
Perkembangan dalam pelatihan semua orang sangat baik.
Empat hari terakhir ini juga, mereka tidak hanya melakukan pertarungan 1 lawan 1, tetapi juga 1 lawan 4. Dan yang mereka lawan adalah Hongling.
Dalam Empat hari ini, meski Dong Fang dan tiga lainnya di pukul habis-habisan oleh Hongling, mereka masih berusaha untuk tetap bertahan dan melawan. Meskipun, pada akhirnya mereka mendapati hasil tragis.
Zora bahkan mengeluarkan banyak pil untuk di konsumsi oleh keempat orang itu. Beruntung, semua pil-pil itu Kelas 9. Jika tidak, mereka mungkin butuh waktu lama untuk pulih.
Selain memberikan mereka pil, Zora juga memberikan Seni Tarung, Langkah Cepat.
Untuk Hongling, dia sudah tidak membutuhkan Seni Tarung. Jadi, dia hanya menerima tekanan demi tekanan yang di hasilkan oleh Formasi Kubus dan beberapa catatan kuno.
Dong Fang, Feng Mei dan dua lainnya, perlu menguasai Seni Tarung tersebut.
Bukan tanpa alasan Zora meminta mereka untuk menguasainya.
Bagaimanapun juga, waktu yang dapat di pertahankan agar celah itu tetap terbuka hanya 10 detik. Mereka telah melatih kekebalan mereka terhadap tekanan, tapi bagaimana dengan kecepatan itu sendiri.
Jika mereka melatih hingga tahap sempurna, itu akan lama dan Zora tidak bisa menunggu selama itu.
Dia hanya akan membiarkan mereka menerima tekanan yang mendekati tekanan sesungguhnya. Juga membiarkan mereka yang telah melatih Seni Tarung Langkah Cepat tersebut, bermain di dalam Formasi Kubus yang memiliki tekanan.
Intinya adalah, mereka di minta untuk tetap bergerak menggunakan Langkah Cepat di setiap tekanan yang di hasilkan, agar terbiasa dengan itu.
Pada saat ini.
Dong Fang, Feng Mei dan dua lainnya tengah berdiri di hadapan Zora.
Kecerdasan mereka di tambah dengan Pil Pencerahan, membuat keempat orang tersebut dengan cepat menguasai Seni Tarung yang di berikan.
Dan hari ini, mereka akan melawan Zora sebagai gantinya.
Hongling tengah melakukan pelatihan tertutup saat ini. Meski dia melakukan pelatihan tertutup tidak jauh dari mereka, dia telah membangun Formasi berwarna Hitam Gelap dengan ketebalan 5cm.
Selain sebagai pengahalang, dia juga tidak akan terganggu dengan suara keributan yang akan di hasilkan dari luar.
Meski dia tidak mendapat Seni Tarung Langkah Cepat yang di terima oleh keempat orang itu, dia tidak begitu peduli, karna dia tahu bagaimana kemampuannya.
Hanya saja, melihat kondisinya yang lambat dalam menerobos, Zora memutuskan untuk memberikannya beberapa catatan Kuno milik Ras Naga yang tersimpan di Ruang Dimensinya.
Setelah dia mempelajari dengan cermat, dia menyadari bahwa itu adalah Catatan Suci Ras Naga yang telah lama hilang.
Dia tidak tahu bagaimana Zora mendapatkannya, dia tidak peduli.
Berkat catatan ini, dia akhirnya mengerti mengapa dia begitu sangat lambat dalam menerobos ke Tahapan Raja.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan masalah pada dirinya. Dan dengan bantuan berbagai pil yang dibutuhkan, dia akhirnya akan menorobos.
Karna penerobosannya sedikit berbeda dari Ras Manusia, dia butuh beberapa hari untuk melakukannya.
Maka dari itu, dia memutuskan untuk membangun Formasi untuk dirinya sendiri dan melakukan pelatihan tertutup.
Zora, Dong Fang dan tiga lainnya telah membuat keributan di luar Formasi.
Kali ini, pertempuran mereka sangat sederhana. Mereka hanya perlu melepaskan cadar milik Zora.
Selain itu, semua kemampuan mereka juga perlu di arahkan. Hanya saja, titik fokus mereka saat ini adalah kecepatan merespon dan juga pergerakan mereka.
Bagaimanapun juga, untuk mengalahkan Zora adalah hal yang mustahil bagi mereka.
Keempat orang itu telah memulai dengan penyerangan beruntun.
Meski demikian, Zora masih dapat melewati mereka dengan santai.
Gerakannya halus, berirama dan lembut, tapi setiap gerakannya menghasilkan kekuatan yang besar.
Menghindari tangan Dong Fang, Zora berputar dan dengan lembut mengulurkan tangannya untuk mendorong Dong Fang mundur.
Sentuhannya terlihat biasa-biasa saja. Tapi... hanya Dong Fang yang tahu seberapa besar kekuatan yang terkumpul pada dorongan lembutnya.
