Zora

Zora
CH 82


__ADS_3

Melihat kondisi semua orang, Zora memutuskan untuk menggunakan kereta kuda sebagai tunggangan.


Meski kereta kuda tersebut cukup besar, lari dari kuda-kuda tersebut terbilang cukup cepat.


Tidak seperti mereka pergi, mereka kembali dengan cepat. Entah karna kudanya atau karna mereka yang sama sekali menjadi diam dari awal perjalanan hingga akhir.


Sampainya mereka di rumah sederhana milik Ling Fei Ting, Zora segera kembali memeriksa tubuh mereka masing-masing. Namun karna dia telah meminumkan mereka Air Dewa dan Pil Luka Dalam Kelas 9, mereka tidak lagi memiliki hal-hal yang perlu di khawatirkan.


Melihat Dong Fang, Feng Mei, Li Wei dan Wen Xia yang dalam keadaan seperti ini, Zora sungguh sangat menyesalinya. Dengan bunyi "gedebuk" dia jatuh ke lantai, menunduk hingga kepalanya menyentuh lantai 3 kali, "Saya minta maaf. Seharusnya saya tidak melibatkan kalian ditempat ini".


Dong Fang, Feng Mei dan dua lainnya, terkejut dengan aksi Zora yang tiba-tiba. Tidak hanya mereka, Ling Fei Ting lebih terkejut mendengarnya.


Hanya dari sepenggal kalimat Zora, dia dapat dengan cepat menyimpulkan bahwa Zora adalah orang yang telah membawa mereka masuk ke tempat ini.


Jika demikian, maka Zora memiliki tingkat kekuatan yang tinggi.


Ling Fei Ting menyimpan pikirannya rapat-rapat. Dalam kondisi dan situasi seperti ini, tidak cocok baginya untuk bersuara.


Hongling yang berada disisi Zora juga sedikit terkejut, tindakan Zora terlalu tiba-tiba, namun dia lebih tenang dari yang lainnya dan tidak berusaha untuk mencegah Zora.


Zora awalnya memutuskan ke tempat ini karna memiliki tujuannya sendiri, yaitu mencari tahu Aura akrab yang tidak dapat dijelaskannya ketika dia mencoba merasakan Aura sekitar saat pertama kali memasuki Hutan Terkutuk.


Meski dia merasakan Aura kehidupan ditempat ini sebelumnya, Itu hanya samar-samar dan dia hanya beranggapan bahwa, mungkin ada sesuatu 'hal' yang akrab dengannya diletakkan ditempat ini dan hanya di jaga oleh beberapa orang.


Dia hanya tidak berpikir bahwa tempat yang mereka datangi ini bahkan lebih rumit dari perkiraannya.


Jika hanya dia dan saudaranya seorang, dia mungkin akan melakukan apapun yang dia suka. Bahkan jika harus dimusuhi oleh semua orang ditempat ini, tidak masalah baginya.


Tapi itu berbeda sekarang.


Dia bersama dengan Dong Fang dan yang lainnya, dia tidak bisa melakukan apapun yang dapat menyeret mereka kebawah bersamanya.


Mereka masih belum kuat, begitu juga dia. Dan dia belum bisa melindungi mereka ditempat yang berbahaya ini.


Seperti sekarang ini.


Tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, dia hanya bisa memohon maaf pada mereka, karnanya, mereka terluka parah.


Beruntung bahwa dia memiliki banyak pil tingkat tinggi juga Air Dewa dan Surgawi yang jarang ditemukan. Jika tidak, dia tidak tahu kehidupan mereka selanjutnya seperti apa setelah menerima pukulan besar seperti itu.


Jika saja Tetua Kedua tidak menahan dirinya, mereka mungkin sudah terkapar tidak bernyawa.


Itu terlalu berisiko.


"Apa yang kamu pikirkan? Kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Kami mengikutimu, itu artinya kami juga harus siap dengan berbagai konsekuensinya". Ucap Feng Mei segera membanti Zora untuk berdiri.


Menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak. Kalian tidak mengerti". Memikirkan sesuatu, dia melanjutkan, "Kita kembali setalah tubuh kalian lebih baik".


Mendengar itu, semua orang tertegun.


Meski mereka tahu mengapa Zora membuat keputusan demikian, mereka merasa bahwa perjalanan yang mereka lalui ini seperti sia-sia.

