
Zora mundur selangkah, kemudian menghindari kaki Feng Mei yang melayang ke arahnya.
"Setiap orang yang saya tahu, tidak ada yang sebaik anda dalam hal ini". Ucapnya ringan.
Mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?" Tanya Feng Mei bingung.
Tersenyum melalui matanya, "Tidak banyak".
Feng Mei menggertakkan giginya kesal.
Dia akan meledak.
Tetapi ketika dia mengingat apa yang di katakan oleh Zora, dia menekan kembali perasaan kesalnya.
Memaksa untuk tersenyum, "Kenapa tidak langsung ke intinya saja?" Ucapnya pelan.
"Itu terdengar buruk". Ucap Zora santai.
"Heh". Feng Mei mengerutkan bibirnya, "Bukankah ini disengaja?"
"Apakah saya?"
Keduanya terus bertarung, tetapi juga berbicara di saat yang besamaan.
Dong Fang, Li Wei dan Wen Xia dapat melihat bagaimana keduanya begitu akur dalam berbicara tapi tidak dengan tangan dan kaki yang terus menerus bergerak melayangkan pukulan yang cukup kuat untuk menjatuhkan seseorang.
"Saudara Fang. Apakah kamu dapat mengalahkan saudari Mei dengan pertempuran seperti itu?" Tanya Li Wei.
Menggelengkan kepalanya pelan, Dong Fang berkata sambil memandang kedua orang yang masih dalam pertarungan, "Tidak. Pergerakannya terlalu rumit, berubah-ubah dan sangat cepat. Kamu hanya akan kewalahan jika meladeninya".
"Di lihat dari manapun, keduanya sangat mahir dalam pertempuran. Tapi, saya tidak pernah melihat cara dan gaya bertarung seperti itu. Dari mana keduanya mempelajarinya?" Gumam Wen Xia yang di dengar oleh Dong Fang dan Li Wei.
Membuang muka, "Ingat saat kita melakukan pertarungan individu sebulan yang lalu?" Tanya Dong Fang dan di ikuti dengan aggukan Li Wei serta Wen Xia. "Saya telah menanyakan padanya hal yang serupa".
"Apa jawabannya?" Tanya Wen Xia.
Melihat keduanya, "Dia mempelajarinya sendiri". Jawab Dong Fang dengan kosong.
Mengerutkan keningnya, Wen Xia sedikit bingung, "Lalu, bagaimana dengan Zora? Apakah dia juga memperlajarinya sendiri? Tapi.... itu tidak mungkin, kan? Bagaimana mereka bisa sama dalam mempelajari cara bertarung seperti itu? Maksudnya... dari mana mereka mendapatkan Seni Tarung semacam itu?"
Mendengar ucapan Wen Xia, keduanya terdiam cukup lama.
Mendongak untuk melihat pertarungan di hadapan mereka, keduanya menatap dengan kosong.
Perasaan rumit berputar di kepala mereka.
Itu masuk akal.
Keduanya baru bertemu satu sama lain, dan itu hampir 2 bulan, tapi bagaimana mereka bisa memiliki gaya dan cara bertarung yang sama?
Mereka seperti sangat akrab dengan gerakan satu sama lain.
Jika cara itu tertulis pada sebuah buku Seni Tarung, itu akan menjadi hal yang wajar.
Tapi ini...
Bahkan tidak ada catatan tentang cara bertarung seperti itu. Selain itu, Feng Mei mengatakan bahwa dia melatihnya sendiri.
__ADS_1
Lalu, bagaimana dengan Zora?
Semakin lama mereka berpikir, semakin dalam pula mereka menemukan bahwa kedua orang itu cukup aneh dan misterius.
Kedua orang yang sedang bertarung masih terpaku pada setiap gerakan dan tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh ke tiga orang tersebut.
Meski menggunakan gaya bertarung yang berbeda, keduanya masih memanfaatkan kekuatan Spiritual yang dimiliki. Jadi, kadang-kadang mereka akan melompat tunggi ke udara atau berputar di udara untuk menghidari setiap pukulan.
Zora merasa sedikit bosan dengan pertempuran yang tidak ada ujungnya, begitu juga Feng Mei.
Pada akhirnya, keduanya mengumpulkan kekuatan pada tangannya masing-masing, dan ketika Feng Mei akan melayangkan tinjunya, Zora tidak menghindarinya, dia tersenyum melalui matanya kemudian berkata dengan ringan, "Senang bisa bertukar pukulan dengan Mayor Wanita pertama dalam sejarah Negara A, Song Feng Mei".
Ucapannya di tekan sedemikian rupa, suaranya kecil dan sedikit serak.
Namun, Feng Mei masih mendengarkannya dengan sangat jelas.
Tinjunya yang seharusnya mengenai wajah Zora, seketika berhenti 1cm dari wajahnya.
Itu hanya sedikit saja untuknya meraih cadar miliknya.
Tetapi, seakan waktu dengan tiba-tiba berhenti, tubuhnya membeku di tempat.
Dong Fang, Li Wei dan Wen Xia tercengang melihat pemandangan dihadapan mereka.
Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Feng Mei, Li Wei mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi? Kenapa dia berhenti?" Melihat dua lainnya, Li Wei dengan tidak sabar berkata, "Apa yang di katakan oleh Zora padanya?"
Mengedikkan kedua bahu, "Tidak tahu. Tapi di lihat dari reaksinya, sepertinya itu cukup serius". Ucap Dong Fang.
"Hal apa yang membuat Senior Mei bereaksi sedemikian rupa?" Tanya Wen Xia.
Ketiganya tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil menebak apa yang dikatakan oleh Zora pada Feng Mei.
