
Seluruh Anggota dari masing-masing Kekaisaran telah berada di ruang pertemuan Kekaisaran Dong. Hanya tinggal menunggu tuan rumahnya saja yang belum hadir hingga terdengar teriakan suara bariton dari luar pintu
"Anggota keluarga Kekaisaran Dong memasuki ruangan". Teriak Pengawal pintu memekakan telinga.
Semua orang yang hadir diruangan tersebut segera berdiri dan menunduk kepala mereka dengan hormat.
Hingga Kaisar Dong melambaikan tangannya pelan, tanda bahwa penghormatan dari mereka diterima olehnya membuat orang-orang tersebut segera menegakkan kepala mereka.
"Zhen berterima kasih kepada kalian, karna telah memenuhi undangan Zhen". Ucap Kaisar Dong, sambil mamandang dengan lekat semua orang yang ada di ruangan tersebut lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Tidak perlu seperti itu, ini memang sudah seharusnya. Apalagi masalah yang kita hadapi ini sangat serius". Ujar Kaisar Zhong.
"Itu benar". Timpal Kaisar Xī setuju.
"Ah.. Baiklah kalau begitu, mari kita langsung saja ke inti permasalahan yang sudah beberapa hari ini membuat kita semua resah sebab kejadian seperti ini sendiri belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan berjuta-juta abad yang lalu. Itulah mengapa saya mengundang kalian semua untuk berkumpul di tempat ini, kejadian ini seperti sebuah pertanda bahwa akan ada hal besar terjadi kedepannya, entah itu baik ataupun buruk". Ujar Kaisar Dong dengan wajah khawatirnya tentu saja dia merasa sangat khawatir, bagaimana tidak Badai Petir terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya tanda-tanda sedikitpun serta Aura yang dipancarkan oleh Badai Petir tersebut sangat mengerikan.
"Maka dari itu saya ingin mendengar pendapat dari kalian semua". Ucap Kaisar Dong kembali, dia ingin mendengar pendapat dari Kaisar-Kaisar dihadapannya itu untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat dengan begitu rakyatnya tidak menderita.
Kaisar Dong memang sangat terkenal dengan kebaikan dan kebijaksanaanya dalam memimpin, di tambah dengan segala kebutuhan yang mendukung membuat kehidupan rakyatnya sangat makmur.
Mendengar itu, semuanya hening dengan pemikiran masing-masing. Memikirkan hal apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah kejadian yang akan terjadi.
"Kaisar Dong, saya pikir untuk masalah ini kita hanya perlu mengubah beberapa strategi untuk pengawasan". Ucap Kaisar Běi memecahkan keheningan yang terjadi.
"Maksudmu, mengubah strategi seperti apa Kaisar Běi". Ucap Kaisar Dong penasaran.
"Begini.. Badai Petir ini membuat kita khawatir dengan asumsi-asumsi kita belaka, walaupun kita sependapat dan percaya bahwa Badai ini merupakan sebuah tanda akan terjadinya kejadian besar dimasa mendatang, namun karna Badai ini pertama kalinya terjadi kita tidak tahu kejadian besar apa yang akan terjadi dikemudian hari, maka dari itu saya menyarankan agar kita memperketat pengawasan kita, tidak hanya diseputaran istana saja tetapi keseluruh pelosok Benua dengan mengirim berbagai prajurit yang handal untuk berjaga-jaga, dengan begitu ketika ada sesuatu yang seharusnya tidak terjadi bisa dicegah dengan cepat". Ujar Kaisar Běi menjelaskan.
"Saya setuju dengan apa yang di ucapkan Kaisar Běi, Kaisar Dong, dengan begitu kita akan dengan mudah mendapatkan infomasi, tetapi ada sedikit tambahan dari saya, seperti yang diucapkan Kaisar Běi, saya rasa kita juga perlu mengirimkan beberapa Ksatria yang kecepatan terbangnya diatas rata-rata sehingga informasi akan dengan cepat tersampaikan". Ucap Kaisar Xī setuju sekaligus menabahkan sedikit pendapatnya.
"Itu sangat bagus, dengan begitu kita dapat mencegah terjadinya hal yang tidak-tidak, bagaimana dengan mu Kaisar Zhong? Apakah kamu sependapat?". Tanya Kaisar Dong.
Dengan anggukan kepala Kaisar Zhong berkata "Tentu.. saya setuju dengan rencana seperti itu, setidaknya mencegah lebih baik dari pada mengobati".
"Baiklah, karna semua telah setuju dengan rencana yang dikatakan, maka kita hanya perlu melakukan tugas selanjutnya, mari kita akhiri pertemuan ini". Ucap Kaisar Zhong mengakhiri pertemuan itu.