__ADS_1


Terlebih lagi, hanya untuk melewati formasi penghalang saja mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk berlatih.


Selain itu, Feng Mei, Dong Fang dan Hongling tahu betapa sakitnya Zora ketika dia harus meningkatkan kekuatannya ke tingkat tertentu hanya agar dapat membuka barang secuil celah.


Dan setelah itu semua, mereka kembali dengan sia-sia?


Mustahil.


"Jangan terburu-buru dalam membuat keputusan". Ucap Feng Mei. "Kami adalah orang telah menghambat perjalananmu. Aneh bahwa kami selalu mendengar perkataanmu. Tapi, dalam hal ini, maaf kami tidak berniat untuk kembali".


"Kalian..." Zora terkejut dengan mereka yang tiba-tiba menjadi keras kepala.


"Kami lemah dan tidak dapat melindungi diri kami sendiri. Kami juga tahu bahwa kamu tidak dapat melindungi kami kapanpun. Tapi, kami telah melewati hal-hal dengan taruhan nyawa kami sendiri. Bagaimana kami dapat menyerah begitu saja hanya karna satu orang?"


"Meskipun itu hanya satu orang, itu juga berdampak. Ini bukan Kekaisaran Barat, Timur, Tengah ataupun Utara. Ini adalah Kota Cang'an. Bahkan jika dia hanya seorang diri, dia dapat mempengaruhi orang-orang. Setelah itu apa? Kita tidak dapat hidup dengan tenang di tempat ini meskipun kita sangat menginginkannya". Ucap Zora.


Dia sangat berusaha untuk membuat mereka mengerti dengan situasinya.


Ini bukan tempat mereka dan dengan hal itu, bagaimana mereka dapat hidup dengan bebas di tempat ini?


"Jika Desa ini tidak dapat menerima kalian, bukankah masih terdapat Desa yang lainnya? Bahkan jika anda sekalian tidak diterima diseluruh Desa, saya masih dapat menerima kalian di Ibu Kota". Ucap Ling Fei Ting yang sedari tadi diam.


Ucapannya sukses membuat semua orang terdiam.


Sejak awal Zora dapat melihat kekuatan spesial yang dimiliki Ling Fei Ting dan telah menebak-nebak identitasnya.


Dia tidak berpikir bahwa wanita Ras Iblis tersebut berasal dari Ibukota.


Bagaimana jika di Desa lain, para Tetuanya bahkan lebih mengerikan dari ini?


Bukankah itu sama saja dengan menyerahkan diri secara percuma?


Menatap Feng Mei dan 3 lainnya yang sepertinya akan tetap dalam pendirian mereka, Zora menghela napasnya berat, "Istirahat terlebih dahulu, kita akan membicarakan ini lain kali".


Ruang pertemuan.


Patriak yang segera sadar dari rasa terkejutnya, menatap tajam Tetua Kedua, "Tetua Kedua..." Teriaknya dengan marah membuat urat-urat pada wajahnya menonjol. "Begitukah perilaku yang perlu ditunjukan pada Junior?"


"Saya hanya menguji mereka, tidak ada yang perlu ditakutkan. Lagipulan mereka terlihat baik-baik saja ketika mereka pergi dari sini". Ucap Tetua kedua ringan.


"Kamu..." Patriak benar-benar tidak tahu harus berkata apa.


Tetua Kedua juga tidak mudah di provokasi. Tidak karna statusnya yang adalah Tetua tetapi juga status keluarganya cukup tinggi di Ibukota. Itu sebabnya dia sering melakukan apapun yang dia suka.


"Meski begitu, kamu tidak perlu melakukannya dengan sangat kasar, bukan? Mereka hanya anak-anak." Ucap Tetua Pertama.


"Tidak perlu di pikirkan. Apa yang kalian takutkan? Dengan kekuatan mereka, bocah-bocah itu tidak akan datang sementara waktu untuk ..."


Belum selesai dengan ucapanya, tubuh Tetua Kedua tiba-tiba tidak lagi pada tempatnya. Dengan bunyi "gedebuk" Tetua Kedua menabrak dinding paviliun dengan keras.


Itu terjadi secara tiba-tiba, mereka bahkan masih belum melihat dengan jelas dari mana asal kekuatan yang muncul secara diam-diam tersebut.

