Zora

Zora
CH 28


__ADS_3

Xiao Dai tidak lagi berada pada gendongan Zora.


Xiao Dai kini berada ditengah arena lapangan yang terlihat seperti biasa digunakan untuk berlatih tanding.


Bukan hanya dirinya saja, tetapi juga ada Gadis Sombong itu.


Begitu banyak orang-orang yang berdiri disetiap sisi lapangan itu untuk menonton pertarungan dadakan itu.


Mereka juga membayar untuk taruhan mereka masing-masing.


"10 Koin emas untuk gadis itu".


"5 koin emas untuk gadis itu".


"Siapa yang akan kau taruhkan?"


"Tentu saja gadis itu, bukankah itu sudah jelas".


"Aku, 5 Koin emas untuk gadis itu juga".


"Aku juga, 15 Koin emas untuk gadis itu".


Ucapan-ucapan untuk taruhan itu terdengar dengan sangat jelas, suasana semakin ramai dan riuh.


Banyak dari mereka mulai mengumpulkan taruhannya masing-masing. Dan hampir semua orang yang berada disitu mempertaruhkan Koinnya untuk Gadis Sombong itu.


Membuat gadis itu semakin angkuh.


"5jt Koin Emas untuk harimau kecilku". Ucap Zora membuat semua orang mengalihkan atensi mereka masing-masing padanya. Tidak lupa dia melemparkan 2 kantong yang berisikan Koin Emas dengan jumlah yang dikatakannya.


Senyum pada gadis itu memudar, namun itu hanya sedetik saja.


Dia semakin gencar untuk bisa mengalahkan Harimau itu.


Xiao Dai yang mendengar ucapan Zora itu membuatnya semakin bersemangat.


"Baiklah, saya akan menjadi wasit untuk pertarungan ini". Ucap seorang pria tua.


"Dalam pertarungan ini, kalah atau menang akan menepati kesepakatan yang telah disepakati".


"Tidak boleh ada kecurangan dalam pertarungan ini, tetapi petarung bisa menggunakan alat bantu seperti senjata untuk melawan".


"Kalian mengerti".


Xiao Dai dan gadis itu menganggukan kepala, mendengar ucapan pak tua itu.


"Baiklah... pertarungan di mulai". Ucapnya kembali membuka pertarungan.


Gadis sombong itu mengeluarkan pedangnya dari dalam Cincin Ruangnya.


Sedangkan Xiao Dai hanya menatap tajam Gadis itu.


Seharusnya yang berada di arena itu adalah Zora, hanya saja dia ingin melihat bagaimana perkembangan Xiao Dai dalam bertarung sekaligus melatihnya.


Gadis sombong itu dengan cepat menghampiri Xiao Dai, dia mengayunkan pedangnya dengan cepat namun terlihat kasar.


Whoshh...


Melihat itu, Xiao Dai dengan cepat melompat kebelakang, tubuh kecilnya membuatnya lebih leluasa menghindari pedang itu.


Tatapan kesal terlihat pada netra kelam milik gadis sombong itu.

__ADS_1


Dia dengan segera mengendalikan pedang itu untuk terus maju, sambil mengeluarkan elemen airnya.


Xiao Dai terus menghidar setiap pukulan ayunan pedang serta berbagai jurus elemen yang dikerahkan oleh Gadis itu.


Badan kecilnya memang benar-benar berguna untuknya.


"Jangan terus menghindar, sialan". Umpatnya kesal.


Zora tersenyum miris dibalik cadarnya melihat kelakuan Xiao Dai yang sedari tadi mempermainkan Gadis Sombong itu.


"Dai'er, kita tidak punya banyak waktu untuk bermain-main". Ucapnya.


Xioa Dai yang mengerti dengan perkataan Zora, segera menghentakan kaki kecilnya.


Dia menciptakan bongkahan es mengelilingi Gadis itu, kemudian mengubah bongkahan itu menjadi sangat tajam mengarah pada Gadis itu.


Beruntungnya Gadis itu cukup cepat, hingga dia dapat menghindari bongkahan es tajan itu.


"Ck". Decak Xiao Dai saat meliha Gadis itu menghindar.


Xiao Dai kembali berlari dengan cepat menuju bongkahan es itu.


Dengan gesitnya dia melompat keatas bongkahan es itu, dia menggunakan bongkahan es sebagai pijakan untuk kaki kecilnya itu, dia mendorong dirinya untuk melompat jauh lebih tinggi ke arah Gadis itu.


Gadis sombong yang melihat itu tersenyum sinis.


Dia menggunakan pedangnya, mengarakannya kedepan, ke arah datang nya Xiao Dai.


Senyumnya semakin melebar, siapa saja bisa melihatnya kalau itu merupakan senyum kemenangan.


'Bukankah itu terlalu cepat'. Gumam Zora mencemooh.


Hongling yang mendengar itu mengalihkan atensinya pada Zora lalu kembali lagi ke arena, "Percayalah". Ucapnya tenang.


