Zora

Zora
CH 29


__ADS_3

Kaisar Běi masih setia di ruang kerjanya.


Untuk Tetua Agung Bo Ma sendiri, telah kembali ke Rumah Pelelangan Pusat sedari tadi.


Kaisar Běi tidak melakukan aktivitas seperti biasanya.


Dia hanya duduk termenung, memikirkan hal yang terjadi di Ruangan Pertemuan.


Mengingat kembali bagaimana gadis itu bergerak dengan gesitnya untuk menyelamatkannya.


Bahkan Hongli yang adalah pengawal bayangannya tidak bisa berbuat banyak pada saat penyerangan itu terjadi.


Bahaya memang selalu mengintari siapapun.


Bahkan ditempat teraman sekalipun.


Persolen giok yang berisikan pil tersebut masih melekat erat dalam genggamannya.


Didalam persolen itu hanya berisikan tiga pil.


Hal itu Tetua Bo Ma tidak bisa membawa 1 untuk diteliti, sebab bukan hanya Kaisar saja yang membutuhkan Pil itu, tetapi juga Permaisurinya.


Permaisuri Mo juga terkena racun yang sama dengan Kaisar Běi, hanya saja racun yang diterimanya lebih sedikit dibandingkan Kaisar Běi.


Itu membuat Kaisar Běi membutuhkan 2 pilnya untuk menyembuhkan dirinya.


Beruntungnya kedua anaknya tidak ada di tempat saat penyerangan itu terjadi.


"Lapor Yang Mulia". Ucap seorang Prajurit Pengawal dengan raut wajah yang rumit.


Pikiran Kaisar Běi buyar mendengar salam itu, dia menautkan kedua alisnya melihat Prajurit Pengawal dihadapannya itu, "Ada apa?" Tanyanya tenang.


"I-itu Yang Mulia, H-hutan Kabutnya.."


"Bicaralah yang jelas". Ujar Kaisar memotong ucapan Prajurit Pengawal itu.


"H-hutan Kabutnya telah kembali seperti semula Yang Mulia". Ucap Prajurit Pengawal itu kembali dengan jelas.


"Oh....."


Sesaat kemudian, "Huh...? APA?!" Kiasar tersentak setelah menyadari perkataan Prajurit Pengawal di hadapannya itu.


"Bagaimana itu mungkin?" Tanyanya.


"Awalnya kami juga tidak terlalu yakin Yang Mulia, tapi kami sendiri mendapatkan informasi langsung dari Prajurit yang mengawasi perbatasan antara Hutan Kabut dan Desa Lang". Jelas Prajurit Pengawal itu.


"Apakah itu benar-benar sudah terkonfirmasi dengan baik?" Tanya Kaisar.


"Sudah Yang Mulia, hanya saja Hutan Kabut tidak lagi memiliki Kabut berancun tetapi Elemen Kegelapan yang melindunginya".


"Apakah ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat dari dalam Hutan Kabut?" Tanya Kaisar kembali.


"Tidak ada Yang Mulia". Jawab Prajurit Pengawal itu.


"Tidak mungkin...." pekik Kaisar menggema diruangan itu.


"Semua sudah dikonfirmasikan Yang Mulia, bahkan tanda-tanda dari kehidupan Binatang Buas juga tidak dirasakan". Ucap kembali Prajurit pengawal yang sedari tadi berusaha untuk tetap tenang.


"Bagaimana bisa? Kekuatan Elemen hanya bisa dikeluarkan dan dikendalikan oleh orang sekitarnya, bagaimana Kekuatan itu bertahan jika didalam hutan itu sendiri tidak ada tanda kehidupan yang terlihat?" Ucap Kaisar mengusap kasar wajahnya.


"Apakah ada orang yang dapat mengendalikan Kekuatannya itu dari kejauhan?" Ucap Kaisar kembali.


Sungguh sangat frustasi dibuatnya hari ini.


Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan baginya.


"Itu tidak mungkin Yang Mulia, sekuat apapun orang itu, dia tidak mungkin dapat mengendalikan dan mempertahankan Kekuatan Elemen dari kejauhan". Jawab cepat Prajurit Pengawal itu.

__ADS_1


"Apakah ada beberapa orang yang terlihat melewati Hutan Kabut atau lainnya?" Tanya Kaisar kembali menyelidik.


"Umm,, sepertinya ada Yang Mulia, hanya saja informasinya belum lengkap".


Kaisar kembali teringat akan dua pemuda yang bertemu dengannya pagi tadi, "Baiklah kau boleh kembali, dan cari tau siapa orang-orang yang melewati Hutan Kabut tersebut".


"Baik Yang Mulia.. Saya permisi undur diri".


Setelah Prajurit Pengawal itu keluar, Kaisar kembali tenggelam dengan pikirannya.