Tidak menjawabnya, Zora dapat menemukan bahwa dari reaksinya, itu membuktikan bahwa tebakannya memang benar.
Melihat matanya yang penuh dengan tanda tanya dan linglung, Zora tersenyum. Dengan jari-jarinya, dia menyentuh perut Feng Mei dengan lembut, "Tebak".
Setelah dia selesai berbicara, dia menyaksikan tubuh Feng Mei yang melambung mundur menabrak tanah kemudian berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
'Itu benar-benar dia'. Pikirnya sambil menepuk-nepuk tangannya.
Dong Fang, Li Wei dan Wen Xia yang tenggelam dalam pikirannya masing-masing seketika di bangunkan oleh suara "buk".
Melihat Feng Mei, ketiganya segera berlari menghampirinya.
Feng Mei tertidur di tanah dengan wajah menghadap ke langit.
Ketika Dong Fang dan dua lainnya tiba, dia segera menopang kepala Feng Mei.
Tatapan Feng Mei masih kosong seperti sebelumnya, dia bahkan tidak meringis kesakitan meski dipukul seperti itu oleh Zora.
Dong Fang tentu tahu seberapa besar kekuatan yang di berikan oleh Zora melalui pukulan lembutnya.
Mengenal Zora untuk waktu yang cukup lama, dia dapat mengambil kesimpulan bahwa, itu adalah pukulan mematikan yang dimilikinya.
Lembut tetapi kejam dan mematikan.
Menepuk pipi Feng Mei, Dong Fang mencoba untuk menariknya kembali.
__ADS_1
Namun, seberapa banyak dia mencoba, Feng Mei sama sekali tidak bereaksi.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Li Wei khawatir.
"Tidak tahu". Jawab Dong Fang yang juga khawatir tentang Feng Mei.
"Apakah dia menjadi idiot setelah di pukuli dengan keras?" Tanya Wen Xia dengan kosong.
Mendengar itu, Dong Fang dan Li Wei menatap Wen Xia dengan rumit.
Mencubit hidungnya, "Jangan melihat saya seperti itu. Saya hanya bertanya dengan santai". Ucap Wen Xia. Tidak berani menatap kedua orang tersebut, Wen Xia menunduk dan menggoncang tubuh Feng Mei dengan keras. "Cepat bangunkan dia. Jangan biarkan dia benar-benar menjadi idiot".
Dong Fang dan Li Wei tidak mengatakan apa-apa lagi. Keduanya juga berusaha membangunkan Feng Mei.
Feng Mei masih tidak bergerak juga, tatapan dan pikirannya sama-sama kosong.
Menatap langit yang begitu cerah, 'Bagaimana dia bisa mengetahuinya?'
'Siapa dia?'
'Apakah dia juga berasal dari Dunia Modern?'
Kepala Feng Mei diisi dengan berbagai pertanyaan yang saling bertabrakan satu sama lain.
Memang benar dengan apa yang di katakan oleh Zora.
Dia adalah anak kedua yang merupakan putri tertua Keluarga Song.
Dia memiliki tubuh yang lemah sejak dia masih kecil. Dia bahkan sering di bully oleh teman-teman sekelasnya. Meski orang tuanya adalah pengusaha terkenal, dia dulu adalah seorang yang penakut dan pemalu, jadi hal-hal seperti itu hanya di sembunyikan oleh dirinya sendiri.
Namun, semenjak dia pergi berlibur bersama pamannya yang adalah salah satu Prajurit Militer, entah bagaimana dia tiba-tiba tertarik dengan segala pelatihan yang dilakukan oleh Pamannya.
Oleh karna itu, dia mulai perlahan-lahan belajar dari Pamannya sebelum memasuki kamp militer.
Meski tubuhnya lemah, dia tidak menyerah saat itu. Selain itu, dia adalah orang yang cerdas. Kepintarannya di akui oleh orang-orang.
Dia membuat namanya menjadi terkenal ketika dia berusia 20 tahun.
Saat itu, dia kebetulan ditugaskan untuk menangkap para t*roris yang memasuki Negara A untuk melakukan penyebaran ob*t-ob*t terlarang dan perdagangan senjata api.
Dengan kecerdasannya, dia menyusun strategi penangkapan yang akan di lakukannya.
Penyusunan strategi yang di buatnya saat itu begitu mulus. Membuat para T*eroris kebingungan dan secara tidak terduga masuk ke dalam perangkap yang dibuatnya.
Berhasil menangkap beberapa t*roris tanpa peluru dan lecet, membuat namanya seketika melambung.
Dan karna kontribusinya yang besar untuk negara, pangkatnya di naiknya menjadi Mayor.
Meski tidak begitu tinggi, dia adalah Mayor pertama wanita dan termuda dalam sejarah, selain itu dia telah memiliki timnya sendiri dan telah menyelesaikan berbagai macam tugas yang di berikan dengan keberhasilan yang memuaskan.
Sayang, bahwa pada tugasnya yang terakhir, dengan jiwa patriotnya, dia mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi timnya dan jiwa berakhir di Dunia aneh ini.
Meski begitu, dia tahu bahwa tubuhnya tidak hancur saat itu dan kini tengah terbaring di rumah sakit dengan keadaan vegetatif.
Terkadang, dia sering mendengar suara orang-orang yang berbicara dengannya, memintanya untuk bangun
Dia menjalani kehidupannya yang sekarang dengan berbagai teka-teki. Dia selalu berpikir bahwa setelah dapat memecahkan teka-teki tersebut, jiwanya akan kembali dengan sendirinya
__ADS_1
Tapi sekarang, dia ragu.