Selesai dengan pertemuan itu, semua orang diarahkan ke ruang perjamuan untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan sambil berbasa basi.
__ADS_1
"Kaisar Xī, Putri mu terlihat cantik dan manis, bagaimana kalau kita tunangkan kedua anak kita, hemm". Ucap Kaisar Dong sambil menaik turunkan alisnya.
Mendengar ucapan Kaisar Dong membuat semuanya hening bahkan Kaisar Xī sendiri sangat terkejut, Dia manatap lekat Kaisar Dong, sedari tadi mereka bercanda dan berbasa basi tidak karuan tentu saja tidak membuat Kaisar Xī tidak percaya, ini menyangkut kebahagiaan Putrinya, tetapi setelah beberapa detik menatap manik milik Kaisar Dong.
Dia akhirnya tahu bahwa itu bukan sebuah lelucon. Dia lalu menghembus napasnya kasar lalu mengalihkan atensinya pada Putrinya yang kini sudah terlihat seperti kepiting rebus.
Dia tahu bahwa putrinya sangat mengagumi Putra Mahkota Dong Fang tetapi mengingat bagaimana sifat Putra Mahkota dan Putrinya sangat bertolak belakang membuatnya ragu.
Putri Xī Min Yue merupakan gadis yang lumayan cantik, cantiknya di atas rata-rata namun tidak dengan sifatnya yang angkuh dan manja membuat banyak orang tidak terlalu menyukainya.
"Kaisar Dong, apakah itu tidak terlalu cepat? Saya memang sangat menginginkan pertunangan ini, tetapi masalah yang kita hadapi ini lebih penting lagi, kalau memang Kaisar Dong tidak keberatan bagaimana kalau kita tunangkan mereka 5 tahun kedepan untuk memastikan bahwa segala sesuatunya benar-benar aman". Ucap Kaisar Xī dengan hati-hati.
"Ha ha ha.. tidak masalah, Kaisar Xī memang sangat bijaksana". Ucap Kaisar Dong bahagia.
Ruangan pun kembali ricuh tetapi tidak seperti sebelumnya yang berbicara tentang hal-hal yang tidak karuan, kali ini keempat Kaisar tersebut meributkan soal pertunangan mereka masing-masing memperebutkan calon menantu mereka.
Hah, mereka terlihat seperti anak kecil yang sedang memperebutkan permen.
Para Permaisuri, Putra dan Putri mereka hanya menggelengkan kepala mereka.
Putri Xī sedari tadi mencuri kesempatan untuk menatap Putra Mahkota Dong dengan wajah semu merahnya, sedang yang ditatap hanya diam.
Dong Fang merasa dirinya ditatapun mengangkat kepalanya, Dia dapat melihat bagaimana Putri Xī menatapnya, Ah.. Dia sangat benci ditatap seperti itu.
Dong Fang pun mengalihkan atensinya, kini atensinya jatuh pada seorang Gadis yang sedari tadi hanya sibuk memakan makanan dihadapannya tanpa memperhatikan orang sekitar seolah-olah diruangan itu hanya ada Dia seorang.
Merasa dirinya ditatap, Dia dengan pelan mengakat kepalanya atensinya teralihkan kesana kemari mencari tatapan tersebut hingga matanya bertemu dengan netra kelam milik Putra Mahktota Dong Fang, jika ada yang mengatakan kalau wajah gadis itu akan memerah malu karna di tatap oleh Seorang Putra Mahkota, Oh.. tentu saja itu pemikiran yang sangat salah, Sebab Dia tidak seperti itu Dia malah menatap malas Putra Mahkota itu dan dengan malas tahunya Dia kembali sibuk dengan makanan-makanannya, Ah.. Dia memang sangat tidak peduli.
"Mei'er kau terus-terusan makan seperti itu, apa kau tidak takut gemuk seperti ba*i, hemm". Ucap Běi Nue selaku kakaknya.
Yah.. Gadis yang ditatap oleh Putra Mahkota Dong Fang adalah Putri dari Kekaisaran Běi, Běi Feng Mei.
Sifat Putri Běi Feng Mei sendiri tidak jauh berbeda dengan Putra Mahkota Dong Fang, hanya saja Putri Feng Mei tidak sekejam itu.
Putri Feng Mei sangat baik bagi yang mengenalnya tetapi jika orang yang tidak mengenal dekat dengannya akan menganggap bahwa Putri Feng Mei adalah Gadis yang angkuh, nyatanya Dia hanya Gadis yang sangat hemat dalam berbicara dan tak tersentuh, Putri Feng Mei juga memiliki paras yang sangat cantik tidak kalah dengan Putri Xī tentunya.
"Hmm". Hanya deheman kecil yang keluar dari mulut sang adik, membuatnya kesal.
