
"Alirkan Qi pada pijakan kalian agar tidak goyah". Ucap Zora pada Wen Xia dan Xiao Dai.
Keduanya hanya menurut dengan apa yang dikatakan oleh Zora.
Tentakel-tentakel itu kembali menyerang. Zora berlari menuju arah tentakel itu yang akan menghantam perahu.
Dia mengeluarkan dua bilah pedang dari dalam Ruang Dimensinya.
Melemparkan salah satunya pada Hongling.
Keduanya langsung mengalirkan sedikit Qi pada pedang itu.
Keduanya menggenggam erat pedang itu lalu dengab kekuatan yang besar, mereka mengayunkan pedang itu pada masing-masing tentakel yang dituju.
Woossshhhh.....
Kedua Pedang itu memutuskan tentakel Binatang Raksasa itu dengan mudahnya.
Zora dan Hongling kembali memijakan kaki mereka diatas perahu itu.
Memperhatikan tentakel yang yang telah mereka putuskan.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat kejadian selanjutnya.
"Kekuatan regenerasi nya sangat luar biasa". Ucap Hongling dikala terkejutnya.
Wen Xia dan Xiao Dai hanya diam meratapi kesialan mereka.
Sedangkan Zora hanya diam memperhatikan dengan tenang dan tenang.
Dari awal kejadian hingga saat ini, dia tidak terlihat ketakutan, marah ataupun lainnya.
Hanya ada ekspresi tenang.
Mereka kembali dikejutkan dengan tentakel yang ditebas oleh Zora.
"Kenapa tentakel yang di tebas oleh Zora tidak kembali tumbuh". Tanya Wen Xia keheranan.
Tidak hanya Wen Xia, Hongling dan Xiao Dai juga heran.
Zora hanya tersenyum simpul. 'Sudah kuduga'.
"Ayo kita serang lagi sebelum benar-benar kambali utuh". Ucap Zora kemudian.
Mereka kembali bertempur.
Meskipun serangan Hongling tidak begitu berarti, dia tetap semangat untuk terus menebas tentakel-tentakel tersebut.
...
Entah sudah berapa banyak serangan dan jurus yang mereka keluarkan.
Perahu mereka juga di bombandirkan oleh hantaman air.
Entah mereka berada di lautan mana sekarang, mereka sama sekali tidak tahu.
Yang mereka tau adalah, mereka sudah tidak lagi berada ditempat awal.
Hari semakin gelap, namun pertarungan masih berlanjut. Mereka sudah sangat kelelahan, meskipun begitu mereka sangat beruntung karna tidak memiliki luka pada tubuh mereka.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara entah dari mana.
Suara itu sangat menusuk, seperti jeritan memilukan.
Tentakel-tentakel yang baru tinggal sedetik saja dapat menghancurkan perahu, terhenti begitu saja saat mendengar suara itu.
Tidak menunggu lebih lama, kedua makhluk raksasa itu segera pergi dari tempat itu.
Zora dan yang lainnya bernapas lega ketika melihat hal tersebut.
Kekuatan ke tiga orang itu terkuras habis.
Sedangkan Zora hanya sedikit kelelahan.
Ini adalah pertarungan pertamanya yang begitu mengesankan baginya.
Beruntungnya kedua makhluk raksasa itu telah pergi. Jika tidak, entah bagaimana nasib mereka.
Selain itu juga mereka cukup terkejut melihat kedua makhluk raksasa itu tiba-tiba pergi setelah mendengar suara itu.
Semuanya diam dalam keheningan, hanya terdengar deburan ombak menabrak kecil perahu.
"Umm.. kira-kira kita berada dimana sekarang?" Tanya Wen Xia memecahkan keheningan yang terjadi.
Zora, Hongling dan Xiao Dai tersadar dari lamunan mereka.
__ADS_1
Mereka juga sedikit bingung ketika melihat sekeliling perahu tersebut.
Zora dan Xiao Dai sama sekali tidak tau dimana mereka berada.
Tentu, sebab ini adalah perjalanan pertama yang dia lakukan.
Hongling? Dia juga kebingungan.
Meskipun dia sudah hidup lama, dia menghabiskan lebih banyak waktu dalam pemulihan.
Segala sesuatu dapat berubah kapan saja, jadi dia tidak begitu yakin dengan lokasi mereka sekarang.
"Tidak perlu dipikirkan, hari sudah sangat gelap, sebaiknya kita beristirahat disini untuk malam ini, kita akan tau dimana kita berada setelah fajar". Ucap Hongling menenangkan yang lain.
"Tapi perahunya..... Ucap Wen Xia terhenti.
"Tidak apa-apa, aku akan membuatnya agar tetap tenang". Kata Zora.
...
Sinar mentari kembali menyapa semesta.
Gemercik air dan deburan pelan ombak membuat suasana semakin tenang.
Zora bengun dari tidurnya.
Xiao Dai telah Zora tempatkan di Ruang Dimensinya untuk memulihkan kekuatannya.
Kerutan terlihat jelas di kening Zora, ketika atensi nya mulai menyapu sekitarnya.
'Sepertinya sangat jauh dari tempat tujuan'. Pikirnya.
"Kau sudah bangun rupanya". Ucap Hongling saat melihat Zora yang tengah duduk kebingungan.
Zora menanggapi dengan deheman kecil.
"Kita ada dimana?" Tanya Zora kemudian.
"Aku juga sedikit bingung tentang itu". Jawab Hongling.