'Apakah itu mungkin mereka?' Pikirnya


'Tapi bagaimana bisa, sedangkan jantung Hutan Kabut itu sendiri telah di ambil oleh orang-orang sialan itu'.


'Apakah masing-masing dari mereka memiliki Elemen tersebut?'


'Apakah mereka memiliki darah campuran,'


'Apakah itu mungkin?'.


"Arrggggg". Kesal Kaisar mengusap wajahnya kasar.


Dia benar-benar kehilangan arah pikirannya.


Semua rentetan pertanyaan yang dipikirnya, membuatnya semakin pusing.


***


Zora dan yang lainnya telah kembali ke penginapan, tempat awal terjadinya keributan.


Dia memesankan satu lagi kamar untuk Gadis yang dibawa nya.


Kini Dia, Hongling dan Xiao Dai tengah duduk menemani Gadis itu makan sambil menyesap Teh Hijau.


Zora menyodorkan cangkir yang berisikan Teh Hijau pada Gadis itu setelah dia menyelesaikan makanannya.


"Namamu?" Tanyanya.


Zora menganggukkan kepalanya, "Apa masalahmu dengannya?"


Jia Li mengedikan bahunya, "Entalah, mungkin karna benci". Jawabnya.


"Dengan alasan?" Tanya Zora kembali.


"Karna aku terlahir tidak memiliki Akar Spritual dan ibuku hanya seorang Gundik, mereka menganggapku sebagai aib keluarga". Jelasnya dengan sedikit tertunduk.


"Mereka semua?"


"Kecuali ayah dan ibu". Ucapnya pelan.


Bulu mata lentik Zora sedikit tertunduk, netra hitam legamnya menatap cangkir di tangannya, "Hah... Aku lupa menyuruhnya untuk meminta maaf padamu". Ucapnya dengan sedikit helaan napas.


"Itu sebenarnya tidak perlu, dan terima kasih karna sudah menolongku". Ucap Jia Li tersenyum tulus.


Xiao Dai dan Hongling sedari tadi hanya menyimak keduanya.


Zora meletakan cangkir kosongnya, kemudian menuangkan kembali Teh Hijau kedalam cangkir itu, "Malam ini tidurlah di sini, aku sudah memesan satu kamar untuk mu, besok  kami akan mengantarkanmu kembali".


Jia Li menganggukan kepalanya, "sekali lagi terima kasih".


"Hm..."


...


Malam sudah semakin larut.


Zora dan lainnya telah berada di kamar masing-masing.

__ADS_1


Seperti biasa, Xiao Dai tidur bersama dengan Zora.


##


'Pergilah, aku jijik melihat wajahmu'


'Tidak sudi aku memiliki adik sepertimu'


'Sampah'


'Kau sama seperti ibumu'


'Bawa anak ini kembali, jangan sampai ada yang melihatnya'


'Memalukan'


'Jangan pernah biarkan dia keluar dari tempat itu'


###


Hoshh... hoshh.. hoshh...


Zora terbangun dari tidurnya. Dia berusaha menghirup napas sebisanya.


Peluh keringat membasahi wajahnya.


Napasnya terengah-engah.


Dia meminum Air Spiritual yang dia ambil dari dalam Ruang Dimensinya.


Mencoba menenangkan dirinya dan mengatur kembali napasnya sebelum bergumam,


'Lagi-lagi hanya mimpi'.


'Tapi kenapa suara-suara itu terdengar sangat jelas tetapi tidak dengan orang-orang itu, semuanya sangat kabur'. Gumamnya kembali.


Zora tidak bisa kembali tidur.


Dia berbaring sambil mengelus bulu halus Xiao Dai, pikirannya tenggelam.


Sepertinya akan sangat sulit untuk mencari tau siapa pemilik tubuhnya ini.


Pikirannya benar-benar buntu saat ini.


Hah.... Dia menghela napasnya sedikit kasar.


"Sudahlah, pelan-pelan saja". Ucapnya pelan.


Dia kemudian memutuskan untuk masuk ke Ruang Dimensinya.


"Yang Mulia". Sapa Qing Yu saat melihat Zora.


Zora menganggukkan kepalanya dengan semburat senyum terpancar dari bibirnya.


"Aku akan berendam". Ucapnya singkat.


Mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Zora, Qing Yu barlalu dari hadapan Zora.


Dia sangat mengerti Zora dengan baik, setelah beberapa bulan bersamanya di dalam Ruang Dimensi.


Segala tentang Zora.


Dari apa yang Zora suka sampai yang tidak dia sukai.


Zora melepaskan pakaiannya. Meninggalkan kain tipis pada tubuhnya.


"Hah... helaan halus napasnya. Pikirannya mulai membaik sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Dia membiarkan pikirannya mengalir begitu saja.


Menyandarkan kepalanya pada batu dibelakangnya, lalu memejamkan matanya menikmati setiap hembusan napasnya.


__ADS_2