Zora

Zora
CH 48


__ADS_3

Malam kini kembali menyapa mereka.


Selama seharian itu tidak ada aktivitas dari kelompok-kelompok lain dari berbagai Perguruan.


Semuanya memutuskan untuk beristirahat, mengobrol sambil memanggang daging Binatang Iblis yang mereka bunuh sebelumnya.


Zora masih dalam pelatihan mendalamnya.


Hongling dan yang lainnya duduk disekitarnya, juga memanggang beberapa daging.


Tidak ada yang berbicara saat ini.


Wen Xia membantu Li Wei dalam memanggang. Sedangkan Empat lainnya duduk sambil memperhatikan Zora dengan seksama.


Mata mereka hampir tidak pernah lepas dari Zora sedikitpun, seolah takut Zora akan menghilang dari hadapan mereka.


Malam itu bulan masih berbentuk setengah lingkaran, cahayanya yang intens menyinari mereka melalui celah yang ditinggalkan oleh jarak antar pohon.


Meskipun dikatakan sebagai Hutan Terkutuk, pohon-pohon yang tumbuh di Hutan tersebut sangat jarang. Selain itu, banyak juga rumput liar yang tumbuh disekitarnya. Sangat mudah bagi cahaya bulan atau matahari yang mengekspos ke kedalaman Hutan tersebut.


Berbeda dengan Hutan Kabut yang memiliki banyak pohon yang tumbuh dengan jarak yang berdekatan, membuatnya sangat minim cahaya.


Cahaya bulan naik secara perlahan ke ketinggian langit, hingga berada tepat diatas kepala mereka.


Saat itu juga, bulu mata Zora perlahan bergetar. Dengan berat membuka matanya secara perlahan, menampilkan mata birunya yang sangat mempesona. Namun, sesaat kemudian kembali berubah menjadi warna hitam gelap. Dengan sedikit genangan air, terlihat lembab tetapi juga murni dan indah.


Kekuatan yang luar biasa mengalir keseluruh tubuhnya.


Indera pendengarannya bahkan lebih sensitif dari biasanya.


Tatapannya menjadi sangat tajam dan tajam. Seolah dapat menembus apa saja yang dilihatnya.


Meski tidak melihat dengan jelas perubahan pada iris mata Zora yang konstan, Hongling dan yang lainnya, terus memperhatikannya dengan sedikit gugup.


Zora memperhatikan sekitarnya, sebelum akhirnya berdiri.


Cahaya bulan yang intens meneranginya secara samar-samar, serta cahaya pelangi yang menyelimutinya membuatnya terlihat seperti peri yang baru saja dilahirkan.


Murni dan indah.


Menatap intens enam orang dihadapannya. Dengan sedikit senyum dimata.


Auranya memancarkan tempramennya yang lembut dan agung.


Benar-benar keindahan surgawi yang luar biasa!


Dibawah tatapan semua orang, cahaya pelangi itu dengan pelan berputar mengelilingi Zora, kemudian berhenti dihadapannya.


Cahaya itu berkumpul menjadi satu, lalu membentuk sosok agung yang sangat indah.


Hongling dan yang lainnya tidak bisa tidak terpesona dengan kehadiran kembali sosok itu.


Meski mereka telah menyaksikan adengan itu sebelumnya, aura dan keindahan dari Phoenix Tujuh Warna sangat menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Ditambah dengan statusnya yang sebagai Binatang Ilahi, membuat mata mereka tidak lepas dari sosok itu.


Ada keterkejutan yang terlintas dimata Zora, menyaksikan sosok dihadapannya.


Dia sangat yakin kalau sosok dihadapannya itu merupakan Seekor Phoenix.


Tetapi melihat tampilan dengan warna pelangi yang mewarnai setiap bulu-bulunya dengan garis lurus dan kontras membuatnya bahkan terlihat sangat-sangat indah dibandingkan dengan burung phoenix yang pernah dilihatnya di internet.


Melihat tatapan rumit Zora, Phoenix Tujuh Warna perlahan merentangkan sayapnya.


Aura menindas kembali dirasakan oleh Hongling dan yang lainnya, membuat mereka menahan getaran hebat pada kakinya masing-masing.


Melihat itu, Zora melambaikan tangannya lembut.


Secara tiba-tiba, kekuatan lembut menyelimuti tubuh mereka. Membuat mereka tidak lagi merasakan getaran yang dipancarkan dari aura menindas Phoenix Tujuh Warna.


Hanya ada rasa aman dan nyaman.

__ADS_1


Setelah melebarkan sayapnya dengan elegan, Phoenix Tujuh Warna menundukan kepalanya dihadapan Zora, menenggelamkannya jauh ke bawah hampir menyentuh tanah.