Dia bahkan bisa merasakan tulang rusuknya akan patah jika sekali lagi terkena sentuhan itu.
"Masih terlalu lambat". Ucap Zora sambil menghindari serangan dari tiga lainnya.
Gerakannya seperti tarian di musim semi, itu sangat indah dan menggelitik minat penonton.
Tapi kecepatannya bahkan semakin dan semakin cepat di setiap gerakannya.
__ADS_1
Dong Fang dan yang lainnya merasa seperti mereka hanya menyerang bayangan kosong.
Jika bukan karna hembusan angin yang menerpa wajah mereka masing-masing mereka akan mengira Zora telah menghilang dari pandangan mereka.
Mereka semakin bersemangat dan semangat.
Menambah kecepatan, mereka mengejar ketertinggalannya masing-masing.
"Responmu masih lambat". Ucap Zora sebelum melempar Wen Xia dengan cara yang sama.
Melihat mereka yang begitu terprovokasi membuat Zora mengerutkan keningnya.
Itu tidak masalah. Hanya saja, hal-hal seperti ini sering membuat kerja sama tim menjadi tidak teratur.
"Kalian sangat berantakan". Ucapnya setelah mengirim semua orang pergi.
Mereka terdiam.
Tidak hanya berantakan. Mereka juga dipukul mundur hanya dengan beberapa gerakan kecil.
Mereka pikir setelah beberapa hari berlatih bersama Hongling, mereka menjadi lebih baik dan lebih baik.
Nyatanya bahkan setelah berlatih siang dan malam, mereka masih tidak dapat mengejar ketertinggalan yang ada.
Mengerti dengan arah pikiran mereka, Zora menaikan alisnya, "Jangan bodoh! Perkembangan kalian telah meningkat hanya dalam empat hari. Meski ada beberapa yang masih kurang, itu sudah cukup baik".
Mengeluarkan beberapa pil lagi, Zora melemparkan pada mereka dengan akurat, "Yang terpenting adalah jangan terprovokasi oleh musuh. Kalian harus bisa mengendalikan emosi kalian saat bertarung".
"Baik". Jawab Dong Fang dan tiga lainnya hampir secara bersamaan.
"Istirahat terlebih dahulu". Mengalihkan atensinya pada Formasi Hitam yang tidak jauh darinya, "Saudara saya mungkin akan membutuhkan waktu yang lama. Ingat kembali setiap kesalahan yang kalian buat dan pelajari itu. Kita akan melanjutkannya besok".
Tanpa menunggu tanggapan mereka, Zora menghilang dari tempatnya.
Dong Fang, Feng Mei dan dua lainnya mengerutkan keningnya masing-masing.
Tapi mereka tidak memikirkannya lebih jauh.
Melihat Formasi Hitam yang tidak jauh dari mereka, mereka berpikir bahwa Zora telah memasukinya untuk melihat perkembangan Hongling.
Keempat orang itu segera menemukan tempatnya masing-masing dan mulai menyerapi pil yang di berikan.
Rumah Utama Keluarga Leng.
Ruang Kepala Keluarga.
"Kakek". Panggil seorang gadis yang baru saja memasuki Ruangan tersebut.
Berjalan menuju lelaki tua yang tengah duduk bersandar pada kursi, dia menghamburkan pelukan hangat.
Duduk di lantai, gadis itu menyandarkan kepalanya pada paha pria tua itu.
Mengelus rambut cucu perempuan kesayangannya, "Yu'er, bagaimana keadaanmu? Kakek telah mendengar berita itu. Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya lelaki tua itu dengan lembut.
"Saya baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik". Jawab Leng Yu senyum cerahnya. Memikirkan sesuatu, dia mendongak, "Kakek, apakah kamu percaya akan cerita tersebut?"
Melihat wajah cerah cucu perempuannya, lelaki tua itu tersenyum lembut, menaikan alis putihnya dia berkata dengan nada menggoda, "Bagaimana menurutmu?"
Mengerjabkan matanya, Leng Yu mengerucutkan bibirnya, "Kakek, kamu terlalu sulit".
"Hah". Lelaki tua itu tertawa melihat wajah kesal cucunya.
Menghiburnya, lelaki tua itu berkata, "Baiklah. Katakan pada kakek seperti apa orang itu".
Leng Yu terdiam.
Dia benar-benar tidak dapat menyembunyikan apapun dari kakeknya.
"Ayah, apakah itu benar?" Tanya pria yang tengah duduk tidak jauh dari mereka sambil menyesap tehnya.
Itu adalah Leng Yang, Ayah Leng Yu.
Mereka tidak tinggal di Rumah Utama Keluarga Leng.
Karna beberapa alasan, mereka memilih untuk menyebar ke berbagai Benua.
Rumah Utama Keluarga Leng sendiri berada di Kekaisaran Xī. Sedangkan tempat tinggal Leng Yang dan keluarganya berada pada Kekaisaran Dong.
