Zora

Zora
CH 41


__ADS_3

Namun, dengan santainya Zora menahan tebasan itu. Dia menggunakan ujung jari telunjuknya untuk menahan pedang tersebut.


Mata semua orang melebar menyaksikan hal itu.


Begitu juga Min Yue. Kini ketakutan merayap pelan dihatinya. Dia menatap mata Zora yang terlihat acuh, dingin dan tenang pada saat yang bersamaan.


Seolah semua kekuatan yang dia kerahkan bukan apa-apa dihadapan gadis itu.


Min Yue diam-diam menggigil.


Zora masih dengan tenangnya menyalurkan kekuatan pada pedang tersebut.


Seketika pedang tersebut hancur berkeping-keping.


"B-bagaimana mungkin?" Teriak Min Yue dengan gugup dan sedikit histeris.


Pedang miliknya adalah pedang kelas 3 yang keberadaannya juga hanya bisa dihitung dengan jari. Tapi gadis dihadapannya itu dengan mudahnya mengahancurkan pedang tersebut.


"Mengapa tidak?" Tanya Zora sambil berjalan mendekati Min Yue.


Min Yue tanpa sadar berjalan mundur. Dia menatap Zora dengan perasaan rumit dan takut.


"A-apa yang kau lakukan? J-jangan mendekat". Ucap Min Yue gugup. Ekspresi wajahnya benar-benar jelek.


Zora terus berjalan menuju Min Yue. Mendengar ucapan Min Yue dia mengangkat satu alisnya. "Apa yang saya lakukan? Bukankah sudah jelas? Anda mengatakan kalau saya hanya bisa bersembunyi di punggung orang-orang, sekarang saya berada dihadapan anda, mengapa anda berusaha untuk menghindar dari saya?" Ucap Zora masih dengan tenang.


"K-kau... jangan coba-coba.." Ucap Min Yue.


Dia tidak pernah berpikir bahwa gadis dihadapannya itu begitu kuat. Meskipun dia tidak bisa melihat Ranah apa yang dimiliki oleh gadis itu.


Hanya dengan kekuatannya, dia dapat menghancurkan pedang kelas 3, itu sudah cukup membuktikan seberapa kuat gadis dihadapannya itu.


Zora sudah cukup dengan basa basi itu. Dia tidak bisa menunggu lebih lama dan membuang-buang waktu.


Dia mengibaskan tangan kanannya pelan.


Hal yang mengejutkan terjadi. Tubuh Min Yue hancur berkeping-keping tepat dihadapan semua orang.


Mereka membeku menyaksikan hal tersebut. Dengan susah payah mereka menelan saliva kasar.


Betapa mengerihkannya hal itu. Min Yue bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berteriak minta tolong.


Potongan-potongan daging dan darah berserakan. Beberapa dari mereka juga terkena cipratan darah segar, tetapi mereka tidak berkata-kata.


Melihat Zora yang masih terlihat sangat tenang setelah membunuh. Bahkan tidak terlihat setitik noda darah pada pakaiannya. Seolah dia tidak pernah melakukan hal tersebut. Mereka diam-diam menggigil.


Hongling menutup matanya dan dengan kasar menghembuskan napasnya. Sedetik kemudian dia kembali membuka mata, kini muritnya menatap Zora. 'Dia benar-benar membunuhnya'


"Ya ampun mengerihkan sekali, aku bahkan pernah menantangnya bertarung". Gumam Wen Xia bergidik ngerih.


Feng Mei segera melihat Wen Xia yang tengah menatap Zora ngerih saat mendengar ucapan Wen Xia dia bertanya dengan suara pelan, "Benarkah? Lalu apakah kalian bertarung?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak! Apa kau pikir aku akan ada disini saat ini, jika saat itu aku benar-benar bertarung dengannya". Jawab Wen Xia menatap Feng Mei sesaat lalu kembali mengalihkannya atensinya.


Kejadian demi kejadian membuatnya lupa dengan siapa dia berbicara. Tetapi Feng Mei suka akan hal itu. Memanggilnya dengan embel-embel 'putri' hanya akan membuat jarak diantara mereka.


Feng Mei menganggukan kepalanya paham lalu mengalihkan atensinya kembali ke Zora. Meskipun dia juga merasakan kengerihan yang mendalam tentang pemandangan yang baru terjadi beberapa saat lalu, dia tidak begitu mempermasalahkannya. Mungkin karna terkadang dia juga sering membunuh dengan cara yang sama.


Hanya saja, melihat dari bagaimana Zora melakukan tanpa menggunakan banyak kekuatan membuatnya mengagumi hal tersebut.


Dilihat dari sisi manapun, Zora terlihat masih sangat muda dan cantik, walaupun wajahnya ditutupi oleh cadar.


"Mari kita lanjutkan". Ucap Zora acuh dan tanpa memperdulikan orang sekitar dia berjalan menuju Serigala Iblis berada.


"A-apakah.. apakah.. serigala..."


Belum selesai dengan perkataannya, Zora langsung nenyelah. "Orang yang menyebabkan serigala itu menggila sudah mati, tentu sihir pada serigala itu juga otomatis menghilang".


"B-baiklah".


Li Wei dengan takut-takut kembali mendekati serigala tersebut.


Hongling juga telah melepaskan tekanannya pada serigala itu.


Dapat dilihat bahwa ketakutan Li Wei kali ini berbeda. Dia tidak takut dengan serigala di hadapannya melainkan gadis yang baru saja membunuh seseorang tanpa berkedip.


Wen Xia kini berada disisi Zora. Dia sangat penasaran dengan Ritual Kontrak yang akan terjadi. Meskipun caranya sederhana, tetap saja itu mengagumkan.