"Wahh.. sangat indah... ehh,, lihat bukankah di sana itu Hutan Terkutuk?" Ucap Wen Xia tiba-tiba, membuat Hongling dan Zora mengalihkan atensinya ke arah yang di tunjuk oleh Wen Xia.
"Kamu yakin tentang itu?" Tanya Hongling.
"Mari kita kesana". Ucap Zora.
"Huh...?" Hongling dan Wen Xia terkejut dengan pernyataan Zora. Membuat mereka menatapnya rumit.
"Ada apa?" Tanya Zora pada keduanya.
"Bukankah itu berbahaya?" Ucap Hongling dan disetujui oleh Wen Xia.
"Tidak ada pilihan lain". Ucap Zora.. "Lagi pula kita akan berada disini sampai kapan?" Lanjutnya.
Hongling dan Wen Xia terdiam.
Benar, mereka tidak mungkin berada disini terlalu lama.
Kondisi perahu juga sangat memprihatinkan, jika di paksakan untuk bergerak, mereka akan tenggelam.
'Terbang' itu memungkinkan jika hanya ada Hongling dan Zora.
Lagipula lebih sangat tidak mungkin bagi Hongling untuk mengubah wujudnya.
Jadi pilihan mereka satu-satunya adalah, 'pergi ke Hutan Terkutuk'.
"Baiklah". Jawab keduanya bersamaan.
***
Feng Mei telah berpisah dari kelompoknya.
Dia membuat alasan yang cukup untuk di percaya oleh teman-teman kelompoknya.
Bukan apa-apa, hanya saja ada beberapa orang yang tengah mengikuti mereka.
Dia sangat yakin kalau tujuan mereka adalah dirinya.
Maka dari itu dia memutuskan untuk memisahkan diri, agar lebih mudah menggunakan kekuatannya.
...
Feng Mei mendengus jijik, melihat beberapa pria dengan pakaian tertutup berwarna hitam dihadapannya.
Instingnya memang selalu akurat.
__ADS_1
'Pasti ulahnya lagi'.
"Kalian dari organisasi mana?" Tanyanya dengan tatapan menelisik.
"Apakah itu penting?" Ucap salah satu pria serba hitam.
"Tidak! cuma mesmastikan saja.. sebab aku sudah membunuh beberapa orang dari organisasi yang berbeda, aku hanya ingin menghitung ada berapa organisasi yang telah menggangguku dalam bulan ini". Ucap Feng Mei tenang.
"Membunuh beberapa orang dari organisasi yang berbeda? Nona, kau sungguh hebat dalam mengarang cerita".
"Hm.. kau benar, Bagaimana kalau kau mencobanya? Untuk memastikan apakah karangan itu nyata atau tidak?"
"Bukankah kau terlalu meninggikan dirimu sendiri?"
"Itu karna aku mampu!"
'Sialan'. Gumam pria serba hitam yang adalah pemimpin dari kelompok itu.
Dia menggertakan giginya kesal. Gadis didepannya itu sungguh sangat menjengkelkan.
"Tangkap dia". Ucap pria pemimpin itu memerintah.
Kelompok pria serba hitam itu mulai mengelilingi Feng Mei dengan tatapan yang... ergg....
Feng Mei diam di tempat, tetapi juga waspada secara bersamaan.
Tidak masalah baginya untuk menghadapi kelompok itu. Meskipun para kelompok serba hitam itu memiliki Ranah satu tingkat di atasnya.
Membunuh kelompok itu sangat mudah baginya.
Feng Mei tersenyum jahat. Dia mengangkat tangannya.
Hanya butuh waktu beberapa detik saja. Orang-orang itu sudah menjerit kesakitan.
Tubuh mereka dililit dengan kuat oleh akar pohon tidak hanya itu saja, akar pohor tersebut memiliki duri panjang disekitarnya.
Arrgggg...
Teriakan mereka menggema.
Membuat Feng Mei kembali menggunakan Elemennya untuk menutupi mulut mereka.
Dia membiarkan mereka tersiksa sebelum mati secara perlahan.
"B-bagaimana itu mungkin? S-siapa kau sebenarnya?" Tanya pemimpin kelompok itu dengan gagap. Dia terpaku melihat pemandangan dihadapannya.
Dia berjalan mendekati pemimpin dari kelompok itu dengan senyum manisnya.
Tenru dia sangat mengerti maksud dari pertanyaan pria tersebut. Tapi dia sama sekali tidak memperdulikannya.
"Bagaimana? Apakah karangan ceritaku bisa dijadikan sebagai kisah yang nyata?" Tanyanya.
Tubuh pria itu bergetar.
Peluh keringat mengalir di wajahnya.
Tatapannya tertunduk, tidak berani menatap langsung gadis dihadapannya.
Melihat hal itu membuat senyum kecut Feng Mei nampak.
"Berapa yang dia tawarkan?" Tanyanya kembali dengan nada yang sangat dingin.
Mulut pria itu terkatup rapat, sangat sulit baginya berkata.
Melihat pria itu tetap diam membuat ekspresi wajahnya menjadi dingin dan dingin.
Dia menggerakan tangannya.
Crashhh...
Crashhh..
Crashhh...
Suara seperti seseorang tengah menyembeli hewan itu terdengar sangat nyaring.
Pemimpin kelompok itu segera mengangkat kepalanya.
Matanya melebar melihat orang-orangnya mati dengan begitu mudahnya.
Pikirannya kemana-mana.
Namun satu hal yang pasti.
Dia menyesal menerima permitaan dari orang itu.
__ADS_1