
Kaisar kini berada pada Ruang Kerjanya.
Matanya menatap kosong kertas-kertas dihadapannya itu.
Pikirannya melayang mengingat kejadian tadi.
"Salam Yang Mulia".
Salam itu membuat lamunan Kaisar Běi buyar seketika.
"Tetua Agung". Sapa Kaisar Běi setelah melihat sosok di hadapannya itu.
"Pelayan, siapkan beberapa cemilan dan Teh Hitam". Perintah Kaisar pada pelayan.
"Baik Yang Mulia". Ucap pelayan itu kemudian bergegas pergi dari ruangan itu.
"Silakan duduk Tetua Agung". Ucap Kaisar mempersilahkan Tetua Agung duduk.
"Saya sangat berterima kasih pada Tetua Agung, karna sudah meluangkan waktu untuk kemari". Ucap Kaisar sesaat setelah keduannya duduk.
"Ah.. tidak perlu seperti itu Yang Mulia, seharusnya saya yang berterima kasih pada Yang Mulia karna telah mengundang saya kesini secara pribadi, ini merupakan suatu kehormatan bagi saya". Ucap Tetua Agung sambil tersenyum ramah.
Tetua Agung Bo Ma, meskipun memiliki status yang berbeda dengan Kaisar Běi, tapi bisa dikatakan mereka berdua memiliki kedudukan yang hampir sama.
Selain memiliki Basis Kultuvasi yang setara dengan Kaisar Běi, Tetua Agung Bo Ma juga adalah satu-satunya Alkemis tingkat tiga (Mars/Iron) di Kekaisaran Běi.
Hal itu membuat semua orang sangat menghormatinya, termasuk Kaisar Běi.
"Permisi Yang Mulia". Ucap salah satu pelayan dan hanya di angguki oleh Kaisar Běi.
Pelayan tersebut segera masuk ke ruangan Kaisar dengan nampan di tangannya, kemudian meletakan cemilan dan Teh Hitam di atas meja.
"Kau boleh pergi". Ucap Kaisar setelah semua cemilan dan Tehnya diletakan.
Pelayan yang mendengar itu segera menunduk hormat dan langsung pergi dari ruangan itu.
Kaisar Běi kemudian menuangkan Teh Hitam kedalam cangkir dan menyodorkan pada Tetua Agung, "Silahkan diminum Tetua Agung".
"Terima kasih Yang Mulia". Ucap Tetua Agung kemudian menyesap Teh Hitam itu, "Saya dengar dari bawahan Yang Mulia, kalau ada pil yang perlu saya nilai". Ucapnya kembali, lalu meletakan cangkir itu kembali ke meja.
"Benar Tetua, saya ingin Tetua menilai pil-pil ini". Ucap Kaisar menaruh botol persolen berwarna kuning itu.
"Apa Yang Mulia serius?" Tanya Tetua Agung Bo Ma
Kaisar Běi mengerti akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Tetua Agung.
"Hahahaha..." Tawa canggung Kaisar Běi.
"Meskipun saya memiliki pengetahuan tentang pil, tapi saya hanya memilikinya sedikit dan itu pun hanya beberapa pil yang sudah umum, sedangkan untuk pil ini, baru pertama kali saya melihatnya". Ucap Kaisar Běi menjelaskan.
Penjelasan Kaisar Běi membuat kedua alis Tetua Agung bertautan.
Pil apa yang membuat orang besar dihadapannya itu tidak dapat menilainya.
"Ah.. saya sungguh penasaran dengan pil tersebut, bolehkan saya langsung menilainya saja Yang Mulia?" Tanyanya pada Kaisar
"Tentu... tentu saja Tetua". Ucap Kaisar sambil menyodorkan botol persolennya.
***
Hongling muncul dari pusaran angin tersebut dengan Xiao Dai ditangannya.
__ADS_1
Orang-orang yang melihat itu hanya terdiam, begitu juga dengan Gadis sombong itu.
"S-siapa kamu?" Tanya Gadis Sombong itu.
"Itu tidak penting". Jawab Hongling dingin kemudian berbalik menghampiri Zora, "Kau baik-baik saja?" Tanya Hongling pada Zora.
"Ya". Jawabnya singkat.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini". Ucap Hongling kembali dan hanya diangguki oleh Zora.