__ADS_1
"Ah, aku lupa kalau aku berbicara dengan tembok". Ucap kembali Běi Nue dengan kesalnya.
Běi Feng Mei hanya memutar bola matanya malas, Dia meletakan sumpitnya pelan lalu berdiri dan keluar dari ruangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia sangat benci suasana ini, sangat ramai dan ricuh.
Putra Mahkota yang sedari tadi menatapnya melengkungkan bibirnya, Yah.. Dia tersenyum sangat tipis sampai-sampai tak ada yang memperhatikan itu. Dan entah apa yang merasukinya, Dia dengan sigap berdiri dan berjalan keluar ruangan itu dengan santainya.
Setelah Dia keluar dari ruangan tersebut, Dia dengan kasar menghembuskan napasnya, lalu berjalan menyusuri lorong-lorong Istana, hingga Netra kelamnya menangkap sosok seorang Gadis yang duduk di Gazebo pinggir kolam, Dia berjalan menghampiri Gadis tersebut.
"Bolehkah saya duduk disini". Ucap Putra Mahkota Dong Fang meminta ijin, Huh padahal tempat mereka sekarang ini adalah Istananya.
Gadis itu yang tidak lain adalah Putri Feng Mei segera mengalihkan atensinya saat mendengar suara itu, namun saat tahu siapa orang yang berbicara dengannya membuatnya mendengus kesal, entah kenapa tetapi moodnya benar-benar tidak bagus hari ini, "Terserah". Ucapnya sambil kembali menatap hamparan bunga teratai yang melayang-layang dipermukaan air.
Putra Mahkota Dong Fang segera duduk dihadapan Gadis itu setelah mendengar persetujuan dari Gadis dihadapannya, perasaannya sangat tidak karuan saat ini, seolah-olah itu bukanlah dirinya, Dia terlihat sangat bahagia duduk dengan Gadis itu walaupun mereka hanya duduk dalam diam, tetapi tentu saja Dia tidak ingin kehilangan kesempatannya untuk menatap Gadis dihadapannya itu.
"Apa kau ingin matamu keluar dari tempatnya". Ucap Feng Mei dingin tanpa mengalihkan atensinya, memecahkan keheningan yang ada.
"Kalau kau memang menginginkannya, maka lakukan saja, aku tidak akan melawan". Godanya
"Oh,, tidak ku sangka seorang Putra Mahkota bisa berbicara sebanyak itu". Ucap Feng Mei masih dengan atensinya yang menatap kearah kolam sambil berdecih.
"Untuk gadis yang akan menjadi wanitaku, tentu saja spesial". Ucap Dong Fang dengan senyum menghiasi wajah tampannya.
Běi Feng Mei hanya memutar bola matanya malas, wah-wah siapa dia, mengklaim diriku sebagai wanitanya.
Dengan wajah datarnya Feng Mei menatap pria dihadapannya itu, "Putra Mahkota Dong Fang, sepertinya anda salah bicara, sebab bukan saya yang akan ditunangkan dengan anda melainkan Putri Mahkota Xī".
"Apakah kamu menyesal karna itu bukan dirimu". Goda kembali Dong Fang dengan percaya dirinya.
Hal itu sontak membuat Feng Mei tertawa dengan kerasnya "Hah, Putra Mahkota anda sangat lucu, apa wajahku terlihat sangat menyesal, kau bahkan bukan tipeku, lalu untuk apa aku menyesali hal yang tidak seharusnya". Cemoohnya.
Katakan saja bahwa Putra Mahkota sudah tidak waras, padahal mereka baru saja saling mengenal beberapa hari yang lalu.
Bukannya marah saat mendengar cemo'ohan gadis dihadapannya, "itu tidak masalah, lagi pula pertunangan akan dilakukan 5 tahun mendatang, kurasa waktu itu sudah sangat cukup untuk membuatmu jatuh hati padaku". Ucap Dong Fang tersenyum menggoda, ah senyumnya sangat manis jika saja ada para gadis yang melihat itu mungkin mereka akan histeris, tetapi tetap saja itu tidak berguna jika dihadapan gadis didepannya itu.
Wajah Feng Mei berubah menjadi semerah tomat, bukan karna malu tetapi karna marah, "Cih". Ucapnya sambil meninggalkan Putra Mahkota itu, moodnya benar-benar semakin buruk.
Melihat Feng Mei yang dengan kesalnya pergi dari hadapannya membuatnya tertawa, "ha ha ha.."
__ADS_1
Para pengawal dan pelayan yang sedang lewatpun di buat mematung, rahang mereka seakan lepas dari tempatnya, oh tidak, Putra Mahkota yang terkenal sangat dingin ini tertawa, ini merupakan hal yang sangat langka, begitulah pemikiran yang terlintas dikepala para pelayan dan pengawal tersebut.