Tindakan itu membuat Hongling dan lima lainnya menganga.


Awalnya Hongling dan Zhusu menebak identitas Zora, yang memungkinkan untuk Phoenix Tujuh Warna menampilkan dirinya bahkan melindunginya.


Tetapi mereka tepis kembali pemikiran tersebut.


Sebagai seorang Yang Ditakdirkan, mereka meyakinkan diri bahwa Phoenix Tujuh Warna tersebut hanya sebagai utusan untuk melindungi Zora saja.


Tapi melihat bagaimana Phoenix Tujuh Warna menunduk hormat dihadapan Zora, keduanya menjadi ragu dengan identitas Zora yang sesungguhnya.


Dong Fang dan tiga lainnya tidak tau apa-apa tentang apa yang dipikirkan oleh kedua orang tersebut. Yang secara bertahap menebak identitas Zora yang bahkan mereka sendiri tidak menemukan jawabannya.


Mereka juga tidak mengetahui cerita dibalik para Binatang Ilahi tersebut. Tetapi melihat bagaimana Binatang Ilahi dengan tempramen buruk dan angkuh kini menunduk dengan penuh hormat dihadapan Zora membuat mereka tercengang.


Binatang Ilahi sendiri merupakan sosok yang sangat di hormati dan di agung-agungkan.


Tetapi setiap Binatang Ilahi memiliki tempramen yang buruk.


Mereka sangat angkuh juga tidak pernah tunduk pada siapapun kecuali 'orang itu'.


Tetapi di Alam Rendah ini siapa yang tau mengenai cerita tersebut?


Mungkin hanya 1 atau 2 orang yang mengetahuinya tetapi tidak pernah menceritakannya, sehingga penerus dari generasi ke generasi tidak mengetahui kisah tentang 'dia' yang melegenda.


Zora tersenyum lembut dibalik cadarnya melihat tindakan Phoenix Tujuh Warna tersebut.


Tangan kanannya diangkat dengan perlahan, menyentuh dan mengusap bulu-bulu halus dan lembut milik Phoenix Tujuh Warna itu dengan penuh kegembiraan.


Di dunianya yang sebelumnya, dia hanya dapat melihat dan mengagumkan sosok phoenix dari internet. Tapi dikehidupannya yang sekarang, dia dapat melihatnya secara langsung. Bahkan menyentuhnya dengan tangannya.


Kapan lagi?! Dia tidak bisa melewatkan kesempatan yang baik seperti ini. Pikirnya.


Puas menyentuh Phoenix indah dihadapannya. Dengan sedikit gugup dia berkata, "Baiklah, sudah cukup. Ayo angkat kepalamu".


Phoenix Tujuh Warna memiliki tubuh yang cukup besar dan tinggi. Hingga saat dia menegakan kepalanya, Zora hanya bisa menatapnya dengan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.


Perbedaan mereka terlalu besar untuk bentuk dan ukuran.


Zora merasakan sesuatu. Dia menyipitkan matanya menatap lurus kedepan. Saat setelahnya dia kembali mengalihkan pandangannya menatap Phoenix Tujuh Warna dihadapannya.


"Apakah kau akan mengikutiku?" Tanya Zora.


Phoenix Tujuh Warna menganggukan kepalanya dengan antusias.


Dengan sedikit ragu. Zora berkata, "Tubuhmu sangat besar, akan menarik banyak perhatian. Jika kau bisa mengubah bentukmu menjadi manusia, ah.. lupakan! Itu agak merepotkan".


Zora tidak menyelesaikan kalimat keduanya sebab, dia teringat sesuatu.


Sebagai Phoenix, penampilan manusianya pasti akan lebih menarik lagi dan itu bahkan lebih merepotkan.


Phoenix Tujuh Warna mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Zora.


Dia kembali mengubah dirinya menjadi cahaya pelangi, berputar perlahan ke hadapan Zora. Tiba-tiba ledakan kecil terdengar dari cahaya pelangi tersebut.


Hongling dan yang lainnya termasuk Zora bingung dengan apa yang dilakukan oleh Phoenix Tujuh Warna tersebut, tetapi mereka tetap diam dan memperhatikan lebih jauh.


Cahaya pelangi tersebut perlahan-lahan menghilang dibawa angin malam, menyisakan sebuah tongkat kecil tanpa kepala berwarna putih salju dengan sayap kecil berwarna pelangi disetiap sisi tongkat itu.


Semua orang menatap rumit tongkat kecil itu, tetapi tidak ada yang berkata-kata.


Semuanya dalam keheningan yang konstan.


Berbeda dengan Qing Yu yang berada didalam Ruang Dimensi, melihat pemandangan itu dia tersenyum penuh arti.


"Yang Mulia". Panggil Qing Yu melalui telepati.