__ADS_1


Tetapi hembusan angin yang menabrak mereka mengatakan dengan jelas bahwa orang yang melakukan itu tidak mudah di provokasi.


Tubuh Patriak dan Tetua lainnya menjadi lemah. Keringat dingin menyerbu disetiap inci kulit.


Belum menyadari sesuatu yang benar-benar buruk terjadi padanya, Tetua Kedua batuk beberapa kali dan memuntahkan beberapa teguk darah. Dia berteriak dengan marah, "Beraninya kamu menyerangku secara diam-diam? Jika kamu benar-benar hebat, ayo bertarung secara terbuka".


Suara tawa entah dari mana memenuhi ruangan tersebut, itu suara seorang wanita. Tawanya terdengar angkuh dan mengejek.


"Kamu, sama sekali tidak layak". Ucap wanita itu menggema di ruangan. Bersamaan dengan itu kekuatan besar entah dari mana kembali menabrak tubuh Tetua Kedua.


Kali ini, Tetua kedua benar-benar terluka parah. Beruntung bahwa titik kekuatan tersebut tidak sepenuhnya menyerang Akar Spiritualnya.


Jika tidak, dia mungkin akan gila karna kehilangan sepenuhnya kekuatan miliknya.


Kembali memuntahkan banyak darah, Tetua Kedua duduk dilantai dengan pucat.


Patriak segera sadar, dan dengan kekuatan yang tersisa, dia segera membungkuk dalam-dalam, "M-master. Tolong maafkan Tetua Kedua dan beritahu kesalahan seperti apa yang telah dilakukan oleh Tetua Kedua sehingga Anda begitu marah?" Tanya Patriak dengan hati-hati.


Mendengar pertanyaan itu, suara wanita kembali berdering diruangan tersebut, "Tidak perlu takut. Saya hanya sekedar mengujinya".


Patriak dan Tetua lainnya segera menelan salivanya kasar.


Mengujinya?


Butuh beberapa menit sebelum akhirnya Patriak sadar akan kesalahan yang telah dilakukan oleh Tetua Kedua.


"M-master. Saya minta maaf atas perlakukan kasar Tetua Kedua. Saya akan mengajarinya dengan baik setelah ini". Ucap Patriak.


Mendengar ucapan Patriak, Tetua Kedua segera mendongak, "Patriak. Apa maksudmu mengajariku? Kamu..."


"Diam.." teriak Tetua Pertama menghentikan Tetua Kedua. Menatap Tetua Kedua dengan tajam, 'pria bodoh ini, apakah dia berpikir dia akan selalu berada diatas segalanya?'


"Tidak perlu repot-repot mengajarinya". Suara wanita itu kembali berdering. Itu penuh dengan cemoohan, "Saya telah berbaik hati dan hanya menurunkan kekuatannya ke beberapa tahap. Selanjutnya bagaimana, terserah Anda".


"Baik.. baik". Patriak mengangguk dengan cepat, "Saya akan menanganinya dengan sangat baik".


"Bagus". Deringan suara wanita itu terdengar puas.


"Saya sama sekali tidak peduli akan status dan latar belakang seseorang". Lanjutnya, "Jika kamu menggunakan keduanya untuk mengancam orang-orang, maka saya dengan mudah dapat menghancurkan keduanya. Ingat itu baik-baik! Tentu Anda boleh mencobanya".


Deringan suara wanita itu lambat laun menjadi samar dan menghilang dari udara tipis. Ketika dia mengucapkan kata demi kata, itu seperti ada kekuatan mutlak yang tidak dapat dipatahkan disetiap katanya, membuat semua orang yang berada ditempat itu gemetar ketakutan.


Hanya dari tekanan yang diberikan dan melakukan penyerangan tanpa menunjukan wujud aslinya sudah menunjukan betapa kuatnya dia?


Orang gila siapa yang akan mencoba untuk memprovokasinya?


Bahkan jika mereka di bayar mahal, mereka tidak akan menyerahkan diri dengan sia-sia.


Mereka telah merasakan ketakutan yang sama ketika bertemu dengan Patriak Agung. Tapi bahkan jika di bandingkan, Patriak Agung masih tidak ada apa-apanya.


Itu terlalu menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2