Hongling tentu tidak tau bagaimana kekuatan Xiao Dai.


Bukan karna dia lemah, tidak.. justru dialah yang terkuat diantara Zora dan Xiao Dai.


Hanya saja, selama dia bersama dengan keduanya, dia tidak bisa merasakan Aura apapun dari keduanya.


Hal itu membuatnya tidak bisa memastikan kekuatan milik keduannya.


Mengenai pertanyaan Gadis disebelahnya itu.


Awalnya dia agak ragu, namun ketika dia melihat Zora yang begitu tenang, dia yakin Xiao Dai pasti akan berhasil.


Ekspektasi memang selalu diluar dugaan.


Ketika ekspektasi mu terlalu tinggi tetapi yang terjadi tidak sesuai, itu menyakitkan.


Sama halnya yang terjadi sekarang ini.


Gadis sombong itu tersenyum bangga saat tubuh Xiao Dai semakin dekat dengan pedang miliknya.


Namun, tubuh Xiao Dai tiba-tiba membesar dihadapannya.


Gadis sombong itu tercengang melihat itu. Fokusnya terganggu akibat perubahan Xiao Dai yang tiba-tiba. Membuat Xiao Dai dengan bebas mengayunkan cakarnya yang tajam pada pedang didepannya tanpa adanya perlawalan.


Clanggg....


Pedang itu terjatuh kesembarang arah.

__ADS_1


Gadis sombong itu kini tidak lagi dalam posisi berdiri.


Dia terduduk lemas, merasakan tekanan yang keluar dari tubuh besar Xiao Dai.


Orang-orang disekitar arena juga tercengang menyaksikan pemandangan tersebut. Namun, tekanan yang berasal dari Aura Xiao Dai memaksa mereka terjatuh dengan lemasnya.


Gadis disebelah Hongling, juga akan terjatuh lemas, hanya sedetik kemudian dia bisa menstabilkan posisi berdirinya kembali berkat bantuan Hongling.


'Immortal'. Gumam Hongling kecil sambil tersenyum tipis melihat kekuatan Xiao Dai.


Gadis disebelahnya itu melotot ke arah Xiao Dai tidak percaya, meskipun gumamannya begitu pelan, masih bisa didengar oleh Gadis disebelahnya itu.


Gadis sombong itu masih terduduk lemas dibawa Xiao Dai dengan badan yang gemetaran dan peluh keringat yang membasahinya.


Wasit yang ada diarena juga ikut bersimpuh dengan lemas, akibat tekanan itu.


Tahapan Ranah mereka terlalu lemah, itulah alasan mengapa mereka tidak bisa menahan tekanan itu.


Zora menghampiri Xiao Dai.


Dengan senyum mengejeknya di balik cadar, "Beruntungnya dirimu". Ucapnya menatap lekat Gadis itu.


Gadis itu meggertakan giginya menatap Zora penuh kebencian.


"Jika itu aku, mungkin kau sudah mati sejak tadi". Ucap Zora kembali.


Gadis itu tidak bisa melakukan apapun dalam tekanan itu, berucappun dia tidak sanggup, hanya tatapan tajamnya yang terus menatap Zora.


Seandainya tatapan dapat membunuh, mungkin Zora sudah sedari tadi terkapar tak bernyawa.


"Kau kalah". Ucap Zora kembali, kemudian berlalu dari hadapan Gadis itu menuju meja taruhan.


Dia mengambil semua koin emas yang ada dimeja itu.


Dia melihat orang-orang yang bertaruh pada Gadis sombong itu dengan tatapan mengejek.


"Dai'er, ayo kembali".


Xiao Dai berbalik dan berjalan menuju Zora, lalu mengecilkan tubuhnya dan melompat ke Zora.


Orang-orang disekitar dan Gadis sombong itu akhirnya bisa kembali benapas dengan lega, akibat tekanan yang diberikan oleh Xiao Dai menghilang.


Mereka menatap punggung Zora dan lainnya yang mulai menghilang dengan tatapan rumit.


Gadis sombong itu mencerna kembali kejadian yang baru saja terjadi.


'Aku pikir, aku adalah seorang jenius setelah Putra dan Putri Makhota, heh.. nyatanya aku salah'. Gumamnya.


"Nona, apakah nona tidak apa-apa? Maafkan kami nona karna tidak bisa menjaga nona dengan baik". Ucap salah satu Prajurit Pengawal.


"Aku baik-baik saja, terima kasih". Ucapnya.


Prajurit Pengawal dan pelayan lain yang mendengar ucapan Gadis sombong itu seketika membatu menatap tak percaya nona mereka.


"Ayo kembali". Ucapnya kembali membuyarkan lamunan mereka.


Mereka mengangguk pelan lalu mengekori nona mereka.


'Terima kasih, sekarang aku mengerti'. Ucapnya dalam hati sambil senyum tipis.


...

__ADS_1


__ADS_2