Zora

Zora
CH 26


__ADS_3

Para Menteri masih duduk mencerna kejadian yang baru saja terjadi.


Hingga suara Kaisar memecahkan lamunan mereka, "Panggilkan Jendral Li Mu kemari". Ucap Kaisar memerintah salah satu Pengawal Prajurit disana.


Pengawal Prajurit yang mendapatkan perintah tersebut kemudian berlari keluar dari ruangan untuk memenuhi perintah Kaisarnya itu.


Kaisar dan lainnya kembali diam.


Mereka sudah menyelesaikan pertemuannya, tetapi sepertinya akibat dari kejadian tadi membuat mereka tidak berniat kembali ke kediaman mereka masing-masing dan malah memikirkan siapa kedua pemuda itu.


Kaisar Běi melonggarkan genggamannya pada sesuatu ditelapak tangannya.


Sebuah botol persolen kecil berwarna kuning.


"Pil?" Gumamnya pelan, setelah membuka tutup persolen itu.


Dia kembali menutup botol persolen itu, kemudian menatap tajam pria dengan pakaian serba hitam dihadapannya itu.


"Yang Mulia, apakah Yang Mulia tidak ingin mencari tau siapa kedua pemuda itu". Ucap Fu Su membuat atensi Kaisar teralihkan padanya.


"Benar Yang Mulia, sepertinya kedua pemuda itu bukan berasal dari sini". Timpal Lao Ai


"Zhen juga cukup penasaran dengan kedua pemuda itu, hanya saja tidak perlu untuk mencari tau siapa mereka, Zhen yakin kita akan bertemu dengan mereka kembali". Ucap Kaisar Běi membuat kedua Menteri itu kembali diam.


...


"Salam Yang Mulia". Ucap Jendral Li Mu setelah memasuki ruangan itu.


"Jendral, urusi pembunuh bayaran itu, cari tau siapa yang mengirimnya kemari, jika dia tidak memberitahu maka cari semua anggota keluarganya dan eksekusi mereka". Ucap Kaisar tegas tanpa berbasa basi.


Itu sudah menjadi peraturan bagi Kekaisaran, kesalahan seseorang akan ditanggung seluruh keluarganya, Kaisar juga tidak pernah main-main dengan apa yang dikatakannya.


Kaisar Běi memang dikenal dengan Kaisar yang baik dan bijaksana, namun dibalik itu semua dia tetap tegas dengan peraturan, itu juga berlaku pada keluarga Kerajaan.


"Baik Yang Mulia". Jawab Jendral Li Mu sambil menyeret pembunuh bayaran itu keluar.


"Karna urusan pertemuan kita sudah selesai, kembalilah ke kediaman kalian masing-masing". Ucap Kaisar kembali.


"Kami undur diri Yang Mulia". Ucap Keempat Menteri kemudian keluar dari ruangan itu juga.


Kaisar Běi hanya menganggukan kepalanya.


Ruang Pertemuan kini kembali sepi, tersisa Kaisar sendiri yang masih stabil ditempat duduknya.


"Hongli". Panggilnya.


"Salam Yang Mulia".


Hongli adalah pengawal bayangan milik Kaisar Běi, tidak hanya Kaisar Běi saja yang memiliki pengawal bayangan, semua anggota Kerajaan juga memilikinya.


Pengawal bayangan merupakan pengawal pribadi, maka dari itu, pengawal bayangan hanya bisa mematuhi perintah tuannya.


"Pergilah dan temui Bo Ma Tetua Tertinggi Rumah Pelelangan, bawa dia kemari untuk memeriksa pil". Perintah Kaisar Běi.


"Aku akan menunggu di Ruang kerjaku". Ucap Kaisar kembali.


"Baik Yang Mulia, saya undur diri". Ucap Hongli kemudian menghilang dari tempat itu.


Setelah menghilangnya Hongli, Kaisar Běi segera bangun dari duduknya dan bergegas menuju Ruang Kerjanya.


***


Zora dan Hongling memutuskan untuk menginap di Rumah Penginapan yang tidak jauh dari Istana Kerajaan.

__ADS_1


Mereka memesan dua kamar, seperti biasa mereka akan makan dulu sebelum beristirahat.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya Hongling sambil menunggu pesanan mereka tiba.


"Benua Tengah". Ucap Zora singkat.


Hongling menautkan kedua alisnya, dia bingung dengan jawaban yang diberikan Zora padanya.


"Apakah orang-orang itu berasal dari Benua Tengah?" Tanya Hongling kembali.


"Entahlah". Ucap Zora sambil mengedikkan kedua bahunya.


"Lalu, Apa yang akan kita lakukan disana?".


"Mencari petunjuk".


Hongling menganggukan kepalanya paham.


"Apa kita juga akan pergi ke Benua Timur dan juga Barat?" Tanya Hongling kembali.