Panggilan itu membuat Zora kembali ke kesadarannya, dengan sedikit mengerutkan keningnya dia berkata, "Qing Yu, apakah itu kamu?"

__ADS_1


Sejujurnya Zora tidak tau bahwa mereka bisa mengobrol dengan bebas, meskipun hanya melalui telepati.


Karna menurutnya, Dunia di Ruang Dimensi berbeda dengan yang dia pijaki saat ini. Dan untuk mengobrol pasti akan memakan banyak energi.


Tapi nyatanya tidak!


"Iya Yang Mulia, ini saya". Jawab Qing Yu.


"Apa yang membuatmu menghubungiku? Dan mengapa kamu tidak memberitahuku tentang ini?" Tanya Zora.


Meskipun pertanyaan kedua Zora sedikit ambigu, Qing Yu masih bisa memahaminya dengan baik.


Bagaimanapun juga dia telah menghabiskan banyak waktu dengan Zora didalam Ruang Dimensi.


"Maaf Yang Mulia, saya lupa tentang itu". Jawab Qing Yu sambil menggaruk hidungnya yang tidak gatal.


Batin Zora tertawa kecil mendengar jawaban Qing Yu, dia tau bahwa Qing Yu saat ini sedang gugup.


Menahan tawanya agar tidak meledak dan di kira orang gila, Zora berusaha dengan tenang berkata, "Lupakan! Katakan padaku apa yang membuatmu menghubungiku?"


Dengan cepat Qing Yu menjawab, "Oh .. itu tentang tongkat yang ada dihadapan Yang Mulia saat ini".


Zora kembali mengerutkan keningnya, "Tongkat aneh ini?" Tanyanya, "Tunggu, bagaimana kau bisa mengetahuinya?"


Qing Yu membeku!


Tongkat aneh?!


'Itu adalah sesuatu yang bahkan belum lengkap, tetapi langsung dikatakan aneh. Yang Mulia, bahkan yang disebut 'aneh' itu kekuatannya dapat menghancurkan Alam seluruh Ras. Bahkan Alam Sebelas Surgawi harus berhati-hati dengan tongkat yang dianggap 'aneh' ini, bagaimana kamu bisa mengatakan itu dengan begitu mudah'. Batin Qing Yu meringis.


"Yang Mulia, tongkat itu hanya belum sepenuhnya terbentuk". Jawab Qing Yu dengan tangisan dihati.


"Betulkah?"


"Ya ... biarkan tongkat itu berada didalam sini Yang Mulia, aku akan merawatnya dengan baik. Yang Mulia hanya perlu menemukan hal penting lainnya untuk membentuk tongkat itu menjadi seukuran tombak. Itu akan membantu Yang Mulia di masa depan". Ucap Qing Yu bersemangat.


"Baiklah". Ucap Zora. Kemudian memasukan 'Tongkat aneh' itu ke Ruang Dimensi.


"Yang Mulia, kemana tongkat itu pergi?" Tanya Zhusu yang tersadar ketika tongkat itu menghilang secara tiba-tiba.


"Oh.. aku menyimpannya". Jawab Zora santai.


Mata Zora jatuh pada pria bersurai perak, mengedipkan matanya beberapa kali dan dengan senyum lembut dibalik cadarnya.


"Ge". Panggilnya dengan suara rendah.


Hati Hongling seketika bergejolak. Dengan cepat membawa Zora dalam dekapannya. "Syukurlah kamu baik-baik saja".


"Yah". Kehangatan menjalar keseluruh tubuh Zora.


Untuk pertama kalinya dia merasa sangat nyaman dan aman.


Melepas pelan dekapan hangat itu, Zora menatap lima orang dihadapannya.


"Terima kasih telah menemaniku". Ucapnya tulus.


Dong Fang dan tiga lainnya hanya tersenyum sebagai jawabannya.


"Yang Mulia. Ini adalah sebuah berkah, setidaknya kami akhirnya melihat sosok indah dan agung itu". Ucap Zhusu dengan mata berbintang.


Mata Zora tersenyum mendengar ucapan Zhusu. Dengan santai dia bertanya, "Yang kamu maksud adalah Phoenix Tujuh Warna tadi?"


'Yang Mulia, bagaimana kamu bisa menyebutnya dengan begitu mudah?' Batin Zhusu meringis.


Seolah mengingat sesuatu, matanya bertambah cerah dan cerah. "Ya ya ya. Itu dia. Bisakah Yang Mulia memanggilnya sekali lagi?"


Semua orang terdiam.


'Itu bukan Binatang Kontrakku. Benar. Itu bukan dia. Hiks! Aku ingin menguburi diriku saat ini juga. Sungguh memalukan!' Batin Feng Mei meringis

__ADS_1


__ADS_2