__ADS_1
Mereka melakukan perjalanan ke tempat ini atas permintaan Ayahnya, yang mengatakan bahwa dia sangat merindukan cucu perempuannya yang baik.
Dia hanya tidak menyangka bahwa Ayahnya memiliki tujuannya sendiri.
Lelaki tua itu tidak menanggapi Putranya.
Matanya tertuju pada cucu perempuannya.
"Kakek, kamu luar biasa". Ucap Leng Yu tidak berdaya.
Meski tidak mendapatkan jawaban dari lelaki tua itu. Ayah Leng yang mendengar ucapan putrinya dapat menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang di sebutkan dalam cerita itu adalah kebenarannya.
"Gadis itu mengenakan cadar. Matanya berwarna hitam pekat, begitu juga dengan rambutnya". Leng Yu sedikit menjelaskan tentang gadis yang dia dan teman-temannya temui di Hutan Terkutuk.
Mendengar perkataan cucunya, cahaya kekecewaan sedikit melintas di bagian bawah mata lelaki tua itu.
Tetapi dia tidak menunjukannya dengan jelas.
"Oh.. ada juga seorang pria disisinya, dia mengenakan topeng pada sebagian wajahnya". Ucap Leng Yu, memikirkan sesuatu, dia mengelus dagunya, "Aneh. Dia menyebut pria itu sebagai saudaranya. Tetapi, selain warna matanya yang sama, pria itu memiliki surai perak yang berbeda dengannya".
Menyebutkan ini, Leng Yu tenggelam pada pikirannya.
Dia tidak tahu bahwa ucapannya telah menjatuhkan bom kegembiaraan yang luar biasa pada lelaki tua itu.
"Hah".
Lelaki tua itu tertawa dengan penuh semangat. Dia bahkan meneteskan cairan bening dari matanya.
Suara tawa lelaki tua itu mengejutkan Leng Yu dan Ayah Leng.
Keduanya menatap lelaki tua itu dengan bingung.
Menepuk kepala Leng Yu dengan lembut. "Keberuntunganmu nak". Ucapnya kemudian berdiri.
Dengan tangan di belakang punggungnya, dia berjalan menuju jendela.
Dengan dua tangannya yang rentan, dia mendorong jendela itu hingga terbuka.
Cahaya silau menyinari kerutan-kerutan wajah tua miliknya.
Meski sudah berumur ratusan tahun, lelaki tua itu masih terlihat bermartabat dan penuh keagungan.
Melihat lelaki tua itu, Leng Yu dan Ayah Leng tercengang untuk waktu yang lama.
Sudah bertahun-tahun jendela itu tidak dibiarkan terbuka.
Ayah Leng tidak tahu apa alasannya. Tetapi tidak dengan Leng Yu.
Setelah dia berusia 6 tahun, hampir setiap minggu dia datang ke tempat ini.
Dia memiliki banyak sepupu, yang artinya kakeknya memiliki banyak cucu.
Namun, hanya dia sendiri yang selalu meluangkan waktunya untuk menemani kakeknya.
Menurutnya saat itu, kakeknya adalah orang yang luar biasa dan lucu.
Dia bahkan tidak pernah bosan mendengar setiap kisah-kisah tidak masuk akal melalui kakeknya.
Sepupu-sepupunya telah diajarkan menjadi seorang yang keras sejak muda.
Sehingga menurut mereka, duduk dan mendengarkan cerita dari kakeknya hanya membuang-buang waktu.
Tentu mereka akan lebih memilih untuk berlatih dari pada mendengarkan hal-hal yang tidak masuk akal.
Meski dia juga tidak begitu mempercayai cerita kakeknya, dia selalu menjadi yang paling antusias ketika kakeknya mulai bercerita.
Itu adalah hal yang paling menyenangkan menurutnya.
Kakeknya juga pernah mengatakan alasan mengapa dia tidak pernah keluar dari ruangannya, bahkan jendelanya tidak di biarkan terbuka.
Namun, melihat kakeknya mendorong jendela dengan kedua tangannya sendiri, jantungnya berdetak cepat, dia membeku.
Menatap punggung kakeknya dengan gugup, dia berdiri dengan susah payah, meremas kedua tanganya "Kakek, apakah itu ..."
Dia tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya seperti terjepit sesuatu, meski dia gugup, semangat dalam suaranya dapat di deteksi dengan sangat jelas.
Mendengar pertanyaan cucunya, lelaki tua itu hanya menjawab dengan "hm" tanpa berbalik ataupun mengalihkan atensinya. Dia memiliki emosi yang lebih kompleks.
__ADS_1
Matanya menelusur kedepan. Padangannya jauh dan jauh.
"Kamu telah menjaganya dengan baik, nak. Aku akan menunggu kedatangan kalian". Gumam lelaki tua itu yang tidak dapat di dengar oleh Ayah dan anak.