"Tentu".


Selesai dengan percakapan singkat itu, meja kembali hening.


Pikiran Zora melayang entah kemana, begitu juga Hongling.


Mereka benar-benar tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.


Sedangkan Xiao Dai yang sudah sedari tadi berbaring diatas meja hanya menatap malas keduanya.


"Haiisss... mereka selalu seperti ini". Batinnya.


..


"Terima kasih". Ucap Hongling pada pelayan itu dan diangguki oleh pelayan itu sebagai jawabannya.


Mereka kembali makan dengan tenang dan damai.


Beberapa saat kemudian, terdengar keributan dari luar Rumah Penginapan itu.


Zora tidak tahan dengan keributan itu lalu berjalan keluar untuk melihatnya.


"Dasar sampah!! ". Teriak salah satu Gadis yang kira-kira usianya 16 tahun.


Dari pakaiannya jelas terlihat seperti dia memiliki status yang cukup tinggi.


"Maaf kak". Ucap seorang Gadis yang tengah bersimpuh memohon pada Gadis yang berstatus itu.


"Jangan panggil aku kakak, aku tidak sudi memiliki saudari sampah sepertimu". Ucapnya kasar.


Gadis yang tengah bersimpuh itu hanya menangis dalam diam, dia tidak menjawab pernyataan gadis didepannya itu.


Orang-orang yang sekitar yang melihat itu hanya diam seolah mereka tidak pernah melihat apapun.


Gadis itu terlihat sangat menyedihkan.


"Hentikan!!!" Teriak Zora yang tidak tahan dengan pemandangan dihadapannya itu.


"Siapa kau, berani sekali kau mencapuri urusanku hah?"


"Siapa aku, bukan urusanmu". Ucap Zora dingin.


"K-kau...."

__ADS_1


Zora sama sekali mengabaikannya.


Dia berjalan menuju Gadis yang tengah bersimpuh itu, "Bangunlah, kau tidak pantas berlutut dihadapan sampah seperti dia". Ucap Zora sambil mengulurkan tangannya


"Jaga ucapanmu sialan, siapa yang sampah disini?"


Gadis itu benar-benar marah atas perlakuan Zora.


Banyak warga yang menonton hal itu hanya merutuki kebodohan Zora dari dalam hati mereka masing-masing.


"Dasar gadis bodoh, dia kira dia sedang berhadapan dengan siapa?"


"Gadis ini benar-benar dalam masalah".


"Kasihan sekali nasib Gadis ini".


"Dia benar-benar sial hari ini".


"Hah, aku turut prihatin melihatnya".


Bisikan terdengar dengan tanggapan-tanggapan mereka tentang Zora.


Gadis yang tengah bersimpuh itu menatap Zora lekat.


Dia tersenyum pada Zora, "Tidak perlu nona, ini adalah urusanku, aku tidak ingin kau kena masalah hanya karna diriku". Ucapnya tulus pada Zora.


"Bagus kalau kau menyadari hal itu". Sarkasnya.


Bukan, itu bukan Zora melainkan Gadis sombong yang tengah berdiri sambil melipatkan kedua tangannya didada.


Matanya menatap sinis dua gadis dihadapannya itu.


"Tidak apa-apa, jangan pedulikan anjing yang menggonggong". Ucap Zora pedas.


Wajah Gadis sombong itu berubah menjadi tomat masak saat mendengar ucapan Zora.


"Pengawal, beri pelajaran pada gadis tidak tahu malu itu". Teriak gadis sombong itu pada pengawalnya.


Pengawal yang mendengar perintah dari gadis itu, dengan segera bergegas menuju Zora.


Namun, saat mendekati Zora tubuh mereka tiba-tiba terlempar kebelakang begitu saja.


Tentu Zora tau siapa pelakunya, dia dengan segera mengakat tubuh gadis itu lalu berjalan pergi tanpa mengatakan apapun yang membuat gadis sombong itu semakin marah.


"Beraninya kau...." Teriak gadis sombong itu kemudian mengeluarkan pedangnya dan berlari kearah Zora untuk menyerang.


Semua orang yang menyaksikan tindakan Gadis Sombong itu, seketika menjadi kasihan terhadap Zora.


"Habislah sudah nasib gadis itu".


"Dia begitu bodoh".


"Mengapa dia begitu ceroboh. Mencari masalah pada orang yang salah. Sungguh sangat di sayangkan".


Namun, pusaran angin muncul tiba-tiba di antara dirinya dan Zora.


Membuatnya berhenti berlari.


Dia dan orang-orang sekitar terus memperhatikan pusaran angin itu penasaran.


Zora dan gadis yang dipapahnya itu juga tidak mau ketinggalan momen melihat pertunjukan itu.


...

__ADS_1


__ADS_2