"Berhenti disana". Teriak Gadis Sombong itu, membuat Hongling dan yang lainnya berhenti dan menatapnya datar.
"Kalian boleh pergi, tapi tinggalkan gadis sampah itu". Ucap Gadis sombong itu kembali.
"Bagaimana jika tidak?" Tanya Zora kembali.
"Maka biarkan harimau kecilmu tetap disini sebagai gantinya". Ucap Gadis sombong itu dengan senyum lebarnya.
Sayangnya, dia berhadapan dengan orang yang salah.
Zora hanya tersenyum licik dibalik cadarnya melihat Gadis dihadapannya itu.
"Oh.. Dai'er, sepertinya ada yang menginginkanmu". Ucapnya pura-pura sedih.
Xiao Dai hanya meraung kecil, sedangkan Hongling hanya diam memperhatikan, semakin kesini dia semakin mengerti sifat Zora.
Zora menyerahkan gadis yang dianggap sampah itu pada Hongling, kemudian mengambil alih Xiao Dai lalu mengelusnya pelas.
"Kau boleh mengambilnya, tapi ada syaratnya". Ucap Zora tenang.
"Apa?" Tanya gadis sombong itu.
"Huh..?" Gadis sombong itu sedikit bingunh dengan apa yang dikatakan Zora.
"Cukup menaklukan Xiao Dai ku, kalau kau tidak bisa, kau harus meminta maaf padanya, bagaimana?" Ucap Zora menjelaskan.
"Bagaimana jika aku bisa menaklukannya?" Tanya gadis itu dengan angkuhnya.
"Aku akan meninggalkan keduanya.." Ucap Zora santai sambil tersenyum kemudian melanjutkan, "itupun kalau kau bisa". Cemoohnya.
"Hehehe.. baiklah aku setuju, aku harap kau tidak menyesalinya". Ucap gadis itu.
Zora hanya menanggapi ucapan gadis itu dengan senyuman puas dibalik cadarnya.
***
Tubuh Tetua Bo Ma menegang, pupil matanya bahkan hampir keluar dari tempatnya, melihat pil ditangannya.
Dia mengusap peluh keringat dikeningnya.
Dia berusaha untuk tetap tenang.
"Y-Yang Mulia, kalau saya boleh tau, dari mana Yang Mulia Mendapat pil-pil ini?" Tanyanya hati-hati dengan sedikit gugup.
"Pil-pil itu diberikan oleh seorang gadis". Jawab Kaisar Běi. "Apakah itu bermasalah Tetua?" Tanya Kaisar Běi saat melihat perubahan pada wajah Tetua Bo Ma
Tetua Bo Ma menghembuskan napasnya kasar, pikirannya kini beralih pada Tetua Song mengingat kembali kejadian lima tahun yang lalu dimana Tetua Song yang tiba-tiba membawa beberapa Pil Kelas 7.
Meskipun dia tidak tau seperti apa rupa gadis yang diceritakan oleh Tetua Song, tapi dia sangat yakin kalau mereka adalah orang yang sama.
"Tidak ada masalah sama sekali dan sepertinya Yang Mulia memang memiliki keberuntungan hari ini". Ucap Tetua Bo Ma sambil memasukan kembali Pilnya.
__ADS_1
"Maksud Tetua?" Tanya Kaisar Běi yang sedikit bingung.
"Ini adalah Pil Penawar Racun Kalajengking kepala dua, Yang Mulia". Ucap Tetua Bo Ma dengan sedikit helaan napas.
"Itu tidak mungkin Tetua, tidak ada yang tau tentang hal ini dan bagaimana caranya gadis itu bisa tau kalau racun itu ada pada tubuh saya, sedangkan kami bahkan tidak bersentuhan sama sekali". Ucap Kaisar Běi tidak percaya.
Kaisar Běi terkena racun Kalajengking Kepala Dua sehari sebelum penyerangan terjadi di Hutan Kabut, hal itu membuat Kaisar tidak bisa melakukan apa-apa saat Hutan Kabut diserang.
Tetua Bo Ma dan yang lainnya telah berusaha banyak untuk mencari bahan penawar yang diperlukan, namun usaha itu sia-sia, sebab untuk membuat penawarnya sendiri, perlu beberapa tanaman langka yang bahkan keberadaannya sangat mustahil.
