebagai 'pria tua', dia berusaha sekuat tenaga menahan tawanya sedangkan Hongling, wajahnya berubah hitam karna kesal.
"Siapa yang kau panggil pria tua?" Ucap Hongling kesal.
"Apakah aku salah?" Tanya Zhusu dengan wajah tanpa dosa sambil mengedipkan matanya yang sedikit bundar dan besar.
"Mau mati?" Gertak Hongling yang semakin kesal dengan kelakuan Zhusu.
"Ge..." Panggil Zora membuat raut wajah Hongling segera kembali normal.
'Perubahan instan yang luar biasa'. Pikir mereka semua yang sedari tadi hanya menyimak.
"Ya benar". Ucap Zora menjawab pertanyaan Zhusu padanya.
__ADS_1