Diam-diam dia merasa sedikit iri dengan Li Wei. Namun dengan cepat dia menepis hal tersebut.


"I-tu.. aku..."


Wen Xia kehilangan kata-katanya. Gadis disisinya ini sangat peka dan tajam.


Murit Zora kini menatap Wen Xia dengan sedikit senyuman dibalik cadarnya, "Tidak perlu dipikirkan. Saat aku menemukan yang cocok untukmu, saat itu juga kau akan melakukan Ritual Kontrak".


Mata Wen Xia cerah menatap Zora dengan penuh kegembiraan, seketika membuatnya dengan cepat melupakan kengerihan yang dilakukan oleh Zora.


Beberapa saat kemudian, kontrak akhirnya terjalin. Yang mengejutkan semua orang adalah Ranah Kultuvasi Li Wei dan Serigala Iblis meningkat 2 tahapan.


Mata semua orang kini kembali menatap Zora dengan penuh tanda tanya namun masih ada sedikit ketakutan yang terpancar dibagian bawah mata mereka.


Tentu saja Li Wei juga penasaran akan hal tersebut. Sedangkan Hongling dan Zhusu hanya diam seolah itu hal biasa.


"Jangan melihat saya seperti itu, itu hanya hal biasa yang seharusnya terjadi". Ucap Zora.


"Kami sama sekali tidak mengerti apa maksudnya". Ucap Tian Mo mewakili yang lainnya. Entah kenapa dia tiba-tiba begitu berani untuk bertanya setelah melihat kejadian mengerihkan yang dilakukan oleh gadis tersebut.


"Keduanya memiliki kecocokan hampir 90%, hal itu tentu memicu kekuatan dalam diri mereka ketika melakukan kontrak. Oleh sebab itu keduanya mengalami peningkatan". Jelas Zora.


"Bagaimana cara agar kami dapat dengan mudah melihat kecocokan tersebut?" Tanya Mo Chen kemudian.


Mendengar itu Zora menggaruk hidungnya yang tidak gatal dan dengan ekspresi yang sedikit rumit dia menjawab, "Sangat sulit untuk menjelaskan hal tersebut".

__ADS_1


Faktanya, dia sama sekali tidak bisa menjelaskannya. Ada banyak rahasia yang dimiliki oleh seseorang dan dia tidak memiliki hak untuk mengatakannya secara terang-terangan. Kecuali orang tersebut pergi terlalu jauh.


Mereka sedikit kecewa dengan jawaban Zora, meskipun demikian mereka tidak menunjukannya secara terbuka.


"Kalian segeralah kembali dan beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan kalian. Akan sangat bahaya jika kalian tetap di berada disini". Ucap Zora kembali.


"A-ah.. iyaa benar.. ayo teman-teman kita kembali". Ucap Liu Jun dengan sedikit canggung. Tetapi seakan lupa akan kondisi tubuhnya, dia kembali ambruk saat hendak berdiri.


Zora mengerutkan keningnya melihat itu. "Patah tulang?" Tanya Zora dan diangguki oleh Liu Jun dan yang lainnya.


"Ada berapa dari kalian yang mengalami itu?" Tanya Zora kembali.


"Hanya kami bertiga". Jawab Liu Jun sambil menunjuk Mo Chen dan Tian Mo.


Zora mengangguk lalu dia mengeluarkan sebuah persolen dan di berikannya pada Leng Yu. "Beri mereka bertiga pil tersebut setelah kalian sampai ke tempat yang aman, karna itu akan memakan waktu yang cukup lama dan sedikit menyakitkan. Kalian tidak bisa melakukannya di tempat ini".


Leng Yu mengangguk, dia tidak berani membuka mulutnya untuk bertanya.


Beberapa saat kemudian, orang-orang tersebut masih belum bergerak dari tempatnya.


Zora kembali kembali mengerutkan keningnya saat melihat mereka yang enggan untuk pergi.


"Ada apa?" Tanyanya kemudian.


"P-putri Min Yue.. dia...?" Ucap salah satu dari mereka, namun sangat sulit baginya untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Berilah alasan kalau dia mati di bunuh Binatang Iblis". Ucap Zora acuh.


"B-bagaimana jika para guru menanyakan tubuhnya?" Tanya Mo Chen.


"Di makan Binatang Iblis tersebut". Jawab Zora santai.


Wajah Mo Chen dan yang lainnya jatuh.


"Itu tidak mungkin!" Teriak Feng Xin. Seolah mengingat sesuatu, dia dengan segera menurunkan volume suaranya dan kembali berbicara, "Kondisi kami sudah baik-baik saja, memberikan jawaban seperti itu hanya akan menimbulkan kecurigaan".


Leng Yu dan yang lainnya menganggukan kepala mereka tanda setuju.


"Meskipun aku benci mengakui hal tersebut. Tapi apa yang di katakan olehnya ada benarnya". Ucap Leng Yu.


Walaupun enggan, Zora juga setuju dengan hal tersebut dan itu akan membahayakan mereka.


"Baiklah.. aku mengerti". Ucap Zora ambigu. Sambil mengelus dagunya seolah sedang berpikir.


"Hah..?"


Kepala semua orang kini diisi dengan tanda tanya besar terhadap perkataan Zora.


Hongling yang sedari tadi tenang, juga menatap Zora bingung. Dia sama sekali tidak mengerti, bahkan otaknya gagal mencerna maksud dari perkataan Zora.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hongling. Otaknya sudah malas untuk berpikir lebih jauh.

__ADS_1


__ADS_2