"Saya juga tidak tau pasti Yang Mulia, tapi ini memang benar pil penawar yang dibutuhkan Yang Mulia selama ini". Ucap Bo Ma.
"Apa Yang Mulia masih ingat bagaimana rupa gadis itu?" Tanya Bo Ma.
Dengan cahaya tidak keberdayaan yang terpancar dari mata Kaisar Běi, dia menggelengkan kepalanya pelan, "Mereka sangat misterius". Ucapnya menahan gejolak di dalam perutnya.
"Mereka?" Ucap Tetua Bo Ma.
"Iya Tetua, gadis itu datang dengan seekor harimau kecil digendongannya bersama seorang pria yang mengenakan topeng untuk menutupi wajahnya, begitu juga dengan gadis itu yang mengenakan cadar". Jelas Kaisar.
'Apa itu memang dia?' Gumam Tetua pelan yang masih terdengar oleh Kaisar Běi.
"D-dia, dia siapa Tetua?" Tanya Kaisar penasaran. Mengesampingkan keterkejutannya, identitas gadis ini sepertinya tidak biasa.
Tetua Bo Ma kembali menghela napasnya panjang, "Gadis yang sama, yang memunculkan kembali Pil Regenerasi lima tahun yang lalu, hanya saja itu masih asumsi belaka". Ucapnya sambil memijit pelan kepalanya.
Tubuh Kaisar Běi menegang seketika saat mendengar ucapan Tetua Bo Ma. Meskipun itu hanya sebuah tebakan, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka adalah orang yang sama. Mengingat Pil yang diberikan padanya merupakan pil yang untuk menemukan bahannya saja sudah sangat mustahil.
Dia juga tidak ingin mempercayai hal itu, tetapi ketika dia mengingat kembali Pil yang dilelangkan lima tahun lalu, membuat detak jantungnya seakan berhenti seketika.
"Jika itu benar. A-apa itu artinya pil-pil ini.. ucap Kaisar terputus begitu saja, dia tidak sanggup melanjutkan perkataannya itu.
Meskipun begitu, Tetua Bo Ma cukup mengerti dengan apa yang di maksud oleh Kaisar Běi.
Dia menganggukan kepalanya kemudian berkata, "Yang dipikirkan oleh Yang Mulia itu benar, hanya saja pil-pil ini satu tingkat diatas pil regenerasi lima tahun lalu. Sekarang saya mengerti mengapa Yang Mulia tidak bisa mengidentifikasi pil ini dan kemungkinan terbesar adalah mereka orang yang sama".
Kaisar Běi membeku.
Pil yang levelnya satu tingkat diatas pil regenerasi, bukankah itu berarti pil ini adalah Pil Kelas 8?
"Apa itu?" Tanyanya setelah mendapat sedikit ketenangan.
"Pil ini sangat spesial. Itu sebabnya mengapa Yang Mulia sulit untuk mengidentifikasinya. Untuk tampilan Pil Penawar Racun Kalajengking Kepala Dua yang saya ketahui dengan yang ada didalam persolen itu sangat berbeda. Tetapi aromanya sangat kuat dan jelas. Kalau bukan karna aromanya, saya mungkin akan salah mengidentifikasi pil ini".
Ini terlalu di luar dugaan.
"S-spesial? Spesial seperti apa Tetua?" Tanya Kaisar Běi. Raut wajahnya terlihat rumit, perasaannya campur aduk.
"Di dalam Pil ini terdapat 50% Aura Qi yang dapat membantu Kaisar untuk menerobos satu tahapan". Ucap Tetua Bo Ma.
Boomm...
Ucapan Tetua Bo Ma bagaikan bom waktu yang membuat jantung milik Kaisar Běi yang sepertinya akan benar-benar berhenti saat ini juga.
Ini bukan lagi sangat, tetapi sangat sangat luar biasa spesialnya.
Kaisar Běi tercengang, tidak tau harus berbuat dan berkata apa lagi sekarang.
Dia benar-benar kehabisan reaksi dan kata-katanya.
Ah.. Dia terlihat seperti orang linglung sekarang.
__ADS_1